Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mengakhiri


__ADS_3

Putri yang awalnya ingin menjelaskan kesalahpahaman agar tidak semakin terlihat buruk di mata Aldiano, tidak bisa melakukannya ketika tangannya sudah ditarik oleh pria berstatus suami di atas kertas tersebut.


Akhirnya ia memilih untuk menurut berbicara karena merasa percuma saat melihat raut wajah memerah pria yang selalu menganggapnya seonggok sampah yang tidak pantas untuk dilihat. Hingga ia pun kini masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan sambil melihat Arya yang kini berbicara dengan salah satu polisi.


'Syukurlah Arya hanya mengalami luka ringan di bagian lengan dan kaki. Semoga ia baik-baik saja dan apa yang kau katakan tadi tidak terjadi padanya,' gumam Putri yang saat ini mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri.


Ia yang selama ini membenci Arya karena telah mengkhianati cinta serta melakukan buah cinta mereka, sudah memaafkan semua perbuatan mantan suaminya tersebut. Apalagi setelah melihat kematian sosok wanita yang menjadi penyebab Arya berpaling darinya, menyadarkan jika hukum tabur tuai berlaku untuk Calista.


Ia akan menganggap dirinya jauh lebih hina dari Calista, tapi masih diberi kesempatan hidup sampai sekarang, sehingga membuatnya ingin menjadi sosok wanita yang jauh lebih baik. Salah satunya dengan memaafkan Arya dan tidak mengingat-ingat masa-masa ketika terpuruk.


"Apa kau saat ini tidak rela meninggalkan Arya Mahesa? Sebenarnya apa hubunganmu dengannya?" Aldiano yang saat ini sudah mengemudikan mobilnya meninggalkan area kecelakaan, bisa melihat tatapan Putri pada Arya Mahesa.


Hingga ia mengempaskan tangannya pada kemudi ketika tidak ditanggapi karena wanita di sebelahnya hanya diam saja dengan mengunci rapat bibirnya. "Dasar wanita ******! Apa kau tuli, haah? Aku sedang berbicara padamu, berbicara dengan hantu."

__ADS_1


"Aku mempunyai hak untuk tidak menjawab pertanyaanmu!" sahut Putri tanpa pikir panjang.


Ia bahkan sama sekali tidak merasa takut jika akan kembali mendapatkan kekerasan yang dilakukan Aldiano. Nasib baik hari ini mertuanya mengirimkan gaun panjang tertutup, sehingga tidak memperlihatkan bekas luka di tubuhnya.


'Percuma berbicara dengan seorang pria yang tidak mempunyai hati sepertinya karena apapun yang kukatakan akan salah di matanya. Itu hanya membuang-buang waktu dan energiku saja,' lirih Putri yang seketika terhuyung ke depan ketika mobil direm secara mendadak.


Nasib baik ia memakai sabuk pengaman dan keningnya tidak sampai terantuk pada dasbor mobil. Bahkan saat ini menoleh ke arah pria yang berteriak padanya dengan wajah memerah.


"Apa kau sekarang sudah siap mati karena berani melawanku? Kau hanyalah jalan dari jalanan yang dipungut oleh papaku. Jadi, jangan berlagak seolah-olah merupakan nyonya besar di keluarga Priambodo!" Aldiano merasa sangat murka karena baru pertama kali ada yang berani melawan dan membantahnya.


Ia tadi seketika menepikan mobil dengan mengerem mendadak dan berharap wanita yang sangat dibencinya tersebut terempas dasbor mobil. Namun, bertambah kesal karena usahanya tidak membuahkan hasil.


Hingga ia memicingkan mata begitu melihat sosok wanita yang saat ini bergerak melepaskan sabuk pengaman.

__ADS_1


"Apa kau mau kabur?"


Putri yang baru saja berhasil melepaskan pelindung tubuhnya dari kematian, kini seperti merasakan beban berat yang ditopangnya lepas. Hingga ia pun bergerak dengan menggeser tubuhnya dari tempat duduk agar bisa semakin mendekat pada Aldiano.


Tidak hanya itu saja karena ia sudah bergerak mendekatkan lehernya dan mendongak, seolah siap untuk dieksekusi. "Lakukan! Aku ingin tahu bagaimana dan seperti apa surga dan neraka itu."


Aldiano saat ini masih terdiam menatap leher jenjang dan putih di hadapannya. "Dasar wanita tidak waras! Apa kau sedang berencana untuk menjebakku agar bisa membusuk di sel?"


Merasa percuma membuang energi karena selalu salah di mata Aldiano, kini Putri menurunkan pandangan dan kini masih tetap dengan iris berkilat di hadapannya. Bahkan daerah di antara mereka hanya beberapa senti dan bergerak sedikit saja, sudah bisa saling bersentuhan kulit.


"Aku benar-benar sangat lelah dan tahu jika kau pun juga demikian. Lebih baik kita temui papamu dan mengakhiri semua sandiwara ini." Putri hanya ingin hidup damai bersama dengan putranya dan memberikan kasih sayang penuh tanpa harus tertekan setiap harinya.


'Ampuni aku jika mengeluh hanya karena cobaan sekecil ini, Tuhan, tapi aku benar-benar sangat lelah,' gumam Putri yang saat ini masih menunggu jawaban dari pria yang juga tengah menatapnya dengan tajam seperti hendak nemangsanya habis-habisan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2