
Saat ini, Ari Mahesa terlihat berjalan mondar-mandir di ruang tamu karena merasa marah pada Arya yang menonaktifkan ponsel dan tidak bisa dihubungi.
Padahal saat ini sudah jam tujuh malam dan harusnya sudah berangkat ke rumah Calista.
Apalagi mengatakan bahwa akan berangkat dari rumah pukul tujuh, tetapi tidak bisa melakukan itu karena putra yang akan melamar Calista tidak ada bersama mereka.
"Sebenarnya ke mana putramu? Kenapa tiba-tiba menghilang dan tidak mengaktifkan ponsel. Apa memang sengaja melakukan ini untuk mempermalukan keluarga Mahesa?" sarkas Ari Mahesa dengan mengepalkan tangan dan terlihat rahang mengeras serta bunyi gemeretak gigi yang saling bertautan.
Seolah menampilkan wajah garang karena dikuasai oleh kemurkaan saat mengetahui perbuatan putra kebanggaan yang dianggap telah kembali ke jalan benar, yaitu mematuhi semua perintah dari orang tua.
Sementara itu, sang istri terlihat sangat cemas sekaligus khawatir, yang pastinya sangat berbeda dengan apa yang terlihat dari sang suami ketika marah.
"Arya tidak akan mengecewakan keluarga kita karena sudah menceraikan Putri. Wanita itu bahkan menerima perceraian karena tidak berusaha merayu Arya agar percaya bahwa hasil tes DNA adalah palsu yang merupakan rekayasa kita."
"Tadi, Calista sudah menceritakan kejadian yang terjadi di ruangan kerja dan akhirnya wanita itu pergi tanpa meminta apapun pada putra kita. Bahkan Arya sangat mencintai Calista karena langsung menceraikan Putri ketika wanita murahan itu melihat perselingkuhan di kantor."
Rani saat ini berpikir ada sesuatu yang terjadi, sehingga Arya tidak pulang sampai sekarang. Sebagai seorang ibu yang telah mengandung putranya selama 9 bulan dan melahirkan, serta merawat dengan penuh kasih sayang, mempunyai firasat buruk.
Apalagi dari tadi jantung tidak berhenti berdebar kencang saat memikirkan di mana keberadaan dari putra kesayangan tersebut.
"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada putra kita? Bisakah kamu menyuruh orang untuk mencari keberadaan Arya?" Rani saat ini masih menatap ke arah sang suami dan berharap pria yang sudah menemani selama 30 tahun lebih tersebut tidak mengandalkan emosi.
__ADS_1
"Tanpa kau suruh pun, aku sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Arya. Jika sampai malam ini tidak pulang dan acara lamaran gagal, mau ditaruh di mana muka kita di depan keluarga Calista?" Ari Mahesa yang masih tidak bisa menyembunyikan amarah yang memuncak ketika mengingat perbuatan Arya.
"Putramu itu selalu saja membuat malu keluarga." Ingin sekali ia membanting vas bunga yang ada di atas meja, tetapi baru saja mengangkat ke atas, suara dering ponsel yang berada di saku celana berbunyi.
Refleks Rani langsung membuka suara karena berpikir bahwa yang menghubungi adalah orang suruhan sang suami.
"Mungkin itu adalah orang yang kamu suruh untuk mencari Arya. Cepat jawab teleponnya!" Rani masih menatap intens sang suami yang terlihat meraih ponsel dari dalam saku celana.
Tentu saja dengan perasaan berdebar-debar karena masih merasa khawatir terjadi sesuatu pada Arya. Rani menatap intens sang suami yang berbicara dan menampilkan wajah datar seperti biasa.
"Cepat katakan, apakah kamu menemukan putraku?" sahut Ari Mahesa yang saat ini tidak sabar ingin mengetahui kabar dari salah satu orang kepercayaan yang tadi diperintahkan mencari keberadaan Arya.
"Tuan Ari, maafkan saya karena terlambat mengabarkan hal ini pada Anda. Ada sebuah kemalangan terjadi pada tuan Arya. Tadi, saya menyuruh beberapa orang untuk membantu mencari nomor plat mobil tuan Arya dan mendapatkan berita dari salah satu rekan polisi mengenai kecelakaan. Mobil yang dikemudikan oleh putra Anda terbalik saat mengalami kecelakaan."
Pria yang saat ini berada di lokasi kejadian, melihat sendiri bagaimana keadaan dari pria yang merupakan putra dari bos di perusahaan. Tadi memang berkeliling di sekitar area yang dekat dengan tempat nahas tersebut.
Jadi, saat dihubungi oleh salah satu rekan dari kepolisian, langsung datang ke sana untuk mengecek sendiri kebenaran dari kecelakaan yang melibatkan putra dari pemimpin perusahaan.
Sementara itu, Ari Mahesa yang seketika bergetar dan merasa seperti dunia berputar karena tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Bahkan saat ini, ponsel yang berada dalam genggaman pun lolos dan terjatuh ke lantai.
Hal itu mengakibatkan layar pada benda pipih tersebut terletak di bagian depan, meski panggilan telpon masih tersambung dan mendengar suara dari seberang telepon.
__ADS_1
"Tuan Ari? Apa Anda masih di sana?" tanya pria bernama Putra Wijaya dan merasa khawatir pada pria paruh baya yang baru saja mendapatkan kabar buruk.
Rani yang yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari sang suami, refleks langsung berjalan mendekat dan meraih ponsel yang tergolek di lantai. Entah mengapa saat ini merasa yakin jika sesuatu yang buruk terjadi pada putranya, sehingga sang suami berekspresi sangat terkejut sekaligus ketakutan.
"Halo? Katakan padaku apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang buruk pada putraku?" Rani sebelumnya melihat kontak yang merupakan asisten pribadi sang suami dan ingin mendengar sendiri apa yang terjadi.
Kemudian Rani memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan suara bariton dari seberang telpon.
"Anda harus tenang, Nyonya. Saat ini, tuan Arya mengalami kecelakaan di persimpangan jalan yang berada di dekat area hotel bintang lima terbaik di kota ini," ucap Putra saat ini sudah kembali menjelaskan untuk kedua kali pada orang tua dari korban kecelakaan yang melibatkan banyak orang tersebut.
Begitu apa yang ditakutkan benar-benar terjadi, Rani yang memang dari tadi sudah berdebar-debar jantung karena berdetak jauh lebih hebat melebihi batas normal, lama kelamaan kehilangan keseimbangan dan hampir terguyung ke belakang jika tidak ditahan oleh tangan sang suami.
"Tenanglah, Sayang. Arya akan baik-baik saja," ucap Ari Mahesa yang sudah berhasil menenangkan diri setelah merasa syok beberapa saat lalu.
Dengan sigap menahan tubuh sang istri yang hampir saja terjerembab ke lantai saat kehilangan keseimbangan. "Aku sangat yakin jika Arya masih hidup."
Kemudian merebut ponsel yang berada di tangan sang istri. Tentu saja untuk menanyakan bagaimana keadaan dari putra satu-satunya. Meskipun sebenarnya jauh di dasar hati terdalam, merasa takut jika mendengar kabar buruk yang tidak diinginkan.
"Bagaimana dengan keadaan putraku? Katakan padaku!" seru Ari Mahesa yang berkali-kali menelan saliva karena efek gugup saat merasa khawatir pada keadaan putranya.
To be continued...
__ADS_1