Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Serangan jantung


__ADS_3

Aldiano yang sudah menduga akan datang polisi untuk menangkapnya, sama sekali tidak terkejut. Ia bahkan saat ini sudah pasrah atas apa yang akan dijalani dan berpikir jika itu merupakan sebuah hukuman atas perbuatannya di masa lalu.


Ia bisa jauh lebih kuat setelah mendengarkan semua perkataan dari putri tentang cobaan wanita itu yang penuh dengan penderitaan, tapi bisa bertahan sampai sekarang dan membuatnya benar-benar salut.


Bahkan ia saat ini tidak ingin kalah dengan seorang wanita yang dulunya memiliki seorang bayi ketika mendapatkan banyak cobaan hidup.


Sementara ia hanyalah seorang pria yang bahkan tidak mempunyai beban sama sekali karena selama ini sang ayah yang mengurus perusahaan, sedangkan ia selalu menghabiskan uang.


Kini, ia menerima dengan baik kedatangan dua aparat kepolisian yang baru saja menyatakan bahwa merupakan tersangka dan memang diakuinya ingin menghabisi nyawa Neil Mardi yang merupakan kekasihnya karena sangat marah ketika pria itu membuka rahasianya di depan umum.


"Ya, saya mengakuinya dan akan mengikuti proses hukum sesuai dengan yang berlaku," ucap Aldiano yang saat ini terlihat sangat tenang dan Ia mendapatkan respon baik dari para polisi.


"Terima kasih telah mau bekerja sama dan mengakui semuanya, Tuan Aldiano. Itu akan semakin mudah untuk proses hukuman yang akan Anda terima. Bahkan tidak akan memberatkan proses hukuman untuk Anda nantinya." Sang polisi saat ini menunjukkan surat yang menyatakan jika pasien tersebut merupakan tersangka


Bahkan menunjukkan surat penahanan pada pria paruh baya yang saat ini terlihat sangat terkejut atas apa yang baru saja disampaikan. "Anda bisa mengeceknya sendiri, Tuan Bambang."


"Semua bukti-bukti sudah mengarah pada putra Anda yang memang tertangkap CCTV saat sengaja melakukan percobaan bunuh diri. Itu bahkan dilakukan secara sengaja dan sama sekali tidak ada pengaruh minuman beralkohol dari tes darah serta urine pasien."


Saat baru saja mengungkapkan semuanya, sang polisi sebenarnya merasa sangat iba pada pria paruh baya tersebut, tapi memang harus mengikuti aturan dari kepolisian jika Putra pria itu akan segera ditangkap dan mengikuti proses hukum sampai persidangan dimulai.


Bambang Priambodo yang tadinya sangat terkejut begitu melihat dua polisi yang datang ketika ia dipenuhi oleh kebahagiaan. Hingga tubuhnya seketika terhuyung ke belakang begitu mendengar penjelasan dari tujuan 2 aparat kepolisian datang ke ruangan putranya.


Hingga ia sampai dipegangi oleh Putri agar tidak jatuh karena tubuhnya sangat lemas saat ini saat mengetahui kenyataan jika sebentar lagi mungkin putranya akan mendekam dibalik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


"Putraku sama sekali tidak berniat untuk membunuh karena dia juga merasakan akibatnya. Apa kalian lihat keadaannya sekarang? Dia bahkan sekarang mengalami kelumpuhan, sehingga tidak bisa berjalan seperti orang yang normal. Bagaimana bisa dia menjalani hukuman di penjara saat kondisinya seperti itu?"


Bambang Priambodo benar-benar tidak berdaya saat ini dan ingin sekali meminta belas kasihan agar putranya tidak mendapatkan hukuman di penjara ketika harus merelakan kakinya yang tidak bisa berjalan dan menghabiskan waktu di atas kursi roda.


Ia bahkan tadinya berpikir jika nanti putranya akan menjalani terapi seperti yang dilakukan Putri agar bisa berjalan kembali, tapi seketika harapannya musnah begitu membayangkan putranya harus mendekam di penjara dan tidak mungkin bisa melakukan terapi agar bisa berjalan lagi.

__ADS_1


Membayangkan hal itu saja sudah membuat ia benar-benar sangat tidak tega pada putranya yang harus menjalani semua kepedihan ketika berniat untuk kembali ke jalan yang benar.


'Ya Allah, ampuni segala dosa-dosa kami. Ampuni semua perbuatan yang dilakukan oleh putraku, tapi apakah harus seperti ini ia menjalani cobaanmu ketika hendak kembali ke jalan yang benar? Aku benar-benar tidak tega melihat putraku hidup menderita seperti ini.'


'Apa yang harus kulakukan untuk bisa membuat putraku tidak mendekam di penjara saat kondisinya seperti ini?' Bambang Priambodo saat ini tengah sibuk memikirkan bagaimana caranya putranya tidak dihukum.


Ia saat ini menatap ke arah dua polisi yang hanya bisa menggelengkan kepala dan tidak bisa menuruti permintaannya. "Aku akan menghubungi pihak pengacara untuk membereskan semuanya agar putraku tidak dipenjara. Bila perlu, aku akan menggantikannya untuk menjalani hukuman."


Aldiano yang saat ini merasa bersalah karena telah membuat sang ayah bersedih, saat ini memegang lengan pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut.


"Papa, jangan bicara seperti itu karena aku harus menjalani hukuman atas semua perbuatanku. Bukankah Papa sangat berharap aku kembali ke jalan yang benar? Ini baru dimulai dan memang jalan ini yang harus kulalui, Pa." Aldiano benar-benar tidak tega melihat wajah muram sang ayah.


Ia bahkan saat ini berpikir jika semua hal yang terjadi memang merupakan garis takdir yang harus dilaluinya. Bahkan saat sang ayah sama sekali tidak mau berkomentar apapun atas apa yang ia katakan, beralih menatap ke arah Putri yang dari tadi diam.


Aldiano seolah memberikan kode dengan mata agar Putri mau menghibur sang ayah agar tidak terpuruk hanya dengan kedatangan polisi yang akan menuntut perbuatannya.


'Aku sangat berharap Putri bisa menghibur papaku jika nanti aku berada di penjara. Dia adalah seorang istri sekaligus menantu yang baik dan pastinya akan menemani papaku yang kesepian di rumah,' gumam Aldiano yang saat ini melihat Putri menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang ia inginkan.


Ia yang belum membuka suara, kini menoleh ke arah polisi yang mengungkapkan sesuatu.


"Saat ini, kami memberikan waktu sampai tuan Aldiano pulih dan keluar dari rumah sakit. Baru akan memproses hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jadi, kami tidak akan membawa pasien sekarang meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka. Ruangan hanya akan dijaga oleh polisi di pintu masuk."


Kemudian salah satu polisi mendekati pria yang menjadi tersangka tersebut untuk meminta waktu karena akan melakukan interogasi mengenai perbuatan yang dilakukan hingga membuat korban meninggal di meja operasi.


Putri saat ini mengajak sang ayah untuk keluar agar bisa berbicara berdua dan menghibur pria paruh baya tersebut. Ia saat ini menggandeng pergelangan tangan sang ayah mertua dan membiarkan para polisi berbicara berdua dengan sang suami yang harus diinterogasi.


Bambang Priambodo yang masih merasa sangat syok dan sekaligus bersedih, saat ini benar-benar tidak bisa berkata-kata ketika sudah berada di luar ruangan perawatan putranya.


Ia saat ini hanya terdiam sambil memegang kertas yang baru saja diberikan oleh polisi padanya.

__ADS_1


"Duduklah, Pa. Tolong tenangkan hati dan pikiran Papa." Putri saat ini mengarahkan mertuanya agar duduk di sebelahnya agar bisa menghibur dengan leluasa.


Sementara itu, Bambang Priambodo yang masih tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada putranya karena harus menjalani hukuman dalam keadaan yang cacat.


Ia bahkan saat ini bola matanya sudah berkaca-kaca dan menatap ke arah menantunya. "Bagaimana ini, Putri? Bahkan Aldiano sekarang cacat. Bagaimana dia bisa menjalani cobaan berat ini?"


"Bisa, Pa karena tadi kami sudah berbicara tentang masalah itu. Memang awalnya Tuhan Aldiano merasa terpuruk dan tidak bisa menerima keadaannya jika harus mendekam di penjara dalam keadaan nya yang cacat, tapi sekarang sudah bisa menerima semuanya."


Ia pun menceritakan semua pembicaraan mereka tadi agar sang ayah merasa tenang dan tidak terlalu khawatir karena Aldiano sekarang sudah ikhlas menjalani semuanya.


Bahwa pria itu akan menganggap jika yang dialami adalah proses menuju kebaikan atas pertobatan yang dilakukan.


Meskipun ia mendengarkan penjelasan dari menantunya, tetap saja tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya pada putranya. Ia bahkan saat ini memikirkan akan membayar banyak pengacara untuk membuat putranya tidak menjalani hukuman.


"Papa akan berusaha untuk membuat Aldiano tidak dipenjara. Bahkan Papa bersedia menggantikannya untuk menerima hukuman agar dia bisa melakukan terapi," ucapnya yang saat ini merasa dadanya nyeri.


Putri yang merasa percuma mengatakan pada mertuanya jika Aldiano tetap harus dihukum sesuai dengan prosedur yang berlaku, sehingga tidak lagi ingin membahas masalah itu dan mengerutkan kening ketika melihat wajah mertuanya tiba-tiba berubah pucat.


"Pa? Papa kenapa?" Putri merasa sangat khawatir melihat keadaan mertuanya yang tiba-tiba berkeringat.


Sementara itu, Bambang Priambodo yang saat ini merasa jika rasa nyeri pada dadanya semakin hebat dan peluh bercucuran di wajahnya, seketika memegang dadanya dan meringis kesakitan tanpa bisa mengungkapkan apa yang dirasakan.


Putri yang merasa sangat khawatir akan keadaan dari mertuanya, seketika menatap ke sekeliling untuk mencari bantuan. "Tolong! Ada pasien di sini!"


Ia saat ini berpikir jika mertuanya mengalami serangan jantung karena masalah Aldiano dan itu benar-benar membuatnya merasa sangat takut, sehingga ingin tiap paruh baya tersebut segera ditangani oleh dokter.


Namun, saat ia berteriak, seketika membulatkan matanya begitu mertuanya terjatuh dari tempat duduk dan tergolong lemah di lantai.


"Papaaa!" teriak Putri yang saat ini wajahnya sangat pucat dan dukung jantung tidak beraturan karena ketakutan menguasai diri begitu melihat mertuanya sudah kehilangan kesadaran dan di saat bersamaan suara langkah kaki yang berlarian menghampiri dan dua perawat sudah datang.

__ADS_1


"Tolong ayah mertua saya. Sepertinya beliau terkena serangan jantung karena kaki memegangi dadanya dan meringis kesakitan." Suara Putri saat ini bergetar hebat dan juga bulir air mata sudah membasahi wajahnya saat ini karena menangis ketika mengkhawatirkan keadaan dari mertuanya.


To be continued...


__ADS_2