Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Kegelisahan Amira Tan


__ADS_3

Sementara di sisi lain, Noah asyik merutuki kebodohan dengan kembali mengumpat di dalam hati karena saat tadi melirik sekilas pada Amira Tan, tampak wanita itu seperti tengah merasakan gugup dan kekhawatiran yang teramat luar biasa.


'Baru kali ini pria yang bercinta dengan seorang wanita mengantarkan untuk menemui pujaan hati lain. Konyol sekali dan mungkin aku adalah satu-satunya orang bodoh di dunia ini.'


'Sementara Amira pun sama karena merupakan satu-satunya wanita tidak berperasaan karena menyuruh pria yang telah menikmati tubuhnya untuk mengantarkan menemui pria lain. Apa ia pikir, perasaanku terbuat dari batu?'


Amira Tan sesekali memeriksa jam di ponsel Putri dan memastikan masih ada waktu untuk bertemu dengan Bagus. "Tambah kecepatan lagi! Waktunya sudah hampir habis. Bagaimana jika kita terlambat?"


"Astaga! Apa kamu mau kita mengalami kecelakaan? Aku tidak ingin mati konyol karena ulahmu yang egois?" sarkas Noah yang kini melirik sekilas dengan kesal.


Awalnya berpikir jika Amira Tan akan marah karena tidak menuruti perintah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Tidak ada suara dan pergerakan karena hanya diam, seolah menyadari kesalahan.


Saat terbiasa melihat Amira Tan yang arogan, tetapi kali ini seperti wanita pendiam yang kebingungan, membuat Noah akhirnya menginjak pedal gas, sehingga kecepatan mobil bertambah.

__ADS_1


Tidak ingin melihat Amira Tan bersedih karena iba, Noah berubah pikiran dan memilih untuk melaksanakan perintah. Satu-satunya alasan adalah ingin melihat Amira Tan kembali menjadi wanita kita, tidak seperti sekarang.


Amira Tan yang sekarang terlihat seperti perawan bodoh yang baru jatuh cinta dan patah hati saat diputuskan. Memang sesuatu yang pertama kali dirasakan itu sangatlah sakit.


Meskipun lama-kelamaan akan terbiasa dan melupakan rasa sakit itu karena waktu tidak berhenti sampai di


situ saja.


Waktu terus berjalan dan menjadi kekuatan bagi orang yang terluka untuk melanjutkan hidup. Berharap ada kebahagiaan hadir menyapa setelah mengalami penderitaan. Seperti pelangi yang membawa kesejukan setelah hujan.


Amira Tan tetap diam dengan perasaan gelisah sambil menggenggam erat ponsel milik Putri. Rencananya adalah menelpon setelah tiba


di terminal.

__ADS_1


Sebenarnya bisa saja menghubungi sekarang, tapi tidak ingin melakukan karena takut kehilangan harapan. Ingin mencoba tanpa menyerah selalu dilakukan Amira dan mengenai hasil, akan diterima meskipun terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi.


Tentu saja ia tahu jika Noah saat ini tengah menambah kecepatan karena mobil melaju sangat kencang. Bahkan hal itu sama sekali tidak membuat Amira Tan takut.


Saat menoleh ke arah pria di balik kemudi yang tengah fokus mengemudi tersebut, membuat sudut bibirnya melengkung ke atas.


'Terima kasih karena sudah mengerti aku. Ini adalah terakhir kali aku menjadi seorang Amira Tan yang bodoh!' gumam Amira Tan yang kembali berbicara di dalam hati dan merapal doa, agar diizinkan mengucapkan selamat tinggal pada Bagus.


Meskipun tidak menoleh pada sosok wanita yang duduk di sebelah kiri, Noah tahu jika Amira Tan barusan menatap intens dan berpikir jika usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan telah berbelok ke area terminal dan Noah mencari tempat untuk memarkirkan kendaraan karena tidak mungkin masuk semakin ke dalam.


Apalagi itu hanya ada kendaraan jenis besar yang tak lain adalah bus. Baru saja Noah ingin membuka suara untuk bertanya pada Amira Tan, tidak jadi melakukan itulah karena sudah menelpon pria yang dicari.

__ADS_1


Amira Tan yang memencet tombol panggil pada kontak Bagus di ponsel Putri, kini dengan gelisah menunggu diangkat.


To be continued...


__ADS_2