
Sosok pria yang saat ini tengah berdiri di dekat kaca transparan ruangan kerja, tidak berkedip menatap ke arah bawah yang merupakan jalanan padat merayap karena dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan.
Tidak lupa embusan napas kasar kini telah terdengar dan membuat pria yang tak lain adalah Arya meninju udara di sekitarnya. Setelah kejadian menghebohkan di ruangan kerja beberapa menit lalu, ia tidak bisa berkosentrasi bekerja.
Tadi ia memang beralasan pada Calista akan bekerja lagi karena ada banyak dokumen yang harus diperiksa, tetapi itu hanyalah sebuah alasan semata karena otaknya kini tidak bisa berpikir.
Setelah kejadian hari ini, Arya diam-diam merasa bersalah pada Putri dan masih mengingat ekspresi wajah wanita yang baru saja diceraikan tersebut.
"Apa yang akan dilakukan Putri setelah hari ini?" Arya gagal memenuhi janji untuk tidak akan pernah menyebut nama itu karena kali ini merasa bersalah pada wanita yang sebenarnya masih belum bisa dilupakan.
Bahkan rasa cinta pada Putri masih sama karena banyak kenangan indah terjalin di antara mereka. Namun, rasa itu dikalahkan oleh kebencian atas kebohongan mengenai jati diri Xander sebenarnya.
"Mungkin jika kamu meminta maaf dan berbicara jujur padaku bahwa Xander sebenarnya adalah anak pria itu, aku masih bisa memaafkanmu. Bahkan hubungan kita tidak akan berakhir seperti ini."
"Namun, setelah ada campur tangan orang tuaku yang memberitahukan tentang kebenaran itu, mana mungkin aku bisa menutup mata atas semua kebohonganmu, Putri. Di mana harga diriku sebagai seorang lelaki jika tidak mempermasalahkan hal ini?"
Saat Arya berniat untuk menghancurkan apapun yang dilihat di ruangan kerja tersebut, tidak jadi melakukan itu karena mendengar suara dering ponsel di balik saku jas.
Tanpa membuang waktu, ia kini meraih benda pipih tersebut dan melihat kontak dengan nama baby sitter. Berpikir telah terjadi sesuatu pada Putri dan Xander, Arya kini langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Ada apa?"
"Halo, Tuan Arya. Saya ingin mengabarkan bahwa nyonya Putri kini telah menyuruh berhenti bekerja karena ingin merawat sendiri tuan Xander. Jadi, saya menuruti perintah dan baru saja keluar dari rumah. Mengenai gaji, akan saya kembalikan pada Anda karena hanya bekerja satu minggu."
Arya kini bisa mengerti tentang alasan dari Putri dan tidak mungkin melarang wanita itu untuk mengusir baby sitter yang disuruh untuk merawat Xander.
__ADS_1
'Sepertinya dia tidak ingin berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan denganku,' gumamnya di dalam hati dan kini memilih untuk menanggapi perkataan dari wanita di seberang telpon.
"Tidak perlu! Anggap saja itu adalah bonus. Jika menang istriku mau merawat sendiri, berarti memang ingin fokus pada putra kami. Jadi, kamu cari saja pekerjaan lain."
Tanpa menunggu jawaban dari sang baby sitter, Arya kini mematikan sambungan telpon. Berkali-kali terdengar embusan napas kasar memenuhi ruangan kerja tersebut. Bahkan beberapa saat kemudian, Arya terbahak dan merasa seperti orang gila karena tertawa sendiri.
Kemudian ia mengempaskan kasar tubuh di atas sofa dan mengacak frustasi rambut dan melepaskan satu kancing teratas yang serasa mencekik leher. Bahkan melonggarkan dasi yang seolah terasa sesak.
"Apa yang akan dilakukan oleh Putri sekarang? Apa mau melakukan semua sendiri dengan tidak menerima bantuanku? Apa sekarang dia berpikir adalah wonder woman yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain?"
"Dasar wanita munafik! Mungkin dia tidak mau menerima bantuanku, tapi dengan mudah mengizinkan Bagus melakukan apapun untuknya. Aku sudah bisa menebak ke mana pikiran wanita itu."
"Putri pasti akan memilih kembali pada Bagus karena selama ini telah bekerja sama untuk menipuku. Seperti yang dikatakan oleh mama dulu dan semua itu adalah benar."
Masih terlihat sangat frustasi, kini ia tengah sekuat tenaga untuk menahan amarah yang membuncah di dalam hati.
"Buat apa memikirkan wanita yang sama sekali sudah tidak ada hubungan denganku? Itu hanya membuang-buang waktu berhargaku saja." Kemudian memilih untuk bangkit berdiri dan kembali berjalan menuju ke arah kursi kebesaran.
Tidak ingin larut dalam rasa bersalah dan penyesalan karena hari ini menceraikan wanita yang masih sangat dicintai, Arya memilih untuk kembali menyibukkan diri dengan bekerja.
Berharap bisa melupakan semua masalah yang terjadi hari ini dengan cara menenggelamkan diri pada pekerjaan.
Setelah mendaratkan tubuh di sana, Arya memilih untuk memeriksa dokumen yang menumpuk di atas meja. Namun, baru beberapa menit bekerja, mendengar suara notifikasi dari ponsel.
Saat membaca pesan yang tak lain adalah sang ibu, ia memicingkan mata karena mendapatkan sebuah pertanyaan aneh.
__ADS_1
Apa kamu belum mengatakan bahwa saat ini menjalin hubungan spesial pada orang tuan Calista?
Sebenarnya Arya tidak ingin memperdulikan pesan dari sang ibu, tapi khawatir jika wanita yang sangat disayangi tersebut kesal dan marah, lalu menelpon, sedangkan saat ini malas berbicara dengan siapa pun.
Akhirnya ia membalas pesan sang ibu dengan sibuk menggerakkan jari-jari di atas ponsel.
Belum, Ma. Kami masih diam-diam menjalin hubungan karena ingin saling mengenal terlebih dahulu. Memangnya ada apa?
Baru satu menit pesan dikirimkan, Arya kembali mendapatkan balasan dan merasa sangat aneh karena sang ibu tidak langsung menelpon. Begitu membaca jawaban, baru mengetahui alasannya.
Pantas saja mama Calista mengatakan ingin menjodohkan dengan putra dari rekan bisnis suami karena khawatir jika menjadi perawan tua karena sampai sekarang belum menikah.
Lebih baik kamu sekarang segera bertindak untuk mengatakan pada orang tua Calista sebelum semua terlambat. Atau lebih baik kalian menikah secepatnya.
Pesan panjang lebar dari sang ibu, membuat Arya merasa frustasi untuk kedua kali karena beberapa saat lalu baru saja patah hati ketika menceraikan Putri, tetapi sekarang dipaksa sang ibu untuk segera menikahi Calista.
Tentu saja rasa bersalah dirasakan olehnya ketika memikirkan perasaan Putri saat ini. Apalagi tidak mungkin bisa menyembunyikan berita mengenai pernikahan dengan Calista yang pastinya akan digelar secara besar-besaran dan mewah oleh para orang tua.
Sangat berbeda dengan pernikahan sederhana tanpa ada pesta ketika menikahi Putri—wanita yang sangat dicintai.
Arya kini memilih untuk menggebrak meja dan berteriak, "Sial! Kenapa semua terjadi secara kebetulan seperti ini? Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Apa yang akan terjadi pada Putri? Apakah dia akan baik-baik saja saat melihatku menikah dengan Calista?"
Masih merasa ragu dan bingung untuk mengambil keputusan, kini ia hanya bisa diam dan memutar otak untuk memutuskan apa yang akan dilakukan setelah mendapat perintah dari sang ibu.
__ADS_1
"Aku harus berbicara dengan Calista," ucap Arya yang kini memilih untuk mengirimkan pesan pada wanita yang bisa dibilang adalah kekasih gelap atau wanita idaman lain untuknya.
To be continued....