Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Hal yang dilarang


__ADS_3

Jack memilih untuk mengalihkan pandangan dari wajah cantik wanita yang selalu membuatnya terobsesi untuk memiliki seutuhnya, melambaikan tangan pada waiters yang baru saja selesai mengantarkan pesanan salah satu pengunjung.


"Iya, Tuan. Mau pesan apa?" tanya waiters wanita yang membawa buku kecil untuk mencatat pesanan pengunjung.


Jack membuka buku menu dan menunjuk ke arah Skirt steak. "Ini dua dan coklat dingin satu, tiramisu serta jus jeruk."


"Baik, Tuan. Mohon ditunggu pesanannya." Membungkuk hormat dan berbalik badan menuju ke arah belakang untuk menyampaikan pesanan.


"Bukankah sudah kukatakan tidak berselera makan. Jadi, habiskan semua makanannya. Kau bahkan tidak bertanya padaku terlebih dahulu apa yang kuinginkan, tapi sudah memutuskan." Amira Tan berbicara sambil tidak mengalihkan pandangan dari air mancur yang terlihat tidak pernah berhenti mengalir tersebut.


Bahkan suara gemericik air bagaikan alunan musik yang menyejukkan hati Amira Tan saat sedang gundah gulana. Ana menghibur diri dengan tidak mengalihkan pandangan dari sana. Meskipun hanya terlihat biasa, tetapi sedikit menghibur perasaannya.


Itu karena ketika melihat air terus mengalir tanpa kena lelah, membuatnya berpikir ingin hubungannya dengan Noah seperti itu. Terus mengalir tanpa henti dan tidak ada masalah apapun, sehingga akan bahagia selamanya.


Namun, menyadari bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi karena semua manusia yang hidup di dunia ini mengalami jatuh bangun kehidupan dan juga rintangan dalam hal apapun.


Bahkan air mancur itu pun akan mati saat sudah tidak dibutuhkan karena hanyalah buatan manusia. 'Kenapa aku sangat bodoh? Saat ini aku tidak bisa berpikir jernih saat memikirkan masalah yang menimpa hubunganku dengan Noah.'


Amira Tan yang baru selesai bergumam sendiri di dalam hati, menyadari bahwa pria yang ada di hadapannya sama sekali tidak menanggapi penolakan yang tadi diungkapkan.


Bahkan saat ini melihat Jack tengah asik bermain ponsel dan tidak memperdulikannya. "Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan barusan?"


Namun, Jack sama sekali tidak berniat untuk membuka mulut karena jujur saja merasa gemas sekaligus geram pada Amira Tan yang terlalu berlebihan saat kecewa pada Noah.


Jadi, tadi memilih untuk mengirimkan pesan pada sang ayah mengenai rencana untuk menikah mendadak dengan Amira Tan. Tanpa menceritakan hal yang sebenarnya bahwa berencana menikah tanpa cinta dan wanita yang akan dinikahi membuat surat perjanjian.


Jack akan menyuruh orang tuanya untuk membantu karena mengenal dengan orang dalam yang mengurus dokumen pernikahan, tidak perlu menunggu waktu lama dan acara besok bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.

__ADS_1


Saat mendengar nada protes dari Amira Tan yang tidak diperdulikan dan membuat wanita itu marah, Jack menatap wanita tersebut. "Aku tidak tuli dan bisa mendengarmu, tapi sangat malas menanggapi sikap kekanakanmu itu."


Saat baru menutup mulut, mendengar suara dering ponsel Amira Tan dan berpikir bahwa yang menghubungi adalah Noah. Namun, tidak mengatakan hal itu karena ingin melihat apa yang akan dilakukan Amira Tan saat mendapatkan telpon ketika perasaan sedang gundah gulana.


Amira Tan tidak jadi menanggapi perkataan yang dianggap menyebalkan dari Jack dan memeriksa siapa yang menelpon. Begitu melihat nama yang menghubungi, tidak langsung menjawab karena hanya menatap dalam diam.


Bahkan ponsel yang berada dalam genggaman itu masih terus berdering hingga berakhir setelah beberapa saat.


'Noah menelpon? Pasti ingin membahas mengenai pemecatan yang tadi kukatakan,' gumam Amira Tan yang beralih mengangkat pandangan begitu mendapatkan pertanyaan dari Jack.


"Kenapa tidak diangkat? Apa kamu sekarang ingin memberikan pelajaran pada kekasihmu yang berselingkuh?" Jack dengan santai berbicara dan meneguk air putih yang berada di atas meja.


Entah mengapa, menahan amarah membuatnya sangat haus. Namun, seketika tersedak karena amarah Amira Tan ketika menggebrak meja.


"Sudah kukatakan jika Noah tidak berselingkuh! Jangan pernah berbicara seperti itu lagi karena aku akan sangat membencimu!" Amira Tan yang kali ini tidak bisa menahan kemurkaan karena Jack seperti memantik amarah, sehingga bangkit berdiri dan menatap tajam pria di hadapannya.


Saat Amira Tan masih mengarahkan tatapan tajam dengan wajah memerah penuh kemurkaan, ia semakin bertambah kesal atas jawaban singkat dari Jack.


Jawaban Jack sama sekali bukan yang diharapkan olehnya karena hanya membuatnya bertambah kesal.


"Karena aku mencintaimu!" sahut Jack sambil mengusap tenggorokan yang panas karena tersedak akibat perbuatan tiba-tiba Amira Tan ketika melampiaskan amarah padanya.


Jack sama sekali tidak merasa takut mendapatkan kemurkaan Amira Tan, sehingga hanya menjawab singkat seperti apa yang dirasakan.


"Jack!" sarkas Amira Tan yang merasa geram dan ingin sekali menarik rambut hitam berpomade Jack.


"Apa? Apa kamu tidak suka aku mengatakan mencintaimu?" Jack saat ini berniat serius dan tidak lagi bercanda.

__ADS_1


"Kau sudah tahu jawabannya dan tidak perlu bertanya lagi."


"Lalu, apa salah aku mencintai seorang wanita?"


"Salah karena aku tidak pernah bisa mencintaimu. Jadi, sadarlah dan jangan terlalu berharap lebih meskipun kita sudah menikah nanti." Amira Tan yang masih pada posisi berdiri dan menjadi tontonan gratis dari para pengunjung, kini menghembuskan napas kasar yang mewakili perasaan saat ini.


Amira Tan yang merasa malu karena menjadi pusat perhatian saat membuat gaduh di sebuah restoran mewah, kini kembali mendaratkan tubuh di atas kursi. "Lebih baik kita bahas mengenai poin-poin penting yang akan ada dalam surat perjanjian pernikahan."


Tidak ingin semakin merasa bersalah pada Jack karena berkali-kali menolak perasaan pria itu, Amira Tan mengalihkan pembicaraan dan mengambil buku kecil serta bolpoin dari dalam tas.


"Aku akan mencatat beberapa hal menurut versiku." Ia kini menunduk menatap ke buku dan mulai menulis.


Tentu saja hal utama adalah seperti yang dikatakan oleh Noah, bahwa tidak boleh ada sentuhan fisik, seperti memeluk menggendong ataupun yang lain.


Melanjutkan hal yang ada di pikiran dan menuliskannya di sana, lalu akan membaca di depan Jack, agar pria itu mengerti.


"Nanti juga tulis aja apa yang kau inginkan!" Ia berbicara masih dengan posisi menundukkan kepala karena fokus dengan apa yang dikerjakan.


Namun, indra pendengaran menangkap suara bariton dari Jack yang menanggapi perkataannya.


"Tulis saja sebanyak-banyaknya karena aku tidak punya poin untuk ditulis di sana." Jack berbicara seperti itu karena berpikir bahwa semua hal yang ada di buku kecil itu adalah sesuatu yang diinginkan.


'Aku justru ingin melakukan semua hal yang kamu larang,' gumam Jack yang saat ini masih tetap dengan Amira Tan dan kembali melanjutkan apa yang ingin disampaikan.


"Bagaimana aku bisa menuliskan, jika semua itu adalah sesuatu yang kuinginkan darimu?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2