
Bambang Priambodo saat ini mengerutkan mata dengan sikap sinis wanita yang diketahui tengah merasa hancur dan lemah tersebut. Tidak menyangka jika akan mendapatkan tanggapan negatif dan penolakan, kini ingin mencari tahu penyebabnya.
"Kenapa? Apa kamu lebih memilih untuk hidup cacat seumur hidup daripada menerima bantuan dariku?"
Sementara itu, Putri yang saat ini merasa tertekan dengan kenyataan yang menimpa hidupnya, tidak langsung menjawab karena menghormati pria yang diketahui bukanlah orang sembarangan tersebut.
Putri khawatir jika pemikirannya membuat seorang pria hebat memiliki perusahaan besar tempatnya mengirimkan makanan untuk para petinggi itu akan marah dan tersinggung jika mengatakan ketakutan yang dirasakan.
"Saya tidak suka menerima bantuan orang lain. Hanya itu saja. Meskipun demikian, benar-benar berterima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa saya dengan membawa ke rumah sakit. Meskipun sebenarnya lebih baik mati daripada hidup dalam keadaan seperti ini."
Putri saat ini menatap ke arah kakinya yang sudah tidak bisa digerakkan dan satu-satunya yang dipikirkan hanyalah putranya masih kecil dan membutuhkan perhatian.
'Aku tidak akan pernah bisa menggendong putraku lagi ataupun mengajak bermain seperti biasa. Seumur hidup, akan berada di kursi roda, sama sekali tidak pernah terpikirkan. Ya Tuhan, apakah tidak cukup karma yang selama ini kujalani?"
'Kejadian apalagi yang akan menimpaku setelah mengalami kelumpuhan seperti ini? Aku akan ikhlas menerima semuanya dan berharap akan bisa menebus segala dosa-dosaku di masa lalu karena menyakiti suami yang sangat baik hati seperti Bagus.'
Saat melihat Putri malah melamun dan mendengar jawaban tidak memuaskan, Bambang Priambodo saat ini tengah memikirkan alasan dari wanita itu menolak bantuannya.
Kini, menoleh ke arah pelayan yang sudah lama bekerja dengannya. Kemudian memberikan sebuah kode agar wanita itu ikut dengannya keluar untuk berbicara empat mata.
Yeni yang mengerti perintah dari majikan, segera berjalan mengikuti pria dengan bahu lebar tersebut keluar dari ruangan.
Kemudian Bambang saat ini sudah berada di luar ruangan dan ingin menanyakan sesuatu. "Apakah kau sempat berbicara dengan wanita yang menjadi korban kecelakaan itu?"
"Iya, Tuan. Saya sempat berbincang dan menanyakan beberapa hal mengenai wanita itu. Hal yang saya tahu adalah ia saat ini hanya tinggal bersama dengan putranya yang masih kecil dan semalam juga datang bersama pekerja."
"Jadi, sekarang tidak memiliki suami dan benar-benar sangat malang karena harus menjadi single parent. Mungkin saat ini ia benar-benar merasa sangat syok dengan kenyataan yang dialami. Namun, tidak ingin menerima bantuan dari orang lain karena takut jika ada yang menginginkan sesuatu darinya."
Kini, Bambang mulai mengerti apa yang menjadi alasan Putri menolak menerima bantuan dan saat ini ingin membahas mengenai hal itu secara pribadi.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Kau sekarang boleh kembali ke rumah dan suruh yang lain datang ke sini untuk bergantian menjaga wanita malang itu."
"Baik, Tuan Bambang. Saya akan mengambil tas dulu." Kemudian membungkuk hormat dan berjalan masuk untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di sofa.
Sementara itu, Bambang Priambodo saat ini melangkah masuk ke dalam ruangan dan begitu melihat pelayan telah pergi, kini berbicara empat mata dengan wanita malang yang membuatnya merasa iba tersebut.
Kini, duduk di kursi yang berada di sebelah wanita yang terlihat tengah melamun dan seperti mengalami beban berat begitu mengetahui kelumpuhan.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
Lamunan Putri seketika sirna dan kini bisa melihat bahwa pria paruh baya tersebut ternyata sudah duduk di sebelah ranjang.
Putri seolah kehilangan daya untuk sekedar menanggapi karena saat ini otaknya benar-benar tumpul dan juga suara terdekat di tenggorokan ketika mengingat mengenai semua hal yang terjadi di dalam hidupnya.
Meskipun mengetahui bahwa semua hal yang menimpanya adalah merupakan sebab akibat dari perbuatan buruk di masa lalu ketika berselingkuh, tetap saja tidak bisa menganggap semuanya mudah dijalani.
Namun, tidak bisa melakukan itu ketika pria paruh baya di hadapannya tersebut terlihat sangat serius hendak berbicara.
Putri memilih untuk membiarkan dan memberikan kesempatan pria yang menolongnya tersebut mengungkapkan apa yang saat ini tengah dipikirkan.
"Aku adalah pemilik perusahaan tempatmu selama ini mengirimkan makan siang untukku dan beberapa petinggi perusahaan. Aku bahkan selama ini puas dan menikmatinya karena sangat lezat dan pas di lidahku."
"Kamu tahu, aku selalu merasa seperti makan masakan istriku karena masakan rumahan jauh lebih lezat dari restoran mewah. Mungkin karena ada cinta yang diberikan oleh seorang wanita ketika memasak dan aku merasakan itu ketika menikmati cateringmu."
"Aku tidak pernah menyangka jika kamu mengalami kecelakaan tepat di depan perusahaanku ketika hendak mengirimkan makanan. Jadi, aku merasa bertanggung jawab sebagai orang yang bekerja sama denganmu."
"Jadi, buang jauh-jauh pikiran buruk bahwa aku melakukan kebaikan karena menginginkan sesuatu darimu." Bambang Priambodo sangat berharap wanita di hadapannya mau berubah pikiran dan menerima bantuan darinya.
Putri yang saat ini tidak bisa berpikir jernih mengenai perkataan dari pemilik perusahaan tersebut, saat ini hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena jujur saja masih bingung apa yang harus dilakukan begitu mengetahui jika kakinya mengalami kelumpuhan.
__ADS_1
Hingga melihat beberapa perawat masuk ke dalam ruangan dan mengetahui bahwa akan melakukan pemeriksaan intensif seperti dikatakan oleh dokter dan juga pria yang berniat menolong yang tersebut.
Hingga Putri langsung dibawa keluar setelah meminta izin pada Bambang Priambodo.
Sementara itu, Bambang Priambodo saat ini dengan berpikir bahwa respon dari Putri yang masih belum berubah pikiran, membuatnya merasa bingung bagaimana menolong wanita itu.
Namun, karena mengerti bagaimana perasaan wanita itu, sehingga berpikir bahwa sang raja jika dilanda kegundahan.
Akhirnya memberikan waktu pada wanita itu untuk berpikir. Apakah mau menerima bantuan darinya atau tidak. Apalagi tidak mungkin memaksa seseorang yang tidak menginginkan dibantu, jadi tetap menyerahkan keputusan pada wanita itu.
Bambang Priambodo saat ini melihat perawat yang sudah mendorong brankar keluar. Ia memberikan sebuah kartu nama sebelum pergi ke kantor.
"Hubungi aku jika kamu berubah pikiran dan mau menerima bantuanku. Aku harus pergi berangkat ke kantor." Kemudian berlalu pergi meninggalkan Putri setelah menaruh kartu nama di brankar.
Sementara itu, Putri yang bisa melihat pria paruh baya tersebut berjalan pergi, kini meraih kartu nama dengan warna emas tersebut dan sudah dipastikan jika selama ini bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh pria bernama Bambang Priambodo tersebut.
Saat para perawat membawanya ke ruang pemeriksaan intensif, ia yang masih terus memegang kartu nama di tangan, sibuk mempertimbangkan apakah akan menerima bantuan dari pria itu atau memilih hidup cacat selamanya karena tidak mungkin bisa berobat sendiri.
Apalagi saat ini tidak mempunyai banyak uang simpanan karena digunakan untuk modal usaha dan selalu berputar membeli bahan-bahan kebutuhan.
Meskipun membuka usaha catering, tidak pernah hidup kesusahan dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari serta keinginan Xander.
Namun, jika untuk berobat yang pastinya butuh banyak uang, ia menyadari bahwa itu tidak mungkin bisa dilakukannya.
Embusan napas kasar terdengar lolos dari bibirnya ketika memikirkan sesuatu hal mengenai keputusan apakah akan menerima bantuan pria tersebut atau tidak.
'Apakah tuan Bambang tulus membantuku atau ada mempunyai niat lain padaku? Sepertinya aku harus mencari tahu hal itu,' gumam Putri yang saat ini memutuskan untuk mencari tahu mengenai semua hal yang berhubungan dengan pria yang hendak membantunya agar tidak salah langkah.
To be continued...
__ADS_1