Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Berbunga-bunga


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Calista melihat salah satu teman kerja yang baru saja dipanggil oleh ketua divisi sambil membawa map di tangan. Namun, tidak kembali duduk dan berjalan melewatinya.


"Mau ke mana?"


"Ke lantai sepuluh. Kenapa? Mau ikut?" tanya pria yang saat ini memakai setelan berwarna hitam tersebut.


Sementara Calista yang mengerti jika pria di hadapannya tersebut selalu saja bercanda ketika ditanya, tetapi merasa tertarik saat mendengar lantai sepuluh.


"Apakah kamu mau ke ruangan wakil presiden direktur?"


"Iya." Menunjukkan map berwarna hitam yang berada dalam genggaman. "Ada berkas penting yang harus segera ditandatangani."


Sementara itu, Calista seketika berbinar karena merasa mendapatkan angin segar begitu mengetahui bahwa rekannya tersebut akan menemui sang kekasih.


Refleks Calista bangkit berdiri dari posisi dan merebut map di tangan rekannya tersebut. "Kamu kerjakan saja yang lain. Biarkan aku yang memberikan ini pada kekasihku."


Kalimat terakhir diungkapkan sangat lirih oleh Calista karena tidak ingin ada banyak orang yang mendengar. Sementara pria di hadapannya tersebut tidak dipermasalahkan jika mengetahui kedekatan dengan Arya.


Semua itu karena Calista pernah menolak pria itu menyatakan cinta. Jadi, dengan menggunakan nama Arya, Calista menolak, agar pria itu tidak mengejar lagi.


Namun, meskipun menolak rekan kerja tersebut, Calista sering memanfaatkan dengan cara disuruh. Seperti hanya hari ini, map berwarna hitam tersebut dan tidak menunggu jawaban iya atau tidak, sudah melangkahkan kaki jenjang menuju ke arah lift.


"Akhirnya aku ada alasan untuk berduaan dengan membawa ini." Menatap pada map di tangan.


Bahkan wajah berbinar tampak jelas saat ini dengan dihiasi senyuman lebar. Seolah sangat mewakili perasaan bahagia. Tadi, Arya sarapan di rumah dan akhirnya tidak bisa bermesraan seperti kemarin yang saling menyuapi.


Jadi, hari ini sangat merindukan pria yang sangat dipuja tersebut. "Kira-kira, Arya sibuk atau tidak hari ini? Rasanya aku ingin seharian berada di ruangan kekasihku dan bermesraan karena tidak ada kata puas ketika bersama dengan pria itu."


Begitu pintu lift terbuka, buru-buru berjalan ke ruangan pria yang sangat dicintai. Tanpa mengetuk pintu, Calista sudah membuka dan langsung berjalan masuk sambil mengulas senyuman termanis.


Bisa dilihat sosok pria dengan paras rupawan yang saat ini tengah duduk di depan layar komputer, seketika menoleh dan langsung mendapat tatapan mengintimidasi.


Seolah mengerti dengan arti tatapan itu, Calista langsung mengangkat map hitam di tangan. "Aku tahu bahwa kamu akan mengungkapkan ada protes ketika aku datang mengunjungimu."

__ADS_1


"Padahal aku ke sini karena mendapatkan tugas." Meletakkan barang yang dibawanya ke atas meja dan mendapatkan tubuh di sebelah kiri.


Calista memasang pose paling seksi ketika duduk di tepian meja yang berada tepat di hadapan sang kekasih. "Jadi, jangan terlalu percaya diri dan berpikir aku datang ke sini karena merindukanmu."


Bahkan kalimat penekanan pada kalimat terakhir, sangat mewakili perasaan Calista saat ini. Namun, berakting untuk tidak terlihat seperti wanita yang suka menggoda.


Sementara itu, Arya hanya tersenyum simpul saat melihat wanita itu tengah bersikap seperti seorang wanita yang dingin, seolah tidak membutuhkannya.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Kapan aku pernah berbohong padamu? Cepat tanda tangani itu karena aku harus kembali bekerja!" Calista masih bersikap sinis dan seperti benar-benar ingin segera keluar dari ruangan itu.


Padahal di dalam hati tengah merapal doa agar Arya menghentikan jika nanti kembali ke lantai bawah karena ingin berduaan selama beberapa menit.


Namun, jawaban dari pria yang saat ini terlihat serius dalam menanggapi candaannya, karena langsung membuka map tersebut dan membutuhkan tanda tangan.


"Baiklah. Sekarang, kembalilah bekerja!" Arya sebenarnya saat ini ingin terbahak ketika melihat sikap kepura-puraan dari Calista.


Bahkan saat ini, tengah berpikir untuk mengerjai wanita yang terlihat meredup begitu mendapatkan perintah.


Kemudian meraih benda yang harusnya segera dibawa tersebut. "Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku." Dengan beranjak dari meja, ia pun dengan sangat terpaksa segera keluar dari ruangan.


Namun, ketika tangannya membuka pintu, indra pendengaran menangkap suara tarikan dari poin yang seakan menggelitik urat syaraf saat ini.


"Padahal jika kamu mengakui ingin berduaan denganku, aku akan beralasan kepada staf lainnya bahwa mulai hari ini akan mengangkatmu sebagai asisten pribadi. Membayangkan bisa bekerja sambil bermesraan adalah sesuatu yang luar biasa."


Arya berbicara sambil memeriksa dokumen dan sama sekali tidak menatap ke arah Calista. Bahkan posisi tangan tengah memegang bolpoin dan terlihat beberapa kali mengetuk meja seolah sedang memikirkan sesuatu.


Dalam hati, Arya mulai menghitung karena sudah bisa menebak jika wanita yang berdiri di belakang pintu tersebut akan segera berlari ke arahnya.


'Satu ... dua ....'


Arya!" teriak Calista saat ini.

__ADS_1


Bahkan kini ia tidak jadi keluar karena langsung berbalik badan dan berlari mendekat pada pria yang selalu menjungkir balikkan perasaan. Kemudian menghambur duduk di pangkuan pria yang malah tertawa seperti mengejek.


"Kamu benar-benar sangat menyebalkan!" Calista masih mengerucutkan bibir dengan mengalungkan tangan pada leher sang kekasih.


"Kenapa semakin hari, kamu menyebalkan? Sialnya, aku bertambah gila karenamu." Tidak bisa menahan diri lagi, refleks Calista langsung mendekatkan wajah karena berniat untuk mencium bibir tebal yang selalu menjadi candu tersebut.


Namun, suara dering telpon seolah tidak mengizinkan ia untuk bermesraan bersama sang kekasih. Merasa sangat kesal, Calista sangat penasaran dengan siapa yang mengganggu aksi romantis mereka.


Refleks ia merebut ponsel yang berada di tangan Arya ketika hendak mengangkat panggilan.


"Siapa yang mengganggu kita?" Merasa sangat familiar dengan nama di kontak itu, Calista menoleh ke arah Arya dengan menyipitkan mata.


"Pengacara Amira Tan adalah saudara perempuan wanita itu berbeda ibu. Biarkan saja, tidak perlu diangkat." Arya yang baru saja menutup mulut, seketika mengarahkan tatapan mengintimidasi begitu Calista mengangkat panggilan dan menekan speaker suara.


Mau tidak mau, akhirnya Arya menjawab pertanyaan dari seberang telpon dan langsung mematikan karena tidak ingin berbicara panjang lebar.


Apalagi saat posisi sedang berduaan dengan Calista yang pastinya akan merusak mood baik hari ini. "Kenapa kamu mengangkat telepon tidak penting dari wanita itu?"


"Entah apa yang diinginkan wanita arogan itu karena selalu meminta untuk bertemu." Meletakkan ponsel di atas meja karena ingin melanjutkan bermesraan.


Arya sudah melingkarkan tangan pada pinggang ramping sang kekasih dan berniat untuk membungkam bibir merah merekah di hadapan. Namun, yang terjadi adalah Calista langsung menutup mulut dengan jari.


"Stop! Aku ingin tahu apa yang dilakukan wanita itu. Jadi, apakah boleh aku tetap berada di sini saat dia datang?" Calista berniat untuk menunjukkan kemesraan pada saudara perempuan Putri.


Berharap jika apa yang dilihat hari ini disampaikan pada Putri. 'Semoga ini menjadi awal yang baik untukku. Aku ingin membuat saudara wanita itu melapor. Akhirnya wanita itu akan memilih untuk menuntut cerai. Kemudian aku bisa hidup tenang dan menikah dengan Arya.'


Tanpa pikir panjang, Arya seketika menganggukkan kepala karena mengetahui bahwa anak sudah melihat saat berada di Club malam. Jadi, tidak ada yang perlu ditutupi dari wanita itu karena sudah bukan merupakan hal rahasia.


"Amira Tan sudah mengetahui hubungan kita karena melihat saat berada di Club. Jadi, buat apa aku melarangmu berada di sini dan bertemu dengan pengacara arogan itu. Kamu pasti sangat terkejut melihat ada wanita sangat kasar seperti seorang laki-laki."


"Bahkan sama sekali tidak ada sifat feminim seperti seorang perempuan. Pantas saja, sampai sekarang belum menikah juga. Aku sangat yakin jika wanita itu akan menjadi perawan tua karena para pria takut mendekat."


Arya kemudian tersenyum smirk pada Calista. "Sementara kamu sangat manis dan menggemaskan. Sampai aku ingin selalu menciummu."

__ADS_1


Tanpa berniat untuk berkomentar, Calista yang merasa berbunga-bunga perasaannya ketika mendapatkan pujian dari pria dengan rahang tegas dan paras rupawan tersebut, langsung membungkam bibir tebal itu.


To be continued...


__ADS_2