Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mengigau


__ADS_3

Setelah kejadian Jack memukuli Noah Martin yang merupakan bartender karena kesalahpahaman membawa pulang ke hotel, Amira Tan lebih sering datang ke tempat tinggal sang bartender untuk menebus kesalahan.


Meskipun sebenarnya bukan kesalahannya saat Jack membuat babak belur Noah, tetapi sadar jika itu penyebabnya juga karena menyangkut ia.


Ia bahkan tidak pernah menduga jika Jack bisa melakukan hal gila hanya karena mengkhawatirkan keadaannya yang jelas-jelas tidak apa-apa.


Ia bahkan kembali ke rumah tanpa kekurangan apapun karena memang Noah sama sekali tidak menyakitinya.


Seperti saat ia memarahi Jack dengan mengatakan bahwa pikiran para lelaki tidaklah sama dengan pria itu karena berpikir kotor untuk menyetubuhi seorang wanita yang sedang tidak sadar.


Sedangkan Jack hanya diam menahan kekesalan ketika mendapat omelan dari Amira Tan.


Amira Tan semalam sudah datang ke tempat Noah dan melihat wajah pria itu babak belur dan sedang diobati oleh sahabat yang juga merupakan bartender.


Bahkan pria yang tidak ia ketahui namanya tersebut meminta uang ganti rugi atas apa yang dialami sang bartender.


Sedangkan yang tertuduh hanya diam saja karena bibir sebelah kanan telah robek, jadi memilih untuk tidak menanggapi.


Hingga akhirnya ia membayar ganti rugi, agar digunakan untuk berobat pria itu. Namun, ia yang ingin mengecek keadaan dari pria itu dengan datang ke club, tidak melihat di sana.


Akhirnya ia menuju tempat tinggal sang bartender dan sekarang mobilnya sudah terparkir rapi di depan rumah.


"Apa ia ada di dalam rumah karena masih sakit?"


Tanpa membuang waktu, Amira Tan kini langsung beranjak turun dari mobil dan langsung berjalan menuju ke arah pintu utama.


'Untung tadi aku tidak mengajak Jack, bisa seperti kemarin jika sampai mereka berdua berkelahi dan berdebat mulut. Namun, sebenarnya tingkah mereka berdua saat berdebat malah seperti dua pria memperebutkan wanita.'


'Akulah wanitanya. Seseorang yang tidak terbalas rasa cintanya. Seolah standarku yang tinggi terlihat rendah di mata Bagus.'


Tidak ingin terlalu tinggi berekspektasi, kini Amira Tan memilih untuk membiarkan seperti air mengalir. Begitu mengarahkan kepalan tangan di pintu berwarna hitam yang merupakan tempat tinggal pria itu, ia pun tak lupa berteriak memanggil.

__ADS_1


Butuh kesabaran untuk bisa menghadapi watak dua orang yang berbeda. Jadi, ingin menggunakan kesempatan mengubah para pria yang berhasil membuat darahnya mendidih.


"Halo! Apa kau ada di dalam?"


Amira Tan berbicara sambil beberapa kali mengetuk pintu. Berharap rasa bosannya akan segera dihapuskan.


"Ke mana ia? Kenapa lama sekali? Apa ia tidak tahu jika dari kemarin aku mengkhawatirkannya?"


Selama beberapa menit menunggu, tetap tidak kunjung terbuka pintu di hadapannya, sehingga membuat Amira Tan memilih untuk ke belakang.


"Apakah ia pergi?" Amira mencari tanda-tanda kehidupan di dalam rumah, tetapi tidak ada suara sama sekali.


"Noah! Apa kau di rumah?"


Tidak menyerah, ia mencari celah untuk mencari keberadaan sang bartender di sekeliling. Hingga ia pun mendengar suara bariton dari seseorang yang sangat dihafalnya dan membuat Ana merasa ada yang tidak beres.


"Ada apa kau ke sini lagi? Apa kau ke sini karena ingin mengobatiku? Padahal kemarin baru saja memberikan uang kompensasi atas perbuatan kekasihmu itu." Noah tadi baru selesai makan dan minum obat karena merasakan tubuhnya sakit semua.


Amira Tan refleks berbalik badan dan melihat ke arah sosok pria di hadapannya terlihat sangat mengenaskan.


"Apa yang kau lakukan di rumah? Hingga kau tidak masuk kerja? Tadi aku ke sana karena ingin melihat lukamu." Refleks Amira mengarahkan tangan pada bagian wajah pria itu dan seketika membulatkan mata begitu merasakan tubuh pria itu sangat panas.


"Astaga! Panas sekali! Kau demam!"


"Hanya demam biasa, nanti juga turun setelah aku minum obat. Pergilah! Kau hanya mengacau saja. Aku mau tidur!" Noah mengibaskan tangan dan berniat untuk menutup pintu kembali.


Namun, Amira Tan refleks langsung menahan dengan tangan memegang pintu dan kaki yang menghalangi bagian bawah dengan kaki.


"Tunggu! Aku belum selesai bicara. Kau perlu dikompres. Biar cepat turun panasnya. Jangan sampai kau kejang saat badanmu terlalu panas."


Sementara itu, Noah yang merasa kepalanya semakin pusing, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari Amira, sudah berjalan menuju ke kamar.

__ADS_1


Bahkan ia seperti mau pingsan saat terlalu lama berdiri. Begitu melihat ranjang miliknya, langsung mengempaskan tubuhnya pada tempat tidur dan memejamkan mata.


Tidak hanya itu, ia meraih selimut dan memakainya dengan posisi meringkuk seperti kucing yang manis.


Amira kini sudah berada di ruangan kamar sang bartender yang sangat maskulin karena warna gelap mendominasi.


"Apa yang sekarang kau rasakan?"


"Tidak merasakan apa-apa. Hanya ingin tidur."


Amira Tan kini geleng-geleng kepala dan memilih untuk berjalan ke dapur. Tentu saja ia tengah mencari sesuatu untuk mengompres, agar tidak terlalu panas.


"Keningnya panas seperti api. Bisa berbahaya jika dibiarkan. Sepertinya itu karena pengaruh ia babak belur gara-gara ulah Jack."


Sepertinya fisiknya terlalu lemah karena Jack pun sebenarnya juga babak belur, tetapi tidak panas badannya. Atau aku yang tidak tahu? Apa harus kupastikan?"


Tidak ingin mengambil pusing dengan pikirannya, kini Amira Tan sudah mendapatkan beberapa alat untuk mengompres. Kemudian ia berjalan menuju ke ruangan pribadi pria yang masih meringkuk di atas ranjang.


Ia menatap ke arah sosok pria yang akan dikompresnya. 'Kalau dilihat dari dekat seperti ini, ternyata tampan juga.'


Saat merutuki kebodohannya karena bisa berkomentar hal konyol, Amira Tan memilih untuk langsung mengompres kening, sehingga menimbulkan sebuah pergerakan darinya.


Tidak hanya itu, ia mendengar suara mengigau dari pria yang masih memejamkan mata tersebut.


"Jangan pergi! Aku membutuhkanmu!"


Amira kini hanya diam dan melihat sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut masih terus memejamkan mata, tetapi asyik mengigau.


Tidak hanya itu saja, bahkan ia refleks seperti seorang ibu yang tengah menunjukkan kasih sayang pada putranya dengan mengusap lembut kening pria itu.


To be continued...

__ADS_1


',


__ADS_2