Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Janji setia


__ADS_3

Calista yang saat ini merasa sangat bahagia karena pria di hadapannya tersebut kini kembali seperti dulu lagi dan memanggilnya sayang. Selama ini sangat merindukan panggilan itu dari bibir pria yang sangat dicintai tersebut.


Namun, harus bersabar sampai perasaan Arya dan juga keadaan pria itu lebih baik dan sekarang keinginan tercapai.


Melihat wajah yang saat ini terlihat menyesali perbuatan, sehingga merasa sangat bahagia karena bersedia untuk menerimanya meskipun belum bisa mengingat mengenai masa lalu.


Calista merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk mengukir cinta mereka kembali dan akan hidup bahagia setelah menikah nanti. Tidak bisa menahan kebahagiaan yang dirasakan, Calista tanpa pikir panjang langsung menghambur memeluk dan mencium bibir tebal Arya.


Sangat merindukan pelukan hangat dan juga ciuman memabukkan dari sang kekasih, Calista memilih untuk berinisiatif melakukannya. Berharap pria yang kehilangan ingatan tersebut mau membalas seperti saat masih belum hilang ingatan dan selalu berbagi keintiman untuk mengungkapkan cinta mereka.


Meskipun ada keraguan di hati Calista mengenai perasaan Arya padanya karena pria itu mencari Putri setelah menceraikan dan bertepatan sebelum acara lamaran, sehingga berakhir nahas dengan kecelakaan dan kehilangan seluruh ingatan.


Bahkan Calista seolah ingin menunjukkan bahwa selama ini sangat memuja Arya dan berharap pria tersebut merasakan hal sama dan ikut terbawa suasana.


Arya yang beberapa saat lalu sedikit terhuyung ke belakang atas perbuatan Calista, awalnya hanya diam membiarkan wanita itu menciumnya.


Merasa sangat aneh saat mereka melakukan hal itu karena memang tidak mengingat apapun mengenai wanita yang merupakan kekasih dan sebentar lagi akan dinikahi tersebut.


Namun, hasrat kelelakian yang saat ini bangkit karena masih merupakan pria normal yang bisa bergairah ketika bersentuhan dengan seorang wanita.


Apalagi saat ini Calista sibuk bermain-main dengan bibirnya, sehingga terbawa suasana dan membalas ciuman wanita itu. Ia saat ini menahan tengkuk belakang Calista dan tidak berhenti menyesap serta mengabsen setiap rongga mulut sang kekasih.


Hingga beberapa saat kemudian melepaskan pagutan begitu kehabisan pasokan oksigen setelah berbagi saliva bersama dengan liar.


Meskipun demikian, posisi mereka masih sangat intim dengan wajah hanya berjarak beberapa senti saja. Hingga embusan napas masing-masing bisa dirasakan keduanya.


Momen intim tersebut dimanfaatkan oleh Calista dengan membuka suara. "Aku sangat mencintaimu. Cepatlah sembuh dan kita segera menikah."

__ADS_1


Arya yang saat ini tersenyum dan menganggukkan kepala, mengusap lembut rambut panjang yang tergerai di bawah bahu tersebut.


"Kita akan menikah sesuai dengan rencana karena sekarang aku sudah proses pemulihan. Nasib baik kakiku tidak cacat dan hanya hilang ingatan saja. Mungkin jika aku tidak bisa berjalan, tidak bisa membayangkan apa yang akan kulakukan saat menjadi seorang pria tidak berguna."


Refleks Calista langsung mengarahkan ibu jari pada bibir tebal Arya. "Itu tidak akan terjadi dan seandainya hal itu menimpamu, orang tuamu pasti akan melakukan segala cara untuk membuatmu sembuh."


"Aku pun akan tetap mencintaimu dan menunggu hingga kamu sembuh. Ini semua kulakukan karena kamu adalah satu-satunya pria yang kucintai. Jadi, jangan meragukan cintaku dan aku ingin kamu juga mencintaiku sama besarnya seperti yang kulakukan."


Meskipun Arya sudah berhasil dimiliki, tetap saja Calista sedikit tidak tenang karena perasaan pria di hadapannya tersebut seperti masih menyimpan rasa cinta pada mantan istri yang menghilang tanpa kabar.


Setelah mengetahui bahwa Arya sadar dan hilang ingatan, Calista membayar seorang detektif untuk mencari kabar mengenai Putri dan mengetahui bahwa wanita yang dianggap saingan tersebut telah pergi tanpa meninggalkan pesan apapun.


Bahkan saudara perempuan yang berprofesi sebagai pengacara tersebut sama sekali tidak mengetahui di mana keberadaan Putri, tapi Calista justru merasa khawatir jika tiba-tiba wanita itu tiba-tiba datang ke hadapan Arya.


Calista berpikir jika sampai itu terjadi, akan menghabisi wanita yang menghalangi jalannya untuk bisa hidup bahagia bersama Arya.


'Aku tidak akan bernasib sama seperti Putri karena akan melakukan segala cara untuk tetap membuat Arya berada di sisiku. Aku bukan wanita bodoh yang bisa disingkirkan oleh seorang pria,' lirih Calista yang saat ini tersenyum simpul begitu mendengar tanggapan dari Arya.


"Terima kasih, Sayang. Aku adalah seorang pria yang sangat beruntung di dunia ini karena memiliki wanita cantik yang mencintaiku dengan tulus. Aku berjanji akan selalu mencintaimu dan kita akan hidup bersama selamanya dengan penuh bahagia."


"Meskipun aku tidak bisa mengingat cinta kita, tapi akan berusaha untuk selalu menjadi pria terbaik untukmu dan mencintaimu hingga akhir hayatku. Kita akan hidup bersama sampai maut memisahkan." Kemudian Arya kembali mencium bibir sensual di hadapannya.


Namun, kali ini hanya kecupan ringan dan tidak ada gairah ataupun nafsu di sana karena hanya menunjukkan ketulusan pada wanita cantik yang terlihat sangat mencintai dan membuatnya seperti seorang pria paling bahagia di dunia.


"Katakan bahwa kamu mencintaiku." Calista ingin sekali mendengar Arya kembali menghiasi telinganya dengan pernyataan cinta.


Meskipun menyadari bahwa jika pria di hadapannya menuruti dengan mengungkapkan perasaan yang mungkin hanyalah sebuah keterpaksaan karena tidak ingin membuatnya kecewa, tetap saja Calista tidak merasa keberatan.

__ADS_1


Calista membuat Arya patuh pada semua perintahnya dan tidak memperdulikan hal lain karena saat ini pria yang dicintai sudah berada dalam genggaman sepenuhnya.


Apalagi bisa mencuci otak Arya dengan menghujani cinta dan berharap pria itu akan melupakan Putri sepenuhnya dan hidup berbahagia bersamanya.


Kini, ia yang masih menunggu pernyataan cinta dari Arya, seketika berbinar begitu mendapatkan apa yang diinginkan.


"I loye you, Honey." Arya tidak membuang waktu untuk memenuhi keinginan wanita yang dianggap memiliki cinta teramat besar untuknya, sehingga tanpa pikir panjang langsung membuka mulut untuk menyatakan cinta.


Meskipun di dalam hati merasa ragu karena sejujurnya belum mempunyai perasaan pada wanita di hadapannya yang tersebut. Entah mengapa Arya merasa seperti menjadi orang lain dan bukan diri sendiri saat tidak bisa mengingat memori di masa lalu.


'Tidak apa-apa. Ini adalah hal terbaik untukmu karena wanita di hadapanmu ini merupakan seorang calon istri yang setia dan sangat mencintaimu karena masih tetap menunggu meskipun mengalami koma.'


'Jika wanita lain yang mengalami hal ini, pasti akan langsung memutuskan hubungan tanpa ragu karena berpikir tidak ada masa depan setelah melihat pasangan koma. Namun, Calista tetap setia menunggu hingga aku sadar dan merasa sangat bahagia begitu melihatku bangun dari koma.'


Saat Arya mencoba berpikir positif untuk memenuhi pikiran bahwa yang dilakukan saat ini adalah hal paling benar, lalu kembali memeluk erat tubuh ramping di hadapannya tersebut.


"Aku ingin kita hidup bahagia sampai tua bersamamu, Calista. Jadi, kita harus saling setia dan tidak akan pernah mengkhianati ikatan pernikahan."


Calista dari tadi pada posisi berdiri di hadapan pria yang duduk di atas pembaringan tengah memeluk erat tubuhnya.


'Aku tidak tahu apakah kamu bisa berbicara seperti itu setelah ingatanmu kembali,' gumam Calista yang saat ini masih belum menanggapi apa yang dikatakan oleh Arya saat ini.


Namun, karena tidak ingin membuat pria itu merasa ragu padanya, sehingga langsung membuka suara. "Aku berjanji akan selalu setia hanya mencintaimu hingga akhir hayatku. Kita akan bahagia sampai tua dan hanya maut yang bisa memisahkan."


Sudut bibir Arya melengkung ke atas dan kembali mengeratkan pelukan karena merasa sangat bahagia mendapatkan seorang wanita seperti Calista.


"I love you, Calista," ucap Arya yang tidak melepaskan pelukannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2