
Hal yang dikatakan oleh Calista memang benar karena jika para orang tua mengetahui hal itu, pasti tidak akan diam saja dan langsung menikahkan dengan pesta mewah dan meriah.
Sementara Arya tidak ingin itu terjadi sebelum urusan dengan Putri selesai. Mereka harus bercerai, baru memikirkan masalah lain.
Tidak ingin menambah masalah dan beban dalam hidup, Arya memilih menyelesaikan satu-persatu. Bahkan ingin menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk bisa melupakan Putri, agar terbiasa menjalani hari-hari tanpa wanita itu.
Meskipun sudah terbiasa, tetapi menyadari jika saat ini tidak bisa melakukan hal selain menyingkirkan semua kenangan bersama Putri.
Setelah beberapa menit berlalu, Arya keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke arah walk in closet untuk memilih pakaian kerja hari ini.
Saat ini, Arya berdiri di depan lemari kaca berukuran raksasa yang menyimpan banyak pakaian kerja digantung rapi di sana.
Belum lagi pakaian yang dilipat, koleksi sepatu pantofel, jam tangan mewah koleksi yang menghiasi laci kaca, serta banyak dasi yang terlihat sangat beraneka ragam seperti toko.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk memutuskan warna pakaian yang akan dikenakan.
"Jika dulu Putri yang selalu menyiapkan pakaian kerja untukku dan memasak, lalu sarapan bersama sambil diselingi canda tawa. Sekarang aku harus membiasakan diri jika itu tidak akan pernah terjadi lagi. Jika dari dulu aku sangat berharap semua kemewahan ini akan terjadi, tapi tidak setelah ada dalam genggaman."
Rasanya ada sesuatu yang hilang dari diriku dan ini sangat menyiksa." Arya yang baru saja selesai mengenakan setelah jas lengkap berwarna hitam, seolah sedang berkabung hari ini.
Berpikir jika warna gelap sangat mewakili perasaan saat ini, Arya tidak memikirkan tanggapan dari orang lain karena ingin berkabung atas kematian perasaan untuk Putri.
"Lebih baik aku berangkat awal karena ingin segera menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk melupakan wanita itu." Arya kini memutuskan tidak akan pernah menyebut nama wanita itu lagi.
__ADS_1
Karena berpikir jika menyebut nama Putri, selalu menyisakan luka di dalam hati. "Lupakan nama dan wanita itu mulai sekarang, Arya. Aku hanya akan memberikan uang belanja sebagai rasa bersalah karena akan menceraikannya."
"Setelah kami bercerai, tidak akan ada lagi tanggungjawab. Kami akan memilih jalan masing-masing." Arya kini memantapkan hati untuk melupakan semua kenangan manis maupun buruk yang terjadi di antara mereka.
Berharap Calista bisa mengobati luka di hatinya. Arya kini memilih berjalan menuju ke arah cermin dan memastikan penampilan sempurna tanpa cela.
Rambut berpomade, penampilan rapi dengan setelan jas licin, jam tangan mahal seolah menjadikan Arya menjadi sosok pria sempurna tanpa cela hari ini.
"Sempurna!"
Kemudian ia meraih tas kerja yang ada meja tak jauh dari tempat berdiri dan berjalan keluar menuju pintu keluar.
Begitu berada di lantai satu, Arya berbicara pada salah satu pelayan. "Katakan pada orang tuaku, aku berangkat dan akan sarapan di kantor."
"Baik, Tuan Arya." Pria paruh baya yang bekerja sebagai tukang kebun selama puluhan tahun tersebut membungkuk hormat dan menganggukkan kepala tanda mengerti.
Mobil favorit Arya berjenis Lamborghini berwarna merah dan setelah sekian lama berada di garasi karena tidak pernah mengemudikan semenjak hidup bersama Putri penuh kesederhanaan di kontrakan.
Dengan kecepatan tinggi, mobil mewah tersebut kini membelah jalanan ibu kota bersama kendaraan lain yang melintas.
"Hari ini, lembaran baru akan dimulai," ucap Arya yang memasang earphone pada telinga dan menghubungi wanita yang kini berstatus sebagai kekasih.
Tidak perlu menunggu waktu lama, sambungan telpon yang tersambung langsung mendapatkan jawaban dari seberang.
__ADS_1
"Hai, Sayang. Apa kamu sudah merindukanku?" tanya Calista yang kini baru saja selesai berpakaian dan sedang berdiri di depan meja rias tengah tersenyum karena pria yang dipuja menghubungi.
"Kamu mau sarapan apa? Kebetulan aku sedang di jalan menuju perusahaan dan ingin membeli sarapan. Aku tidak ingin makan sendiri di ruanganku, jadi cepat berangkat dan langsung naik ke lantai atas nanti." Arya kini berhenti tepat di depan salah satu pedagang yang selalu ramai menjual menu sarapan.
"Kalau ada, Sandwich sayur dengan isian komplit, Arya. Kalau tidak ada, terserah saja karena aku akan makan apapun yang kamu belikan. Ini baru kekasih idaman. Bukan seperti para pria yang sering bertanya sudah makan apa belum?" Calista terlihat buru-buru memasang jam tangan di pergelangan tangan kiri dan meraih tas tanpa memakai riasan karena ingin melakukan itu di mobil.
Jika biasanya selalu mengemudi sendiri, tapi hari ini ingin menyuruh supir karena nanti berencana pulang bersama Arya.
"Baiklah. Aku akan membeli sarapan dulu. Kita bertemu di kantor." Arya mematikan sambungan telpon sebelum mendengar suara Calista karena mengerti apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.
Ya, semenjak memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, Arya melihat perubahan sikap dari Calista yang sudah tidak malu menunjukkan perasaan.
Bahkan selalu dengan mudah mengatakan i love you sampai beberapa kali. Tidak ingin merasa bosan, Arya memilih untuk menanggapi dengan datar.
Begitu memesan menu sarapan untuk diri sendiri adalah nasi goreng kambing komplit dan untuk Calista, kini Arya kembali menuju ke Perusahaan keluarga.
Beberapa menit kemudian, ia telah tiba di area parkiran Perusahaan dan begitu mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman. Beranjak dari posisi untuk keluar.
Saat berjalan sambil menenteng paper bag berisi menu sarapan, suara notifikasi terdengar dan ia memeriksa dan membaca.
Kita bertemu pulang kerja nanti di restoran Frangki. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.
"Kenapa dia mengajak bertemu? Memangnya apa yang ingin dibicarakan? Aku tidak pernah ada urusan, karena selama ini tidak pernah berbicara."
__ADS_1
Arya tidak berniat untuk membalas dan memilih terus berjalan menuju ke lobby perusahaan dan tentu saja mendapatkan penghormatan dari semua orang staf yang melihat.
To be continued...