Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Perjalanan baru dimulai


__ADS_3

Refleks Putri seketika membekap mulutnya begitu mendengar suara bariton dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Ia bahkan tidak pernah berpikir sampai ke sana jika pria itu akan mengalami nasib buruk dengan kaki lumpuh.


Putri yang dulu pernah merasakannya, tentu bisa mengerti bagaimana rasanya. Ia yang bisa memahami bagaimana perasaan seorang pria yang saat ini terlihat sangat syok ketika tidak bisa menggerakkan kakinya saat efek bius sudah hilang.


Bahkan saat ini merasa tidak tega melihat sang suami yang masih bertanya pada sang dokter karena belum dijawab.


"Dokter, cepat jawab aku! Aku sama sekali tidak bisa menggerakkan kakiku! Apa kakiku lumpuh karena kecelakaan?" Aldiano ingin segera mendapatkan jawaban pasti dari sang dokter yang dari tadi masih terdiam dan tidak langsung mengiyakan.


Ia bahkan berpikir jika sang dokter masih belum mengiyakan karena ingin menghibur perasaannya agar tidak terpuruk lebih dalam. Bahkan saat memikirkan kakinya lumpuh dan tidak bisa berbuat apapun, Aldiano ingin sekali mengungkapkan kemurkaannya karena niatnya untuk mengakhiri hidup tidaklah diterima oleh Sang penguasa alam semesta.


Namun, ia seperti merasa disiksa dulu di dunia sebelum benar-benar meninggalkan segala sesuatu yang tidak bersifat kekal ini.


Sang dokter yang saat ini tidak langsung memberikan vonis pada pasien karena masih berniat untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.


"Anda tenang dulu karena perlu dilakukan pemeriksaan intensif agar tidak ada kesalahan. Jadi, sebelum hasil keluar, jangan membuat pemikiran sendiri. Anda sudah selamat dari maut dan bisa diambil hikmahnya hikmahnya karena masih bernapas sampai saat ini."


Kemudian melirik mesin waktu di pergelangan tangan kirinya. "Setengah jam lagi, akan dilakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kaki Anda. Anda boleh beristirahat sebentar sebelum dilakukan pemeriksaan."


Sang dokter yang memberikan kode pada perawat agar nanti membawa pasien ke ruangan pemeriksaan, kini berjalan keluar setelah sekilas berbicara dengan wanita yang terlihat syok tersebut.


"Sebelum hasil keluar, jangan mengambil asumsi sendiri dan tolong hibur pasien agar tidak putus asa." Ia pun menganggukkan kepala setelah wanita tersebut mengiyakan perkataannya.


Putri yang bahkan benar-benar merasa bingung harus bagaimana karena jujur saja ia takut jika mendapatkan kemurkaan seorang pria yang saat ini putus asa karena kekhawatiran pada kakinya yang kemungkinan mengalami masalah seperti yang dulu ia alami.


'Aku harus bagaimana menenangkan tuan Aldiano saat ini? Aku tidak akan bisa menenangkan amarahnya,' gumam Putri yang saat ini menelan saliva dengan kasar sebelum berjalan mendekat dan membuka suara untuk mulai menghibur pria di atas ranjang dengan wajah memerah dan mengepalkan kedua tangan.


"Tuan Aldiano ...."


Putri yang belum sempat berbicara untuk menghibur, tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh teriakan pria dengan wajah memerah itu.


"Pergi!" sarkas Aldiano yang saat ini mengempaskan apapun yang dilihatnya di atas laci.


Ada botol air mineral di sana dan sudah berhamburan di lantai. Ia bahkan saat ini ingin berteriak untuk meluapkan perasaannya yang hancur, tapi mengalihkannya dengan meninju kakinya dengan tangan kanan dan kiri.


"Kenapa ini? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku? Kenapa sama sekali tidak terasa saat dipukul seperti ini?" teriak Aldiano yang saat ini benar-benar merasa putus asa karena ia tidak bisa lagi berjalan jika apa yang ditakutkan benar.


Membayangkan harus hidup di atas kursi roda dan tidak bisa melakukan apapun sendirian, benar-benar membuatnya merasa sangat hancur.


"Kenapa aku tidak mati saja? Kenapa aku harus hidup seperti ini? Menjadi orang tidak berguna yang tidak bisa bergantung pada diri sendiri." Aldiano bahkan tidak berhenti berteriak meluapkan perasaannya yang hancur karena sudah merasa yakin jika ia benar-benar lumpuh akibat kecelakaan.


Hingga saat ia sibuk meninju kedua kakinya agar bisa merasakan sakit dan berharap keajaiban datang. Namun, itu hanyalah harapan semu yang membuatnya berharap sesuatu yang bahkan tidak mungkin terjadi.


"Tidak! Aku tidak mau lumpuh! Lebih baik aku mati saja!" teriak Aldiano yang bahkan tidak memperdulikan apapun lagi karena satu-satunya yang diinginkan saat ini hanyalah kematian dan tidak merasakan lagi penderitaan seperti saat ini.


Penghinaan, rasa malu dan merasa menjadi orang yang tidak berguna karena tidak bisa lagi berbuat apapun sendirian.

__ADS_1


Berpikir akan semakin menyusahkan sang ayah, membuatnya ingin mengakhiri hidup agar semua orang yang mengenalnya bisa hidup tenang tanpa bayang-bayangnya yang merupakan pria dengan bergelimang dosa yang penuh skandal.


"Aku benci kakiku! Aku harus mati dengan cara apapun!" Saat Aldiano sibuk dengan umpatannya untuk meluapkan segala amarah yang seperti mau meledak dalam dirinya, kini menghentikan perbuatannya saat mendengar teriakan dari wanita yang dari tadi diam menatapnya.


"Diam! Aku harap kau diam sekarang!" Putri bahkan saat ini berteriak sangat keras.


Berharap bisa menghentikan pria yang saat ini tengah putus asa dengan menyakiti diri sendiri. Ia bahkan saat ini sama sekali tidak takut ketika berjalan mendekati pria yang masih menatapnya tajam dengan tangan mengepal.


"Apa yang kau lakukan?" sarkas Aldiano yang saat ini merasa semakin murka karena perasaannya yang semakin hancur malah melihat wanita di hadapannya berteriak padanya.


"Aku ingin menyadarkanmu, Pria bodoh!" Putri saat ini menghilangkan kesopanannya selama ini dijaga pada pria itu.


Ia berharap usahanya untuk mengumpat dan mengeluarkan semua yang ingin ia sampaikan pada Aldiano, bisa membuat pria itu sadar. Bukan dengan cara menahan pria itu agar tidak menyakiti diri sendiri maupun merayu, tapi ingin mengeluarkan semua amarah yang dirasakan selama ini.


Dengan menyisakan jarak beberapa senti agar Aldiano tidak bisa menyentuhnya untuk menyakiti, kini langsung berteriak dengan suara nyaring dan tatapan tajam.


"Apa saat ini kau merasa menjadi seorang pria paling menderita di dunia ini hanya dengan mengetahui jika kakimu kemungkinan akan lumpuh? Apa kau tahu di luaran sana banyak orang yang lebih menderita darimu?" Kemudian ia beralih menatap ke arah kedua kaki pria yang masih menampilkan raut wajah memerah karena marah padanya.


"Kau bahkan masih punya tangan dan bisa berbicara. Kau bahkan tidak hilang ingatan ataupun mengalami koma. Ini hanyalah lumpuh dan jika berusaha, pasti bisa berjalan lagi."


"Atau kau hanyalah seorang pecundang dan pengecut yang hanya bisa berbicara omong kosong karena menyerah sebelum berjuang? Aku pun dulu mengalami lumpuh dan sekarang kau lihat seperti apa aku!" Dengan menunjukkan kedua kakinya, ia berharap pria itu mempunyai semangat untuk melakukan terapi seperti dirinya dulu.


Meskipun ia tahu jika itu sangatlah berat dan tidaklah mudah, tapi berharap pria itu bisa melaluinya dan melewati semua ujian yang dikirimkan Tuhan padanya.


"Saat Tuhan memberikanmu kesempatan untuk bertobat, harus kau manfaatkan dengan baik. Apa kau tidak sadar jika saat ini Tuhan memberimu cobaan ini karena secara khusus memilihmu." Ia pria yang kemarin ditangisi oleh mertuanya dan belum diketahui oleh sang suami.


Kemudian ia saat ini berbalik badan tanpa menoleh lagi ke belakang dan berjalan keluar dari ruangan perawatan. Ia ingin memberikan waktu untuk pria itu berpikir atas semua kemurkaannya yang baru saja ia meluapkan demi menyadarkannya.


Bahkan saat ini ia masih merasakan debaran jantung tidak beraturan karena marah dan meluapkan semuanya demi menyadarkan pria itu. Dengan perjalanan menuju ke arah kursi tunggu yang ada di sudut ruangan, ia pun kini memilih untuk berdiam diri dengan mendaratkan tubuh di sana.


Hingga ia mengambil napas teratur dan mengeluarkannya secara perlahan agar bisa segera kembali normal seperti biasa. "Bisa-bisanya aku berteriak padanya seperti orang gila. Tapi jika aku tidak melakukannya tidak melakukannya, dia pasti akan semakin berbuat gila."


Putri yang saat ini masih memikirkan kejadian di dalam kamar, berharap pria yang saat ini terpuruk karena kenyataan yang menimpa, sedikit berkurang rasa hancurnya.


"Apa dia mau memperdulikan ocehanku tadi atau tidak mempedulikannya sama sekali? Bahkan saat ini suaraku seperti mau habis dan sebenarnya sangat haus, tapi tidak mungkin bisa mengambil minuman yang berada di bawahnya karena merubah suasana yang penuh ketegangan menjadi konyol." Putri saat ini masih menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Aldiano saat ini.


Ia menatap kosong ke arah dinding berwarna putih yang berada di hadapan dan yang sangat sepi itu memang khusus untuk para pasien VIP. Tidak seperti di ruangan kelas 3 yang pastinya banyak orang berlalu lalang dan selalu berisik serta ruangan kamar penuh dengan banyaknya pasien beraneka ragam.


"Aku harap dia merenungi semua yang kukatakan tadi. Aku berharap dia sadar jika hikmah dibalik semuanya adalah Tuhan masih menyayanginya dengan membiarkannya bertobat di dunia sebelum akhirnya kembali kepada-Nya." Putri sebenarnya ingin memberitahu mertuanya tentang kabar itu, tapi ponselnya berada di dekat bantal pria itu.


Ia saat ini benar-benar menyesal karena setelah memotret tadi, refleks menaruh di samping bantal. "Jika dia menyadari jika di sebelahnya ada ponsel milikku, pasti akan langsung membantingnya hingga hancur dan membayangkan itu adalah aku."


"Aah ... anggap saja itu sebagai penghiburan untuknya yang ingin menghancurkan apapun yang dilihatnya, tapi hanya ada botol air minum mineral tadi di atas laci." Saat ia masih diam menunggu di depan ruangan untuk memberikan Aldiano waktu berpikir, kini memutuskan jika ia akan masuk ke dalam saat perawat datang untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh.


"Ya, begitu saja. Aku biarkan saja dia tenang sekarang. Semoga dia tidak melakukan hal-hal yang buruk lagi seperti tadi." Ia saat ini mengingat-ngingat apakah ada barang berbahaya yang bisa digunakan untuk menyakiti diri sendiri.

__ADS_1


Namun, saat menyadari tidak ada apapun di dekat pria itu, sehingga saat ini merasa lega dan berpikir tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk.


"Semoga dia cepat sadar dan mendengarkan perkataanku tadi. Bukan perkataan, tapi kemurkaan benar dan nasehat." Putri saat ini memijat pelipis karena merasa seperti tensinya naik hanya gara-gara meluapkan amarah dengan berteriak-teriak.


Sementara itu di dalam ruangan, sosok pria yang dari tadi terbaring lemah di atas ranjang perawatan, kembali meluapkan kemurkaannya pada bagian pahanya karena tangannya hanya bisa memukul di bagian itu.


Ia benar-benar sangat marah melihat wanita yang berani berteriak padanya dan memberikan banyak nasihat seperti ia seorang anak kecil. Meskipun ia tahu jika semua yang dikatakan wanita itu benar dan tidak ada yang salah.


"Apa dia tidak takut aku cekik lehernya saat berani berteriak padaku? Jika dia tahu jika aku merasa sangat syok dengan kenyataan yang menimpaku saat ini, kenapa malah marah-marah dan berteriak? Bukan dengan menasihati lembut yang biasanya dilakukan oleh kebanyakan orang pada umumnya,' gumam Aldiano yang saat ini menatap ke arah kedua kakinya yang masih berusaha untuk digerakkan.


Namun, sekeras apapun ia mencoba, tetap saja tidak bisa menggerakkannya dan kini sudah meyakini jika benar-benar lumpuh tanpa melakukan pemeriksaan seperti yang dikatakan oleh dokter hanya untuk menghiburnya semata.


"Apa benar yang dikatakan wanita arogan itu? Jika aku berusaha, akan bisa kembali berjalan lagi?" Ia memang mengetahui jika wanita itu bisa menikah dengannya karena atas dasar balas budi saat sang ayah membantu membiayai pengobatan ketika melakukan terapi.


Ia sebenarnya saat ini ingin sekali meluapkan amarah dengan membanting apapun agar perasaannya lega setelah melampiaskan. Tapi karena tidak ada barang yang ada di sekitarnya, sehingga hanya bisa mengembuskan napas kasar berkali-kali.


"Aku benar-benar butuh pelampiasan saat ini. Mungkin jika wanita itu ada di hadapanku dan aku bisa menggapainya tadi, sudah menarik rambutnya atau mendorongnya," umpatnya dengan raut wajah memerah yang masih diliputi oleh amarah.


Saat ini ia terdiam ketika suara teriakan Putri terngiang-ngiang di telinganya. Ia mengingat jika wanita itu mengatakan bahwa ia adalah salah satu orang terpilih yang masih mendapatkan kesempatan untuk bertobat saat pria yang menjadi kekasihnya ternyata sudah kehilangan nyawa.


Ia saat ini berpikir jika hal yang buruk akan terjadi padanya sebentar lagi. "Aku yang sengaja ingin mati bersamanya. Jika hanya dia yang mati, bukankah aku akan menjadi tersangka karena tuduhan pembunuhan?"


Masalah yang baru disadarinya membuat Aldiano semakin kebingungan. Ia saat ini membayangkan berada di penjara dengan kondisi cacat dan pastinya hanya akan membuat hidupnya makin sempurna penderitaannya.


Hingga ia seketika tertawa terbahak-bahak menyadari hal itu dan saat ini merasa jika Tuhan benar-benar tengah menghukumnya atas dosa-dosanya.


"Apakah inilah yang menjadi hukum karmaku, Tuhan? Aku di penjara dalam kondisi cacat? Tapi wanita itu mengatakan aku harus terapi dan bisa berjalan lagi dan ternyata semua itu hanyalah omong kosong." Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara dering ponsel bergetar.


Ia yang saat ini bergerak untuk mencari ponsel yang ternyata milik Putri berada di bawah bantalnya. Saat melihat jika yang menghubungi adalah kontak sang ayah, ia saat ini terdiam dengan menatap panggilan masuk tersebut.


Merasa jika saat ini hidupnya benar-benar mengenaskan dan tidak mengabarkan pada sang ayah yang mungkin tengah membereskan masalah yang terjadi karenanya.


Merasa jika ia hidup hanya bisa menyusahkan sang ayah, kini merasa menjadi orang yang tidak berguna. Refleks ia meluapkan amarah dengan membanting benda pipi di tangannya tersebut hingga tercerai-berai di lantai.


Di saat bersamaan, pintu ruangan terbuka dan saat ini 2 perawat sudah masuk ke dalam bersama dengan wanita yang tadi memarahinya habis-habisan seperti seorang anak kecil yang tidak bisa dinasehati.


"Pergi kalian semua! Aku tidak butuh diperiksa karena hasilnya sudah jelas jika benar-benar lumpuh!" teriak Aldiano yang saat ini benar-benar tidak ingin pergi ketika perasaannya semakin hancur karena khawatir jika ia akan menghabiskan hidupnya di penjara dengan kondisi cacat.


Sementara itu, dua perawat yang saling bersikap melihat kemurkaan pasien, seketika menoleh ke arah wanita yang tadi berjalan mengikuti di belakang untuk masuk ke dalam ruangan.


"Lebih baik Anda tenangkan pasien sebelum kami melakukan tugas untuk membawa ke ruangan pemeriksaan sesuai dengan perintah dari dokter. Semua tidak bisa hanya dengan menerawang dan langsung memvonis seperti pikiran suami Anda." Kemudian terlalu keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan memberikan waktu pada pasangan suami istri itu.


Putri yang tadinya berpikir jika Aldiano sudah sadar setelah ia berteriak meluapkan amarah, kini merasa sangat lemas tubuhnya karena tidak tahu bagaimana caranya menenangkan pria itu.


Apalagi saat ini melihat ponselnya sudah berserakan di lantai dan ia membayangkan jika itu adalah dirinya yang mendapatkan kemurkaan.

__ADS_1


'Apa dia juga akan membuatku bernasib sama dengan ponselku? Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya sadar bahwa hari ini bukanlah akhir dari segalanya karena perjalanan baru dimulai' lirih Putri yang saat ini merasa jika ia benar-benar bingung harus bagaimana menenangkan seorang Aldiano yang tengah dikuasai oleh putus asa.


To be continued...


__ADS_2