Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tolong aku


__ADS_3

Sebenarnya Ardiansyah merasa sangat malas bangkit dari ranjang setelah berbaring, tetapi tidak mungkin membiarkan ketika ada orang yang datang. Begitu membuka pintu, kini melihat wanita yang merupakan pekerja di tempat Putri membawa kantong plastik dan seperti biasa berisi makanan.


"Aku sudah berkali-kali bilang tidak perlu membawa makanan karena sudah makan di sana."


"Katakan sendiri pada orangnya jika kau menolak ini," ujar wanita tersebut sambil menyerahkan kantong plastik pada sosok pria di hadapannya.


Mau tidak mau, akhirnya Ardiansyah seperti biasa selalu menerima meskipun penuh drama terlebih dahulu. "Bosmu itu tidak pernah menerima penolakan. Jadi, harus patuh padanya."


"Baiklah, sepertinya malam ini akan kembali kekenyangan. Terima kasih sudah mau mengantarkan. Lain kali, tolak perintahnya dan suruh dia antar sendiri ke sini." Ardiansyah sengaja bercanda untuk menghibur diri sendiri.


Sementara itu, suara tawa seketika terdengar dan wanita tersebut tidak berhenti memegangi perut.


"Jika kau berani mengatakan itu pada Putri dan mau mengantarkan ke sini secara khusus untukmu, aku akan menjadi pelayanmu selama satu bulan." Terkekeh geli karena merasa yakin jika itu tidak akan pernah terjadi.


"Sialan!" umpat Ardiansyah yang merasa seperti tertampar dengan perkataan sendiri. "Mungkin sampai dunia berakhir, bosmu itu tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini."


"Kau sebenarnya sudah tahu bahwa usahamu akan sia-sia. Lebih baik kau menyerah sebelum semakin bertambah sakit hati karena tidak bisa mendapatkan hatinya yang sekeras besi."


Kini, Ardiansyah yang merasa diejek oleh wanita di hadapannya tersebut, mengempaskan tangan karena tidak ingin terlihat seperti seorang pecundang. "Pergilah! Aku ingin beristirahat karena lelah setelah membantumu."


"Salah sendiri mau membantu hanya demi bisa melihat wajah cantik Putri." Menepuk pundak pria di hadapannya. "Menyerahlah. Dia tidak akan pernah menikah lagi karena aku mendengar sendiri saat berbicara dengan Mira. Putri merasakan luka yang sangat dalam dan membuatnya trauma untuk menikah lagi."


Setelah mengungkapkan apa yang diketahui, wanita tersebut berlalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari pria yang dinasehati agar memilih mundur sebelum terluka untuk kesekian kali karena menyiksa diri dengan hal yang tidak mungkin.


Ardiansyah saat ini masih berdiri di depan pintu dan melihat kepergian orang kepercayaan Putri tersebut menghilang di balik dinding.


Kemudian berjalan masuk ke dalam dan menghembuskan napas kasar sambil memandang bungkusan makanan di tangan.


"Aku tidak butuh ini, Putri. Aku butuh hatimu," lirih Ardiansyah yang mengingat semua perkataan wanita tersebut.


Sebenarnya mengetahui bahwa tidak akan bisa mendapatkan Putri yang memang tidak berniat untuk menikah lagi, saat ini hanya menginginkan wanita itu untuk dinikahi.

__ADS_1


Bahkan sampai sekarang seperti tidak tertarik pada wanita lain dan hanya memikirkan Putri seorang. Kini, Ardiansyah terdiam selama beberapa saat dan mengepalkan tangan ketika kesabarannya sudah terkikis habis.


"Aku tidak bisa menahannya lagi dan bersabar untuk menunggumu menerimaku. Sepertinya aku harus memaksanya." Ardiansyah saat ini mengingat semua rutinitas Putri mulai dari pagi hingga petang.


Hingga mendapatkan sebuah ide gila di kepala dan berniat untuk membuat Putri menerimanya sebagai suami karena keadaan yang memaksa.


"Jika cara halus tidak berhasil, sepertinya cara kasar akan membantuku mendapatkanmu, Putri."


Ardiansyah saat ini tengah menatap ke arah jam dinding dan rencana akan dilakukan besok pada pagi buta karena mengetahui jika Putri terbiasa pergi ke pasar saat suasana masih gelap.


"Besok pagi, aku akan mendapatkanmu, Putri."


Kemudian Ardiansyah mencari sesuatu yang akan digunakan untuk rencana besok pagi. Setelah menemukan apa yang dicari, memasukkan ke dalam kantong plastik kecil dan menaruh di atas meja.


"Lihat saja besok, aku akan membuatmu tidak lagi bisa menolakku. Jika kau mau menerimaku, mana mungkin aku melakukan hal gila seperti ini," ucap Ardiansyah yang saat ini kembali merebahkan tubuh ke atas ranjang.


"Aku harus tidur awal agar besok bisa bangun pagi-pagi sekali sebelum akhirnya pergi ke pasar untuk berbelanja." Memejamkan dan berharap akan segera larut dalam alam bawah sadar.


***


Pagi-pagi sekali, Putri sudah bangun tidur. Putri baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke pasar seperti hari-hari sebelumnya.


Sudah terbiasa pergi sendiri dan menyuruh asisten rumah tangga menjaga Xander di rumah, kini motor sudah dikeluarkan dan bersiap berangkat dengan membuat daftar belanjaan serta buku catatan belanja yang berisi mengenai apa saja yang dibutuhkan untuk pesanan hari ini.


Setelah pelayan mengunci pintu, Putri keluar dengan menaiki motor menuju ke pasar yang letaknya cukup lumayan dari kontrakan. Ia saat ini melewati area perkampungan dan begitu keluar, terdapat sawah di kanan kiri.


Karena sudah terbiasa pergi ke pasar saat suasana masih gelap dan pulang dalam keadaan terang, ia yang mengemudikan motor, merasa sangat aneh ketika kendaraan oleng ke kanan kiri.


"Apa yang terjadi?" Putri menghentikan motor dan ingin memeriksa tanpa memandang kanan kiri.


Hingga menyadari jika ban motor saat ini kempes karena terkena paku-paku kecil. "Siapa yang menyebarkan barang berbahaya seperti ini di jalanan? Apakah ulah anak-anak kecil atau orang jahat?"

__ADS_1


Putri yang menyadari jika kalimat terakhir membuat bulu kuduknya meremang, sehingga menatap ke arah kanan kiri untuk mencari bantuan.


Berharap di area sepi tersebut, ada orang yang melintas. Namun, karena memang kebanyakan orang-orang memilih menikmati tidur ketika suasana masih gelap, membuat Putri merasa sangat gelisah dan mempunyai firasat buruk.


"Apa yang harus kulakukan jika ban motor kempes? Lebih baik aku kembali dengan tetap menaiki motor ini karena akan lama dan lelah jika menuntunnya."


Saat ia berniat untuk menyalakan mesin motor, merasa tubuh berjenggit kaget ketika tiba-tiba mulutnya dibekap dari belakang oleh tangan dengan buku-buku kuat seorang pria dan menyeretnya ke area sawah sepi yang ditumbuhi rumput-rumput tinggi.


Putri berusaha untuk membuka suara agar bisa berteriak minta tolong mencari pertolongan. Namun, tangan yang membekap mulut sangat kuat, sehingga tidak bisa melakukannya.


'Siapa pria ini? Kenapa tiba-tiba menyerangku? Apa yang diinginkan dariku? Apa mau merampokku?' lirih Putri di dalam hati dan membuatnya benar-benar sangat ketakutan begitu tubuhnya didorong ke tanah yang ditumbuhi rumput-rumput.


Saat Putri merasakan nyeri pada bagian belakang tubuhnya, merasa ada kesempatan, hendak berteriak, tapi bibirnya sudah dibungkam dan dilumat dengan kasar.


Bahkan saat ia tidak berniat untuk membuka mulut karena merasa sangat jijik dengan pria itu yang sudah menciumnya dengan sangat bernafsu, merasakan nyeri luar biasa ketika digigit.


Bahkan mungkin bibirnya sudah berdarah dan membuatnya membuka mulut karena kesakitan.


Hal itu dimanfaatkan oleh pria yang sudah menindih tubuhnya dengan mencium dengan sangat agresif dan tangan sudah bergerilya ke setiap inci tubuh.


Putri masih berusaha untuk melawan dengan cara memukul dan menarik rambut sosok pria yang hendak memperkosanya.


Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Ardiansyah, masih berusaha untuk memperkosa Putri dengan memakai penutup wajah, menyisakan bagian mata dan bibir saja.


Tidak ingin kehilangan Putri yang sama sekali tidak membuka hati pada siapa pun, membuatnya hilang akal dan hanya ingin menikahi wanita yang dicintai.


'Kau tidak akan bisa menolakku setelah ini, Putri. Jangan salahkan aku melakukan hal nekad karena kau yang memancingku berbuat nekad,' gumam Ardiansyah yang saat ini semakin menyerang setiap sudut tubuh Putri demi bisa mendapatkan wanita yang membuatnya terobsesi untuk memiliki.


Sementara itu, Putri yang masih tidak menyerah untuk melindungi diri, sudah bersimbah air mata.


'Tuhan, tolong aku. Aku memang pernah menjadi wanita hina, tapi sekarang aku sudah bertobat padamu, Tuhan. Ampuni hamba dan berikan pertolongan padaku,' gumam Putri dengan perasaan hancur ketika menjadi korban dari seorang pria yang mengincar tubuhnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2