
Saat Amira Tan merasa lega ketika sudah mengungkapkan apa yang dipikirkan, sangat berbeda dengan luapan emosi yang membuncah di dalam hati Noah saat ini.
Dari tadi, Noah sama sekali tidak pernah berpikir jika Amira Tan mengatakan hal yang dianggap sangat tidak masuk akal dilakukan oleh seorang wanita.
Meskipun jauh di dasar hati terdalam sudah menduga sesuatu berbeda akan dikatakan oleh wanita yang sangat berbeda tersebut.
Akan tetapi, tidak pernah menyangka jika wanita itu akan menyuruh untuk itu.
'Bahkan yang sering terjadi adalah pria selalu mengingkari tanggungjawab dan memilih kabur, tapi wanita ini sangat luar biasa. Rasanya aku ingin membawanya ke meja operasi dan membedah otak wanita ini untuk mengetahui isinya.'
'Aku yakin jika isinya hanyalah arogansi tanpa hati nurani. Mungkin juga hati Amira Tan telah mati karena tidak bisa merasakan sesuatu yang ingin kuberikan. Ketulusan, bukanlah itulah yang saat ini sedang dicari?'
'Kenapa saat aku ingin memberikan pada Amira Tan, tidak diberikan kesempatan dengan cara menutup rapat pintu hati? Apakah aku harus mengikuti semua keinginan Amira Tan?' gumam Noah dengan perasaan tidak menentu dan menangkap suara bernada tinggi di indra pendengaran.
"Noah! Kenapa diam? Cepat katakan apa yang saat ini kau pikirkan! Aku ingin tahu!" Amira Tan masih belum tenang jika Noah tidak setuju karena khawatir jika nama baik sebagai pengacara tercemar jika pria itu menuntut di pengadilan atas sebuah pertanggungjawaban.
'Noah tidak akan menuntut pertanggungjawaban dariku untuk menikah, kan? Jika sampai melakukan itu, aku akan membungkam dengan yang dan menarik keputusan menerima di kantor untuk bekerja.'
'Apakah keputusan yang kuambil ini adalah jalan terbaik di antara kami?' lirih Amira Tan di dalam hati sambil terus berusaha untuk menyelami apa yang saat ini ada di pikiran Noah.
Ia masih menunggu jawaban dari Noah dengan sabar karena pikiran belum tenang sebelum mengetahui jawaban pria yang masih betah menutup mulut tersebut.
Meskipun ada sesuatu yang sangat mengganggu perasaan, yaitu ikatan batin di antara mereka setelah melakukan hubungan yang tidak seharusnya karena bukanlah sepasang suami istri.
'Tidak masalah, ini hanyalah hal kecil. Di zaman sekarang ini, sebuah hal biasa melakukan seperti ini.' Masih mencoba untuk menenangkan diri tentang apa yang dirasakan, Amira Tan kini mulai melihat sebuah pergerakan kecil dari bibir tebal pria itu.
__ADS_1
Akhirnya dengan terpaksa Noah membuka mulut untuk menanggapi. Meskipun sangat marah ketika rencana awal untuk membuat Amira Tan patah hati telah gagal, Noah tetap bersikap setenang mungkin karena ingin mengikuti alur yang diciptakan oleh wanita di hadapannya.
'Dasar wanita tidak berperasaan,' sarkas Noah di dalam hati dan kini memilih untuk membuka selimut tebal yang melindungi tubuh dan bangkit dari ranjang sambil menatap Amira Tan.
"Baiklah. Aku setuju karena tadi memang ingin mengatakan itu padamu. Bahwa saat ini di antara kita impas. Kita tadi saling memberikan kepuasan dan menerima kenikmatan. Jadi, tidak akan ada perbincangan mengenai kejadian ini dan lupakan semua yang terjadi!"
Noah berbicara dengan penuh percaya diri sambil menunjukkan tubuh tanpa sehelai benang pun di hadapan wanita yang bahkan sama sekali tidak memalingkan wajah. Seolah ingin terus menatap tanpa berkedip.
Kemudian mengambil pakaian yang bernasib nahas di atas lantai, lalu memakai dan terakhir memberikan pada Amira Tan.
"Jangan tidur dengan telanjang karena aku tidak bisa menahan diri dan akan membuatmu menyesal. Pakailah! Aku sangat mengantuk dan akan pergi tidur."
Amira Tan beberapa kali menelan ludah karena melihat sesuatu milik Noah dan sudah berhasil mengirimkan sensasi kenikmatan luar biasa yang beberapa kali dirasakan. Kemudian menerima pakaian dan melirik sekilas ke arah mesin waktu di dinding.
Ia kembali melindungi tiap inchi tubuh dengan jenis pakaian kurang bahan karena menyesuaikan gaya untuk masuk ke Club. Kemudian melihat Noah baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basah.
Saat mengerutkan kening karena melihat pria itu mencuci muka di pagi buta, ia memilih untuk bertanya, "Bukankah kamu tadi mengatakan akan pergi tidur karena sangat mengantuk?"
Amira Tan berencana untuk tidur selama tiga jam dan pulang pukul enam pagi karena suasana jalan sudah mulai ramai dan sudah tidak gelap. Namun, melihat pria itu menyisir rambut basah tersebut, merasa sangat penasaran.
"Aku ingin keluar cari makanan. Tadi memang sangat mengantuk, tapi saat berada di kamar mandi, perutku berbunyi. Sepertinya ini karena efek banyak memforsir tenaga tadi." Noah memilih berbohong karena sebenarnya tidak ingin lagi berdekatan dengan wanita itu.
Bisa dibilang saat ini Noah benar-benar sangat marah dan tidak ingin lagi berhubungan dengan wanita yang selalu berbuat sesuka hati tanpa berpikir tersebut.
Wajah Amira Tan seketika berbinar karena juga tidak bisa tidur setelah merasakan tubuh sakit semua. Membayangkan makan sesuatu yang panas di jam yang biasanya digunakan orang untuk tidur, Amira Tan ingin mencoba untuk menjadi pengalaman pertama kali.
__ADS_1
Refleks Amira Tan beranjak dari ranjang dan mengungkapkan keinginan pada pria di depan cermin. "Aku ikut! Aku juga lapar karena mie instan hanya mengenyangkan sementara. Tunggu sebentar karena aku ingin ke kamar mandi dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari pria yang terlihat sedang mengambil dompet di laci, Amira Tan buru-buru berjalan cepat ke kamar mandi karena ingin membersihkan sisa-sisa perbuatan pria itu beberapa saat lalu.
Namun, merasakan rasa nyeri ketika berjalan cepat dan begitu berada di kamar mandi, hal serupa juga terjadi. Saat ini, ia meringis ketika membersihkan bagian inti.
Sementara itu di luar, Noah sama sekali tidak pernah menyangka jika Amira Tan berniat untuk ikut. Padahal mengatakan lapar adalah alasan saja demi menutupi kebohongan.
'Sial! Aku bahkan tidak diizinkan menenangkan diri walau hanya sebentar. Jika wanita tidak tahu diri itu selalu saja mengikutiku ke mana pun aku pergi, yang terjadi adalah akan gagal mengobati kehancuran hati ini,' gumam Noah yang kini mengempaskan tangan ke udara.
'Lebih baik aku pergi sekarang, sebelum wanita itu keluar dari kamar mandi,' gumam Noah yang memilih untuk berjalan keluar dengan sangat hati-hati.
Bahkan tingkahnya seperti pencuri ketika berjalan dan membuka pintu. Tidak ingin menimbulkan suara karena berharap wanita yang terdengar membersihkan diri di kamar mandi tidak mendengar kepergiannya.
Begitu sukses menutup pintu tanpa suara, secepat kilat ia melangkahkan kaki menuju ke arah depan dan mengunci dari luar. Berharap tidak ada orang jahat masuk yang akan menyakiti Amira Tan ketika sendiri di rumah.
"Mudah sekali mengatakan ingin ikut saat aku pergi. Terbuat dari apa sebenarnya hati wanita arogan itu? Bahkan aku sama sekali tidak pernah berpikir jika yang terjadi adalah niat untuk balas dendam dan berganti ingin menikahi Amira Tan sebagai bentuk pertanggungjawaban malah gagal semua."
Ia kini menepuk jidat berkali-kali saat selalu menjadi orang bodoh di dekat Amira Tan. "Lupakan wanita yang tidak pantas dipikirkan itu! Dasar bodoh! Saat kau memikirkan Amira Tan, tapi tidak sama dengan si arogan itu."
"Satu-satunya pria yang dipikirkan Amira Tan dan ingin dinikahi hanyalah Bagus. Kau sama sekali tidak berharga seperti pria bernama Jack."
"Dulu aku merasa heran dan bertanya-tanya tentang pria bernama Jack, kenapa masih tetap dekat dengan Amira Tan saat ditolak, ternyata seperti ini? Aku mengalami sendiri dan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan pada wanita itu."
To be continued...
__ADS_1