
Amira Tan saat ini sudah berada di salah satu restoran yang rencananya akan menjadi tempat makan siang antara ia dan dua pria yang tak lain adalah Jack dan Bagus.
Setelah Jack tadi menemui klien dan meminta untuk ikut makan siang bersama dengan Bagus, akhirnya Amira Tan memilih untuk menuruti keinginan sahabatnya yang memiliki perasaan padanya.
Ia melakukan itu karena ingin membuat Bagus merasa cemburu, saat berencana untuk bersikap manis pada Jack. Tentu saja melakukan hal itu tanpa sepengetahuan sahabatnya karena jika mengatakan yang sebenarnya, pasti akan tidak mendapat persetujuan.
"Jack tidak tahu jika saat ini aku memanfaatkannya." Amira Tan sengaja datang paling awal karena ingin melihat kedatangan dua pria yang mempunyai sifat berlawanan tersebut.
Bahkan bisa dibilang jika dua pria itu bagaikan air dan api. "Jika aku memberitahu Jack tentang ini, pasti ia akan marah. Jadi, aku tidak keberatan saat ia ikut makan siang karena mempunyai rencana."
Amira Tan saat ini meraih cermin kecil yang ada di dalam tas dan memastikan bahwa penampilannya terlihat sempurna dan tidak ada kekurangan.
"Aku sudah cantik, meskipun tidak secantik Putri," lirih Amira Tan yang merasa iri saudara tirinya tersebut.
'Putri memang lebih cantik dariku. Pantas saja seorang Arya Mahesa bisa jatuh cinta, meskipun sudah mengetahui bahwa Putri telah memiliki suami dan dua anak. Apakah aku bodoh jika iri padanya?'
'Bahkan setelah perbuatan jahat yang dilakukan oleh Putri, Bagus sama sekali tidak membenci dan tetap mencintai wanita itu. Mungkin selamanya tidak akan pernah bisa melupakan Putri, sehingga memutuskan untuk tidak menikah lagi.'
Saat mengingat hal itu, Amira Tan selalu saja merasa seperti seorang wanita yang tidak menarik karena Bagus bukan merupakan pria hebat, tetapi tidak tertarik padanya.
'Padahal kami tidak sebanding jika membahas tentang penghasilan. Namun, tetap saja aku jatuh cinta pada pria berhati emas itu. Di zaman modern seperti sekarang ini, sangat susah menemukan pasangan sepertinya.'
__ADS_1
'Pria sabar yang tidak mengandalkan emosi ketika menghadapi masalah sebesar apapun. Mungkin jika pria lain, sudah membunuh istri yang selingkuh. Banyak kejahatan yang dilakukan para suami ketika tidak bisa menahan amarah pada sang istri. Namun, itu tidak terjadi pada Bagus.'
Saat Amira Tan baru saja selesai berguman di dalam hati, ia yang saat ini melihat sosok wanita berseragam hitam berjalan ke arahnya.
"Apakah Anda mau pesan sekarang, Nona?" tanya wanita yang kerja sebagai pelayan di restoran.
Saat Amira Tan menatap wanita di hadapannya, melihat seseorang yang baru saja datang dan melambaikan tangan padanya, tetapi membuatnya merasa kecewa.
'Kenapa bukan Bagus yang duluan datang? Apa ia masih berada di rumah sakit?' Amira Tan tadi memang tidak bertanya tentang perihal air yang masuk rumah sakit karena ingin bertanya secara langsung di restoran.
Namun, Bagus yang belum kunjung datang, membuatnya berpikir jika pria itu tidak akan memenuhi ajakannya. 'Tadi Bagus membalas iya dan tidak menolak ajakanku.'
'Jika sampai ia tidak datang, awas saja nanti. Aku akan memberikan pelajaran padanya,' gumam Amira Tan yang saat ini memilih untuk menjawab pertanyaan dari waiters.
"Baik, Nona. Saya akan ke sini lagi setelah teman Anda datang." Wanita itu langsung membungkuk hormat dan berlalu pergi.
Sementara itu, Jack yang baru saja datang setelah selesai menemui dua klien, mendaratkan tubuhnya tepat di samping Amira Tan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Apa pria pujaan hatimu belum datang juga?" Jack memilih untuk meminum air dari gelas milik Amira Tan karena merasa sangat haus dan memang ia sengaja melakukannya karena melihat ada bekas lipstik di sana.
Tentu saja karena berpikir jika yang saat ini ia lakukan bisa dibilang ciuman secara tidak langsung. Meskipun tidak pernah bisa mencium secara langsung wanita yang dicintai, paling tidak bisa mencium bekas lipstik di gelas saja sudah membuatnya senang.
__ADS_1
Jujur saja ia sangat tidak terima karena pria yang tak lain adalah sang bartender dan baru mengenal Amira Tan bisa merasakan bibir wanita yang dicintai. Namun, ia menyadari tidak bisa berbuat apa-apa sebagai bentuk protes pada Amira Tan.
Amira Tan yang saat ini memilih untuk meraih ponsel miliknya karena ingin menelpon Bagus, tidak menjawab pertanyaan dari Jack.
"Kenapa tidak diangkat juga? Memangnya dia ke mana? Bukankah tadi mengatakan setuju dan akan datang?" Amira Tan yang merasa sangat kesal, beralih melirik ke arah Jack.
"Lebih baik kamu pesan makanan saja dulu. Aku tidak tahu pria bodoh itu akan datang atau tidak. Apa ia masih di rumah sakit?" Amira Tan kembali menghubungi Bagus dan kembali masam saat panggilannya belum diangkat.
Sedangkan Jack hanya patuh pada perintah Amira Tan dan memanggil waiters untuk memesan makanan kesukaan wanita itu. Ia hafal makanan apa saja yang disukai Amira Tan, serta minuman.
"Sepertinya kita hanya akan makan berdua karena pria pujaan hatimu tidak datang." Jack kembali menyindir Amira Tan.
Saat Amira Tan merasa kesal, semakin bertambah karena ejekan dari pria yang saat ini selalu saja menyebut Bagus adalah pujaan hatinya. Itu membuatnya seperti seorang wanita yang tidak tahu diri karena belum mendapatkan jawaban atas pernyataan cinta nekad yang dilakukan.
"Apa saat ini kau mengejekku? Sepertinya nasib burukku menjadi kepuasan bagimu. Jika masih ingin selamat kepalamu, lebih baik kau diam sebelum aku melempar gelas ini!"
Amira Tan yang tadinya dikuasai oleh angkara murka, beberapa saat kemudian seketika ingin tertawa karena melihat Jack mengangkat kedua tangan ke atas, seperti penjahat yang telah menyerah dan tertangkap oleh polisi.
"Ampun! Aku tidak ingin wajah atau kepalaku harus operasi plastik gara-gara terkena pecahan gelas lemparanmu. Ini adalah satu-satunya aset berharga yang kupunya." Jack kali ini berakting seperti orang yang ketakutan, agar suasana hati Amira Tan yang buruk karena mengetahui bahwa Bagus sepertinya tidak datang.
Hingga ia pun merasa senang ketika melihat wajah yang awalnya masam dan dikuasai oleh amarah tersebut, kini telah berubah dihiasi oleh seolah senyuman.
__ADS_1
Melihat Amira Tan tersenyum, seolah mencerahkan mendung yang ada di hatinya saat ini karena dari semalam memikirkan tentang perkataan dari sang bartender yang ternyata dibenarkan oleh di hadapannya tersebut.
To be continued...