
"Kemarilah, Sayang!" ucap wanita yang saat ini masih memakai seragam rumah sakit karena memang sengaja melakukannya agar putrinya tetap tidak tega melihatnya.
Amira Tan mematuhi perintah sang ibu dengan berjalan dan duduk di tepi ranjang perawatan. "Iya, Ma."
"Kamu terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin ini. Mama sangat bahagia bisa melihat momen pernikahanmu sebelum meninggalkan dunia ini." Laila Sundari bahkan sudah mengusap lembut punggung tangan putrinya untuk mengungkapkan kebahagiaan.
Meskipun di saat bersamaan, melihat wajah masam penuh kemarahan dari putrinya.
Amira Tan benar-benar semakin frustasi atas perkataan sang ibu dan membuatnya tidak bisa tinggal diam, sehingga ingin wanita paruh baya tersebut berubah.
"Mama jangan berbicara buruk seperti itu lagi karena aku benar-benar tidak suka. Itu sama saja dengan tidak menghargai usaha kami untuk menyembuhkan Mama. Apalagi aku sudah berbuat sejauh ini hanya untuk kesembuhan Mama."
Kini, Laila Sundari menganggukkan kepala dan tersenyum simpul melihat kekecewaan putrinya. Namun, beberapa saat kemudian berkaca-kaca karena tidak bisa menahan kebahagiaan yang dirasakan begitu menyadari bahwa putrinya sudah dewasa.
"Maafkan, Mama. Sebenarnya hari ini merasa sangat bahagia karena putri yang dulu kurawat dengan penuh kasih sayang, kini sudah dewasa dan akan menikah. Mama akan selalu mendoakanmu untuk menjadi seorang istri yang baik dan keluarga kalian dilimpahi kebahagiaan."
Amira Tan yang tidak tega melihat sang ibu berkaca-kaca dan meloloskan bulir air mata kebahagiaan menghiasi wajah pucat tersebut, seketika memeluk erat.
"Mama jangan membuat riasan di wajahku berantakan dengan menangis seperti ini. Bukankah seharusnya merasa bahagia dengan tersenyum? Bukan malah menangis seperti orang yang sedang bersedih."
Laila Sundari beberapa kali mengusap punggung putrinya. "Iya, Mama tidak akan menangis bahagia karena akan mengubah dengan senyuman."
"Iya, seharusnya memang begitu." Amira Tan pun terlihat beberapa kali mengusap punggung sang ibu untuk menghentikan sang ibu yang menangis.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bahkan melihat ibu sangat bahagia dengan pernikahan palsu ini. Bagaimana perasaannya begitu mengetahui saat kami bercerai nanti?'
'Bahkan untuk membayangkannya saja tidak berani,' gumam Amira Tan yang seketika melepaskan pelukan begitu mendengar pintu terbuka dan suara beberapa orang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sudah datang.
Momen yang mengharukan tersebut harus diakhiri ketika orang yang menikahkan baru saja tiba setelah menutup pintu.
Semua orang awalnya ikut terharu melihat interaksi antara ibu dan anak yang terlihat mengungkapkan kasih sayang masing-masing, tetapi seketika menoleh ke arah pintu begitu melihat pria baru bayar yang mempunyai tubuh tinggi besar datang bersama asisten.
"Selamat siang." Pria yang baru saja datang tersebut langsung memberikan salam penghormatan begitu melangkahkan kaki mendekati orang-orang dan juga menuju ke tempat di mana ada kursi serta meja yang akan menjadi tempat pernikahan.
__ADS_1
Semua orang langsung menjawab dengan serempak sapaan dari pria yang akan memimpin acara pernikahan tersebut.
Sementara itu, ayah Amira Tan yang mengenal pria tersebut langsung menyapa dan berbicara sebentar mengenai acara pernikahan untuk putrinya.
"Maaf karena harus merepotkanmu dengan pernikahan mendadak dari putriku. Seperti yang kukatakan di telepon kemarin bahwa semua ini adalah keinginan dari istriku yang sedang sakit."
"Tidak masalah karena hal seperti ini sudah sering terjadi. Pernikahan yang dilakukan secara mendadak karena alasan sesuatu hal sudah biasa dilakukan oleh banyak orang. Semoga setelah ini, istri segera sembuh dan anak-anak telah menjalankan perintah untuk menikah, serta hidup berbahagia."
Kemudian memberikan kode pada asistennya untuk mengeluarkan beberapa berkas yang nanti harus ditandatangani oleh mempelai pengantin pria dan wanita setelah acara pernikahan.
Khususnya adalah buku nikah dan saat ini tidak lagi berbicara panjang lebar karena memang acara sudah harus dimulai.
"Apakah kedua mempelai pengantin sudah siap?"
"Sudah. Mereka sudah tiba beberapa saat yang lalu." Edi Indrayana saat ini menampilkan tangan Jack dan Amira Tan agar segera mendekat dan duduk di tempat yang disediakan.
Jack yang merasa sangat gugup, kini berusaha untuk tidak memperlihatkannya begitu berjalan mendekati ayah Amira Tan dan juga pria yang akan menikahkan mereka.
Sementara Amira Tan berjalan mengekor di belakang Jack setelah pria itu memberikan kode padanya agar segera mematuhi perintah dari sang ayah dan duduk di sana.
Amira Tan yang tidak ingin kehilangan sahabat baik karena menyadari bahwa Jack adalah seorang pria yang baik karena tidak pernah memaksanya meskipun berkali-kali mengungkapkan perasaan cinta.
Satu-satunya hal yang paling disukai oleh Amira Tan adalah itu. Jadi, berpikir jika persahabatan mereka mungkin akan berakhir saat mengalami masalah setelah menikah.
Bahkan mungkin tidak akan berhubungan lagi jika sampai mereka bercerai. Namun, Amira Tan tidak ingin memikirkan hal itu saat ini karena yang terpenting baginya adalah kesembuhan wanita yang telah melahirkan dan juga merawat dengan baik dan disayangi olehnya.
Kemudian pria yang akan menikahkan berbicara mengenai pernikahan agar mempelai pengantin pria dan wanita mengerti arti sesungguhnya penyatuan dua hati dalam hidup rumah tangga setelah sah menjadi pasangan suami istri.
Semua orang mendengarkan dan ikut merasa terharu melihat momen pernikahan tersebut yang terjadi di salah satu ruangan perawatan ibu mempelai pengantin perempuan.
Bahkan orang tua Jack selama ini berteman dengan Edi Indrayana dan Laila Sundari. Jadi, berpikir bahwa hubungan mereka akan semakin lebih baik setelah putra-putri mereka menikah.
Kemudian, dimulai acara pernikahan dan Jack bisa mengucapkan kalimat sesuai dengan arahan pria yang menikahkan tersebut, beberapa saksi langsung mengatakan sah begitu ditanya.
__ADS_1
Meskipun Jack merasa sangat gugup saat menjabat tangan pria di hadapannya ketika mengucapkan kalimat pernikahan, tapi kemudian bisa langsung menyambung perkataan dan lancar mengatakannya.
"Mulai sekarang, kalian resmi menjadi pasangan suami istri," ucap pria paruh baya tersebut dan menyuruh untuk menandatangani buku pernikahan.
Setelah semua orang mengungkapkan rasa syukur karena pernikahan berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun, Jack dan Amira Tan langsung menandatangani buku nikah suami dan istri.
Amira Tan yang dari tadi hanya diam dan merasa aneh dengan perasaannya ketika menghadapi momen paling sakral dalam hidup, hanya diam tanpa berkomentar apapun seolah pikiran tengah kosong.
Hingga disadarkan oleh suara sang ibu yang berada agak jauh dari tempat ia duduk dan membuatnya mengangkat pandangan.
"Amira, kamu belum mencium punggung tangan suamimu." Laila Sundari sebenarnya mengerti bahwa putrinya seperti tertekan dengan pernikahan, tetapi berpikir positif bahwa melakukan semua ini demi kebaikan.
Meskipun merasa sangat aneh melakukan perintah dari sang ibu yang sebenarnya sudah diketahui menjadi ritual pasangan suami istri yang baru menikah, Amira Tan saat ini bersitatap dengan Jack.
Amira Tan bahkan melihat tatapan berbeda dari pria di hadapannya tersebut, tapi tidak tahu apa yang lain dari biasanya. Akhirnya ia langsung mencium punggung tangan sang suami dan melihat Jack bergerak mendekat dan mencium keningnya.
Ingin sekali Amira Tan menghindar untuk menolak, tetapi tidak bisa melakukan itu di depan semua orang yang pasti akan merasa curiga pada mereka.
Hingga beberapa saat kemudian, suara tepuk tangan dari beberapa orang sana keluarga yang menjadi saksi pernikahan mendadak tersebut terdengar memenuhi ruangan perawatan.
Seolah semua orang ingin mengungkapkan kebahagiaan karena merasa senang melihat acara hari ini berjalan dengan lancar.
Amira Tan saat ini merasa telah mengkhianati Noah karena Jack baru saja mencium meskipun hanya pada dahi saja. Namun, tetap saja selalu mengingat perkataan dari sang kekasih yang menolak sentuhan fisik di antara ia dan Jack.
Sekarang Amira Tan menyadari bahwa itu tidak akan berlaku di depan semua orang karena pasti dicurigai dan pasti membuat sang ibu berpikir buruk mengenai hubungan mereka.
'Aku sebenarnya sudah mengetahui hal ini dari Jack yang menolak poin utama itu, tapi tetap saja merasa sangat aneh ketika pertama kali melihat pria yang selalu ku anggap teman melakukan hal ini padaku.'
Amira Tan masih sibuk bergumam di dalam hati untuk mengungkapkan perasaan memuncak yang dirasakan pada momen pernikahan mendadak hari ini.
Namun, berbeda dirasakan oleh Jack ketika pertama kali mencium sosok wanita yang dicintai dan sudah berubah menjadi istri sah.
'Aku sekarang mempunyai hak sepenuhnya untuk mempertahankan pernikahan dan memilikimu seutuhnya, Amira Tan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk Noah karena sekarang merupakan istri sahku,' lirih Jack yang saat ini merasa sangat percaya diri karena satu langkah lebih hebat dari pria yang dulu meremehkan.
__ADS_1
To be continued...