
"Baiklah. Aku diam dan tidak akan mengganggumu," ucap Arya yang kini bahkan tidak mengalihkan perhatiannya dari sosok wanita di sebelah kiri yang masih memejamkan mata dan terlihat sangat lelah, sehingga membuatnya merasa iba.
Hingga ia pun saat ini tidak bisa berpikir jernih ketika melihat setiap sudut wajah wanita yang merupakan mantan istrinya dan kembali membuat degup jantungnya tidak beraturan.
Mungkin jika Putri membuka mata, ia tidak berani menatap seperti ini karena dari tadi seperti terpesona dengan pahatan sempurna di hadapannya.
"Cantik," lirihnya tanpa bisa menahan diri dan seketika membekap mulut begitu menyadari kebodohannya.
Bahkan ia sampai menampar bibirnya sendiri untuk menyadarkan diri agar tidak bersikap ceroboh dan membuat Putri bad mood, sehingga memilih untuk pergi. "Maaf karena tadi keceplosan," sahut Arya karena merasa khawatir jika membuat wanita dengan kelopak mata tertutup tersebut murka.
Sementara itu, Putri yang sebenarnya bisa mendengar kalimat pujian dari Arya, tapi sama sekali tidak peduli dan berpura-pura tertidur. Padahal sejatinya saat ini pikirannya tengah bergulat dengan banyaknya masalah yang terjadi dalam hidupnya.
Sampai ia kehilangan kesabaran menghadapi Aldiano dan memilih untuk menyerah dengan semuanya tanpa memperdulikan apapun. Namun, lagi-lagi harus bersabar karena alasan pria itu.
'Seharusnya ia merasa senang karena akhirnya aku setuju untuk bercerai. Kenapa malah bersikap konyol? Apa sebenarnya yang diinginkannya? Apa ia ingin menyiksaku lebih lama dengan tidak mau menceraikanku,' gumam Putri di dalam hati yang saat ini merasa sangat terkejut karena mendapatkan sentuhan pada pundaknya.
"Putri, apa kamu sudah tidur?" Arya yang dari tadi merasa sangat khawatir jika Putri marah padanya, sehingga ingin memastikan sendiri.
Ia tadi sangat gugup ketika mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak wanita yang masih diam tanpa menanggapinya. Hingga ia seketika menurunkan tangannya ketika merasa yakin jika Putri sudah tertidur karena sama sekali tidak bergerak dan bernapas dengan teratur.
"Benar. Dia pasti sangat lelah, sehingga sangat mudah tertidur begitu memejamkan mata," lirih Arya yang saat ini semakin memanjakan kedua mata untuk memuaskan hasrat memandang wajah cantik mantan istrinya.
Berbeda dengan Putri yang dari tadi berakting untuk tertidur karena merasa tidak nyaman jika membahas tentang pujian Arya barusan. 'Dulu kamu selalu memujiku cantik dan berjanji tidak akan pernah meninggalkanku.'
__ADS_1
'Hingga aku menyadari jika kebahagiaan terlarang itu hanyalah semu karena meninggalkan luka mendalam yang bakal sampai sekarang tidak bisa disembuhkan oleh apapun.'
'Aku bahkan trauma berhubungan dengan pria manapun karena berpikir hidupku akan berakhir lebih menyedihkan,' gumam Putri yang saat ini masih terus berakting layaknya tertidur pulas dengan napas teratur.
Suasana penuh keheningan yang terjadi di dalam taksi itu hanya dihiasi oleh suara napas teratur dari Putri serta Arya yang masih memanjakan mata dengan menatap intens.
Selama setengah jam berlalu, Arya bahkan tidak mengalihkan perhatiannya sedetik pun dari Putri. Ia malah ingin waktu berhenti di sana dan hanya bisa menatap satu-satunya wanita yang ternyata adalah mantan istri dan ibu dari putranya.
'Seandainya dunia fantasi itu ada dan aku memiliki kekuatan super untuk mendapatkan apapun yang diinginkan. Aku hanya ingin bisa mengulang semuanya dari awal bersama Putri dan buah cinta kami.' Arya masih terus mengkhayal.
Hingga suara bariton dari sopir taksi membuyarkan lamunannya dan mengalihkan perhatian.
"Tuan, ini alamatnya. Kita sudah sampai di rumah mantan istri Anda." Sang supir menatap ke arah spion untuk melihat penumpang tengah melakukan apa karena tidak langsung menyahut dan malah sibuk menatap ke arah rumah megah dengan pintu gerbang berwarna hitam.
"Jadi, ini tempat tinggal Putri? Ia pasti hidup berbahagia karena memiliki segalanya. Syukurlah. Setelah aku berbuat jahat padanya, hidupnya kini berubah bahagia." Arya saat ini memilih untuk membangunkan Putri dengan cara menggerakkan ringan lengannya.
"Putri, sudah sampai. Ini, benar rumahmu, kan?" tanyanya begitu melihat putri membuka kelopak mata.
Dengan berpura-pura menguap dan menutup mulutnya, Putri beberapa kali mengerjapkan mata terlebih dahulu sebelum menoleh ke arah Arya. Hingga ia yang saat ini membenarkan perkataan pria itu, seketika mengangguk perlahan dan bersiap untuk turun.
Ia bahkan berniat untuk mengambil uang di dalam tasnya, tapi ditahan oleh Arya.
"Biar aku saja yang membayarnya. Kamu masuk saja ke dalam karena pasti capek. Bahkan kamu langsung tertidur begitu memejamkan mata. Nanti langsung istirahat saja saat sudah tiba di kamar," ucap Arya yang kini mengalihkan perhatiannya dari Putri begitu melihat mobil sport yang berhenti di depan pintu gerbang dan memencet klakson.
__ADS_1
"Ternyata suamimu juga baru pulang. Nanti hubungi saja aku jika terjadi kesalahpahaman antara kamu dengan suamimu. Aku tidak akan keberatan untuk menjelaskan semuanya. Bahwa tidak ada yang terjadi di antara kita." Ia bahkan kini merasa heran begitu pintu gerbang terbuka.
Bahwa suami dari Putri tidak berniat untuk memastikan jika ada di dalam taksi. 'Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Kenapa sangat cuek dan seperti tidak peduli?'
Putri yang tidak ingin berdebat, akhirnya tidak keberatan jika Arya yang membayar ongkos pulang. "Terima kasih. Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu larut dalam kesedihan atas meninggalnya Calista."
"Doakan saja agar almarhumah tenang di atas sana karena saat ini yang dibutuhkan hanyalah itu saja." Kemudian ia setelah sedikit menghibur sebisanya.
"Terima kasih." Arya hanya melihat dalam diam ketika Putri yang saat ini sudah turun dari taksi, perjalanan menuju ke arah pintu gerbang dan disapa oleh security.
"Semoga pertengkaran mereka segera selesai dan tidak berlarut-larut," lirih Arya yang kini sudah melihat siluet wanita itu menghilang di balik pintu gerbang.
Kemudian menatap ke arah sang supir dan memberikan perintah. "Jalan, Pak. Ke alamat tadi."
"Iya, Tuan," sahut sang supir yang saat ini sudah menginjak pedal gas dan mengemudikan taksi meninggalkan area perumahan elit para konglomerat tersebut.
Bahkan jalanan yang dilalui sangat luas, sehingga sangat nyaman bagi siapapun yang melintas di area cluster mewah itu.
Arya saat ini mengingat perbuatannya tadi ketika tidak bosan memandang Putri. "Mungkin jika dia tidak memiliki suami, bisa mengajaknya kembali setelah meminta maaf atas perbuatannya sama sekali tidak ku ingat."
Ia bahkan tidak peduli jika perkataannya didengar oleh sang supir. "Maafkan aku karena menyisakan luka mendalam di hatimu. Aku sudah mendapatkan karmanya. Aku memang adalah seorang pendosa yang ingin kembali pada jalan yang baik."
To be continued...
__ADS_1