
Noah kali ini tidak membiarkan sedetik pun wanita yang tadi menolaknya untuk tidak mendesah dan meneriakkan namanya. Bahkan ia sudah melihat wajah memerah penuh hasrat tersebut semakin membuatnya bergairah dan bersemangat untuk melakukan apapun sesuka hati.
"Aku hanya menginginkanmu dan tidak akan pernah menikah dengan wanita lain. Kamu pun juga sama, tidak boleh bersama pria selain aku."
Noah berbicara dengan suara tegas dan tatapan mengintimidasi ketika masih terus sibuk memuaskan diri dan memberikan kepuasan pada wanita yang dari tadi menghiasi ruangan kerja tersebut dengan suara seksi saat merasakan kenikmatan.
Amira Tan saat ini sama sekali tidak bisa menjawab apapun karena sibuk menikmati denyut kenikmatan yang berkali-kali menghantam tubuhnya karena perbuatan liar Noah.
Entah apa yang akan dilakukan setelah mereka selesai menyalurkan gairah, Amira Tan tidak ingin memikirkan hal itu karena saat ini hanya fokus pada tujuan untuk mendaki puncak tertinggi dari kenikmatan yang ingin segera didapatkan dari momen penyatuan diri tersebut.
Noah kini mengeluarkan seluruh tenaga untuk membuat Amira Tan semakin memuja dan tidak ingin wanita itu menyuruhnya lagi untuk mencari wanita lain. Merasa bahwa itu sangat melukai harga dirinya sebagai seorang pria.
Kini, ruangan kedap suara tersebut sudah dipenuhi oleh ******* dan lenguhan dari dua orang yang memadu kasih di atas sofa. Hingga beberapa saat telah berlalu dan geraman parau lolos dari bibir Noah begitu tiba pada puncak yang di bersama Amira Tan.
Bahkan seketika terjatuh di atas Amira Tan dengan suara napas memburu dari keduanya yang kelelahan setelah memadu kasih selama hampir setengah jam.
Tanpa mempedulikan bahwa saat ini adalah waktu bekerja karena jam istirahat telah usai setengah jam lalu. Memang tadi kantor sangat sepi karena para staf memilih keluar mencari makan.
Sementara Amira Tan sudah memesan makanan sebelum jam makan siang karena malas pergi keluar. Jadi, memilih untuk makan siang bersama di dalam ruangan sambil membicarakan mengenai masalah Putri yang tak kunjung ditemukan.
Namun, sama sekali tidak pernah menyangka jika akan berakhir menghabiskan waktu dengan penuh gairah di atas sofa bersama Noah.
Amira Tan yang masih berusaha untuk menormalkan deru napas, melihat Noah bergerak untuk bangkit dari posisi dan berbicara penuh ketegasan.
"Aku tidak akan pernah mau menuruti perintahmu untuk mencari wanita lain. Ingat itu baik-baik!" Kemudian ia berjalan menuju ke arah kamar mandi yang ada di sudut ruangan untuk membersihkan diri dan merapikan pakaian.
Sementara itu, Amira Tan masih belum bergerak dari posisi yang berbaring di atas sofa, masih menatap siluet belakang pria dengan bahu lebar tersebut yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Kenapa dia sekarang berubah menjadi pria arogan pemaksa? Padahal pertama kali aku bertemu dulu adalah pria lugu yang tidak pernah menyentuh wanita. Apalagi dulu menyuruhku untuk bertanggung jawab telah membuatnya tidak bisa melupakan ciuman."
__ADS_1
Ia perlahan bangkit dari posisi dan sudah merapikan penampilan yang sangat kacau akibat perbuatan Noah. Bahkan saat ini berkali-kali menepuk jidat untuk merutuki kebodohan karena tidak bisa menolak perbuatan Noah beberapa saat lalu.
'Sangat memalukan! Aku bahkan seperti menjilat ludah sendiri karena malah memujanya saat mengirimkan gelombang kenikmatan yang menyiksaku. Sebuah penyiksaan manis yang dilakukannya dan membuatku terlihat lemah,' gumamnya yang merasa kebingungan begitu mendengar pintu toilet terbuka.
Amira Tan merasa gugup harus melakukan apa ketika Noah berjalan keluar dari toilet dan memilih untuk bangkit berdiri dan melakukan hal sama, yaitu membersihkan diri.
Tentu saja saat ini sudah berhadapan dengan pria dengan tatapan yang sama. Namun, ia hanya mengunci rapat bibir karena tidak tahu harus berkomentar apa.
Sementara itu, Noah yang sudah selesai merapikan penampilan dan juga membersihkan diri di kamar mandi, berhadapan dengan Amira Tan yang berjalan mendekat. Refleks menghalangi jalan wanita itu dan tidak membuang waktu, langsung mencium kening Amira Tan.
Kemudian mendekatkan bibir ke dekat daun telinga wanita itu. "Aku akan kembali bekerja. Jangan pernah menyuruhku untuk mencari wanita lain lagi karena kamu hanya milikku dan aku hanya milikmu."
Kemudian melangkahkan kaki menuju ke arah pintu keluar tanpa menunggu tanggapan dari wanita itu sambil tersenyum menyeringai karena beberapa saat yang lalu melihat wajah Amira Tan memerah seperti kepiting rebus.
Tentu saja Noah sangat mengerti apa arti dari wajah memerah seorang wanita. 'Tingkah Amira Tan sangat bertolak belakang dengan perkataannya. Kamu mungkin bisa mengatakan tidak menginginkanku. Namun, bukti dari respon tubuhmu sudah cukup membuktikan apa yang sebenarnya Kamu inginkan, Amira Tan.'
Noah baru saja membuka pintu sambil tersenyum dan merasa sangat terkejut begitu melihat ada seseorang yang berdiri di hadapan dengan tatapan tajam.
Pria yang tak lain adalah Jack baru saja tiba dan langsung menuju ke ruangan Amira Tan, tetapi kebetulan terbuka dan melihat Noah tersenyum seperti orang gila.
Bahkan merasa sangat curiga karena mendengar pintu dikunci dari dalam dan berpikir jika Amira Tan dan pria di hadapannya tersebut baru saja melakukan sesuatu.
Jack bahkan saat ini berpikir jika perubahan Amira Tan terjadi karena pria di hadapannya tersebut sudah berhasil mencuci otak wanita yang selama ini tidak pernah berhasil didekati.
Meskipun saat ini otaknya sudah dipenuhi oleh berbagai macam kegiatan intim antara Amira Tan dan Noah, hingga berhasil menyulut api amarah dan mengepalkan tangan. Ingin sekali langsung meninju wajah pria di hadapannya tersebut.
Namun, jika melakukan itu, tidak akan pernah bisa bertemu dengan Amira Tan lagi. Bukan itu yang diinginkan karena pastinya Noah akan menang. Sementara Jack masih berharap bisa merubah perasaan Amira Tan untuk mencintainya dan berharap bisa memiliki wanita itu seutuhnya.
Gila atau mungkin terobsesi tidak cukup mewakili apa yang saat ini dirasakan Jack pada Amira Tan karena sama sekali tidak memperdulikan jika wanita itu sudah berbuat hal intim bersama dengan pria lain.
__ADS_1
Jack sadar hanyalah seorang pria bodoh karena masih memendam cinta untuk Amira Tan dan tidak akan menyerah sebelum wanita itu benar-benar sudah menikah.
Apalagi mengetahui bahwa tidak ada perkembangan dari hubungan mereka untuk melangkah ke jenjang pernikahan, sehingga masih berani mendekati Amira Tan.
"Kenapa pintu dikunci? Apa yang sebenarnya kau lakukan di dalam?"
Noah saat ini hanya menatap datar Jack karena tidak berniat untuk menceritakan momen intim mereka beberapa saat lalu. "Amira Tan ada di dalam. Temui saja dan tanya dia. Aku harus kembali bekerja karena ini bukan perusahaanku. Jadi, tidak bisa berbuat sesuka hati."
Kemudian melangkahkan kaki panjang menuju ke arah meja kerjanya karena ada beberapa pekerjaan yang tadi belum diselesaikan.
Sementara itu, Jack yang masih mengepalkan tangan, belum beranjak dari tempat dan menatap tajam siluet belakang pria dengan bahu lebar tersebut.
'Sialan! Bahkan bajingan itu telah merubah Amira Tan menjadi wanita liar karena bercinta di ruangan kerja,' umpat Jack yang hanya bisa meluapkan di dalam hati dan berbalik badan untuk masuk ke dalam ruangan kerja Amira Tan.
Tentu saja untuk melihat apa yang dilakukan wanita itu di dalam ruangan. Jack ingin memastikan kebenaran dari pemikiran yang dianggap sangat menyesakkan.
Hingga kekhawatiran yang dirasakan benar terjadi karena saat ini melihat Amira Tan keluar dari kamar mandi. Dengan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada Amira Tan, Jack sudah tidak bisa lagi bersabar untuk hanya diam saja melihat perbuatan wanita yang sudah lama dicintainya tersebut.
"Apa sekarang kamu berubah menjadi seorang pelacur setelah mengenal pria brengsek itu?"
Amira Tan sangat terkejut melihat kedatangan Jack secara tiba-tiba dan sudah berdiri di hadapan. Bahkan kembali merasa syok begitu mendapatkan kemurkaan dari Jack yang sudah menghinanya.
Meskipun merasa sangat marah atas tuduhan dari pria dengan iris tajam berkilat mengunci tatapannya, tetapi ia tidak bisa membantah karena mungkin apa yang dituduhkan oleh Jack memang merupakan fakta.
"Ya, aku memang seorang wanita murahan. Jadi, jangan pernah dekati seorang pelacur karena itu akan membuatmu menjadi manusia hina sepertiku," ucap Amira Tan yang saat ini berpaling dan berjalan menuju ke kursi kerja.
Sementara Jack yang saat ini masih berdiri menatap Amira Tan, merasa sangat frustasi karena melihat wanita itu sama sekali tidak membantah untuk membela diri.
'Kenapa sekarang aku juga seperti tidak bisa mengenalmu, Amira Tan. Kamu bukanlah wanita yang seperti itu,' lirih Jack dengan perasaan berkecamuk.
__ADS_1
To be continued...