
Arya yang saat ini terdiam ketika melihat respon dari sosok wanita yang tengah menangis tersedu-sedu di hadapannya saat mengkhawatirkan keadaannya yang bahkan baik-baik saja karena hanya mengalami luka sedikit.
Ia yang tadi sedikit merasakan perih pada bagian tangan dan kaki, seolah seketika sirna begitu melihat bulir air mata yang membasahi pipi putih wanita dengan paras sangat cantik di hadapannya.
Sinar rembulan di malam hari ini seolah memancarkan keindahan begitu terlihat sosok wanita yang masih larut dalam kesedihan karena menangis tersedu-sedu di badan jalan.
Ia bahkan saat ini mengibaskan tangan agar beberapa orang yang berkumpul, berniat untuk membantunya, segera pergi dan membiarkannya berdua hanya dengan mantan istri. Hingga ia merasa sangat senang karena kode darinya dimengerti oleh semua orang yang terdiam menatap ke arah Putri.
"Ehem ...." Arya mencoba untuk menormalkan suaranya agar tidak gugup karena kini berhadapan dengan mantan istri yang menurutnya memiliki paras sangat cantik dan menjadi pusat perhatian semua orang beberapa saat lalu.
Ia bergerak mengangkat tangan untuk menghapus bulir kesedihan di pipi putih Putri. "Apakah kamu benar-benar sangat mengkhawatirkanku? Hingga menangis tersedu-sedu seperti sekarang Dan juga menarik umpatanmu padaku beberapa saat lalu?"
__ADS_1
Arya saat ini tidak tahu bagaimana perasaannya pada Putri, tapi bisa menegaskan jika saat melihat wanita di hadapannya tersebut menangis, seolah tubuhnya menghangat karena mendapatkan sebuah ketulusan dari mantan istri yang bahkan sangat membencinya.
"Aku akan mati jika Tuhan sudah menyuruh malaikat mengambil nyawaku, jadi jangan merasa takut berlebihan seperti ini karena kontrak manusia berada di dunia telah ditentukan oleh yang lebih berkuasa dan kita hanyalah wayang yang mengikuti takdir."
Saat Arya berhasil membersihkan bulir air mata di wajah Putri, malah mendapatkan sebuah hal yang mengejutkannya.
Putri awalnya merasa sangat khawatir jika Arya akan benar-benar mati begitu ia tadi mengumpat. Hingga merasa sangat senang begitu mengetahui Arya hanya mengalami luka ringan.
Kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Arya berdiri. "Tuhan yang merupakan pencipta alam semesta selalu mengulurkan tangan bagi orang-orang yang mau bertobat atas dosa-dosa yang dilakukan di masa lalu."
"Mana mungkin aku yang hanya manusia berlumur dosa ini, memberikan penghakiman padamu. Padahal aku dulu jauh lebih buruk darimu karena mengkhianati seorang suami. Ayo, aku akan mengantarkanmu ke IGD agar diobati." Putri masih menunggu tangannya disambut oleh mantan suami.
__ADS_1
Sementara itu, Arya saat ini seperti mendapatkan oase di padang pasir karena kalimat menyejukkan dari wanita yang masih mengenakan gaun pesta tersebut.
'Bisa-bisanya aku menyia-nyiakan seorang istri seperti Putri. Ia bahkan sangat dewasa dan bijak seperti ini, tapi aku malah memilih berselingkuh dengan Calista,' gumam Arya yang benar-benar sangat menyesal, tapi merasa jika semuanya sudah terlambat dan tidak akan pernah bisa kembali bersama dengan Putri.
Apalagi ia mengetahui jika Putri merupakan istri dari Priambodo Grup yang merupakan anak tunggal sepertinya dan berpikir jika wanita di hadapannya tersebut sangat beruntung karena memiliki segalanya saat ini.
Tanpa membuang waktu, ia mengulurkan tangan dan berniat untuk bangkit berdiri dengan dibantu Putri. Namun, ketika hendak melakukannya, menangkap suara bariton dari seorang pria yang sangat dikenalnya.
"Apa yang kau lakukan?"
To be continued...
__ADS_1