
Bambang Priambodo yang diliputi kesedihan luar biasa karena hatinya benar-benar hancur ketika melihat jenazah putranya yang masih tertutup kain kafan ketika keluar dari ruangan operasi.
Ia awalnya merasa sangat gugup dan tidak berani membuka penutup wajah putranya, tapi ingin melihat secara langsung seperti apa jenazah putranya yang baru saja meninggal di meja operasi.
"Putraku, Papa telah memaafkanmu. Beristirahatlah dengan tenang di sana," ucapnya yang saat ini mulai bergerak untuk membuka kain penutup di wajah itu.
Hingga ia pun kini membulatkan matanya karena yang saat ini dilihat bukanlah putranya.
"Ini?"
Ia bahkan sangat mengingat jika pria yang baru saja dilihatnya adalah kekasih dari putranya yang pernah datang ke kantor dan diusir olehnya. Refleks ia langsung menatap ke arah perawat yang berada di hadapannya.
"Suster, ini bukan putra saya. Ini adalah temannya yang satu mobil dengannya. Lalu, di mana putra saya sekarang?" Ia saat ini makin khawatir jika putranya sudah meninggal lebih dulu dan berada di ruangan jenazah.
Sementara itu, perawat yang tadinya berniat untuk membawa korban kecelakaan tersebut ke ruang jenazah, tertahan oleh pria yang dianggap merupakan ayahnya.
Hingga mereka mengerti jika ternyata pria baya tersebut salah orang. "Mungkin yang Anda maksud adalah pasien yang satunya masih dioperasi di dalam. Maaf karena tanpa bertanya nama putra Anda tadi, mengatakan hal yang salah."
Saat ini salah satu perawat mewakili yang lain karena memang sangat ceroboh dan merasa yakin jika pria itu memang merupakan ayah dari pasien yang telah meninggal tersebut.
Sementara itu, Bambang Priambodo yang tadinya merasa sangat hancur ketika berpikir jika putranya telah meninggalkan dunia ini, seketika merasa sangat senang sekaligus lega karena masih memiliki harapan.
"Jadi, putra saya masih dioperasi?" Ia sebenarnya berniat untuk bertanya banyak, tapi rasa haru sekaligus perasaan bergejolak dirasakan olehnya saat ini.
Hingga air mata penuh kesedihan, kini berubah menjadi kebahagiaan meskipun belum jelas nasib putranya karena masih berjuang melawan maut di meja operasi.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Semoga putraku selamat dan proses operasi berjalan lancar," ucapnya yang saat ini melihat perawat menganggukkan kepala, serta mengaminkan doanya seperti yang dilakukan oleh menantunya.
"Syukurlah tuan Aldiano masih hidup, Pa. Tuhan akan mendengar doa-doa kita untuk tuan Aldiano yang masih berjuang di dalam." Putri yang tadinya sibuk dengan pikirannya yang dipenuhi oleh penyesalan saat menyalakan diri sendiri ketika tidak bisa menghentikan suaminya.
Hingga ia pun sama terkejutnya ketika pandangannya tertuju pada kain kafan yang dibuka dan ternyata bukanlah jenazah sang suami. Sampai penjelasan dari perawat seolah membuatnya terbebas dari batu besar yang menghimpitnya hingga kesulitan bernapas.
Ia bahkan saat ini berpikir jika akan terus merapal doa sebisanya untuk keselamatan sang suami dan berharap harapan tulus dari seorang pendosa sepertinya bisa didengar oleh penguasa alam semesta.
Hingga ia melihat brankar bergerak dan keluar dari sana, hingga membuatnya bisa melihat seperti apa nasib seorang pria yang meninggal itu. Apalagi pria itu masih tersesat dan belum kembali ke jalan yang benar ketika meninggal.
Saat perasaannya kini sudah sedikit lega karena ada harapan putranya selamat, kini Bambang Priambodo mengajak sang menantuku kembali duduk di kursi tunggu.
"Sekarang memang lebih baik kita mendoakan Aldiano agar selamat dari kecelakaan hari ini. Semoga Tuhan mendengar doa-doa kita." Ia kali ini ingin fokus dengan itu agar putranya benar-benar selamat dari maut
"Putri, tolong dengarkan ini dan ingatkan jika nanti lupa. Aku akan bernadzar, memberikan sumbangan pada anak-anak yatim." Ia bahkan sudah mempunyai tiga nadzar dan berharap bisa melakukannya.
"Jika putraku selamat, aku akan menyerahkan seluruh warisan padanya. Kamu pun berhak melakukan apa saja. Apakah mau bercerai ataupun bertahan, Papa tidak akan melarangmu lagi."
Ia tidak ingin sosok wanita di hadapannya tersebut hidup dalam keterpaksaan karena menikah dengan putranya. Setelah mengetahui bagaimana kecelakaan itu terjadi, ia kini sudah mempercayai putranya sepenuhnya.
Putri yang baru saja mendengar mertuanya bernadzar hal yang baik, kini tersenyum simpul dengan mengucapkan syukur yang entah sudah ke berapa kali polos dari bibirnya.
"Aku akan mengingatnya, Pa. Mengenai aku, tidak perlu dipikirkan karena bagiku, kesembuhan tuan Aldiano jauh lebih penting daripada masalahku karena aku bisa menyelesaikan sendiri." Ia memang sebenarnya mempunyai rencana untuk pergi setelah pria itu kembali normal.
Namun, tidak menyangka akan secepat ini karena tadinya berpikir jika pria itu akan sangat sulit untuk dikembalikan ke setelan yang lurus.
__ADS_1
Hingga ia pun merasa lega sekaligus senang jika benar pria itu sudah sembuh dari hal menyimpang yang selama ini dilakukan. 'Tugasku telah gugur setelah nanti tuan Aldiano sembuh.'
Ketika ia baru saja menutup mulut, kini pintu ruangan operasi terbuka dan terlihat seorang dokter berpakaian seragam khas operasi baru saja keluar.
Refleks Bambang Priambodo seketika bangkit berdiri dari posisinya untuk mengetahui apa yang terjadi pada putranya setelah mengalami kecelakaan. Sampai pada akhirnya ditahan oleh Putri saat tubuhnya seperti hendak ambruk.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing," ucapnya yang kini ingin mengetahui bagaimana perkembangan dari putranya.
Sementara itu, sang dokter dari tadi bisa melihat raut wajah kekhawatiran dari pria dan wanita yang merupakan keluarga dari pasien yang baru saja dioperasi.
"Papa yakin tidak apa-apa?" Ia merasa khawatir jika mertuanya tersebut juga mengalami masalah dalam kesehatannya saja terjatuh jika tidak ditopang dengan tubuhnya tadi.
"Iya, tidak apa-apa." Kemudian mendengar suara dari pria berseragam khas operasi tersebut.
"Proses operasi berjalan lancar dan pasien masih bisa bertahan sampai akhir. Kami akan melihat perkembangan pasien setelah dioperasi. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruangan perawatan untuk mengetahui perkembangannya." Sang dokter kini menganggukkan kepala saat berlalu pergi.
Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh mertua dan menantu yang saat ini sebenarnya belum puas dengan penjelasan dari dokter. Namun, mereka tidak mungkin bisa bertanya lebih banyak lagi karena pria berseragam tersebut sudah bergerak pergi.
Namun, tidak dipungkiri jika mereka saat ini benar-benar merasa bersyukur atas keselamatan Aldiano.
"Alhamdulillah tuan Aldiano selamat dari maut, Pa. Benar kan apa yang kukatakan, jika semuanya akan baik-baik saja saat percaya pada-Nya." Ia yang baru saja menutup mulut, seketika membekapnya karena melihat kondisi pasien yang baru saja dioperasi.
"Tuan Aldiano?" Ia merasa sangat terkejut melihat wajah pria yang kini tertutup dengan perban dan hanya menyisakan bagian mata, hidung serta mulut.
To be continued..
__ADS_1