Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Empat wanita sialan


__ADS_3

Putri yang dari tadi sibuk menyiapkan makanan untuk pesanan makan siang, sama sekali tidak melihat interaksi dari Mira dengan para pria muda tersebut.


Hingga mendengar suara lirih dari Mira yang menceritakan semua hal dan seketika Putri menatap ke arah lima pria muda yang saat ini menikmati makanan dengan wajah menunduk seolah ketakutan.


"Wah ... sekarang kamu curang karena tadi mengatakan agar aku melayani dengan baik dan tidak bersikap arogan serta sinis. Namun, sekarang malah kamu yang melakukan hal itu, tapi lucu juga melihat mereka ketakutan dan seperti tidak berani berbicara lagi."


Putri bahkan sudah tertawa ketika melihat Mira juga terkekeh geli saat menatap para pria muda tersebut.


"Aku paling tidak suka dengan orang yang membeda-bedakan, padahal status kita sama. Jika mereka memanggilmu nona, kenapa aku harus dipanggil nyonya?" Mira kemudian menurunkan nada suara dan berbicara di dekat indra pendengaran Putri.


"Sebenarnya aku sadar tidak seksi sepertimu, sehingga mereka mengatakan itu. Namun, aku memang sengaja memberikan pelajaran pada pria muda itu akan tidak kembali berbicara sesuka hati."


Kemudian Mira terkekeh ketika mengingat perkataan dari pria paling tampan tersebut. "Pria yang paling tampan itu sepertinya adalah seorang playboy yang sangat pintar mempermainkan perasaan wanita."


"Rasanya aku ingin melihat pria itu merasakan terlalu mencintai seorang wanita dan ditinggalkan karena sepertinya dia terbiasa melakukan itu. Pria bermulut manis perlu diberikan pelajaran."


"Jika dia nanti menggoda dan merayumu, manfaatkan saja untuk memberikan pelajaran." Kali ini Mira berbisik agar tidak ada yang mendengarkan mengenai pembicaraan mereka.


Tanpa berniat untuk melakukan ide konyol dari Mira, Putri kembali melanjutkan pekerjaan dan sama sekali tidak tertarik dengan hal yang dianggap tidak penting tersebut.


"Cepat bantu aku dan jangan membahas hal yang tidak penting." Mulai memasukkan nasi lauk dan sayur pada kotak makanan.

__ADS_1


Mira yang mengerti, kini menyusun kotak yang sudah diisi makanan oleh Putri di sudut dinding. Kemudian mengikat dengan tali setiap lima tumpukan.


"Tadi aku sudah mengatakan pada kurir dan mungkin satu jam lagi tiba." Mira berbicara dan masih sibuk dengan kegiatan mengikat kotak makan tersebut tanpa menoleh ke arah Putri.


"Terima kasih. Kamu memang saudaraku yang paling baik," ucap Putri yang menoleh sekilas dan tersenyum lebar karena sangat senang bisa memiliki sahabat sekaligus saudara seperti Mira.


Saat hendak melanjutkan kegiatan, Putri melihat beberapa orang datang. Kali ini beberapa wanita yang berjalan mendekat. Namun, perasaannya tidak enak karena ada empat wanita memakai baju rumahan yang bisa ditebak merupakan warga di sekitar sini.


Jika ia merasa sangat khawatir jika ada pria yang menggoda ataupun berniat untuk berniat jahat, kali ini juga demikian.


Saat melihat empat wanita yang sudah dipastikan memiliki suami dan anak berjalan semakin mendekat, ia menelan ludah dengan kasar karena khawatir jika dituduh menjadi penggoda para pria dengan membuka warung.


'Tidak! Aku tidak boleh berprasangka buruk pada semua orang. Mungkin mereka akan membeli makanan, bukan untuk mengejek ataupun mengancam,' gumam Putri yang saat ini masih berusaha untuk berpikir positif dan bersikap sopan dengan mengulas senyuman pada para wanita yang kini sudah menghampiri.


"Selamat datang. Hari ini saya hanya menyiapkan sedikit makanan. Bisa dilihat dan memilih mana yang cocok." Putri saat ini masih berbicara dengan sangat sopan dan tak lupa senyuman selalu terpatri dari bibir.


Sementara itu, Mira yang baru saja menyelesaikan mengikat sepuluh kotak makanan tersebut, menatap sinis pada para wanita yang baru datang tersebut.


Sebenarnya Mira hendak membantu untuk melipat kertas untuk kotak makanan yang tadi dibeli, tetapi begitu mendengar suara dari beberapa wanita yang datang dan tak lain adalah tetangga yang berada di sekitar area rumah, ikut menyapa.


"Dipilih saja mau membeli sayur apa. Aku hari ini juga tidak masak dan memilih untuk membeli saja karena terkadang istri ingin rehat dari semua pekerjaan rumah. Itu merupakan hal yang wajar dan para suami harus mengerti, bukan?"

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Jadi, kami yang mengetahui bahwa hari ini ada pembukaan warung makan, jadi sengaja tidak masak dan membeli untuk merasakan makanan di sini," sahut wanita yang kali ini sudah sibuk mengedarkan pandangan untuk memilih apa yang akan dibeli.


Mira saat ini menatap Putri yang terlihat sangat sopan dan tak berhenti menyunggingkan senyuman pada para wanita yang dianggap adalah pengganggu tersebut.


'Putri ... Putri, kamu salah jika bersikap sopan pada mereka karena merupakan biang onar di kampung ini. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tapi akan melindungimu dari ulah jahat para wanita ini,' gumam Mira yang saat ini mengetahui bahwa empat wanita tersebut memiliki niat buruk pada Putri.


Sementara itu, empat orang itu sudah menentukan pilihan, langsung menyebutkan satu persatu apa yang ingin dibeli.


Kemudian Putri melayani mereka satu persatu tanpa merasa curiga ataupun berpikir buruk.


"Jadi, ini berapa totalnya?" tanya seorang wanita dengan rambut keriting.


"Itu dua puluh ribu," jawab Putri yang baru saja menghitung. Namun, merasa terkejut dan mengerjapkan mata begitu mendengar jawaban wanita di hadapannya.


"Aku utang dulu, ya. Nanti saat suamiku sudah gajian, aku akan langsung membayar. Sekalian mereka kamu hitung dan dicatat saja karena memang belum mendapatkan uang belanja."


Empat wanita lain seketika menganggukkan kepala untuk membenarkan perkataan dari temannya tersebut karena memang pergi ke warung tanpa membawa uang.


Putri seketika menelan ludah dengan kasar begitu menyadari bahwa kekhawatiran yang tadi dirasakan benar-benar terjadi. Namun, karena tidak tahu harus menjawab apa saat merasa syok ketika makanan dihutang, sehingga akhirnya menganggukkan kepala saja sebagai jawaban.


"Baiklah. Kalau begitu, terima kasih." Wanita yang kini sudah membawa makanan untuk lauk keluarga, mengajak beberapa temannya untuk segera pergi.

__ADS_1


Sementara Putri masih terdiam membisu di tempat saat menatap siluet belakang dari para wanita yang semakin menjauh tersebut. Hingga menoleh ke arah Mira yang terlihat sangat kesal dan memerah wajah.


To be continued...


__ADS_2