
Dengan perasaan tidak enak karena melihat senyuman menyeringai dari pria yang berprofesi sebagai sopir tersebut.
Bahkan mengingatkan pada Bagus yang dulu bekerja sebagai seorang sopir taksi. Dulu, Putri yang masih sangat muda, jatuh cinta pada pria yang berusia lebih tua tersebut karena memiliki sifat penyabar dan sangat sopan.
Namun, saat bertemu sopir yang menatap dengan tatapan rapat seperti seorang penjahat wanita, Putri dilanda kekhawatiran ketika ingin memulai hidup baru di tempat itu.
Apalagi saat ini hanya tinggal sendiri bersama putranya, jadi merasa takut jika ada pria yang berniat untuk berbuat jahat. 'Aku harus berhati-hati agar tidak ada hal buruk yang terjadi padaku akibat ulah para pria tidak bertanggungjawab.'
'Apalagi aku tidak ingin menikah lagi karena ingin fokus hanya pada putraku,' ucap Putri yang saat ini sudah turun dari taksi dan berjalan menuju ke rumah dengan halaman cukup luas tersebut.
Mira yang menyuruh sang sopir untuk menaruh tas besar tersebut di teras depan, kini mengeluarkan dompet untuk membayar taksi.
"Biar aku saja yang membayar," sahut Putri yang hendak mengeluarkan uang dari dalam tas, tetapi dihalangi oleh Mira.
"Biarkan aku membantu saat kamu masih belum memiliki penghasilan. Nanti setelah banyak uang, baru aku akan memintamu membayar apa yang kuinginkan." Mira tadi refleks menahan tangan Putri ketika ingin membuka tas.
Memang sudah menjadi niat baik untuk menolong Putri karena menganggap bahwa wanita itu lebih membutuhkan bantuan dan juga berpikir untuk bersedekah agar harta yang didapatkan lebih berkah dan rezeki semakin lancar.
Kemudian membayar taksi setelah melihat Putri menganggukan kepala dengan pasrah. "Terima kasih. Uang kembaliannya ambil saja."
Terlihat pria dengan tubuh tinggi kurus tersebut menganggukkan kepala dan tersenyum karena mendapatkan uang lebih dari pelanggan wanita dan juga ada sesuatu yang membuatnya merasa bersemangat hari ini.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya. Jika Anda membutuhkan taksi, bisa menghubungi saya secara pribadi, jadi tidak memakai tarif dari perusahaan karena akan memberikan diskon khusus."
"Benarkah?" Wajah Mira terlihat sangat bersemangat dan berbinar ketika mendengar hal yang selalu disukai oleh para wanita, yaitu diskon.
"Iya, benar karena ini adalah sebuah kebaikan untuk para wanita yang tidak didampingi oleh suami." Tersenyum simpul begitu merasa bahwa rencananya berhasil untuk semakin dekat dengan wanita itu.
Tanpa membuang waktu, Mira mengeluarkan ponsel dan meminta nomor dari sopir taksi tersebut.
"Terima kasih karena aku memang membutuhkan mobil untuk mengantarkan produk ke beberapa pusat oleh-oleh di sini. Jadi, saat jadwal bertabrakan, aku akan menghubungimu karena selama ini hanya menggunakan jasa satu orang yang menyewakan mobil."
"Saya pasti akan siap membantu kapan pun Anda membutuhkan, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk mencari penumpang." Kemudian beralih menatap ke arah wanita yang caranya dan tersenyum sebelum berbalik badan untuk kembali ke mobil.
'Sepertinya jalanku untuk mendekati wanita incaranku sudah semakin dekat karena telah berhasil memanfaatkan wanita yang merupakan pengusaha oleh-oleh khas kota ini,' gumam pria bernama Ardiansyah tersebut.
'Jika pria itu sering datang membantu Mira, pasti akan mendekatiku juga. Apa yang harus kulakukan? Aku sangat takut,' lirih Putri yang tersadar dari lamunan ketika mendapatkan tepukan pada pundak.
"Ayo, kita masuk ke dalam untuk melihat orang-orang yang sedang sibuk bekerja." Mira kini melangkahkan kaki memasuki rumah dan langsung menuju ke bagian belakang karena pusat produksi ada di sana.
Putri pun berjalan mengekor di belakang Mira dan melihat beberapa orang sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Bahkan langsung mendapatkan sapaan dari beberapa orang yang bekerja di sana.
"Jadi, kamu membuat ini?" Putri baru pertama kali melihat makanan dengan menggunakan bahan utama buah apel. "Wah ... kamu ternyata sangat kreatif karena menciptakan keripik dari bahan dasar apel." Putri yang saat ini masih menggendong putranya, mengedarkan pandangan pada beberapa orang pekerja dengan tugas masing-masing.
__ADS_1
Mira yang baru saja bertanya pada beberapa pekerja, apakah ada masalah selama pergi, selalu merasa lega saat mendapatkan jawaban tidak dari mereka semua. Kemudian kembali beralih menatap ke arah Putri setelah mengambil satu bungkus keripik apel yang sudah jadi.
"Cobalah. Siapa tahu kamu suka,"
Putri yang saat ini langsung membuka kemasan dan nikmati makanan ringan yang pertama kali dirasakan, tersenyum saat mengunyah. "Enak, gurih dan renyah."
"Di sini banyak didapatkan buah apel. Jadi, aku berinisiatif untuk membuat keripik ini. Apalagi Apel menjadi salah satu buah yang sehat, berserat, dan bergizi. Bahkan digemari oleh hampir semua orang."
"Jadi, memanfaatkan kelebihan karena kota ini merupakan penghasil buah Apel terbesar. Tidak hanya segar saat disantap apa adanya, apalagi kalau masak di pohon. Nanti, aku akan mengajakmu ke kebun apel dan bisa menikmati sepuasnya secara gratis, asalkan tidak dibawa pulang, tidak akan membayar."
Tentu saja Putri seketika langsung berminat ketika mendengar hal itu karena memang dari dulu sangat menyukai buah Apel. Aku tidak sabar untuk pergi ke sana. Apakah kamu hanya memproduksi keripik apel?" Putri bertanya sambil mengunyah keripik apel yang sudah menyatu dengan indra perasa.
"Tidak, karena selain olahan keripik, aku juga memproduksi minuman, Strudel Apel, bubur Apel. Hanya saja, yang selama ini laris di pasaran adalah keripik dan Strudel. Itu adalah yang menjadi pusat pencarian dari para pengunjung karena berpikir, tak lengkap rasanya bila tanpa mencoba keripik yang memiliki rasa unik."
Saat Putri tersenyum sambil menunjukkan kemasan yang sudah kosong karena telah menghabiskannya. "Aku saja langsung menyukainya karena paduan rasa antara manis, gurih dan renyah bercampur dan menjadikannya wajib dicoba."
"Semua orang pasti akan berkata seperti itu. Lebih baik kamu turunkan putramu di ranjang." Kemudian menunjukkan ruangan kamar miliknya, agar Putri yang bisa beristirahat setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam.
"Aku akan mengambilkan kamu bubur Apel untuk mengganjal perut karena aku belum memasak." Kemudian berjalan menuju ke arah belakang dan menemui salah satu pekerja yang tengah membuat bubur Apel.
Camilan yang dibuat dari serat apel yang kemudian diolah menjadi bubur itu selalu dipesan oleh beberapa orang yang tengah memiliki acara di rumah dan hari ini mendapatkan pesanan.
__ADS_1
Selain memiliki bahan dasar yang berbeda dari bubur pada umumnya dan memiliki rasa dan tekstur yang khas.
To be continued...