
Amira Tan yang tadi merasa sangat terkejut atas kedatangan tiba-tiba dari sang ayah karena tidak biasanya pria paruh baya yang sangat disayangi tersebut datang tanpa pemberitahuan.
Mengetahui ada yang tidak beres atas kedatangan sang ayah, ia kini mengingat seseorang yang tadi melihat penampilan berantakan saat keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
'Apa Jack adalah penyebab utama kedatangan papa? Aku sangat yakin Jack ingin membalas dendam padaku dan Noah karena tersakiti. Semua orang bisa melakukan apapun jika patah hati,' gumam Amira Tan yang saat ini tengah berjalan mendekati pria paruh baya itu.
Amira Tan berharap bisa meluluhkan hati sang ayah yang terlihat sangat murka begitu melihat posisi intim mereka beberapa saat lalu.
"Kenapa Papa tiba-tiba datang tanpa memberitahuku? Aku jadi tidak bisa menyambut dengan baik. Sepertinya ada yang ingin Papa katakan padaku, sehingga memilih ke kantor, alih-alih menungguku pulang."
Noah yang masih berdiri tak berkutik di belakang meja dengan degup jantung tidak beraturan, seperti ingin segera kabur dari sana begitu melihat tatapan tajam dari ayah Amira Tan.
Namun, seolah tidak bisa bergerak sedikit pun karena dikuasai perasaan membuncah di dalam hati.
Sementara itu, pria paruh baya yang saat ini merasa sangat marah dengan sikap putrinya yang seperti seorang wanita tidak bermartabat, kini langsung menggandeng ke dekat sofa untuk berbicara serius.
Tanpa menurunkan nada suara karena ingin pria yang ternyata merupakan pekerja di Club malam, kini mulai membuka suara.
"Jangan mengalihkan pembicaraan karena Papa bebas datang sesuka hati ke kantor putri sendiri tanpa pemberitahuan. Apa yang kamu lakukan di ruangan ini dengan pria itu? Bukankah kalian bekerja sama menipu Papa dengan mengatakan jika pria itu adalah sepupu temanmu?"
Amira Tan yang kini semakin merasa yakin dengan pikiran tadi saat menuduh Jack berada di balik semua ini, masih sangat santai dan tidak ingin terpancing emosi, sehingga saat ini berbicara dengan sangat tenang.
__ADS_1
"Aku yakin ada yang memberitahu Papa dan sudah mengetahui siapa orangnya." Kini, ia beralih menatap ke arah Noah yang dari tadi berada di dekat kursi kerja.
Ia melambaikan tangan, menatap sosok pria yang saat ini diam seperti patung dan malah terlihat sangat lucu di matanya. "Noah, kemarilah! Bukankah kamu tadi mengatakan ingin melamarku?"
"Sekarang Papa sudah ada di sini, jadi kamu bisa langsung mengungkapkan niat baikmu tadi." Saat Amira Tan menatap Noah yang berubah pucat dan juga gugup, malah ingin tertawa karena tidak sebanding dengan hal yang tadi dikatakan beberapa saat lalu.
'Tadi berlagak ingin melamarku, tapi sekarang malah seperti patung dan juga terlihat sangat ketakutan. Aku ingin melihat apakah yang dikatakan beberapa saat lalu benar?' gumamnya yang saat ini masih menatap sosok pria mulai berjalan mendekat.
Sementara itu, pria paruh baya yang bernama Edi Indrayana berusia 60 tahun itu hanya diam menatap langkah kaki panjang tersebut. Ingin tahu apa benar yang dikatakan oleh putrinya, bahwa mantan pekerja Club itu mau melamar putrinya.
Hal yang dari dulu ditunggu, tapi sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata putrinya menyukai seorang pria biasa yang bahkan tidak mempunyai pekerjaan tetap dan memiliki jenjang karir.
'Apakah aku harus menyetujui saat pria ini melamar putriku? Kenapa putriku harus mencintai pria seperti ini? Jika Jack yang melamar dan diterima oleh Amira Tan, mungkin tidak akan semarah ini,' gumam Edi Indrayana yang masih terdiam mengamati sosok pria pilihan putrinya.
"Selamat siang, Paman. Saya Noah Martin yang merupakan kekasih dari putri Anda. Maaf karena pertemuan diawali dengan sebuah kebohongan dan juga kejadian tidak mengenakkan di mata Anda, tapi saya berjanji, sangat serius menjalin hubungan dengan Amira Tan."
"Saya sangat mencintai Amira Tan dan ingin segera melamarnya, agar bisa menikahinya. Kami sama sekali tidak main-main dengan hubungan ini karena serius untuk melangkah ke jenjang yang lebih dari sekedar berpacaran."
"Meskipun sebenarnya menyadari bahwa saya tidak pantas mendapatkan wanita sebaik putri Anda. Karena memiliki karir sukses, tapi berharap cinta tulus dari saya akan membuat Anda mau berubah pikiran merestui pria hina ini sebagai menantu."
Noah kini bisa bernapas lega begitu mengungkapkan semua yang ada di pikiran dan hanya berharap sebuah keajaiban dari ayah wanita yang sangat dicintai agar memberikan restu.
__ADS_1
Kemudian beralih menatap Amira Tan yang tiba-tiba langsung menggenggam erat telapak tangan begitu selesai menjelaskan mengenai semua yang dirasakan pada wanita dengan tatapan teduh itu.
Seolah ingin memberikan sebuah semangat jika saat ini mendapatkan dukungan penuh dari wanita yang sangat dicintai. Noah membalas dengan tersenyum simpul dan perasaan masih belum tenang karena pria paruh baya itu belum mengungkapkan tanggapan apapun.
Amira Tan benar-benar merasa sangat bangga melihat sikap yang ditunjukkan oleh Noah dan sama sekali tidak mencerminkan jika pria itu baru berusia 28 tahun dan memiliki jarak cukup jauh dengannya.
Hal yang paling penting dipikirkan oleh Amira Tan saat ini adalah sudah memenuhi keinginan orang tua karena dari dulu selalu mendesak agar segera menikah. Sekarang telah menemukan calon suami dan berharap kali ini mendapatkan restu.
Amira Tan kini masih berpegangan erat dengan Noah dan beralih menatap ke arah sang ayah. "Bukankah ini yang selama ini Papa harapkan? Jadi, aku harap Papa kali ini tidak mempersulit hubungan kami."
"Ia memang tidak sesukses Jack yang Papa sukai, tapi sebagai orang sudah banyak makan asam garam kehidupan ini, bukankah mengerti bahwa cinta selalu datang tiba-tiba dan tidak pernah bisa diduga sama sekali?"
"Cinta tidak bisa dipaksakan karena akan memilih sendiri sesuai kata hati. Jadi, aku berharap Papa tidak seperti kebanyakan orang tua yang menentang pilihan putri sendiri hanya karena kasta. Aku sama sekali tidak menyukainya."
Saat Edi Indrayana tengah menyusun kalimat yang baik untuk putrinya, tetapi belum selesai malah mendapatkan sebuah ancaman. Tentu saja sudah menduga karena sangat hafal dengan sifat putrinya yang sangat arogan dan itu menurun gen darinya.
"Apa kamu sedang mengancam Papa?"
Refleks Amira Tan menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan tuduhan dari sang ayah dengan tatapan tajam tersebut. Tentu saja harus menguraikan kesalahpahaman karena ingin hubungan dengan Noah baik-baik saja
"Bukan menentang. Aku hanya ingin Papa tidak mencampuri pilihanku. Membandingkan Noah dengan Jack, itu yang tidak kusukai karena aku tahu jika pria itu sakit hati dan mencoba untuk mempengaruhi Papa, kan?"
__ADS_1
To be continued...