
Arya baru saja mematikan sambungan telpon setelah menghubungi Calista. Dari tadi merasa sangat kesal karena wanita itu seperti tidak memperdulikan apa yang dikatakan.
Apalagi sama sekali tidak membalas pesan dan malah mengatakan ingin makan di kantin karena lapar.
Hal itulah yang membuatnya marah dan mengancam Calista agar segera datang ke ruangan setelah menelpon dan berbicara singkat.
Arya yang saat ini masih duduk di kursi, menaruh ponsel di atas meja. "Calista seperti sedang menguji kesabaranku dengan bersikap sangat santai saat keadaan seperti ini."
"Apakah Calista bersikap tenang dan tidak terkejut atas pesanku tadi karena sudah mengetahui bahwa akan dijodohkan dengan putra dari rekan bisnis orang tuanya?" Arya saat ini tengah berpikir untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan barusan.
Namun, menyadari bahwa itu adalah percuma karena yang terjadi tidak akan pernah mengetahui hal sebenarnya sebelum Calista menjawab pertanyaan.
"Hanya wanita itu yang mengetahui dan aku mana mungkin menebak-nebak jawaban yang belum tentu benar." Kemudian Arya mengembuskan napas kasar karena merasa bahwa hari ini sangatlah berat saat ada banyak masalah yang menimpa.
Hal yang paling berat dirasakan adalah memikirkan sosok wanita yang sudah tidak lagi menjadi istri, tak lain adalah Putri.
Karena hari ini menceraikan dengan sangat kejam di saat wanita itu sedang terluka karena melihat kemesraan yang dilakukan bersama Calista di ruangan kerja.
Ditambah dengan perintah sekaligus paksaan dari sang ibu untuk segera meresmikan hubungan dengan Calista. Padahal pada awalnya ingin menjalani hubungan dengan santai untuk memastikan perasaan pada wanita itu.
"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika akan menjadi seperti ini. Jika dulu mengatakan pada Calista jika kami bisa saling mengobati luka di hati masing-masing, tetapi sekarang harus terpaksa segera meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan."
Jujur saja, sebenarnya sampai sekarang, ia bahkan belum bisa memastikan perasaan pada wanita itu. Itu semua karena di dalam hati terdalam masih tersimpan nama seorang wanita yang selama ini sangat dicintai.
Ya, sekarang memang masih sangat mencintai Putri, tetapi tidak bisa melupakan pengkhianatan yang dilakukan oleh wanita itu saat mengaku bahwa bayi yang dikandung adalah keturunan Arya.
Apalagi saat melihat bayi tersebut, selalu mengingatkan pada kebohongan Putri dan tidak bisa melupakan hal itu. Seperti ingin membalas dendam pada perbuatan Putri yang menipu, sehingga membuat Arya mengambil keputusan ini, meskipun tidak sesuai dengan kata hati.
__ADS_1
'Putri, aku masih sangat mencintaimu, tapi juga tidak bisa melupakan perbuatan burukmu. Aku pun tidak ingin melihat mama kembali mengalami nasib buruk karena melihat wanita yang melahirkanku berada di ruang ICU, berada di ambang kematian.'
'Itu bahkan seperti melihat penderitaan paling berat dalam hidupku karena mama adalah wanita pertama yang paling kusayangi.'
Lamunan Arya seketika musnah begitu mendengar suara ketukan pintu dan beberapa saat kemudian, sosok wanita yang dari tadi ditunggu tengah berjalan masuk dan tersenyum.
Senyuman Calista yang akhir-akhir ini selalu menemani Arya seolah sebuah obat untuk luka yang dirasakan. Arya melirik mesin waktu yang ada di pergelangan tangan kiri.
"Sepuluh menit, menyia-nyiakan waktu selama itu dan apa yang sebenarnya kau lakukan? Kenapa tidak langsung datang ke sini begitu jam istirahat dimulai?"
Calista yang masih bersikap sangat tenang dan sama sekali tidak takut dengan wajah garang Arya karena masih mengulas senyuman. Bahkan saat ini langsung menghambur memeluk dan duduk di pangkuan pria dengan wajah seperti tengah menahan kemurkaan.
Memilih untuk meredam amarah dari pria yang sangat dicintai tersebut dengan cara mencium bibir tebal Arya dengan beberapa kali sesapan dan saat berhasil membuat pria itu membalas, Calista langsung menarik diri dan tertawa.
"Maafkan aku." Calista mendorong dada bidang Arya agar menjauh karena tidak ingin melanjutkan aksi intim yang baru saja dilakukan.
Tentu saja Arya merasa sangat kesal karena saat sudah terpancing, malah wanita itu menjauh dan menolak untuk melanjutkan aksi intim mereka.
"Aku lapar dan ini kantor. Jika kamu ingin melanjutkan, nanti kita ke apartemen setelah pulang kerja dan aku akan melayanimu sampai puas."
Calista bahkan menjawab di dekat daun telinga Arya dengan suara ******* dan hembusan napas untuk menggoda pria yang terlihat memerah wajah karena terbakar gairah.
Tentu saja Calista merasa sangat senang karena berhasil mempermainkan pria itu. Apalagi sangat mengetahui kelemahan Arya yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi saat sedang dibakar gairah.
Calista segera bangkit dari pangkuan Arya dan berjalan menuju ke arah sofa. Kemudian mendaratkan tubuh di sana.
"Mana makanannya? Kenapa belum datang juga? Oh ya, apa yang kamu ingin katakan padaku? Apakah ini mengenai perjodohan orang tuaku?"
__ADS_1
Arya yang masih merasa sangat kesal atas sikap Calista ketika berbuat seenaknya sendiri, segera berjalan mendekati wanita yang terlihat sangat menggoda tersebut.
Kemudian memilih untuk duduk di hadapan Calista, bukan di sebelah wanita yang sangat ingin sekali diterkam sekarang juga untuk menyalurkan gairah demi bisa melupakan masalah yang terjadi hari ini.
Berharap dengan itu, bisa melupakan Putri sepenuhnya. "Mungkin sebentar lagi makanannya akan datang. Sekarang ceritakan padaku mengenai perjodohan yang dilakukan oleh orang tuamu. Kenapa kamu tidak menceritakan apapun padaku?"
Masih bersikap sangat tenang, Calista saat ini hanya tersenyum simpul. "Apakah kamu merasa takut jika aku menikah dengan pria lain?"
"Astaga! Aku bertanya padamu dan belum kau jawab, tapi malah mengajukan pertanyaan balik padaku." Arya merasa geram dan saat ini memilih untuk bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekati Calista karena merasa geram pada wanita itu.
Tanpa berniat untuk menjawab, Arya memilih untuk mengungkung posisi wanita yang sudah berada di hadapan dan langsung membungkam bibir sensual yang dari tadi melambai untuk segera disesap.
Bahkan kali ini tidak ada kelembutan dari perbuatan Arya karena hanya dikuasai oleh hasrat.
Sementara itu, Calista yang merasa sangat terkejut atas perbuatan dari Arya sampai tubuhnya terhuyung dan terlentang di atas sofa.
Saat membalas ciuman pria yang sudah berada di atas tubuhnya, mendengar suara pintu yang diketuk dan saat ingin mendorong dada bidang Arya, pintu yang dibuka.
"Astaga! Apa yang kalian lakukan di ruangan kerja?"
Refleks Calista mendorong dada bidang Arya agar menjauh dan merasa sangat terkejut dengan suara seseorang yang baru saja melihat keintiman mereka.
Sementara itu, Arya yang saat ini bersikap sangat santai dan tidak merasa takut telah ketahuan bermesraan dengan Calista, menoleh ke arah belakang dan menghembuskan napas kasar.
"Mengganggu saja!" umpat Arya sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan dari seseorang yang baru saja masuk dan melangkah mendekat.
To be continued...
__ADS_1