Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Korban kecelakaan


__ADS_3

Arya benar-benar merasa sangat terkejut dengan semua penjelasan dari sang pengacara yang terlihat memerah wajahnya karena marah adanya. Hingga ia juga melihat hal yang sama dari sosok wanita yang membuatnya merasakan aneh ketika menatapnya.


Ia yang melihat putri mengumpat untuk meluapkan segala amarah padanya akibat perbuatannya di masa lalu. Seolah ia sama sekali tidak mempunyai muka di hadapan wanita itu dan merasa bingung harus bagaimana menanggapi.


'Aku benar-benar tidak menduga jika dulu merupakan seorang pria berengsek yang menyia-nyiakan istri dan anak karena lebih mempercayai orang tua yang telah memasukkan hasil tes DNA. Pantas saja saat tadi menatap Xander, rasanya ada yang aneh di hatiku. Apakah ini yang namanya ikatan batin antara ayah dan ana,' gumam Arya yang saat ini sadar mendapatkan sebuah kebencian luar biasa dari dua wanita di hadapannya tersebut.


Hingga ia mengetahui sesuatu tentang apa yang saat ini menjadi alasannya merasa tidak tenang. "Jadi, di masa lalu, aku adalah seorang pria yang berengsek dan tidak bertanggung jawab pada anak dan istri? Pantas saja aku tidak pernah bisa hidup tenang selama ini."


"Bahkan aku sudah mendapatkan karma dari perbuatanku dan mengalami kecelakaan, hilang ingatan dan sekarang tidak memiliki keturunan meskipun sudah menikahi seorang wanita yang menjadi selingkuhanku." Arya bahkan saat ini merasa hidupnya sangat miris karena menyia-nyiakan wanita secantik di hadapan tersebut yang telah memberikannya seorang keturunan.


Ia bahkan mengembuskan napas kasar begitu menyadari jika masa lalunya sangat kelam karena mempunyai hubungan dengan seorang wanita yang berstatus sebagai istri orang.


"Sekarang aku sudah tenang karena mengetahui dosa-dosaku di masa lalu. Meskipun aku masih tidak bisa mengingat masa laluku, tapi sangat mempercayai apa yang kalian katakan. Bahkan dari dulu aku merasa ragu pada orang tua serta istriku, tapi untuk pertama kalinya merasa yakin jika semua yang kalian katakan adalah sebuah kebenaran dan tidak membohongiku."


Kemudian Arya saat ini mengulurkan tangan pada Putri. Meskipun ia mengetahui jika sosok wanita di hadapannya mungkin tidak mau memaafkan perbuatannya yang sangat jahat. "Maafkan aku karena telah menyakitimu di masa lalu. Mungkin kata maaf tidak akan pernah cukup untuk mengganti luka yang telah aku torehkan di hatimu."


"Tapi paling tidak, aku benar-benar tulus meminta maaf karena telah berbuat jahat pada istri dan anak. Meskipun semua kehancuran tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, tapi aku ingin memperbaikinya." Arya yang merasa diberikan kesempatan kedua untuk hidup setelah kecelakaan dan hanya mengalami amnesia, berpikir untuk menjalani hidup lebih baik dari sebelumnya.


Putri merasa sangat aneh dengan sikap Arya dan tidak paham apa yang dimaksud dengan kata memperbaiki. Ia bahkan sama sekali tidak tertarik untuk menjabat tangan pria yang hanya membuat perasaan membuncah dirasakan saat ini, memilih untuk bertanya.


"Apa maksud dari kata memperbaiki?" Putri bahkan saat ini berpikir jika pria tersebut ingin kembali padanya agar bisa membuka lembaran baru.


Hingga pemikirannya didukung oleh kata-kata sinis dari Amira Tan yang seolah menyindir habis-habisan sosok pria di hadapannya tersebut.


"Jadi, sekarang kau ingin kembali pada Putri karena tidak mempunyai anak dari wanita itu? Wah ... bukankah kau itu sangat licik? Setelah mengkhianati Putri dengan wanita itu, sekarang ingin kembali karena alasan anak yang bahkan dulu tidak kamu akui karena lebih mempercayai orang tuamu?" Amira Tan benar-benar merasa sangat marah ketika Arya berpikir seperti itu.


Ia bahkan saat ini tidak bisa mentolerir Putri jika sampai mau kembali dengan Arya hanya gara-gara masih mencintai pria yang dianggap tidak mempunyai prinsip hidup dan plin-plan karena lebih mempercayai orang tua.


Bahkan saat ini mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang sangat tidak disukainya tersebut, selalu beralih menatap ke arah Putri agar tidak lemah dan kembali pada Arya. Namun, beberapa saat kemudian mendengar suara bariton dari Arya yang tidak membenarkan pemikirannya.


Arya yang tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka, sehingga saat ini langsung membuatnya ingin menguraikan apa yang dipikirkannya tidak sesuai dengan pemikiran dua wanita itu.


"Tidak! Aku bahkan sama sekali tidak memiliki pikiran untuk kembali pada wanita yang telah kusakiti dan juga Putra yang bahkan tidak aku akui. Aku benar-benar tulus ingin meminta maaf pada Putri atas semua luka yang kuberikan di masa lalu." Ia yang dari tadi menggantung tangannya di udara, masih tidak kunjung mendapatkan balasan.


Akhirnya ia menurunkannya dan tidak memaksakan wanita di hadapannya tersebut untuk menjabat tangannya saat meminta maaf. "Bagiku, sudah mengetahui kenyataan yang membuatku tidak bisa hidup tenang selama ini setelah mengalami amnesia, itu sudah cukup."

__ADS_1


"Apalagi melihatmu sudah hidup nyaman dan bahagia bersama dengan suami serta Xander, sehingga sedikit menghiburku karena tidak terlalu merasa bersalah dan berdosa. Aku akan selamanya hidup seperti ini dan menganggap ini adalah sebuah karma yang harus kujalani."


Arya saat ini yakin jika pepatah bahwa di dunia ini hukum tabur tuai selalu berlaku dan tidak pernah salah sasaran benar-benar terjadi padanya.


"Berbahagialah selalu, Putri. Aku tidak akan mengganggu hidupmu bersama dengan Xander yang merupakan darah dagingku. Aku tidak akan merebut apapun darimu, jadi tenanglah." Kemudian ia saat hendak berpamitan pada wanita yang memiliki masa lalu kelam dengannya.


"Aku pergi karena sudah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan di kepalaku." Kemudian ia beralih menatap ke arah sang pengacara hebat di hadapannya. "Aku turut berduka cita atas kemalangan yang dialami oleh suamimu. Semoga operasinya berjalan lancar dan Jack segera sembuh."


Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan dua orang wanita yang terdengar lirih mengaminkan doa tulusnya. Ia bahkan saat ini menormalkan perasaannya yang berkecamuk karena harus merelakan apa yang baru saja diketahui dan berpura-pura tidak tahu.


Ia berpikir bahwa jika nanti orang tuanya menuntut Putri mengenai status Xander yang merupakan darah dagingnya, akan melindunginya dan akan menepati janji dengan cara tidak merebut apapun dari wanita yang tersakiti karena perbuatannya di masa lalu.


Saat ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dering ponselnya menguraikan keheningan yang saat ini dilalui. Ia langsung mengambil ponsel dari saku celana dan melihat kontak dari Calista.


Ia hanya menatap dalam diam dan masih belum berniat untuk mengangkat panggilan dari wanita yang sudah 5 tahun ini dinikahinya. Selama ia menikah dengan Calista, perasaannya benar-benar dingin dan datar karena seperti tidak mempunyai sesuatu yang berarti di hatinya untuk wanita itu.


Namun, bertahan karena orang tua yang sangat mendukung untuk menikah dengan Calista yang menjadi menantu idaman keluarganya. "Aku tidak bisa hidup dalam kepura-puraan di seumur hidupku bersama dengan Calista. Lebih baik aku hidup sendirian tanpa siapapun."


"Aku ingin menceraikan Calista, tapi orang tuaku pasti akan merasa malu," ucapnya sambil mengembuskan napas kasar dan akhirnya terpaksa menggeser tombol hijau itu ke atas untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh wanita berstatus sebagai istrinya tersebut.


"Kau benar-benar berengsek, Arya. Aku bahkan selama ini memberikan seluruh cintaku padamu dan mencurahkan seluruh hidupku untukmu, tapi apa balasan yang kuterima? Aku hanya mendapatkan sikap dingin darimu. Apalagi saat aku tidak bisa memberikan keturunan untukmu, kau semakin tidak menganggapku," racun Calista sambil mengemudikan kendaraan menuju ke apartemen.


Ia yang tadi pertama kali melihat Putri di acara ulang tahun perusahaan Priambodo, benar-benar merasa sangat terkejut atas apa yang dilihatnya. Bahwa wanita yang berhasil disingkirkan olehnya telah kembali dan berstatus sebagai istri dari orang hebat di kota ini.


Bahkan saat melihat wanita yang sangat dibencinya itu hidup bahagia dalam gelimang harta, membuatnya merasa sangat marah. Bahkan saat menatap ke arah seorang anak kecil yang merupakan darah daging Arya, membuatnya merasa takut kehilangan pria yang sangat dicintainya.


Ia bahkan tadi mengajak Arya untuk segera meninggalkan pesta karena tidak ingin sampai berinteraksi dengan ibu dan anak tersebut, tapi sama sekali tidak diperdulikan dan membuatnya merasa sangat marah, sehingga dengan gejolak amarah, pergi dari sana dan menghabiskan waktu di klub malam untuk minum-minum minuman beralkohol.


Setelah bosan berada di Club sendirian karena menolak para pria hidung belang yang datang mendekatinya, ia pulang ke apartemen dan saat ini masih mengemudikan kendaraan sambil menelpon Arya.


Arya yang saat ini bisa mengetahui jika Calista tengah mabuk karena tidak berhenti meracau, memijat pelipis menghadapi sikap dari wanita itu yang suka sekali melampiaskan apapun dengan minum-minuman beralkohol.


"Calista, bukankah sudah kubilang jangan sering minum minuman beralkohol? Bukankah yang bisa menjaga kesehatan adalah diri sendiri? Bukan orang lain. Cepat pulang dan jangan membuat masalah yang bisa mencemarkan nama baik keluarga kita." Arya saat ini merasa tidak baik-baik saja setelah berbicara dengan Putri.


Bibirnya tadi memang mengatakan tidak akan pernah mengganggu ibu dan anak itu dengan mengikhlaskannya, tapi sebenarnya di dalam hati sedang berusaha untuk melakukannya.

__ADS_1


Hingga begitu mendengar kemurkaan dari Calista, membuatnya bertambah pusing. Jadi, malas untuk menanggapi dan berniat untuk mematikan sambungan telepon. Namun, ia kembali mendengar suara teriakan dari Calista.


"Kau hanyalah pria munafik yang bersembunyi di balik kata menjaga nama baik. Kau hanya peduli pada nama baik keluargamu tanpa menjaga perasaanku yang jauh lebih penting dari apapun. Aku benar-benar sangat, Arya. Aku sangat menyesal mencintaimu setulus ini. Kau akan menyesal jika melihatku mati!" teriak Calista yang saat ini menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan mengemudi.


Bahkan ia tidak memperdulikan apapun lagi ketika memikirkan pria yang dicintai sama sekali tidak mencintainya. Hingga ia rasakan dengannya silau dengan cahaya dari kendaraan dari arah berlawanan dan membuatnya tidak bisa melihat apapun.


Hingga begitu pandangannya kembali jelas seperti semula, seketika membulatkan kedua mata begitu melihat kendaraan besar tepat di hadapannya dan meskipun sudah menginjak rem, sudah tidak sempat dan mobilnya menghantam kendaraan besar di hadapannya hingga membuat mobilnya terpelanting ke arah kanan dan dihantam oleh kendaraan lain.


Calista yang saat ini berteriak begitu mendapatkan ancaman dari beberapa kendaraan hingga mobil yang dikemudikan terbalik dan memenuhi badan jalan. Bahkan lalu lintas kendaraan di area jalanan itu seketika berubah menjadi macet karena kecelakaan yang terjadi.


Sementara itu, Arya yang tadi mendengar kemurkaan dari Calista, membulatkan mata begitu wanita tersebut mengatakan hal-hal yang melantur dan saat berniat untuk menasehati agar sadar dan tidak melakukan hal-hal yang membahayakan, malah mendengar suara teriakan dari seberang telepon.


"Calistaaa! Calistaaa ... apa yang terjadi?" teriak Arya yang saat ini merasa sangat khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk begitu mendengar wanita di seberang telepon berteriak dan beberapa saat kemudian suara dentuman sangat keras terdengar jelas dari ponsel dan membuat Arya berpikiran buruk.


Bahwa wanita yang berada di seberang telepon tersebut mengalami sebuah kemalangan, yaitu kecelakaan lalu lintas. "Tidak! Calista tidak sedang mengemudi dalam kondisi mabuk, kan?"


Saat Arya masih mencoba untuk menormalkan perasaan dan memenuhi pikiran dengan hal-hal yang positif. Sambungan telepon kini sudah terputus dan membuatnya makin merasa khawatir pada keadaan Calista.


"Calista, kenapa tadi kau berbicara seperti itu? Kalimat adalah doa. Bagaimana jika apa yang kau katakan benar-benar terjadi? Kenapa kau selalu keras kepala dan bersikap ceroboh seperti ini?" Arya yang saat ini merasa sangat khawatir pada keadaan wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut, segera menghubungi ahli IT perusahaan untuk menyuruh mencari tahu keberadaan dari lokasi GPS Calista.


Ia berharap segera mengetahui apa yang terjadi pada istrinya tersebut. Bahkan ia buru-buru berjalan menuju ke arah lobby dan mengemudikan kendaraan setelah masuk ke dalam mobil.


"Semoga Calista tidak mengalami kemalangan seperti yang saat ini kupikirkan," lirih Arya yang saat ini masih fokus mengemudi dan menunggu Ali IT dari perusahaan memberikan kabar.


Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar telepon dari salah satu nomor ahli IT perusahaan dan langsung memasang earphone untuk menjawab. Begitu mendapatkan lokasi dari GPS di ponsel Calista, seketika ia langsung menuju ke tempat yang diberitahukan.


Kebetulan ia berada tidak jauh dari lokasi dan beberapa saat kemudian tiba di sana dan membulatkan mata karena sangat macet dan ada kecelakaan. Begitu sangat mengenal dengan mobil yang merupakan milik Calista karena tadi datang ke hotel tidak bersama-sama, sehingga membuat perasaan makin membuncah dan bergejolak.


Ia buru-buru keluar dari dalam mobil untuk memeriksa apakah Calista masih berada di sana atau sudah dibawa ke rumah sakit. Hingga saat melihat petugas medis dari ambulan s membawa salah satu korban yang ditutupi dengan kain, membuatnya seketika mendekat karena ingin memastikan sendiri dengan mata kepalanya.


"Tunggu, apakah ini korban dari kecelakaan?" Arya menelan saliva dengan kasar dan degup jantung tidak beraturan makin dirasakan saat ini karena pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang negatif.


"Iya, korban seorang wanita yang masih muda," ucap salah satu petugas medis yang menetap ke arah pria yang baru saja datang.


Refleks Arya langsung membuka kain yang menutupi wajah korban kecelakaan dan seketika membulatkan mata dan membenkap mulut begitu mengetahui wajah korban kecelakaan tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2