
Putri yang tadinya sibuk dengan pikirannya ketika mendoakan suami yang dipikirnya telah meninggal, tapi begitu melihat jika mertuanya salah mengira bahwa kekasih pria itu yang meninggal.
Hingga ia merasa sangat lega sekaligus bersyukur karena ternyata suaminya masih hidup dan menjalani proses operasi di dalam. Sampai mendengar penjelasan dokter yang singkat, sehingga merasa tidak puas.
Namun, mengambil hikmah atas semua kebaikan hari ini karena sang suami masih bisa bernapas sampai sekarang. Hingga ia merasa sangat terkejut ketika melihat wajah mu sudah penuh dengan perban.
Ia mendengar perkataan dari suster yang mendorong brankar menuju ke arah ruangan perawatan.
"Wajah pasien rusak parah karena terkena pecahan kaca akibat mobil yang terbalik. Nasib baik pecahan kaca itu tidak melukai mata dan hanya menggores bagian wajah."
"Selain itu luka di kepala bagian belakang juga dalam. Mungkin nanti akan meninggalkan bekas di kepala maupun wajah." Tadi perawat yang mendengarkan perkataan dari sang dokter mengenai bagian wajah yang terkena pecahan kaca.
Jadi, sekarang menyampaikan pada pihak keluarga agar tidak merasa syok jika nanti perban dibuka setelah luka mengering.
Sementara itu, Bambang Priambodo yang saat ini sama sekali tidak mempermasalahkan jika wajah putranya ada bekas kecelakaan karena yang terpenting adalah nyawanya masih selamat dan masih bernapas sampai sekarang.
"Tidak apa-apa karena uang bisa menghilangkan bekas apapun di wajah. Atau mungkin sekalian melakukan operasi plastik jika putraku tidak suka dengan wajahnya yang penuh dengan luka," ucapnya yang kini menatap ke arah perawat serta menantunya yang terlihat khawatir.
Bahkan berpikir jika nanti putranya benar-benar sehat seperti sedia kala, ia hanya akan hidup berdua jika menantunya memilih untuk pergi dari mereka. Ia akan melakukan yang terbaik untuk putranya agar tidak merasa kecewa dalam hal apapun.
Hingga sampai memikirkan jika ia akan membayar kesalahan di masa lalu dengan cara lebih memperhatikan putranya karena dulu larut dalam kesedihan ketika sang istri meninggal. Akhirnya putranya memilih jalan yang salah dan tersesat ke lembah jurang kenistaan.
Putri yang saat ini berjalan di belakang para perawat bersama dengan mertuanya, kini membenarkan perkataan pria paruh baya tersebut. Bahwa uang bisa membuat siapapun menjadi jauh lebih cantik maupun tampan.
Apalagi ia sudah mendengar bagaimana teknologi di zaman sekarang yang bisa merubah siapapun yang ingin lebih cantik dan tampan. Asalkan mempunyai banyak uang, bahkan kecantikan dan ketampanan bisa diperbaiki.
Ia hanya ingin menghibur perasaan mertuanya agar merasa lega ketika mengungkapkan hal itu. "Mungkin pilihan negara Korea yang sangat terkenal dengan operasi plastiknya itu bisa menjadi pilihan, Pa."
__ADS_1
Bambang Priambodo yang tadinya fokus menatap ke arah wajah putranya yang ditutupi perban penuh karena juga ada luka di bagian kepala.
Seketika yang membenarkan perkataan dari menantunya karena pernah mendengar jika negara tersebut memang menjadi tempat paling sering dikunjungi orang untuk operasi plastik.
"Kita serahkan saja pada Aldiano nanti," ucapnya kembali menatap ke arah putranya yang kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan intensif.
Saat ia dan menantu menatap ke arah perawat yang memasang beberapa alat di tubuh putranya, merasa sangat bersalah karena memikirkan masa lalu. "Mungkin semua ini tidak akan terjadi jika putraku tidak kekurangan kasih sayang dariku saat ibunya meninggal."
Kembali Putri bahu ayah mertuanya untuk menyalurkan energi positif agar pria itu tidak terpuruk karena menyalahkan diri sendiri. "Pa, semua hal itu tidaklah penting karena yang terpenting sekarang adalah merubah semuanya menjadi lebih baik."
"Penyesalan memang selalu datang di akhir, tapi tetap harus berpikir positif dengan mengedepankan masa depan karena kita tidak hidup di masa lalu. Jadikan semua itu pelajaran agar tidak kembali terulang hal-hal yang buruk," ucapnya yang masih tidak mengalihkan pandangan dari perawat yang baru saja memasangkan selang oksigen pada sang suami.
Saat ini, Bambang Priambodo hanya menghela napas berat karena memang ia akui jika semua yang baru saja didengarnya memanglah benar.
Namun, tetap saja tidak bisa melupakan semua kesalahan di masa lalu yang membuatnya harus menghadapi kejadian buruk hari ini. 'Maafkan Papa, Putraku. Semua ini adalah salah Papa, tapi malah sibuk menyalahkanmu karena tersesat di jalan yang salah.'
Apalagi ia selama ini tidak bisa menahan amarahnya ketika melihat putranya selalu pulang pagi dalam kondisi mabuk-mabukan setelah bertemu dengan kekasih sesama jenis.
Ia bahkan tahu jika putranya pernah membawa sang kekasih ke rumah setelah menikah dan itu diketahui dari orang yang disuruh membunuh putranya.
Namun, ia tetap tidak membuat Putri pergi dari putranya dan sekarang membuatnya merasa bersalah pada wanita yang bahkan sama sekali tidak berdosa itu, tapi harus ikut merasakan penderitaan bersamanya.
Ia yang saat ini melihat ke arah para perawat yang baru saja selesai dengan pekerjaannya dan berpamitan keluar setelah mengatakan jika membutuhkan sesuatu tinggal mengecek tombol pada bagian atas ranjang perawatan.
Saat melihat dua orang perawat sudah pergi dari ruangan dan menghilang di balik pintu, ia ingin mengungkapkan penyesalannya pada sosok wanita yang sama sekali tidak bersalah dan harus ikut terlibat dalam dosa yang dilakukannya.
"Putri."
__ADS_1
"Iya, Pa?" Putri melihat tatapan aneh dari mertuanya yang membuatnya saat kini merasa ada sesuatu hal penting yang akan disampaikan padanya.
Ia kini menunggu sampai pria paruh baya yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri tersebut mengatakan apa yang ingin disampaikan padanya.
'Kenapa Papa terlihat sangat serius? Apakah ia akan mengatakan sesuatu yang sangat penting? Tadi saat di mobil membahas tentang masalah harta, kali ini apa lagi?' gumam Putri yang saat ini berharap jika mertuanya tersebut mengatakan hal yang tidak berhubungan dengan masalah materi.
Tidak ingin membuat sosok wanita di hadapannya bertanya-tanya tentang apa yang ingin dikatakan, kini ia berdehem sejenak sebelum mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.
"Kamu boleh pergi, Putri. Saat ini aku membebaskanmu."
Putri yang saat ini terdiam karena bisa mengerti kemana arah pembicaraan pria itu yang tidak ingin merepotkannya lagi ataupun melibatkannya dalam perihal keluarga Priambodo.
'Mungkin jika orang lain, menganggap ini adalah sebuah pembebasan, tapi kenapa bagiku saat ini aku seperti layaknya istri tidak berguna?' gumam Putri yang tengah memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Ia memang sempat meminta Aldiano untuk segera mengakhiri pernikahan agar bisa berbuat sesuka hati, tapi kali ini yang dirasakan yang sangat berbanding terbalik karena malah seperti menjadi seorang istri tidak tahu diri.
Kali ini ia menatap ke arah sosok pria paruh baya dengan raut wajah muram di hadapannya. "Apa Papa saat ini menyuruhku pergi karena tidak ingin merepotkanku ataupun melibatkanku dalam masalah yang menimpa keluarga Priambodo?"
"Papa benar-benar merasa sangat berdosa padamu karena melibatkanmu dalam keluarga kami yang sangat rumit ini. Kamu sama sekali tidak bersalah pada keluarga kami, tapi aku malah menyeretmu dalam masalah untuk memanfaatkanmu menutupi perbuatan buruk putraku." Ia bahkan saat ini benar-benar menyesal karena memanfaatkan kebaikannya dengan meminta balas budi.
"Sekarang aku akan mengurus proses perceraian kalian dan hiduplah dengan baik bersama dengan putramu. Bahkan kamu bisa menikah lagi dan hidup bersama pria yang kamu cintai, Putri." Masih dengan raut wajah bersalah dan penuh penyesalan, berharap menantunya tersebut memaafkannya.
"Tapi jangan kuatir karena aku akan memberikan nafkah untuk Xander karena sudah sangat menyayanginya seperti cucu kandung sendiri. Papa benar-benar minta maaf karena telah membuatmu hidup menderita karena Aldiano," ucapnya yang saat ini mulai berlalu pergi meninggalkan sosok wanita yang hanya diam tanpa ekspresi.
Ia yang berjalan mendekati putranya, ingin memberitahukan tentang keputusannya saat ini dan berharap jika Aldiano lega karena telah terbebas dari pernikahan yang tidak diinginkan.
"Bukankah ini yang kamu inginkan, Putraku? Mulai hari ini, Papa akan membebaskanmu melakukan apapun yang kamu inginkan dan tidak akan pernah memaksamu," ucapnya dengan menatap intens sosok putranya yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
To be continued...