Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Terjadi sesuatu


__ADS_3

Amira Tan yang baru saja keluar dari klinik setelah menemui Putri, kini masuk ke dalam mobil dan langsung melaju membelah kemacetan kota.


Setelah menemui saudara tirinya hari ini, ia merasa sangat iba dan tidak tega. Meskipun dulu sangat membenci Putri, tetapi seperti pepatah mengatakan 'Darah lebih kental dari pada air' seolah menjadi alasan utama tidak sanggup melihat kesedihan di wajah wanita itu.


'Melihatnya hari ini yang sangat murung seperti tidak ada cahaya kebahagiaan terpancar di wajah dan menjelaskan bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja.'


'Apalagi aku selalu teringat saat melihat Arya menggendong wanita itu keluar dari Club dan menjadi pusat perhatian semua orang.'


Amira Tan yang saat ini memperhatikan mobil melintas, tanpa sengaja melihat siluet pria yang sangat dihafal dan baru saja dipikirkan.


'Arya? Sepertinya pria berengsek itu panjang umur karena selalu muncul saat aku memikirkannya,' gumam Amira Tan yang kini ingin melupakan kejadian semalam.


Mulai dari melihat Arya yang berselingkuh, lalu perbuatan terlarang yang tidak seharusnya dilakukan bersama Noah, belum lagi pesan dari Jack yang sudah banyak dikirimkan, tetapi belum dibuka sama sekali.


Pusing dan lelah seolah menjadi jawaban dari apa yang saat ini tengah dirasakan oleh Amira Tan. Ia memilih untuk bersandar di jok mobil sambil memejamkan mata yang terasa panas dan pedas karena tidak tidur semalaman, kepala pun makin berat.


'Aku ingin tidur saja nanti di kantor. Tidak tidur semalam saja rasanya sangat berat. Meski aku tahu jika mengganti waktu tidur dengan cara beristirahat selama seharian pun tidak akan sanggup untuk menyembuhkan rasa berat ini.'


Namun, Amira Tan kembali diliputi rasa bersalah pada saudara dan memilih untuk membuka mata. Tidak ingin dihantui oleh rasa bersalah karena menutupi perbuatan Arya pada Putri, kini Amira Tan membuka tas dan mengeluarkan ponsel.


"Aku harus bertemu dengan si berengsek itu!" sarkas Amira Tan yang memilih untuk mengirimkan pesan pada Arya untuk bertemu sepulang kerja.

__ADS_1


"Lebih baik semuanya diselesaikan segera dan aku yang akan membantu untuk mengurus perceraian antara Putri dan Arya nanti. Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika setelah Bagus menceraikannya, hal yang sama akan dirasakan oleh Putri."


"Jika Bagus tahu tentang hal ini, pasti akan menerima Putri dan juga Xander, lalu mereka hidup bahagia. Bagaimana denganku? Aku bahkan belum menemukan kebahagiaan. Jadi, Putri pun juga harus sama karena aku sudah banyak membantu."


Berpikir jika Putri tidak boleh bahagia sebelum Amira, mungkin itu adalah pemikiran anak-anak, tetapi merasa tidak ingin terluka sendiri, membuat sang pengacara mengambil jalan untuk diam.


Tidak ingin mengungkapkan apa yang terjadi pada Putri dan juga berpikir jika wanita itu pun akan melakukan hal sama.


"Meskipun Putri hidup menderita, tidak akan pernah memberitahu Putri. Aku sangat yakin itu," ucap Amira Tan yang saat ini mengembuskan napas kasar karena pesan yang dikirim pada Arya telah dibaca, tetapi tidak mendapatkan balasan.


"Sialan! Apa susahnya membalas yes or no. Apa sekarang dia sangat sombong karena posisi penting di perusahaan akan kembali? Apa tidak ingat saat dulu tidak punya uang sana sekali saat diusir dari rumah?"


"Arya bagaikan pepatah 'Kacang lupa kulitnya' karena setelah berpakaian rapi dan akan menjadi CEO, malah bersikap sombong seolah tidak pernah bertemu denganku. Bukankah ini sangat menyebalkan?"


Amira Tan sibuk melampiaskan kekesalan di kursi belakang tanpa merasa malu pada sang supir yang mengemudikan mobil. Seolah saat marah, tidak memperdulikan apapun.


Sementara itu, pria paruh baya yang tengah fokus mengemudi itu hanya diam tanpa berniat untuk bersuara, meskipun sesekali melirik melalui spion mobil.


'Sebenarnya nona Amira Tan marah pada siapa? Aku sama sekali tidak pernah mendengar nama-nama itu. Selama ini mengetahui beberapa teman yang datang, tapi bukan nama Putri,' gumam sang supir yang saat ini tengah membelokkan mobil menuju kantor majikan setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 20 menit dari klinik.


Memang tidak jauh karena tadi mengemudikan mobil tidak dengan kecepatan tinggi karena menjaga kenyamanan majikan yang sedang tidak baik perasaan hari ini.

__ADS_1


Apalagi mendengar suara umpatan berkali-kali ketika berada di dalam mobil.


"Sudah sampai, Nona Amira Tan." Menoleh ke belakang untuk melihat sang majikan tak kunjung bergerak dan ternyata terlihat sedang melamun.


Amira Tan yang tadi tiba-tiba mengingat sesuatu yang mengganjal pikiran, tersadar ketika suara bariton dari sang supir masuk ke indra pendengaran.


"Baiklah. Terima kasih. Langsung pulang saja karena aku nanti akan memakai mobil yang tadi dibawa oleh sepupu teman dan bekerja di sini." Ia pun mengambil tas kerja dan keluar dari mobil milik sang ayah tersebut setelah mendengar jawaban pria itu.


Kemudian melirik mobil kesayangan yang sudah terparkir di tempat khusus seperti biasa. "Dari mana Noah tahu jika itu tempat khusus untukku? Sepertinya tadi bertanya pada security."


Tidak ingin memikirkan hal tidak penting itu, Amira Tan berjalan menuju ke arah kantor dan tentu saja menyapa beberapa staf yang sudah berkutat di depan komputer dengan tumpukan berkas dari para klien yang ditangani.


"Di mana pekerja baru yang aku suruh untuk membantu pekerjaan kalian itu?" Amira Tan bertanya pada salah satu pria yang ada di sudut paling depan.


Sementara itu, sosok wanita yang saat ini merasa sangat gugup karena ada sesuatu yang terjadi beberapa saat lalu, memilih untuk mengarahkan tangan pada pintu ruangan utama.


Amira Tan mengerutkan kening karena melihat keanehan dari sikap salah satu staf tersebut. "Apa kamu sedang sariawan? Cepat beli obat nanti, agar segera sembuh "


Kemudian menoleh ke arah pintu ruang kerja yang menjadi paling favoritnya. "Kenapa pekerja baru itu ada di ruanganku? Padahal aku tidak menjadikan Noah asisten pribadi karena tadi papa yang mengatakan hal konyol itu."


Merasa sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Noah di ruangan, Amira Tan memilih untuk segera masuk ke ruangan kerja setelah menyuruh wanita itu kembali bekerja.

__ADS_1


Beberapa staf yang ada di di sana saling bersitatap. Seolah ingin memberikan kode masing-masing. Merasa takut jika nanti wanita itu akan murka pada mereka karena tidak menanyakan hal yang sebenarnya hari ini.


To be continued...


__ADS_2