Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Jangan macam-macam padaku


__ADS_3

Karena tidak ingin membahas panjang lebar mengenai masalah yang berhubungan dengan keturunan, Amira Tan berpura-pura untuk tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Aku sebenarnya masih belum memikirkan hal itu, Ma, tapi sepertinya perkataan dari kalian memang benar. Akan lebih baik tidak menunda kehamilan karena akan berdampak buruk pada rahim yang belum pernah hamil."


"Kalau begitu, kalian sekarang pulang saja ke rumah," sahut ibu Jack yang saat ini melirik ke arah putranya. "Ajak istrimu pulang ke rumah, Jack. Karena Mama sudah menghias kamarmu pagi ini dengan menyuruh beberapa orang."


"Barusan mendapatkan kabar jika semuanya sudah selesai dan kalian bisa nyaman saat melakukan malam pertama."


"Astaga, Mama! Bukankah sudah kukatakan jika itu adalah hal-hal bersifat intim? Aku dan Amira Tan merasa aneh mendengarnya karena itu merupakan sesuatu hal yang tabu untuk dibicarakan." Jack sebenarnya merasa sangat senang dengan perkataan sang ibu, tetapi berpura-pura seperti tidak menyukai ketika beralih menatap ke arah Amira Tan.


Apalagi melihat wajah Amira Tan yang tidak bahagia seperti pasangan pengantin lainnya. Jadi, berusaha untuk membuat wanita itu merasa nyaman.


Namun, sebenarnya juga tidak sabar untuk membawanya pulang ke rumah dan masuk ke dalam kamar yang dari dulu dipenuhi oleh foto-foto wanita itu.


'Kamu agar sangat terkejut ketika pertama kali masuk ke dalam kamarku. Aku sangat berharap kamu bisa menyadari bahwa cintaku jauh lebih besar dari Noah,' gumam Jack yang saat ini bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Amira Tan.


"Lebih baik kita pulang sekarang daripada terus digoda oleh semua orang yang ada di sini."


Amira Tan yang masih duduk di ranjang pembaringan sang ibu, tidak langsung menjawab karena hanya menoleh ke arah wanita yang telah melahirkannya tersebut.


"Aku masih ingin menjaga ibu di sini," ucap Amira Tan yang mencari dukungan dari sang ibu, tetapi melihat gelengan kepala yang mengungkapkan penolakan dan membuatnya merasa kecewa.


"Pergilah, Sayang. Di sini sudah ada papamu dan juga orang tua Jack. Kalian pasti sangat lelah dan lebih baik beristirahat di rumah. Besok, bisa kembali ke sini." Laila Sundari mengibaskan tangan pada putrinya agar segera bangkit berdiri karena Jack masih menunggu.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Amira Tan mematuhi perintah sang ibu dan berpamitan pada semua orang. Kemudian berjalan keluar dari ruangan perawatan bersama Jack.


Sementara itu, saat berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit menuju ke lift yang akan membawa mereka turun ke lobi, keduanya hanya diam karena memikirkan banyak hal saat ini.


Jika Amira Tan sibuk memikirkan bagaimana keadaan Noah, sedangkan Jack saat ini tengah memutar otak untuk membuat Amira Tan meminum ramuan untuk membersihkan rahim sebelum mereka bercinta.


Jack memang berjanji tidak akan pernah menyentuh Amira Tan saat hanya berdua.

__ADS_1


Namun, surat perjanjian yang tadi ditandatangani tidak ada poin mengenai larangan istri dilarang menyentuh suami. Jadi, menggunakan celah itu untuk membuat wanita yang saat ini berjalan di sebelahnya melanggar surat perjanjian yang dibuat sendiri.


'Aku akan membuatmu menyerahkan diri padaku hari ini,' gumam Jack yang saat ini meraih ponsel begitu masuk ke dalam lift dan menghubungi seseorang untuk melaksanakan perintah darinya.


Tanpa memperdulikan bahwa Amira Tan bisa mendengar apa yang dikatakan.


"Apa kau sudah mengerti apa yang harus dilakukan? Hari ini, semuanya harus beres dan awasi secara langsung karena aku ingin melihat buktinya jika telah sukses," seru Jack dengan nada penuh ketegasan.


"Siap, Tuan Jack. Saya tadi sudah berbicara dengan wanita yang bersedia untuk melaksanakan perintah dengan upah yang cukup tinggi, demi membayar biaya rumah sakit dari orang tuanya yang terkena penyakit jantung," ucap pria yang selama ini menjadi orang suruhan untuk melaksanakan perintah berbau licik.


"Aku akan langsung menstranfer uangnya."


Kini, Jack langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang. Kemudian langsung mengirimkan uang sebagai DP dari pekerjaan yang akan dilakukan perawat itu demi menjebak Noah.


'Apa reaksimu saat melihat pria yang kamu puja tidur dengan wanita lain, Amira Tan? Aku sangat yakin jika kamu akan membalas dendam dengan cara melakukan hal sama, yaitu tidur denganku malam ini,' gumam Jack yang saat ini masih menunduk menatap ke arah ponsel.


Sementara itu, Amira Tan yang dari tadi bisa mendengar perkataan dari Jack, hanya diam dan mengerutkan kening saat merasa penasaran.


Jack masih fokus mengetikkan nominal uang sebagai pembayaran untuk tugas penting yang akan menjadi poin utama mendapatkan Amira Tan. "Ada kasus perselingkuhan dari seorang suami yang tidak mau bercerai dengan istri. Jadi, aku perlu menggunakan umpan untuk menjebak pria itu demi mendapatkan bukti."


Amira Tan yang saat ini mengerti, mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar rumah sakit setelah lift terbuka. "Ternyata kau masih suka memakai cara licik untuk memenangkan kasus."


Jack memilih untuk memasukkan ponsel ke dalam saku celana dan menanggapi ejekan dari Amira Tan. "Kamu sudah tahu dengan dunia kita. Bahwa melawan orang licik, harus melakukan cara yang sama untuk bisa menang."


"Karena terkadang kejujuran tidak membuat orang bisa menang, tapi yang sering terjadi adalah semakin diinjak-injak." Kemudian Jack memencet tombol remote pada kunci mobil dan membukakan pintu untuk Amira Tan agar segera masuk.


Amira Tan memang bukanlah seorang wanita yang polos dan naif karena tidak mengetahui dunia kelam dari para klien yang memakai jasanya. Jadi, mengerti bahwa semua yang dikatakan oleh Jack memang benar. Bahwa orang-orang kaya memiliki kuasa lebih untuk menghancurkan lawan yang lemah dengan cara licik.


Begitu melihat Jack duduk di balik kemudi, saat ini mengungkapkan apa yang tadi sempat dipikirkan ketika membahas mengenai keturunan yang dituntut oleh para orang tua.


"Jack, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

__ADS_1


Jack yang baru saja mengemudikan mobil meninggalkan Rumah Sakit, menoleh sekilas dan menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Apa? Katakan saja karena aku akan mendengarkan."


Amira Tan menelan saliva dengan kasar begitu bersiap untuk membicarakan keburukan yang menjadi aibnya. Seolah sama sekali tidak merasa malu pada pria yang sudah fokus mengemudi tersebut.


"Tadi orang tua kita menginginkan keturunan yang tidak mungkin bisa dipenuhi. Namun, bukankah kamu sudah tahu jika aku dan Noah pernah beberapa kali melakukannya. Bahkan tanpa pengaman dan mungkin bisa hamil."


"Jadi, sepertinya sebentar lagi, aku akan hamil benih Noah. Jika itu terjadi, kau harus menceraikan aku. Semoga ibuku tidak terkena serangan jantung ketika itu terjadi."


Jack sebenarnya sudah mengetahui hal itu, tapi ketika mendengar sendiri secara langsung dari bibir Amira Tan, serasa ada tombak tajam yang membunuh cepat di jantung dan membuatnya hancur.


Namun, Jack tidak ingin terlihat lemah di depan Amira Tan, sehingga saat ini berpura-pura bersikap tenang. Seolah tidak ada yang terjadi. "Baiklah, aku akan menceraikanmu jika itu terjadi."


Amira Tan sebenarnya merasa sangat lega mendengar jawaban dari Jack yang dengan mudah mematuhi perintahnya, tapi sekaligus merasa aneh karena seperti melihat orang lain dalam diri Jack saat ini.


Namun, ia tidak bisa mengungkapkan dengan bertanya pada Jack. Kemudian perkataan dari ibu mertua. "Apakah bisa pulang ke rumahku saja? Aku lebih nyaman tidur di kamarku."


"Hari ini, aku ingin seharian tidur karena semalam tidak bisa beristirahat dengan tenang."


"Untuk keinginanmu yang ini, aku tidak bisa melakukannya." Jack yang baru saja menginjak rem setelah berhenti di lampu merah, melirik sekilas ke arah Amira Tan yang bertanya.


"Kenapa? Bukankah tidak ada yang tahu kita pulang ke rumahku?" Amira Tan merasa kecewa karena Jack menolak.


"Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku yang sudah bersusah payah menyuruh orang untuk menghias kamar demi membuatmu merasa nyaman saat malam pertama kita." Jack berbicara dengan nada penuh ketegasan dan tatapan tajam.


Amira Tan saat ini mengerjapkan mata begitu kalimat terakhir dari Jack membuatnya berpikir buruk. "Apakah kau berpikir kita akan bercinta di kamarmu?"


Saat Jack mendengar pertanyaan bernada kekhawatiran dari Amira Tan, hanya ditanggapi oleh Jack dengan tertawa terbahak-bahak. "Kenapa? Apa kamu sekarang takut padaku dan berpikir aku akan memperkosamu?"


Saat Amira Tan masih sangat terkejut dengan jawaban dari Jack yang kembali mengemudikan mobil menuju ke tempat tinggal keluarga pria itu karena memang berbeda arah dari rumahnya.


"Jangan macam-macam padaku, Jack!" sarkas Amira Tan yang merasa sangat kesal karena pria di balik kemudi tersebut tersenyum menyeringai tanpa menjawab pertanyaan darinya dan membuat pikirannya semakin kebingungan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2