
Arya yang saat ini tengah menatap sosok wanita dengan wajah penuh sorot mata pertanyaan tersebut, mengarahkan jari telunjuk pada bibirnya.
"Di sini. Aku lebih suka di bibir dari pada pipi. Apa hal sekecil itu saja harus kujelaskan?"
"Aku bukan anak kecil yang suka dicium di pipi, Calista." Arya sengaja mengerjai wanita dengan wajah pucat karena merasa takut sekaligus khawatir dengan sikap datar barusan.
Rasanya seperti mendapat penghiburan ketika menggoda Calista dan seolah perasaan kacau balau kini telah berubah lebih baik saat melihat wanita itu menunjukkan sikap over protektif dan posesif.
Ingin sekali Arya terbahak ketika raut wajah Calista yang awalnya pucat telah berubah penuh kelegaan, tetapi merasakan nyeri pada lengan karena hukuman wanita tersebut.
"Dasar pria berengsek! Aku tadi berpikir kamu marah karena aku menyentuhmu. Sialan!" Calista sudah mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada lengan kekar di balik kemeja dengan lengan yang digulung sampai siku tersebut.
"Kamu suka sekali membuat jantungku seperti hampir lepas dari tempatnya. Awas saja jika sampai mengulangi lagi!" Calista tidak berhenti mengarahkan pukulan pada Arya.
Meskipun pada akhirnya mengendur dan tidak sekuat tadi karena yang terjadi adalah merasa salah tingkah ketika Arya menatap intens dan terlihat penuh sejuta pesona.
Bahkan saat berniat untuk menarik tangan, langsung ditahan oleh Arya yang berbicara dengan penuh keseriusan.
"Calista, dengarkan aku." Arya mencoba untuk berbicara serius karena mulai hari ini, mengukuhkan hubungan lebih dari teman.
Dengan suara serak karena efek gugup, Calista berseru, "Ya?"
"Bukankah sejak hari ini ...."
Arya menunduk menatap ke arah mesin waktu di pergelangan tangan kiri dan melanjutkan perkataannya. "Kita adalah sepasang kekasih pada hari ini jam sebelas malam. Ingat dan catat tanggalnya karena aku tidak ingin kamu selalu menyuruhku untuk mengingat hal-hal kecil seperti ini."
Arya sudah sangat hafal dengan tingkah para wanita yang suka sekali menghitung hari ketika menjadi pasangan dan setelah dari bulan dan seterusnya merayakan.
Apalagi dulu saat masih sekolah sering merayakan bersama sang kekasih yang membuat kejutan. Bukan Arya yang mengatur karena bahkan tidak pernah mengingat
__ADS_1
Namun, para gadis-gadis yang pernah menjadi kekasihnya selalu saja suka merayakan. Jadi, ingin memastikan bahwa Calista tidak akan meminta untuk hal kecil seperti itu.
Sementara itu, Calista memang sudah merekam di otak dan tidak akan pernah dilupakan ketika hari ini Arya meminta untuk menjadi sepasang kekasih. Seolah pria itu sudah bisa membaca apa yang menjadi isi hati.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal pikiran dan ingin mengetahui apa yang saat ini tengah menggerogoti hati. "Siapa saja wanita yang kamu maksud itu? Apakah para kekasihmu di masa lalu? Atau Putri?"
Arya yang tadi sudah berusaha untuk melupakan Putri, tetapi kembali mendengar nama itu, memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Aku tidak sempat melakukan itu karena dulu banyak prahara kehidupan yang membuat kami melupakan hal-hal kecil itu."
'Bagaimana mungkin bisa merayakan saat kami saja hidup susah di kontrakan. Bisa makan saja sudah untung dan Putri sibuk bekerja karena harus menyiapkan makanan.'
Kini, Arya mengingat tentang Putri yang bekerja sebagai pembantu ketika sedang hamil.
'Bahkan kamu rela bekerja saat kondisimu hamil dengan harapan bisa merubah nasib dengan membuat Xander mendapatkan harta warisan, bukan?'
Tidak ingin semakin dibuai oleh pemikiran buruk, Arya mengalihkan pembicaraan. "Aku tidak suka pada wanita yang banyak tanya. Bukankah kamu sudah tahu itu?"
Berbicara sambil masih tidak berkedip menatap wajah cantik Calista, Arya mendadak mendapatkan sebuah ide. "Besok pagi, aku diangkat resmi sebagai wakil presiden direktur oleh papa."
"Sepertinya akan membutuhkan bantuan. Bagaimana jika kamu menjadi sekertarisku atau asisten pribadiku?" tanya Arya dengan pemikiran matang untuk merekrut sebagai orang kepercayaan.
"Jadi, dengan begitu bisa lebih lama bersama dan sepertinya harus membiasakan diri dengan status kita. Menurutmu bagaimana?"
Kalimat terakhir yang menyebut status, rasanya Calista ingin bertanya pada Arya, mengenai kapan menceraikan wanita bernama Putri, tetapi berpikir secara rasional jika pria itu akan ilfill di hari pertama menjadi sepasang kekasih.
'Dasar bodoh! Aku hampir saja melakukan tindakan gegabah. Harus bisa menahan diri dan jangan membuat Arya muak padaku,' gumam Calista yang kini memilih untuk berakting mengulas senyuman di depan Arya.
"Tentu aku sangat senang bisa bekerja dengan kekasih sendiri. Rasanya sudah tidak sabar untuk berangkat bekerja dan menjalani hari-hari indah bersamamu di perusahaan. Oh ya, mengenai hubungan kita, apakah kamu ingin diam-diam tanpa ada yang tahu?"
__ADS_1
Sengaja Calista bertanya karena tidak ingin membuat kesalahan. "Jika ingin merahasiakan hubungan kita, aku tidak akan bersikap manja dan mesra padamu di kantor."
Arya belum tahu dengan hal itu karena hubungan mereka terlalu cepat saat memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
"Nanti akan kuberitahu. Jadi, bersabarlah. Lagipula jika kamu jadi asisten pribadiku di kantor, kita bisa bermesraan di ruanganku, bukan? Tidak akan ada yang melihat. Jadi, jangan pikirkan sesuatu hal yang rumit."
Kembali sudut bibir melengkung ke atas ketika seulas senyuman merekah di bibir Calista. "Baiklah, terserah apa yang kamu inginkan, Arya. Aku akan mengikuti apapun yang kamu inginkan."
"Bagiku, kebahagiaanmu adalah yang utama bagiku. Asalkan kamu tidak mengkhianatiku dengan wanita lain, apapun untukmu."
Calista sebenarnya ingin tertawa dengan kata-kata yang baru saja lolos dari bibir, tapi saat ini yang terjadi adalah ingin membuat Arya mengetahui bahwa saat ini sangat mencintai pria itu.
Meyakinkan tidak ada yang bisa membuat perasaan di hati berpaling karena hanya satu pria yang diinginkan, yaitu Arya Mahesa.
Arya hanya terdiam dan seperti tidak bisa berkata apa-apa karena di dekat Calista, selalu menjadi seperti seorang raja. Memiliki kekuasaan dan dipatuhi oleh bawahan.
Sikap patuh Calista jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Putri. Seolah Arya kini tengah sibuk membandingkan antara istri dan kekasih.
Namun, karena sangat marah pada Putri yang menipu, seolah tidak bisa lagi memikirkan hal baik mengenai wanita itu. Jadi, lebih berpikir jika saat ini Calista adalah wanita yang baik.
Bukan seperti Putri yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan tujuan utama demi menjadi istri konglomerat.
'Putri hanya menipuku karena mengincar harta keluarga Mahesa. Sementara Calista tidak mungkin melakukan itu karena keluarganya sudah kaya. Apalagi yang dikejar selain cinta dariku?' gumam Arya yang kini memilih untuk menanggapi perkataan dari Calista dengan membuka mulut.
"Tunggu! Bukankah seharusnya seorang pria yang berkata seperti ini? Kenapa kamu yang mengatakannya padaku?"
"Karena cintaku jauh lebih besar. Aku tidak butuh apapun selain hatimu. Jadi, jangan patahkan hatiku menjadi dua." Calista jadi mengingat tentang lagi kesukaan sang ibu dari seorang penyanyi yang telah meninggal muda dengan judul patah jadi dua.
To be continued...
__ADS_1