
Amira Tan saat ini hanya menatap meja, masih dihiasi oleh makanan yang belum habis karena dua pria tersebut tidak menghabiskan hidangan yang tersaji.
"Aku bahkan sudah kenyang dengan segala luka yang diberikan oleh Bagus. Pasti ia tadi merasa tersinggung dengan perkataanku dan tidak berselera makan lagi. Bahkan Jack pun melakukan hal yang sama."
Saat Amira Tan berniat untuk bangkit berdiri dan meninggalkan restoran, tidak jadi melakukan karena notifikasi pesan berbunyi.
Kemudian ia meraih ponsel di dalam tas dan membaca pesan yang tak lain dari sang bartender.
Jangan lupa kita ada janji di club. Aku tunggu kau datang malam ini.
Lagi, Amira Tan mengambil napas kasar untuk meluapkan perasaan yang membuncah di dalam hati. "Kenapa aku harus dikelilingi para pria yang membuatku merasa kesal?"
Amira Tan memilih untuk meneguk air dalam gelas hingga habis dan langsung berdiri dari posisi yang dari tadi duduk di atas kursi restoran. Tanpa berniat untuk membalas pesan dari Noah, ia memilih untuk membayar di kasir.
Kemudian berjalan keluar dari restoran menuju parkiran dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jack benar-benar telah pergi karena kesal padaku."
Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan mewah miliknya tersebut kembali ke kantor. Saat menatap lurus ke depan ketika mengemudi, melihat taksi dan selalu mengingat jika pekerjaan Bagus adalah seorang supir.
"Apakah itu Bagus?" Amira Tan menekan pedal gas dan melajukan kecepatan untuk mendahului taksi tersebut sambil melihat apakah sopir yang mengendarai adalah iparnya.
Namun, ia harus menelan pil pahit kekecewaan ketika menyadari bahwa pria di balik kemudi bukanlah Bagus.
Amira Tan kini terlihat menepuk jidat untuk merutuki kebodohan. "Kenapa aku bisa seperti ini? Sangat bodoh seperti wanita tidak ada pekerjaan saja karena mengamati supir taksi dan berpikir bahwa Bagus-lah yang mengemudikannya."
Amira Tan terdiam beberapa saat karena sedang memikirkan sesuatu. "Apakah perlu aku mengantarkan ke stasiun bus besok?"
Kemudian ia menggelengkan kepala karena berpikir menjadi wanita bodoh. "Tidak! Jika aku melakukan itu, akan sangat sulit bagiku untuk melupakan Bagus."
"Aku harus melupakan Bagus karena tidak memiliki perasaan apapun padaku. Baiklah. Lebih baik aku tidak mengantarkannya." Amira Tan tiba-tiba teringat sesuatu dan memijat pelipis karena tadi lupa bertanya mengenai rumah sakit yang menjadi tempat Putri dirawat.
"Aku tadi lupa tidak menanyakan tentang Putri dirawat di rumah sakit mana. Aku hari ini punya waktu luang dan bisa mengunjungi adik tiriku itu. Bagaimana perkembangan hubungan dengan Arya? Aku ingin mengetahui hal itu dari wajah Putri."
Tanpa membuang waktu, ia kini memilih untuk menghubungi Bagus dan berusaha untuk tidak menangis lagi seperti tadi.
__ADS_1
Sambungan telpon tersambung dan tidak perlu menunggu lama karena suara bariton dari seberang telepon sudah didengar oleh Amira Tan.
"Halo."
"Di mana Putri dirawat?"
Putri sengaja bertanya singkat karena masih tidak bisa menyembunyikan kekesalan pada Bagus. Berniat untuk langsung menutup telpon jika Bagus mengatakan rumah sakit.
"Putri saat ini dirawat di sebuah klinik kecil Darma Husada. Amira, ...."
Tanpa memberikan kesempatan untuk Bagus melanjutkan perkataan, Amira Tan langsung mematikan sambungan telpon dan melempar ke kursi sebelah kiri.
"Jika hanya ingin melukai, aku tidak ingin mendengarmu berbicara." Amira Tan saat ini melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju ke arah klinik kecil yang tadi dikatakan oleh Bagus.
Meskipun sebenarnya jauh di dasar hati, ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Bagus ketika memanggil namanya di telpon.
Hanya saja, ia bertekad untuk tidak ingin terluka karena pria yang masih menutup hati padanya.
"Jadi, seperti ini rasanya. Aku akan melupakanmu. Di dunia ini, banyak pria yang jauh lebih baik darimu." Amira Tan masih berusaha untuk menolak perasaan terluka hanya karena pria biasa.
"Aku bisa mendapatkan pria kaya, pintar, tampan dan pastinya tergila-gila padaku. Saat itu terjadi, akan menunjukkan padamu. Semoga saja ia tidak mengganti nomor ponsel ketika berada di kampung."
"Jadi, aku bisa memamerkan kekasihku dan membuatnya menyesal." Meskipun merasa seperti seorang wanita bodoh karena berbicara sendiri di dalam mobil, Amira Tan kini berusaha untuk menormalkan perasaan karena akan menemui Putri.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mobil yang dikemudikan oleh anak telah tiba di parkiran sebuah klinik kecil. Kemudian langsung turun dan kembali menepuk jidat.
"Harusnya aku membawa sesuatu saat menjenguk orang yang sakit. Apalagi Putri adalah adik tiriku. Namun, sudah sampai di sini, tidak mungkin keluar lagi untuk mencari toko buah. Lebih baik aku minta maaf saja atau memberinya uang."
"Putri tidak akan menganggapku menghinanya karena memberikan uang, kan?" Amira Tan merasa ragu untuk melakukan hal itu dan akhirnya memilih untuk tidak memberikan apapun.
"Doa saja, itu mungkin akan lebih baik dibandingkan apapun dan pastinya Putri akan senang." Amira Tan saat ini berjalan masuk ke arah klinik dan bertanya pada salah satu perawat yang duduk di depan komputer.
Begitu mengetahui kamar adik tirinya, ia pun langsung berjalan menuju ke arah yang tadi diberitahukan oleh perawat.
__ADS_1
Setelah beberapa meter berjalan, ia pun melihat ruangan kamar yang diketahuinya adalah tempat Putri dirawat. Saat ia berniat untuk mengetuk pintu, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara dari dalam.
Amira Tan beberapa kali mengerjapkan mata ketika mendengar suara aneh dari dalam. Bahkan bulu kuduknya meremang seketika. "Astaga!"
"Apa mereka sudah gila?" Amira Tan memilih untuk menjauh dari ruangan tersebut dan menelan saliva berkali-kali.
"Lebih baik aku pergi dari sini dan menjenguknya besok saja." Saat Amira Tan berjalan menuju ke arah depan, ia mendengar suara dari beberapa perawat yang sedang bergosip.
"Pasangan suami istri itu sangat gila karena bercinta di ruangan perawatan."
"Jadi, kamu mendengar suara-suara tadi?"
"Iya, saat aku hendak mengecek tensi pasien di ruangan sebelah, bisa mendengarnya. Mereka benar-benar gila!"
Merasa sangat malu karena Putri adalah adik tirinya, Amira Tan akhirnya berniat untuk menjenguk dan memilih menemui ketika di rumah saja.
"Bukankah Arya akan menceraikan Putri setelah hasil dari tes DNA menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkan bukanlah benih Arya? Apalagi Jack mengatakan bahwa Arya telah mematuhi perintah dari sang ayah dan akan menjadi pemimpin perusahaan?"
"Jika Ari Mahesa mengetahui bahwa Arya bercinta dengan Putri di rumah sakit, pasti akan murka."
Amira Tan masih merasa bingung dengan kenyataan yang terjadi antara Arya dan Putri setelah hari ini. "Kenapa aku harus memusingkan kehidupan rumah tangga mereka?"
"Sementara nasibku sendiri sangat tragis dan bisa dibilang seperti wanita kurang beruntung dalam hal asmara. Sangat berbeda dengan Putri yang lebih beruntung karena dikelilingi pria yang memujanya."
"Sepertinya Arya masih sangat mencintai Putri dan tidak bisa melepaskan sang istri, sehingga berbuat hal gila di rumah sakit." Amira Tan yang saat ini sudah mengemudikan mobil meninggalkan klinik rumah sakit, kini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kiri.
"Sebaiknya aku kembali ke kantor dan Nanti malam pergi ke klab untuk menemui Noah. Rasanya aku ingin minum minuman beralkohol untuk melupakan patah hati. Lagipula ada Noah yang akan melindungiku nanti."
Amira Tan kini tersenyum simpul ketika mendapatkan ide di kepala. "Lebih baik aku bersenang-senang untuk melupakan Bagus. Jack tidak akan menggangguku malam ini karena sedang kesal padaku."
"Jadi, malam ini aku bebas dan tidak akan ada yang mengganggu. Saatnya bersenang-senang." Amira Tan pun tersenyum smirk saat membayangkan akan menghabiskan malam ini di Club.
To be continued...
__ADS_1