
Putri masih terdiam membisu karena sibuk mengingat momen indah yang terjadi di antara mereka. Tidak ada kesedihan karena ketika menjalin kasih secara diam-diam, hanya kebahagiaan yang diberikan oleh pria dengan usia lebih muda darinya.
Namun, setelah sah menjadi istri Arya, memang ada banyak prahara yang datang dan sering membuat mereka bertengkar, tapi tidak sampai berakhir mengatakan kalimat pisah.
Hanya saja, semua perubahan yang terjadi beberapa terakhir ini disebabkan oleh wanita paruh baya yang selama ini membenci tersebut mengalami kecelakaan. Hal itulah yang menjadi pusat dari bencana yang dirasakan oleh Putri.
"Aku sebenarnya mengetahui bahwa saat ini Arya berusaha untuk menjadi anak yang berbakti pada sang ibu. Mungkin karena melihat wanita yang telah melahirkan di ambang maut ketika berada di rumah sakit, akhirnya suamiku memilih untuk memenuhi semua yang dikatakan oleh sang ayah."
"Jadi, rela membiarkan aku dan Xander tinggal hanya berdua di kontrakan. Bahkan sikap Arya padaku sangat berbeda. Aku sempat berpikir jika suamiku seperti itu karena menganggap aku adalah penyebab ibunya kecelakaan."
Selama Arya tidak tinggal di kontrakan, hanya alasan itulah yang muncul dalam benak Putri dan mencoba untuk memahami perasaan seorang anak yang ingin membahagiakan ibu.
Meskipun dalam hati kecil merasa sangat terluka karena pria itu seperti tidak memperdulikan lagi. Sikap dingin dan kasar yang mendominasi Arya saat ini, membuat Putri merasa bingung harus melakukan apa.
Bahkan ketika pria itu marah di klinik sampai menyalurkan hasrat dengan kasar, Putri tetap tidak bisa membenci Arya. Berpikir jika nanti mengalah akan bisa meluluhkan hati Arya yang telah membeku.
"Kamu memang benar. Aku dari dulu sangat yakin pada Arya yang sangat mencintaiku. Jadi, meskipun hari ini aku datang tanpa memberitahu terlebih dahulu, Arya tidak akan marah secara berlebihan di depan orang lain."
Putri mengembuskan napas sebelum mengambil keputusan. Kemudian mengulas senyuman seolah yakin bahwa hari ini hubungannya dengan Arya akan lebih baik.
"Aku adalah istri Arya dan mengetahui apa yang disukai dan tidak. Jadi, hari ini akan membuat Arya senang dan mengingat masa-masa bahagia kami."
Amira Tan dan Noah sekilas bersitatap di spion mobil ketika mendengar perkataan Putri yang dirasa sangat konyol. Namun, hanya mengikuti apapun yang dipikirkan oleh wanita itu.
Berpura-pura bersikap bodoh seolah tidak tahu apapun menjadi pilihan antara Noah dan Amira Tan.
Bahkan saat ini Amira Tan mengikuti dengan cara mengangkat ibu jari dan tersenyum simpul. "Kalau seperti itu dari tadi, wajahmu semakin terlihat cantik dan pasti Arya akan merasa jatuh cinta untuk kedua kali."
Noah tidak ingin diam saja karena tengah mengikuti alur yang diciptakan oleh Amira Tan. "Ya, kamu memang benar karena saat ini Amira Tan semakin memesona."
"Kamu cantik dan pasti akan menjadi pusat perhatian oleh suamimu. Kejutan hari ini mungkin akan membuat Arya merasa seperti seorang raja karena dipuja oleh sang ratu. Sebenarnya aku ingin sekali ikut masuk dan membuat pria itu merasa cemburu dengan menggodamu, tapi sayangnya tidak diperbolehkan oleh bos."
__ADS_1
"Malangnya nasibku," ucap Noah yang mencoba untuk menguraikan kesedihan yang mencekam pada beberapa saat lalu.
Amira Tan hanya tertawa kecil saat menanggapi kalimat terakhir dari Noah. Kemudian melihat hal yang sama tampak dari wajah Putri yang awalnya pucat dan penuh kesedihan, seolah mendapatkan suntikan semangat dan membangkitkan aura kebahagiaan karena merasa terhibur.
"Sepertinya nanti aku akan menelpon Arya begitu tiba di perusahaan. Jadi, tidak akan ada larangan dari resepsionis dan membiarkan kita berdua masuk setelah mendapatkan izin dari Arya."
Kemudian melihat mobil yang membelah kemacetan kota tersebut, hampir dekat dengan perusahaan. "Lebih baik sekarang saja aku menelpon."
Putri hanya diam karena ingin mematuhi apapun yang dikatakan oleh saudara perempuan tersebut. Bahkan pertolongan wanita itu tidak bisa dihitung dan mungkin tidak akan sanggup dibalas oleh Amira Tan.
Saat ini, Putri melihat setiap pergerakan yang dilakukan oleh Amira Tan dan ingin mendengar suara dari Arya di telpon.
Sampai saat Amira Tan membuka suara terlebih dahulu dan disambung oleh sang suami dari seberang telpon.
"Aku ingin menemuimu di perusahaan karena ada hal penting yang ingin disampaikan. Apakah kau tidak akan melarangku datang ke ruanganmu dengan berpesan pada security ataupun resepsionis?"
"Masuk saja ke ruang kerjaku!" jawab Arya dari seberang telpon.
Bahkan ia terlihat sedang terbahak untuk melampiaskan amarah. "Wah ... sangat luar biasa." Kemudian menatap ke arah Putri untuk mengungkapkan nada protes.
"Semenjak suamimu kembali bekerja sebagai tangan kanan sang ayah, sifat arogan dan menyebalkan seolah melekat pada diri suamimu. Bagaimana bisa menutup telpon saat orang belum selesai berbicara?"
Putri saat ini tidak tahu harus berkomentar apa karena memang menyadari bahwa sikap Arya saat ini sangat tidak sopan. "Aku nanti akan berbicara adanya agar tidak bersikap sesuka hati."
"Atas nama suamiku, aku minta maaf." Kemudian lengan di balik pakaian kerja dengan lengan panjang tersebut. "Sabar dan jangan suka marah-marah karena nanti cepat tua."
Putri sengaja mengungkapkan kalimat candaan, agar Amira Tan tidak lagi marah. Sampai melihat bahwa mobil yang membawa mereka telah berbelok ke area perusahaan.
"Jadi, ini perusahaan keluarga Mahesa."
"Ya, kamu baru melihat dan pertama kali masuk ke sini, bukan? Jadi, harus berterima kasih padaku karena membuatmu bisa mengetahui seperti apa aset keluarga Mahesa. Ayo, kita turun dan menghajar pria itu karena membuat ulah pada kita!"
__ADS_1
Saat Amira Tan terkekeh geli mendengar ancaman, Putri yang sudah tidak sabar ingin melihat ruang kerja sang suami dan juga pria yang sangat dicintai tersebut, beranjak keluar dan melirik sekilas ke arah pria yang masih diam di belakang kemudi.
"Lebih baik kau keluar untuk minum kopi daripada hanya berdiam diri di dalam mobil. Karena kau akan bosan."
"Jangan khawatir. Aku akan keluar setelah kalian masuk." Noah baru saja melepaskan sabuk pengaman dan melirik ke arah wanita yang tersenyum simpul tersebut.
Sementara Putri saat ini menutup pintu mobil dan berjalan di sebelah kanan menuju ke arah lobby perusahaan yang berdiri menjulang dengan sangat megah dan tinggi tersebut.
Putri hanya ingin diam dan melihat apa saja yang dilakukan oleh Amira Tan. Sosok wanita berkelas yang sangat hebat dan dihormati oleh banyak orang atas kesuksesan yang diraih.
'Aku bahkan sama sekali belum pernah masuk ke perusahaan. Akan sangat memalukan jika tiba-tiba aku mendapatkan pertanyaan yang sama sekali tidak bisa ku mengerti. Jadi, lebih baik diam sampai bisa berada di dalam ruangan kerja suamiku.'
Putri saat ini melihat jika Amira Tan sedang berbicara dengan resepsionis dan langsung tersenyum lebar begitu mendapatkan jawaban.
"Ayo, kita bisa masuk sekarang karena sepertinya Arya sudah menunggu. Resepsionis mengatakan agar segera menuju ke lantai sepuluh. Di mana di sana terdapat ruangan kerja suamimu."
Putri yang saat ini menganggukkan kepala dan berjalan menuju ke arah lift, mengingat sesuatu yang dulu dilakukan oleh Arya ketika tergila-gila.
'Aku ingat saat pertama kali berada di dalam lift hotel, Arya menciumku dengan penuh gairah. Sampai aku jatuh cinta dan tergila-gila pada pria yang lebih muda usia dariku.'
Saat Putri mengingat masa yang tidak mungkin akan terulang. Bahkan kini, degup jantungnya tidak beraturan karena tengah menimbang-nimbang apa yang akan terjadi.
'Apakah aku bisa melihat senyuman yang terpancar dari wajah tampan suamiku? Ataukah hanya kemurkaan yang kudapatkan hari ini?' lirih Putri yang saat ini tengah berpikir bahwa apa yang terjadi hari ini akan menjadi masa depan bagi kelangsungan nasib rumah tangga mereka.
Bunyi denting lift yang menandakan bahwa pintu sebentar lagi terbuka, kini dimanfaatkan oleh Putri untuk mengambil napas teratur sebelum bergerak untuk mengikuti Amira Tan yang memimpin di depan.
Hingga beberapa saat kemudian, tiba di depan ruangan kerja dan tanpa mengetuk pintu, Amira Tan langsung masuk ke dalam setelah membuka.
Putri yang juga ikut masuk, segera mengedarkan pandangan ke dalam ruangan sang suami. Namun, seketika membulatkan kedua mata dan membekap mulut begitu melihat pemandangan di hadapannya.
"Arya ...."
__ADS_1
To be continued...