Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Kedatangan sang kekasih


__ADS_3

"Putri, kamu masih di sana, kan? Apa sebenarnya kamu pikirkan? Apa kamu merasa malu diperkenalkan ke publik sebagai istri putraku?" tanya Bambang Priambodo yang dari tadi masih menunggu jawaban dari menantunya yang masih diam.


Sementara itu, Putri yang merasa bingung dan sibuk mempertimbangkan tentang dampak negatif jika sampai masa lalu kelamnya terungkap. Akhirnya ia memilih berbicara jujur dengan menyampaikan kekhawatiran yang mengganggu di pikirannya. Berharap mertuanya tidak salah paham.


"Jadi, seperti itu, Pa. Aku adalah seorang wanita hina yang bergelimang dosa. Nanti keluarga besar Priambodo akan merasa malu jika sampai ada yang mengorek masa laluku," ucap Putri yang saat ini berusaha untuk menormalkan perasaan membuncah yang dirasakan.


Bahkan sudah berkaca-kaca saat mengingat dosa-dosanya di masa lalu. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika sang mertua malah tidak mempermasalahkan semua masa lalunya.


"Itu tidak perlu dipikirkan, Putri karena putraku jauh lebih hina daripada masa lalumu. Apalagi kamu sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar, sedangkan Aldiano masih terjerat dalam limbah dosa dan tidak tahu apa yang bisa membuatnya sadar. Mungkin hanya hidayah dari Tuhan yang mampu membuatnya kembali," ucap Bambang yang saat ini mengembuskan napas kasar ketika mengingat tentang putranya.


Putri sebenarnya jauh lebih kasihan pada mertuanya daripada pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut karena tidak ada orang tua yang bisa melihat darah dagingnya tersesat ke jalan yang tidak benar.


Ia saat ini hanya bisa menghibur agar mertuanya tidak semakin terpuruk dan akhirnya jatuh sakit memikirkan putra satu-satunya yang memiliki ketidaknormalan.


"Kita berdoa saja setiap hari agar Tuhan memberikan hidayah pada tuan Aldiano, Pa. Jika Papa memang sama sekali tidak mempermasalahkan masa laluku dikorek oleh media, aku tidak keberatan diperkenalkan nanti malam di acara ulang tahun perusahaan. Aku akan berdandan agar tidak mempermalukan keluarga Priambodo."


Putri yang selama ini jarang berdandan, akan berusaha untuk tampil cantik. Berharap tidak mempermalukan keluarga mertua.


"Tidak perlu, Putri karena nanti akan ada yang datang ke rumah untuk merias serta membawakan gaun yang akan kamu pakai di acara nanti malam. Aku ingin membuat semua orang mengagumimu. Bahwa aku memiliki seorang menantu yang cantik dan anggun," ujar Bambang yang saat ini melihat putranya baru masuk ke dalam ruangan dengan wajah memerah dan sudah diketahui apa alasannya.


"Putri, sudah dulu karena ada rekan bisnis yang datang." Kemudian langsung menutup sambungan telepon setelah mendengar suara Putri yang mengiyakan.

__ADS_1


Sementara itu, Aldiano yang baru saja mendapatkan kabar dari sang kekasih sesama jenis tentang pernyataan dari sang ayah bahwa hari ini akan memperkenalkan wanita yang sangat dibenci ke awak media, sehingga membuat cemburu.


"Papa kenapa tidak bilang padaku jika akan memperkenalkan pelacur itu di hari ulang tahun perusahaan malam nanti? Aku bahkan sangat jijik berdekatan dengannya, mana bisa berarti di depan para awak media? Apalagi harus berdekatan dan bersikap layaknya seperti pasangan suami istri!" Aldiano bahkan serasa ingin alpha dari acara penting perusahaan.


Namun, ia tahu jika melakukannya, akan mendapatkan kemurkaan sang ayah dengan ditarik semua fasilitas yang dimiliki dan lebih buruknya mungkin akan dicoret dari ahli waris utama.


Saat Bambang Priambodo bersikap sangat tenang melihat kemurkaan putranya yang sudah biasa terjadi dan sama sekali tidak dipedulikan. "Jika kau tidak suka, tidak perlu datang."


"Benarkah? Jadi, aku tidak perlu datang pada acara malam ini?" Aldiano merasa seperti mendapatkan angin segar karena jujur saja sangat muak tampil di depan media dengan berakting untuk bersikap romantis.


Namun, wajahnya yang tadinya berbinar, seketika berubah murung karena sang ayah kembali membuatnya kesal, tapi tidak bisa melakukan apapun sebagai nada protes.


Merasa percuma berbicara dengan sang ayah, Aldiano saat ini memilih untuk berbalik badan dan keluar. 'Papa selalu saja mengancamku dan membela pelacur itu. Rasanya aku ingin menyingkirkan wanita murahan yang hanya menginginkan harta keluargaku.'


Ia saat ini masuk ke dalam ruang kerja dan membanting pintu untuk meluapkan amarah yang serasa membakar dirinya. Kemudian mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi kerjanya.


Bahkan saat ini memikirkan bagaimana caranya menenangkan sang kekasih yang cemburu karena nanti akan berakting di depan media dengan wanita yang membuatnya merasa jijik berdekatan.


"Lebih baik aku belikan barang kesukaannya daripada harus pusing-pusing memikirkan cara untuk merayu agar tidak marah." Kini, ia berjalan menuju ke arah sofa karena sangat malas untuk bekerja hari ini.


Memang ia sudah 2 bulan ini dipaksa oleh sang ayah untuk belajar memimpin perusahaan karena jika tidak mau, seperti biasa ancaman selalu berpihak pada wanita itu. Jadi, ia sudah tidak bisa lagi sering ke klab malam dan pulang pagi karena harus bekerja.

__ADS_1


Kini, ia membaringkan tubuhnya di sofa dan berniat untuk tidur. "Tidur jauh lebih baik daripada harus memeras otakku saat memikirkan bagaimana caranya bersikap seperti seorang suami."


Kemudian memejamkan mata dan berharap segera larut dalam alam bawah sadar serta mimpi indah bertemu dengan sang kekasih. Namun, baru saja ia memejamkan mata, suara ketukan pintu terdengar.


Merasa sangat kesal karena diganggu, ia seketika membuka mata dan ingin tahu siapa yang datang. Hingga begitu pintu terbuka, membuatnya mengerjapkan mata karena yang datang adalah sang kekasih yang dari tadi mengganggu pikirannya.


"Sayang? Kamu datang?" ucapnya yang seketika bangkit berdiri dan menyambut kedatangan kekasih.


Ia sebenarnya saat ini sedikit khawatir jika sampai sang ayah mengetahui jika kekasih sesama jenisnya datang ke perusahaan, tapi karena sudah terlanjur, sehingga memilih untuk mengurus terlebih dahulu sosok yang berjalan mendekat dengan wajah kesal tersebut.


"Aku ingin ikut hadir di acara ulang tahun perusahaan," seru pria dengan memakai outfit serba putih dan langsung memeluk erat sang kekasih yang sangat dirindukan karena jarang bertemu semenjak bekerja di perusahaan sang ayah.


Aldiano yang saat ini langsung membalas pelukan sang kekasih, kini tidak langsung menjawab permintaan tersebut karena saat ini makin dipusingkan dengan banyaknya hal yang terjadi tanpa sepengetahuannya.


Hingga ia pun bergerak untuk menggigit leher sang kekasih dan berbisik di dekat daun telinga. "Sayang, aku merindukanmu. Kita main saja di dalam!"


Aldiano memilih merayu sang kekasih dengan menyenangkannya agar berubah pikiran untuk menghadiri acara di perusahaan karena bisa-bisa ia dibabat habis oleh sang ayah.


Kemudian langsung menggandeng sang kekasih untuk masuk ke dalam ruangan yang biasa digunakan beristirahat dan tentu saja mencari kepuasan yang sudah lama tidak didapatkan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2