Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Seseorang yang memperhatikan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Putri berjalan keluar dan menyusul Mira pergi ke ruang makan. Begitu mendaratkan tubuh di samping kanan wanita itu, Putri membulatkan mata karena langsung disodorkan piring berisi nasi yang sangat banyak menurutnya.


"Astaga! Apakah kamu pikir selama ini aku makan sebanyak ini? Bahkan hanya dengan melihatnya saja, seolah membuatku langsung merasa kenyang." Putri yang menerima piring tersebut, langsung mengembalikan separuh nasi ke wadah.


"Jika aku tidak mengurangi porsi ini, akan sayang karena pasti tidak akan habis. Kata para orang tua yang menasihati, rezeki tidak boleh dibuang."


Mira hanya tertawa karena memang sedang mengerjai wanita itu. "Padahal aku ingin segera melihatmu gemuk sepertiku. Jadi, ingin kamu makan yang banyak."


"Makan banyak hanya akan membuat perut merasa tidak nyaman. Aku pernah merasakan perut seperti penuh saat makan banyak. Itu karena pertama kali menikmati makanan mahal dan terasa melumer di mulutku, sehingga memilih untuk makan sampai kenyang."


Putri mengingat saat dulu makan sangat banyak karena Arya membeli banyak jenis makanan mahal yang belum pernah dicoba, sehingga kalap dan tidak memikirkan apapun ketika menikmati.


Seperti pizza, spaghetti, hamburger, kentucky merupakan jenis makanan yang tidak pernah dinikmati olehnya semenjak mempunyai suami Bagus. Seringnya hanya makan di warung pinggir jalan saat sang suami memiliki uang lebih.


Jika Arya sering membelikan makanan junk food mahal, sedangkan Bagus membelikan makanan sederhana seperti ayam goreng, rendang, dan nasi campur yang berisi aneka macam jenis.


Tentu saja semua hal yang berhubungan dengan pria itu seolah bagaikan bumi dan langit karena sangat berbeda. Putri tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia dan mengetahui kebaikan serta keburukan dari dua mantan suaminya tersebut.


Pernah terlintas di pikirannya dengan bermimpi jika dua pria tersebut menjadi satu akan terasa sempurna hidup. Namun, menyadari bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi karena hanyalah tangan semata. Menyadari bahwa dua pria tersebut memiliki watak berbeda dan mempunyai kelebihan maupun kekurangan masing-masing.


Saat ia menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut dan mengunyah, mengerjapkan mata saat merasakan jika masakan itu sangat lezat.


"Wah ... masakan ini sangat lezat. Ini kamu beli di mana? Pasti warung yang menjual makanan ini sangat laris dan banyak pembeli."


Namun, melihat respon dari Mira yang menggelengkan kepala, Putri mengerutkan kening karena merasa heran. "Tidak? Bagaimana mungkin?"


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Asal kamu tahu, aku biasanya tidak membeli makanan di tempat wanita ini karena sangat mahal harganya. Namun, langgananku hari ini libur, jadi tidak bisa membeli."


Mira menunjuk ke arah beberapa menu yang dibeli. "Harga semua makanan ini bahkan hampir sama dengan yang dijual di restoran. Padahal hanya warung biasa di pinggir jalan."


"Jadi, penjual memanfaatkan orang yang datang membeli dengan harga mahal karena hanya itu yang bisa dilakukan agar bisa mendapatkan pemasukan. Apalagi ini sangat sepi dan yang pergi makan hanyalah orang yang belum pernah datang ke sana, tapi setelah itu pasti tidak akan pernah kembali dan hanya cukup sekali."


Putri terdiam sambil menatap beberapa menu di hadapannya. "Aku nanti akan mengambil keuntungan sedikit dan berharap setiap hari lancar karena mendapat pelanggan. Karena menurutku itu akan jauh lebih laris dan dicari oleh semua orang. Untung sedikit tapi banyak yang membeli, sama juga dengan banyak, bukan?"

__ADS_1


Refleks Mira mengangkat ibu jari karena membenarkan apa yang dikatakan oleh Putri dan mengerti sistem bisnis dari para pedagang yang sukses meraup hasil keuntungan.


"Kamu memang benar. Saat orang terlalu berambisi untuk mencari keuntungan, terkadang tidak sadar bahwa itu lama-kelamaan akan menghancurkan diri sendiri."


"Kemudian berakhir buruk karena bangkrut."


Sementara itu, Outrt juga membenarkan hal itu dan tidak ingin itu terjadi padanya saat memulai bisnis membuka warung makan dan berharap bisa berkembang dengan baik.


"Semoga aku bisa merubah nasib dengan membuka lembaran baru di kota ini. Jadi, tolong aku dan jika perlu berikan nasihat sebanyak-banyaknya mengenai cara membuka usaha untuk pertama kali. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan agar di hari pertama jualan diketahui oleh orang?"


Mira sudah memikirkan tentang semua hal yang berhubungan dengan promosi karena selama ini memanfaatkan sosial media untuk memajukan usaha bisnisnya dan akhirnya berkembang dengan sangat pesat.


"Aku yang akan membantumu untuk membuka informasi di akun kuliner. Jadi, akan lebih banyak orang yang tahu bahwa ada warung baru di sini dengan harga murah dan ...."


Mira sebenarnya ingin mengatakan bahwa rasanya enak, tetapi karena belum merasakan bagaimana masakan Putri, jadi tidak melanjutkan berbicara.


"Kenapa berhenti?" Putri seketika menghentikan aksi makan karena merasa penasaran dengan kalimat lanjutan Mira.


"Aku belum mengetahui masakanmu, jadi tidak bisa mengatakan bahwa makanannya enak. Kalau aku bilang seperti itu, bukankah itu namanya sebuah kebohongan? Jadi, akan merubah promosi dengan kalimat yang lebih menarik lagi." Mira terdiam sambil menyangga dagu dan berpikir untuk menyusun rangkaian kata yang cocok di promosi kali ini.


"Kamu benar. Sepertinya aku akan memakai kata-katamu dalam promosi. Oh ya, nanti saat pembukaan usahamu, Aku ingin kamu melakukan satu hal." Mira kini mengungkapkan ide yang ada di kepala dan berharap Putri menyetujui apa yang dikatakan.


"Ya. Memangnya apa yang harus kulakukan? Kamu harus memberikan makanan gratis beberapa porsi untuk anak yatim ataupun orang miskin. Itu merupakan sedekah terbaik dan menarik rezeki karena akan kembali berlipat-lipat. Dulu aku melakukannya saat pertama kali berjualan dan sangat bersyukur jika hari ini bisa memiliki banyak pekerja dan orderan lancar."


Setelah mengungkapkan rahasia bisnis yang selama ini dijalani dengan penuh rasa syukur karena sering bersedekah dengan memberikan makanan pada anak yatim dan juga orang yang membutuhkan, Mira tersenyum ketika Putri langsung menyetujui.


"Aku sebenarnya juga berencana seperti itu karena menganggap itu akan membuka pintu rezeki. Ternyata dalam hal ini, kita satu aliran. Aku benar-benar sangat beruntung bisa bertemu dengan wanita sebaik dirimu, Mira."


Putri merasa sangat damai dan tenang ketika berbicara dengan wanita yang saat ini tersenyum dan melanjutkan ritual makan. Tidak tahu apa yang terjadi jika tidak ada pasangan suami istri yang baik mau membantunya keluar dari masalah yang menimpa.


Kemudian ia kembali melanjutkan menikmati makanan dengan sesekali bercerita dan bertanya mengenai usaha yang akan dirintis.


Setengah jam kemudian, mereka sudah terlihat kembali memeriksa pekerjaan para pekerja di area belakang. Bahkan Putri sesekali membantu dan berbincang dengan semua pekerja di rumah itu setelah memperkenalkan diri.

__ADS_1


Semua orang sangat menyukai Putri yang terlihat sangat sopan. Bahkan terkadang canda tawa mengiringi pembicaraan mereka.


Suasana yang cerah telah berganti dengan senja yang beranjak ke peraduannya dan berganti petang yang akan menghiasi dengan kegelapan.


Para pekerja telah menyelesaikan semua pekerjaan untuk hari ini dan satu persatu berpamitan pulang pada tuan rumah dan juga Putri.


Sementara itu, Putri saat ini berpikir harus membersihkan kontrakan dan menepuk jidat karena melupakan hal itu. "Kamu sekarang antarkan aku ke kontrakan. Aku seharusnya membeli kasur untuk kami tidur. Bahkan belum bersih-bersih."


"Tenang saja karena tadi begitu mendapatkan persetujuan dari pemilik kontrakan, aku langsung menyuruh semua pekerja untuk membersihkan terlebih dahulu. Mengenai ranjang dan kasur sudah ada karena pemilik rumah tidak membawa saat pindah ke luar kota. Bahkan ada lemari yang bisa kamu gunakan untuk menyimpan pakaian."


Mira menepuk pundak Putri dan ingin memastikan sesuatu. "Kamu bukan wanita penakut, kan? Jadi, kamu berani tinggal di kontrakan hanya bersama putramu?"


Putri yang awalnya sangat berbinar karena tidak pernah menyangka jika ada fasilitas yang bisa dinikmati di kontrakan dan merupakan milik orang yang sebelumnya berada di sana.


Bahkan merasa sangat senang karena menjual semua barang yang dimiliki di kontrakan lama dan berpikir akan membeli saat berada di tempat baru.


"Aku sangat beruntung sekali karena tidak harus mengeluarkan uang untuk membeli. Jadi, bisa memanfaatkan sebagai modal dan juga memberikan makan gratis untuk anak yatim dan juga orang yang membutuhkan. Aku sudah terbiasa hidup sendiri hanya putraku."


"Memangnya, apa yang harus kutakutkan saat semua kepedihan sudah kurasakan?" sahut Putri dengan kegetiran defensif saat ini mewarnai jawaban yang baru saja diungkapkan.


"Aku lupa, maafkan aku karena mengingatkanmu pada kepahitan hidup di masa lalu." Mira bangkit berdiri untuk mengantarkan Putri ke kontrakan.


"Tidak apa-apa dan jangan meminta maaf berkali-kali padaku. Rasanya aku sangat risi mendengar hal itu." Putri saat ini ikut bangkit dari kursi dan berjalan ke arah kanan untuk menggendong putranya.


Namun, berubah pikiran karena mengingat ada tas besar yang sangat berat dan harus dibawa. "Tolong kamu gendong putraku karena aku harus membawa tas."


"Tidak apa-apa, biar aku saja yang membawanya karena jauh lebih gemuk daripada kamu. Pastinya kekuatanku jauh lebih kuat dibandingkan wanita kurus sepertimu, bukan. Aku takut kamu akan jatuh ketika membawa beban yang lebih dari berat badanmu."


Saat Putri ingin berbicara, Mira sudah pergi dari hadapannya dan akhirnya memilih untuk menggendong Xander.


Kemudian dua wanita tersebut keluar dari rumah dan berjalan menuju ke kontrakan yang berada di dekat sana.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang dari tadi memperhatikan dibalik pohon mangga besar.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2