
Di tempat berbeda, yaitu ruangan kamar seorang pria yang tak lain adalah Aldiano, seketika meluapkan amarah dengan berteriak dan melampiaskan melalui benda-benda mati yang dilihat.
Ruangan gambar yang tadinya sangat rapi karena selalu dibersihkan dan dirapikan oleh para pelayan, kini berubah seperti kapal pecah yang sangat berantakan.
"Berengsek! Aku sangat jijik dengan para wanita!" sarkas Aldiano yang saat ini melemparkan bantal guling dan selimut hingga berserakan di lantai.
Bahkan hanya dengan melihat hasil perbuatannya yang mengubah ruangan favorit menjadi tempat layaknya neraka, Aldiano saat ini memilih untuk berjalan ke arah kamar mandi karena berharap bisa mendinginkan kepala di bawah guyuran air shower dingin.
Hingga selama berada di dalam kamar mandi, memikirkan seseorang yang selama ini berarti di hati. "Bagaimana caranya aku harus memberitahu kekasihku mengenai keinginan gila papa?"
"Pasti kekasihku akan sangat marah mengetahui hal ini," lirih Aldiano yang hari ini berniat untuk pergi ke apartemen sang kekasih.
Berpikir untuk mencari saran dan tidak mau mengambil keputusan sepihak seperti yang dilakukan oleh sang ayah saat memaksa untuk menikah secara tiba-tiba.
Hingga Aldiano memikirkan mengenai sosok wanita yang menjadi pilihan sang ayah. "Apa wanita itu tahu bahwa aku tidak menyukai lawan jenis? Mungkin belum tahu dan jika mengetahui hal ini, tidak akan mungkin mau menikah denganku."
Akhirnya Aldiano memiliki sebuah ide di kepala dan mengurungkan niat untuk mengatakan hal ini pada sang kekasih karena khawatir Jika hubungan mereka akan berakhir buruk.
"Lebih baik aku selesaikan dengan wanita itu dan pernikahan pasti akan langsung gagal," ucap Aldiano yang merasa sangat yakin dengan rencananya besok akan berhasil.
"Tepat saat pernikahan, aku akan mengatakan pada wanita itu bahwa tidak menyukai lawan jenis. Jika aku jijik padanya, wanita itu juga akan merasakan hal yang sama setelah mengetahui kenyataan sebenarnya."
Sudut bibir Aldiano melengkung ke atas begitu mendapatkan jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Hari ini, akan libur pergi ke klab malam untuk menemui sang kekasih seperti biasa.
Aldiano akan fokus menenangkan diri sampai acara esok hari berlangsung. Berharap bisa menyimpan tenaga untuk besok. Bahwa besok adalah hari yang mungkin akan dilalui dengan penuh drama.
"Aku harus menyelesaikan kegilaan papa besok dan wanita itu akan langsung pergi sebelum pernikahan dimulai." Aldiano seketika merasa lega dan tak lupa bibir sudah melengkung ke atas karena mengungkapkan bahwa perasaannya hari ini sangat senang.
Tanpa melibatkan sang ayah, Aldiano memilih untuk menyelesaikan sendiri semua masalah yang dibuat oleh pria paruh baya tersebut.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Putri saat ini sudah terlihat sangat cantik setelah selesai dilihat dirias oleh make up artis yang diperintahkan oleh Bambang Priambodo.
Meskipun sebenarnya sangat terkejut sekaligus shock karena setelah mengungkapkan persetujuan, langsung diadakan pernikahan.
Putri tidak pernah menyangka akan secepat itu menikah. Bahkan semua orang yang selama ini bekerja di tempat usahanya tersebut juga sangat terkejut.
Namun, para pekerja merasa sangat bahagia karena akhirnya bos mereka menemukan kebahagiaan dengan menikah. Apalagi sang suami adalah putra dari pemilik perusahaan yang selama ini membantu dan sangat baik.
Bahkan semua orang berpikir bahwa Putri adalah seorang wanita yang beruntung karena mendapatkan suami hebat dan berasal dari konglomerat.
Tentu saja banyak ucapan selamat yang didapatkan oleh Putri dan juga pujian bahwa ia sangat beruntung sebagai seorang wanita yang sebentar lagi akan bergelimang harta dan tidak perlu bersusah payah untuk mencari uang seperti biasa ketika membesarkan Xander.
Namun, karena tidak ingin membuka rahasia mengenai keluarga Priambodo, sehingga Putri mengucapkan terima kasih pada semua orang yang terlihat sangat tulus dan ikut berbahagia dengan keputusannya.
Padahal saat ini sedang menangis batin karena menyerahkan hidup untuk menyelesaikan masalah demi membantu pria yang selama ini telah berjasa pada hidupnya.
Setelah selesai dirias, mobil mewah yang baru saja datang dan terparkir di halaman rumah sudah siap untuk mengantarkan mempelai pengantin wanita tersebut ke rumah keluarga besar Priambodo.
Bahkan hari ini semua pekerjanya ikut dengan naik mobil di belakang karena ingin mengetahui jalannya proses pernikahan mendadak dari bos mereka yang menikah dengan putra dari seorang pria yang hebat.
Apalagi sangat penasaran dengan calon suami Putri dan pastinya sangat tampan dan akan merubah hidup bos mereka layaknya seperti seorang Cinderella.
Beberapa saat kemudian, mobil berwarna hitam sudah masuk ke dalam pintu gerbang tinggi berwarna emas dan terparkir rapi di tempat.
Putri yang langsung berjalan keluar dari mobil begitu dibukakan pintu oleh sopir, ini menggandeng putranya dan berjalan masuk ke pintu utama didampingi oleh beberapa pelayan yang sudah bersiap di depan.
Pertama kali memasuki rumah dengan lantai tiga yang sangat mewah dan megah tersebut, membuat Putri mengingat masa lalu yang dulu pertama kali pergi ke rumah Putri dan tidak mendapatkan sambutan hangat karena hanya sebuah penghinaan yang diterima.
Putri merasa seperti mengalami Dejavu hari ini, mencoba untuk berpikir positif bahwa menikah hanya demi membantu menyelesaikan masalah dari pria yang sudah menolongnya dari kemalangan.
"Selamat datang di rumah keluarga Priambodo, menantuku. Akhirnya calon pengantin wanita sudah datang."
__ADS_1
Bambang Priambodo yang tadi sedang berbicara dengan putranya di kamar agar tidak membuat masalah hari ini untuk menggagalkan pernikahan, mendapatkan kabar dari pelayan bahwa Putri sudah datang dan buru-buru menyambut secara langsung.
Mungkin satu-satunya orang yang paling bahagia hari ini adalah dirinya dibandingkan mempelai pengantin.
Meski merasa tidak masuk akal dan keinginannya mungkin tidak pernah terjadi, tapi tidak ingin memutuskan harapan besar bahwa Putri bisa mengubah putranya dan kembali ke jalan yang benar.
Putri yang saat ini tersenyum simpul, merasa sangat aneh dengan situasi yang terjadi hari ini.
Hal yang tidak pernah terpikirkan bahwa ia akan menikah dengan seorang pria tidak normal, sehingga tidak tahu harus berekspresi seperti apa jika bertemu dengan putra dari Bambang Priambodo tersebut.
Untuk menyembunyikan kegundahan serta kegelisahan yang dirasakan, Putri hanya menyunggingkan senyuman palsu untuk menutupi hal yang sebenarnya.
"Terima kasih, Tuan Bambang."
"Jangan panggil aku tuan karena akan menjadi ayah mertuamu. Mulai sekarang, kamu harus memanggilku daddy agar bisa terbiasa." Bambang Priambodo kini menggendong anak kecil yang selama ini dianggap seperti cucu sendiri dan tidak pernah menyangka akan memiliki hubungan kedekatan seperti ini.
"Xander hari ini terlihat sangat tampan. Mulai sekarang, panggil Kakek, ya!"
Sementara itu, Xander yang tidak tahu harus menjawab apa, seketika menoleh ke arah sang ibu untuk meminta pendapat dan begitu melihat wanita yang telah melahirkannya menganggukkan kepala, sehingga bisa mengerti.
"Kakek," ucap Xander yang saat ini tersenyum simpul dan memeluk erat pria paruh baya tersebut.
Putri merasa sangat terharu dengan interaksi antara pria yang dianggap seperti Dewa penolong tersebut dengan putranya yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang kakek.
'Maafkan mama karena kamu tidak pernah merasakan figur seorang ayah dan juga kasih sayang dari kakek dan nenekmu,' gumam Putri yang saat ini tersadar dari lamunan begitu mendengar suara bariton asing dan seperti tengah memanggilnya, sehingga langsung menoleh ke belakang.
Hingga Putri melihat sosok pria dengan menggunakan setelan jas lengkap berwarna hitam putih yang menandakan bahwa itu adalah calon suami yang sebentar lagi mengibaratkan janji di depan para saksi dan juga orang yang menikahkan.
"Wah ... calon pengantinku sudah datang rupanya," ucap Aldiano yang saat ini tersenyum dan berjalan mendekat.
Bahkan sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari semua orang karena hanya ingin berbicara dengan wanita itu agar mau membatalkan pernikahan setelah mengetahui bahwa ia bukanlah pria yang normal.
__ADS_1
To be continued...