Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Dua wanita egois


__ADS_3

Noah merasa sangat terkejut melihat tanggapan dari Amira Tan yang kini sudah berjalan pergi menjauh. Sebenarnya ingin sekali ia berlari mengejar wanita itu agar tidak mengandalkan emosi ketika menghadapi Putri yang sedang patah hati.


Tentu saja wanita patah hati akan berbuat sesuatu diluar nalar dengan cara berbicara apapun sesuka hati, tanpa memikirkan baik buruk untuk diri sendiri.


'Astaga, Amira Tan benar-benar seperti bukan seorang wanita sekaligus saudara Putri saja saat berbicara seperti itu. Kenapa marah-marah seperti seseorang yang tidak punya hati saja. Padahal dia juga merupakan wanita.'


'Seharusnya dia bisa memahami perasaan Putri yang sedang hancur lebur setelah melihat sendiri perselingkuhan sang suami dan juga langsung diceraikan ketika terluka,' gumam Noah yang kini tidak tega melihat Putri masih berjongkok dengan menunduk dan tubuh bergetar hebat karena efek masih menangis.


"Putri, bangunlah. Ayo, kita pulang. Aku akan mengantarmu." Noah memilih untuk menyamakan posisi dengan cara berjongkok di hadapan wanita dengan wajah sembab dan mengenaskan itu.


Kemudian memegang lengan Putri untuk menyadarkan wanita itu. "Aku tahu jika kamu saat ini sedang terluka, tapi jangan sampai melupakan jika ada bayi yang membutuhkan kasih sayangmu. Jangan jadikan putramu menjadi korban atas keegoisan para orang tua."


Noah merasa jika satu-satunya cara untuk menyadarkan Putri adalah dengan cara mengungkit masalah bayi yang merupakan korban dari keegoisan para orang dewasa. Tentu saja mengetahui itu karena Amira Tan telah menceritakan semua hal tanpa terkecuali.


Jadi, sangat mengetahui bagaimana cerita hidup Putri yang penuh dengan liku-liku ketika mulai berselingkuh dari sang suami pertama yang dicintai Amira Tan.


Putri yang masih berurai air mata dengan tubuh bergetar, kini mengingat Xander yang memang akan menjadi korban dari keegoisan Arya saat memilih wanita lain dan menceraikan.


"Kamu benar. Putraku ... bagaimana dengan nasib Xander nanti tanpa ayah? Apa aku bisa membesarkan Xander tanpa suami, sedangkan sekarang tidak bekerja? Bagaimana jika putraku hidup menderita bersamaku?" lirih Putri yang saat ini mendongak menatap ke arah sosok pria yang masih ada di hadapannya.


Sementara itu, Noah kini mencoba untuk menghibur dengan cara menenangkan perasaan Putri. Tentu saja dengan cara membuat hubungan dua wanita yang sedang bertengkar itu kembali baik.


"Jangan khawatir tentang itu karena Amira Tan mengatakan padaku, bahwa akan membantumu nanti setelah bercerai dengan Arya. Dia tidak akan membiarkan kalian hidup menderita. Aku saja yang bukan siapa-siapa baginya langsung ditolong saat dipecat."

__ADS_1


"Kamu pun juga demikian. Aku yakin jika Amira Tan nanti akan membantumu untuk mencari pekerjaan layak dan bisa membesarkan Xander tanpa kekurangan. Jadi, lebih baik kamu tenangkan diri dan kita pulang sekarang, oke!"


Saat Noah berpikir jika Putri akan menyetujui nasihatnya, tetapi merasa kecewa saat mendengar suara Putri yang serak karena efek menangis.


"Pulanglah bersama Amira Tan karena aku akan kembali ke rumah naik bus. Aku ingin menenangkan diri seperti katamu, tapi harus sendiri." Putri pun bangkit dari posisi yang semula berjongkok dan hanya menatap sendu pada pria yang masih belum bangkit tersebut.


"Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Terima kasih karena kamu masih tetap menghiburku ketika aku sedang hancur lebur seperti sekarang ini. Kamu benar, aku harus kuat dan bertahan demi putraku."


"Aku tidak akan pernah membuat Xander hidup menderita dan akan melakukan apapun untuk membuat putraku bahagia." Kemudian ia melangkahkan kaki jenjang meninggalkan Noah yang terlihat baru saja bangkit berdiri.


"Hati-hati, Putri!" teriak Noah yang kini memilih untuk membiarkan Putri menenangkan diri dengan sendirian.


Meskipun jauh di lubuk hati merasa khawatir jika wanita lemah itu akan berbuat hal buruk ketika sedang patah hati, tapi mencoba menghibur diri dengan berpikir positif.


Bahwa wanita itu tidak akan pernah melakukan itu karena ada putra yang membutuhkan kasih sayang.


Hingga lama-kelamaan Putri semakin menjauh dan tidak terlihat lagi karena ada banyak orang berjalan di atas trotoar.


Noah mengembuskan napas berat karena hari ini cukup berat dan bisa memahami perasaan dua wanita yang masih memiliki darah sama tersebut karena satu ayah.


"Apa Amira Tan sudah pergi dari perusahaan Mahesa? Atau belum dan masih menungguku karena merasa kesal sekaligus marah atas kejadian hari ini. Lebih baik aku cek saja dulu."


Kemudian ia berbalik badan dan berjalan menuju ke area perusahaan untuk memeriksa, apakah sosok wanita yang memiliki sikap arogan tersebut sudah pergi atau masih menunggu.

__ADS_1


Begitu beberapa menit berjalan dan mengarahkan pandangan ke area tempat parkir, masih melihat mobil Amira Tan dan yang bersangkutan duduk di kursi depan.


Noah mengembuskan napas lega karena tidak sia-sia memiliki harapan pada wanita itu, sehingga tanpa perlu kembali ke halte bus lagi. Bahkan sudut bibirnya melengkung ke atas saat merasa senang jika Amira Tan masih menunggu di parkiran.


"Wanita arogan itu ternyata masih di sini. Sepertinya dia merasa yakin jika aku dan Putri akan kembali, tapi sayangnya salah. Saudara perempuannya yang sakit hati ingin sendirian untuk sementara waktu."


Noah yang sudah semakin mendekati mobil, kini langsung masuk ke dalam dan mendaratkan tubuh di kursi yang berada di balik kemudi. Bahkan masih belum mengeluarkan sepatah kata pun.


Tanpa berniat untuk mengemudikan mobil sebelum Amira mungkin membuka suara, ia masih diam dengan menutup rapat mulut. Hingga mendengar embusan napas berat dari wanita itu.


"Apa wanita bodoh yang susah diatur itu pergi sendiri dan tidak ingin pulang bersama kita?" Amira Tan masih merasa kesal dan memilih untuk mencari tahu mengenai Putri yang dianggap sangat keras kepala.


Bahkan dari tadi ingin sekali meluapkan emosi dengan cara berteriak sekencang-kencangnya, tetapi tidak bisa melakukan itu karena merasa sangat marah sekaligus iba pada nasib saudara perempuan yang tidak bisa mengerti niat baiknya.


"Kamu harus bisa mengerti perasaan Putri saat ini yang sedang terluka. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Jadi, lebih baik untuk sementara waktu jangan menemuinya dulu." Noah kini memberi jalan keluar pada sosok wanita yang masih tidak mengalihkan pandangan ketika menatap ke arah depan.


Sementara itu, Amira Tan lagi-lagi mengembuskan napas kasar untuk mencoba membuang aura negatif dari tubuh kala dikuasai oleh emosi saat memikirkan Putri.


"Padahal aku ingin membantu mencarikannya pekerjaan, agar bisa menyibukkan diri dan melupakan Arya. Sementara Xander akan dirawat oleh baby sitter yang kupilihkan nanti."


"Kurang baik apa aku sebagai saudara, tapi wanita bodoh itu malah menyalahkan aku hanya karena masih mencintai suami yang telah berselingkuh."


Noah memilih diam karena berpikir jika menjawab, Amira Tan akan marah dan malah akan mendapatkan kemurkaan.

__ADS_1


'Saat dua wanita egois bertarung, lebih baik aku menjauh dan membiarkan mereka membuktikan kekuatan masing-masing,' gumam Noah yang kini masih betah menutup mulut dan membiarkan Amira Tan berkomentar apapun.


To be continued...


__ADS_2