
Noah yang kini melihat seorang pria paruh baya mengetuk jendela mobil dan melihat sikap aneh Amira Tan karena seperti dipenuhi oleh kekhawatiran, kini menebak jika ada hubungan dan satu-satunya hal yang terpikirkan adalah orang tua.
"Apa itu ayahmu?" tanya Noah yang kini perasaan seketika dikuasai oleh kegugupan karena seolah berbagai macam sensasi menghantam.
Ada rasa khawatir jika nanti mendapat kemurkaan dari ayah Amira Tan karena menginap di rumah semalam dan bercinta. Apalagi jika mendapatkan pukulan dan berakhir babak belur di rumah sakit, pasti akan membuat Noah berakhir di rumah sakit karena tidak mungkin akan membalas perbuatan pria paruh baya tersebut.
Ada juga rasa senang kalau memikirkan jika pria paruh baya itu malah langsung menyuruh mereka menikah, pasti akan langsung mengatakan setuju tanpa pikir panjang.
'Apa yang harus kulakukan saat bertemu dengan calon mertua? Jika sampai ayah Amira Tan mengetahui apa yang terjadi di antara kami, pasti hari ini langsung disuruh bertanggungjawab,' gumam Noah yang kini melihat Amira Tan mengangguk perlahan sambil berbisik.
"Jangan katakan apapun jika tidak ingin mendapatkan pukulan dari ayahku. Biar aku yang mengurus semuanya." Amira Tan kini mencoba untuk menormalkan perasaan setelah mengancam Noah.
Kemudian Amira Tan membuka pintu mobil setelah sebelumnya menyuruh Noah juga melakukan hal sama. Bahkan saat bersitatap dengan sang ayah, Amira Tan kini berakting seperti tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Papa di sini? Sepertinya Papa baru saja joging pagi." Sebenarnya degup jantung Amira Tan serasa meledak karena telah melakukan perbuatan terlarang bersama pria yang kini sudah berjalan mendekat dan menyapa.
"Selamat pagi, Paman." Noah yang merasa suasana sangat tegang, memilih untuk menguraikan ketegangan yang terjadi dengan bersikap hormat dan sudah membungkuk hormat.
Sementara itu, sosok pria paruh baya yang baru saja kembali joging dari luar kompleks perumahan mewah keluarga tersebut tadi dari jauh memastikan jika itu adalah mobil putrinya dan begitu benar yang dipikirkan, mengetuk kaca jendela karena berpikir ingin tahu kenapa berhenti di sana.
Namun, sama sekali tidak pernah menyangka jika putrinya ternyata sedang bersama dengan seorang pria di dalam mobil. Pikiran buruk seorang ayah kini memenuhi diri karena khawatir jika pria tersebut melakukan hal buruk.
"Apa yang kamu lakukan di depan komplek, Amira Tan? Kenapa kamu bisa berpakaian seperti ini? Bukankah kemarin pergi dengan memakai pakaian lain? Atau memang telah berencana menipu Papa?" sarkas Edi dengan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.
Saat Amira Tan menelan ludah dengan kasar karena mendapatkan tatapan penuh kemurkaan dari sang ayah, kini berusaha untuk meredam emosi pria paruh baya yang sangat dihormati dan disayangi dengan cara mengusap lembut lengan.
"Aku akan menjelaskan di rumah, Pa. Jangan di jalan seperti ini karena malu jika dilihat orang. Lebih baik Papa masuk ke dalam mobil dan kita pulang."
Kemudian Amira Tan beralih menatap ke arah Noah yang ada di sebelah kiri. "Kamu pulang saja dan terima kasih karena sudah mengantarkanku."
Meskipun dalam hati ingin murka karena semua tak seperti ekspetasi, tapi Noah saat ini berakting tersenyum dan bersikap patuh seperti anak kecil yang tidak berani melawan orang tua.
"Baiklah. Aku pulang dulu ...." Belum selesai berbicara, ia kini mendapatkan kemurkaan dari pria paruh baya tersebut.
"Siapa yang mengizinkanmu pulang? Aku ingin berbicara dengan kalian berdua. Cepat masuk ke dalam mobil!" Edi yang kini tidak membuang waktu, sudah berjalan memutar karena ingin mengemudikan mobil putrinya.
__ADS_1
Berpikir jika nanti ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada putrinya karena terlihat pucat, Edi sangat khawatir jika apa yang ada di pikiran benar-benar terjadi.
'Apakah putriku dan pria itu memiliki hubungan? Memangnya siapa pria ini?' gumam Edi yang sudah mengemudikan mobil begitu Amira Tan dan pria itu duduk di belakang.
Bahkan sesekali melihat dari spion, semakin merasa aneh karena Amira Tan dari tadi tidak berbicara. "Apa kalian teman kerja?"
Amira Tan yang tadi menatap tajam Noah saat baru saja masuk ke dalam mobil, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. "Tidak, Pa. Sebenarnya ini adalah sepupu dari temanku yang ulang tahun semalam."
"Aku tidur di sana dengan beberapa teman lain dan tadi karena saat pulang, kepala tiba-tiba pusing. Jadi, teman menyuruh sepupu yang kebetulan juga menginap untuk mengantarkan. Mereka khawatir jika aku mendapatkan hal buruk jika mengemudi sendiri."
Akhirnya kebohongan untuk kesekian lolos dari bibir Amira Tan. Entah mengapa setelah dikelilingi oleh pria baru yang tak lain adalah Bagus dan Noah selalu berbohong pada orang tua.
Meskipun menyadari jika itu salah, tetap sama mengulangi. Seolah kesalahan pertama adalah pintu untuk semakin melakukan hal yang buruk.
Hening selama beberapa saat karena tiga orang itu sibuk dengan pemikiran masing-masing. Seperti tengah mempertimbangkan apa yang akan dikatakan.
Noah kini mulai mengerti tentang alasan Amira Tan yang menyuruh untuk diam. 'Jadi, ini kebohongan Amira Tan. Kenapa dalam urusan berbohong sekali pun, ia sangat pintar. Sepertinya aku yang terlalu bermimpi.'
'Sementara itu, ayah Amira Tan dari tadi diam membisu, seolah sedang menyaring semua informasi yang tertangkap dari kebohongan putri kesayangan. Aku jadi sangat penasaran mengenai apa yang dilakukan oleh seorang ayah ketika melihat putrinya pulang pagi diantar oleh lawan jenis.'
Beberapa menit kemudian, mobil yang kini memasuki pintu gerbang utama tinggi menjulang itu, berhasil membuat bola mata Noah membulat sempurna.
Memang Noah mengetahui jika Amira Tan adalah seorang pengacara hebat, tapi tidak pernah berpikir jika memiliki rumah seperti istana. Sekarang, baru menyadari nasihat sang ibu setelah hari ini.
'Bahkan rumah keluarga Amira Tan sangat megah seperti ini. Apa yang harus kulakukan jika sudah ditunjukkan tentang posisiku yang bahkan sangat tidak pantas untuk menikahinya sebagai bentuk pertanggungjawaban.'
'Aku hanya akan ditertawakan oleh keluarganya saat hanya membawa uang yang bahkan tidak ada satu jari pun pada keluarga pengacara hebat ini.'
Lamunan Noah seketika buyar begitu mendengar suara Amira Tan dah juga sebuah tepukan mendarat di pundak.
"Kenapa diam saja? Cepat keluar karena Papa sudah masuk dari tadi. Sepertinya kau sangat gugup dan takut jika orang tuaku menyuruhmu untuk menikahiku." Amira Tan ingin mencairkan suasana yang menegangkan saat ini karena melihat jika raut wajah Noah berubah dan jadi lebih pendiam.
"Kamu tenang saja karena aku sudah menemukan ide brilian yang pastinya akan membuat Papa tidak curiga. Ayo, cepat keluar!" Tanpa menunggu jawaban dari Noah, Amira Tan sudah turun dari mobil.
Sementara Noah yang selama ini selalu dibuat emosi oleh Amira Tan, memilih untuk diam karena apa yang dirasakan sama sekali tidak dimengerti. Mau marah pun percuma karena berpikir hanya akan membuang energi.
__ADS_1
"Saat aku merasa rendah diri karena kekayaan orang tua wanita itu, tapi yang dipikirkan malah tidak ingin menikahinya. Sampai kapan pengacara arogan itu mengerti isi hati seorang Noah Martin yang penuh ketulusan." Mengeluh dengan embusan napas berat karena yang terjadi diluar ekspektasi.
Ia yang baru saja menatap ke arah sosok wanita dengan jaket milik Bagus, merasa seperti langsung sakit mata. Apalagi itu bukanlah jaket mahal dan bagus, tetapi seperti sangat tidak rela dilepaskan dari tubuh Amira Tan."
'Sangat tidak cocok jika memasuki rumah mewah nan indah ini. Sepertinya Bagus tidak mau menerima cinta Amira Tan salah satunya karena ini. Bahkan nyaliku seketika langsung menciut.'
Berjalan sambil bergumam sendiri di dalam hati dan memanjakan mata dengan setiap sudut keindahan rumah mewah yang di dalamnya dipenuhi oleh berbagai macam furniture yang pastinya dengan harga fantastis.
Bahkan saat ini tidak bisa membayangkan akan dengan apa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seorang wanita berkelas seperti Amira Tan.
Edi yang kini sudah duduk di sofa dan menunggu putrinya bersama pria itu, masih menyusun kata-kata paling tepat, agar tidak menimbulkan perdebatan sengit antara ayah dan anak.
Apalagi mengetahui seperti apa Amira Tan yang sangat sulit disalahkan karena sangat pandai bersilat lidah sebagai seorang pengacara yang dengan mudah menjatuhkan lawan.
Seperti kebiasaan di pengadilan seolah terbawa pada sang putri kebanggaan tersebut. Begitu melihat Amira Tan duduk tak jauh dari pria itu, entah mengapa Edi merasa seperti ada kecocokan di antara mereka.
Namun, masih ingin mendengar sekali lagi mengenai hal yang terjadi semalam. "Sekarang kamu saja yang menjelaskan semuanya karena putriku ini sangat pintar memutarbalikkan fakta. Baik itu di pengadilan atau pun di kehidupan nyata."
"Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" Dengan suara tegas, tetapi sangat menyentuh kalbu, itu adalah pedoman yang digunakan oleh Edi demi bisa mengetahui semua hal yang dilakukan oleh pria itu pada putrinya.
"Bukankah tadi aku sudah menjelaskan tentang semuanya, Pa? Kenapa membuat sepupu sahabatku merasa gugup seperti ini gara-gara perbuatan Papa." Amira Tan memilih untuk bangkit berdiri dari sofa dan berjalan mendekati sang ayah.
"Lebih baik diam karena Papa sama sekali tidak menyuruhmu membuka mulut. Papa tidak ingin kalah dengan anak sendiri." Beralih menatap ke arah sosok pria yang dari tadi seperti kehilangan aura kehidupan karena pucat.
"Siapa namamu?"
"Noah Martin, Paman." Berpikir sangat bangga dengan nama pemberian orang tua, jadi tidak ingin menuruti Amira Tan yang menyuruh untuk berbohong.
"Baiklah. Saya akan menceritakan semua yang terjadi semalam." Noah seketika mendapatkan tatapan tajam dari Amira Tan. Seolah melarang untuk membuka aib yang dilakukan.
Amira Tan merasa mendapatkan firasat buruk karena berpikir jika Noah akan menceritakan tentang hal yang terjadi sebenarnya di antara mereka.
'Astaga! Noah tidak akan mengatakan kejadian semalam, kan? Jika melakukan itu, yang ada nanti akan menikahkan kami. Itu tidak boleh terjadi,' gumam Amira Tan yang kini bisa mendengar suara bariton dari Noah ketika mulai menceritakan tentang semua hal yang dilakukan.
To be continued....
__ADS_1