
Sebenarnya tujuan Putri menghampiri Arya bukan untuk menghina atau pun menyumpahi pria yang merupakan ayah biologis dari putra bungsunya yang tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah semenjak dilahirkan sampai berusia 5 tahun.
Namun, ketika melihat wajah membalas yang malah membuatnya sangat marah ketika mengingat pengkhianatan pria itu di masa lalu, sehingga membuatnya kesal dan berbicara sangat kasar.
Hingga ia merasa menyesal telah meloloskan kalimat buruk yang membuat wajah Arya muram. 'Harusnya aku tidak berbicara seperti itu padanya sebenarnya kami tidaklah jauh berbeda.'
'Kami semua hanyalah pendosa yang ingin mendapatkan ampunan dari sang pencipta. Bisa-bisanya aku meminta kesetiaan pada selingkuhan ketika mengkhianati suami sah.'
'Mungkin aku adalah spesies gila karena berpikir demikian,' gumam Putri yang saat ini merasa sangat menyesal karena berkata tidak pantas pada pria yang Bahkan baru saja kehilangan seorang istri.
Ia yang menyesali perkataan kasarnya hingga membuat Arya tidak berkutik karena dari tadi hanya diam saja, sehingga saat ini ingin menguraikan keegoisannya.
"Aah ... maafkan aku karena berbicara seolah aku adalah wanita suci yang tidak punya dosa saja. Lupakan kata-kataku tadi karena aku benar-benar tidak serius. Semua yang terjadi di dunia ini merupakan takdir dari Tuhan dan ada sebab akibat dari semua hal." Ia terdiam sejenak karena ingin merangkai kata-kata yang pas.
__ADS_1
Berharap tidak membuat Arya melakukan hal yang baru saja diungkapkan saat merasa emosi tadi ketika mengingat semua kejadian di masa lalu.
"Aku, kamu, Calista mendapatkan karma dari perbuatan masing-masing. Jadi, lebih baik menerima dan sibuk memperbaiki diri sampai ajal menjemput sesuai dengan garis tangan yang telah ditentukan."
"Sekali lagi, aku turut berdukacita atas meninggalnya istrimu." Putri tidak ingin berlama-lama di sana karena ia harus kembali menemani saudara tirinya yang masih menunggu proses operasi.
Kemudian ia melangkahkan kaki meninggalkan Arya yang masih betah menutup mulut karena tidak mau berkomentar apapun. Namun, ia seketika menghentikan langkah kakinya ketika tangannya ditahan oleh pria dengan tatapan sayu tersebut.
"Putri, tunggu sebentar karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" Arya saat ini tidak melepaskan kuasa karena khawatir pada Putri tidak mau berbicara denganmu.
Refleks Arya menuruti perintah wanita dengan tatapan sinis dan tajam itu karena khawatir malah tidak akan mendapatkan kesempatan berbicara.
Hingga ia pun kini memberikan kode agar Arya menjelaskan apa yang diinginkan.
__ADS_1
"Seperti yang kukatakan tadi jika meskipun aku sudah meminta maaf ribuan kali, tidak akan membuat rasa sakit di hatinya hilang begitu saja. Jadi, kali ini bukan itu yang ingin kukatakan padamu. Aku harap kamu ...." Saat ia dunia untuk mengungkapkan, seketika menoleh begitu mendengar suara dari seseorang yang memanggil namanya.
Kemudian ia menoleh ke arah belakang dan melihat orang tuanya baru saja tiba bersama dengan mertua di belakang.
"Papa, Mama."
"Bagaimana semua ini bisa terjadi, Arya?" tanya Ari Mahesa dengan deru napas memburu karena tadi berlarian memasuki lobi Rumah Sakit sampai ruangan jenazah.
Hingga ia dengan suara dari sang istri yang seketika membuatmu sadar jika ada seseorang yang sangat dikenalnya berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Kau? Putri?" Rani yang tadinya hanya fokus pada putranya, mendengarkan sang suami bertanya.
Namun, ia yang sekilas menoleh ke arah sosok wanita di hadapan putranya, seperti kamu bulatkan mata karena tidak pernah melupakan wajah itu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau ada di sini? Apa jangan-jangan, kalian ...."
To be continued...