Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pergi Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah mendapatkan nasihat dari sang istri, akhirnya pria yang tadi tidak berniat untuk menjenguk Arya mulai berubah pikiran. Memang kemalangan tidak bisa diduga oleh siapapun, sehingga akhirnya tidak mempermasalahkan gagalnya acara lamaran hari ini.


"Baiklah. Kamu bersiaplah dan katakan pada putrimu karena sebentar lagi kita berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan Arya yang mengalami kecelakaan. Aku pun juga ingin mengetahui bagaimana keadaan pria yang gagal menjadi menantu laki-laki kita."


Tanpa ingin berdebat dengan sang suami yang selalu mengatakan bahwa Arya tidak akan menjadi menantu laki-laki di keluarga mereka karena kecelakaan mungkin akan berakibat fatal, yaitu kematian atau cacat.


"Aku akan mengganti pakaian dulu, baru mengatakan pada Calista." Kemudian selalu pergi meninggalkan sang suami untuk melangkah ke ruangan ganti dan memilih pakaian yang cocok karena saat ini mengenakan gaun berwarna putih.


Tentu saja sangat tidak cocok digunakan ketika menjenguk orang sakit di rumah sakit. Setelah menemukan gaun selutut berwarna hitam, wanita itu langsung mengenakan.


Hingga mendengar suara bariton dari sang suami yang baru saja masuk dengan berniat untuk melakukan hal yang sama.


"Aku yakin mereka tidak akan mau makan saat melihat Arya. Nanti, suruh pelayan untuk menyiapkan makanan." Menatap ke arah sang istri untuk melihat apakah merasa setuju.


Begitu melihat sang istri menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan, akhirnya merasa lega karena jujur saja dalam hati kecil tidak tega melihat orang tua bersedih saat putra mengalami kemalangan.


"Kamu benar. Karena tadi kita sudah menyediakan beraneka ragam makanan dan sayang sekali jika tidak ada yang makan. Jadi, biar nanti kita sekalian makan di sana saja. Jika larut dalam kesedihan dan tidak menjaga kesehatan, yang ada malah sakit dan menambah masalah."


"Aku ke bawah dulu," ucap wanita dengan wajah pucat karena mengalami banyak masalah dan terkuras pikiran serta emosi.


Setelah melihat dia yang dicintai tersebut tersenyum simpul, langsung melangkahkan kaki jenjang menuju ke arah pintu keluar. Tujuan pertama adalah menemui putrinya yang berada di dalam kamar.


Begitu membuka pintu dan masuk ke dalam, merasa sangat terkejut karena melihat Calista saat ini meringkuk di atas ranjang dan menangis tersedu-sedu. Tadi sudah memerintahkan untuk mencuci muka yang berantakan, tetapi sama sekali tidak dilakukan.


Merasa sangat tidak tega melihat putri satu-satunya bersedih dengan meringkuk di atas ranjang sambil menangis dengan tubuh bergetar, wanita paruh baya tersebut segera menghampiri dan beberapa kali mengusap punggung belakang Calista.


"Sayang, sudahlah jangan menangis lagi. Apa kamu tidak ingin melihat keadaan Arya di rumah sakit? Daddy-mu bahkan sudah setuju untuk pergi, tapi malah kamu yang belum siap dari tadi."

__ADS_1


Calista beberapa saat lalu sebenarnya ini membersihkan diri dan mengganti pakaian, tetapi kembali mengingat dan mengkhawatirkan keadaan dari pihak yang sangat dicintai, sehingga membanting tubuh di atas ranjang dan kembali menangis tersedu-sedu.


Kini, bergerak untuk menghadap ke arah sang ibu dan kembali menangis dengan bulir air mata yang menganak sungai di wajah. Bahkan sudah memeluk erat tubuh wanita yang sangat disayang tersebut untuk mencari sebuah ketenangan.


"Aku sangat takut jika Arya meninggal seperti yang dikatakan oleh papa. Aku hanya mencintai Arya dan ingin menikah dengan pria itu. Bagaimana maksudku jika ...."


Calista tidak sanggup mengatakan dari bibir langsung, sehingga hanya mengungkapkan dengan menangis tersedu-sedu.


Sementara itu, sang ibu kembali mengusap beberapa kali lengan putrinya. Berharap bisa sedikit meringankan beban yang dirasakan oleh Calista.


"Sudah Mama katakan bahwa perkataan adalah doa, jadi harus mengatakan hal yang baik untuk kebaikan Arya. Kita tidak akan pernah tahu jika hanya diam di rumah seperti ini. Jadi, cepat bersihkan mukamu yang berantakan karena kita akan pergi ke rumah sakit."


Sebenarnya Calista memang dari tadi ingin segera melihat keadaan pria yang sangat dicintai, tetapi sekaligus merasa sangat takut jika sampai melihat sendiri ketika terjadi sesuatu yang buruk pada Arya.


"Arya akan baik-baik saja, kan Ma?" Calista sangat berharap jika sang ibu langsung mengiyakan perkataan.


"Berdoa saja karena semua ada di tangan Tuhan dan kita hanya makhluk yang harus mengikuti takdir dari penguasa alam semesta. Namun, manusia tidak boleh menyerah untuk berusaha mengubah takdir. Seperti Arya yang saat ini sudah berada di rumah sakit dan ditangani oleh tim dokter."


Kemudian memilih bangkit dari ranjang karena ingin memberikan perintah pada pelayan agar menyiapkan makanan untuk keluarga Mahesa yang pastinya belum makan.


"Cepat bersiap dan kita berangkat sebentar lagi!" Mengusap lembut wajah putrinya yang bersimbah air mata. "Mama ke bawah dulu."


Tanpa berkata apapun, Calista hanya menganggukkan kepala secara perlahan dan mengembuskan napas kasar. Hingga ruangan kamar berukuran luas dan dilengkapi oleh berbagai macam furniture mahal tersebut dipenuhi oleh suara napas berat dari Calista.


"Kamu harus berpikir positif dan tidak menyerah." Masih mencoba untuk menguatkan diri agar tidak down menghadapi semua masalah hari ini, Calista kini menuruti perintah dari sang ibu dengan membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti pakaian.


Meskipun sesekali masih terus menangis karena memikirkan nasib pria yang dicintai. "Aku tadinya merasa sangat senang karena satu pengaruh yang telah pergi, tapi kenapa tadi mempermainkan aku?"

__ADS_1


"Putri telah diceraikan oleh Arya, tapi sekarang berakhir kecelakaan. Apakah ini adalah sebuah balasan atas perbuatan kami menyakiti Putri?"


Namun, tidak ingin dikuasai oleh rasa bersalah yang berlebihan karena memikirkan Putri, Calista saat ini memilih untuk segera mengakhiri kegiatan di kamar mandi.


Calista sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Arya. Beberapa menit kemudian, akhirnya telah selesai dan bersiap turun ke lantai dasar.


Dengan memasukkan ponsel ke dalam tas selempang, Calista kini berusaha untuk tidak menangis lagi karena khawatir jika orang tua Arya semakin bersedih.


"Aku harus kuat dan merasa yakin jika Arya akan sadar dan kembali sehat seperti sedia kala."


Setelah berhasil menenangkan diri, Calista pun keluar dari ruangan pribadi untuk menemui orang tua. Selama menuruni anak tangga, merapal doa untuk kebaikan pria yang dicintai agar selamat dari maut.


Begitu menapaki anak tangga terakhir, melihat orang tuanya sudah siap dan menunggu di ruang tamu. "Ayo, kita berangkat sekarang, Pa, Ma!"


"Baiklah!" jawab orang tua Calista secara bersamaan.


Kemudian mereka langsung masuk ke dalam mobil yang sudah ada sopir stand by di sana. Kemudian kendaraan roda empat tersebut melaju meninggalkan area kompleks perumahan mewah tersebut menuju ke rumah sakit.


Sang supir fokus menatap ke arah jalanan ibukota dengan kelap-kelip lampu di kanan kiri jalan dan membelah gelapnya malam.


Setelah menunggu perjalanan selama lebih dari setengah jam karena Rumah Sakit berada tak jauh berada di sekitar rumah keluarga Calista.


Setelah sang sopir memarkirkan kendaraan di tempat yang tersedia, tiga orang tersebut turun dan berjalan menuju ke arah lobi rumah sakit.


Calista langsung bertanya pada salah satu staf yang ada di depan komputer, mengenai ruangan Arya yang baru saja mengalami kecelakaan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2