Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Doa yang baik


__ADS_3

Saat Putri kembali mengingat luka yang masih menganga di dalam hati, bersitatap dengan sosok wanita yang tadi menarik rambut hingga terasa sangat panas.


"Maafkan aku menyakitimu saat salah paham," ucap wanita yang berjalan masuk bersama sang suami dan mengulurkan tangan ketika memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan.


Putri terpaksa tersenyum dan berakting tidak mempermasalahkan perbuatan wanita yang kali ini langsung disambut uluran tangan dan akhirnya berjabat tangan saling memaafkan.


"Tidak apa-apa. Berkatmu, aku jadi tahu rasanya menjadi wanita selingkuhan yang ditarik rambut. Ternyata sangat sakit dan pastinya akan sembuh beberapa hari."


Wajah yang menunjukkan rasa bersalah ketika mendengar wanita yang tadi ditarik rambutnya, memilih untuk memohon maaf dengan cara membayarkan makanan.


"Sekali lagi maafkan aku karena menyakitimu. Sebagai gantinya, aku akan menebus kesalahanku dengan membayar makananmu hari ini."


Refleks Putri menggelengkan kepala karena tidak ingin menambah beban orang lain yang sedang mengalami masalah.


"Tidak perlu. Biar aku yang membayar sendiri. Aku pun akan membayar makanan suamimu karena tadi sudah mau berbaik hati menolong membantu membawakan tas." Melirik ke arah tas besar di sebelah kiri.


Sementara itu, wanita tersebut memilih untuk mendaratkan tubuh di salah satu kursi dan memperkenalkan diri. Bahkan sama sekali tidak memperdulikan sang suami yang sedang menikmati makanan di kursi sebelah.


"Kristin, kamu siapa?"


"Putri." Menjawab singkat dan tidak melanjutkan makan karena merasa tidak enak diajak ngobrol oleh wanita itu.

__ADS_1


"Sepertinya kamu baru saja datang dari luar kota. Apakah kamu akan tinggal di daerah sini?"


"Iya, rencananya begitu dan sebentar lagi mungkin orang yang menjemputku akan tiba." Putri sebenarnya merasa sangat aneh berbicara dengan orang yang tadi menyakiti dan seolah tidak terjadi apapun.


Meskipun Putri bisa bersikap normal tanpa marah sedikit pun, tetap saja merasa kesal pada wanita itu yang telah meninggalkan rasa sakit luar biasa pada kepala.


Namun, semua rasa kesal yang dirasakan seolah musnah begitu mendengar perkataan wanita itu seperti ingin mencari teman mengobrol untuk mengungkapkan perasaan yang sedang kacau balau akibat perbuatan seorang suami yang berselingkuh.


"Apakah kamu bisa memaafkan seorang suami yang berselingkuh? Sepertinya kamu datang sendiri tanpa suami. Apakah nasib kita sama? Karena sebentar lagi aku akan menjadi janda anak dua karena meminta cerai dan membebaskan suamiku untuk berbuat apapun dengan wanita selingkuhannya."


Meskipun terdengar sangat santai ketika berbicara, Putri sangat mengetahui seperti apa perasaan wanita itu yang baru saja mengungkapkan hal paling menyakitkan bagi seorang istri karena mengetahui seorang suami berselingkuh.


Hal yang selalu menjadi penyebab utama perceraian adalah perselingkuhan dilakukan oleh salah satu pihak, baik itu istri atau pun suami. Bahkan Putri sudah bercerai sebanyak dua kali ketika berusia 31 tahun.


"Akan lebih baik berpisah daripada saling menyakiti satu sama lain. Aku tahu bahwa ini berat untukmu karena pernah mengalami hal yang sama. Bahkan aku juga baru diceraikan oleh suamiku saat ketahuan berselingkuh."


Kristin mengerjapkan mata karena sama sekali tidak pernah menyangka jika nasib mereka berdua sama. Padahal tadi hanya ingin mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di dalam hati dan butuh teman untuk berbicara.


"Maaf karena aku malah membuatmu mengingat tentang masa lalu kelam."


"Aku sudah tidak apa-apa dan saat ini ingin membuka lembaran baru. Kamu pun akan mengalami hal yang sama sepertiku. Mungkin memang sangat berat di awal, tapi seiring berjalannya waktu, luka di hatimu akan sembuh. Aku pikir tadi kalian berbaikan."

__ADS_1


Putri menurunkan nada suara pada kalimat terakhir karena merasa tidak enak jika didengar oleh pria yang saat ini menikmati makanan.


"Tidak mungkin aku kembali pada pria yang telah berselingkuh dan bercinta dengan wanita lain selain istri. Jika ada wanita yang tidak mempermasalahkan perselingkuhan dari sang suami, itu namanya adalah sebuah kebodohan karena ingin hidup menderita seumur hidup dengan menanggung rasa sakit di dalam hati." Kristin bangkit berdiri dan meraih ponsel yang ada di saku rok panjang.


"Sepertinya kita bisa saling menghibur diri dengan berteman. Apakah aku boleh minta nomor ponselmu sebelum pergi?"


Tanpa pikir panjang, Putri melakukan hal sama dengan mengeluarkan ponsel yang ada di tas selempang. "Berikan saja nomormu, biar aku simpan. Aku tidak hafal dengan nomor ponselku karena baru beli hari ini."


"Baiklah. Sepertinya kamu mengganti nomor karena ingin menghilang dari orang-orang yang mengenalmu." Kemudian menyebutkan satu persatu angka yang merupakan nomor ponsel.


Putri hanya tersenyum iris dan mulai mencatat nomor wanita itu. Kemudian langsung memencet tombol panggil dan otomatis terlihat nomornya.


"Itu nomorku. Sepertinya kamu akan menjadi teman kedua untukku di kota ini. Saat ada banyak orang jahat yang menyakitiku, sangat senang karena bisa bertemu dengan beberapa orang baik. Semoga kita bisa berteman."


Kemudian Putri mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Kristin dengan tersenyum.


"Aku sangat senang bisa mengenalmu dan sekali lagi maafkan aku karena tadi salah paham dan menyakitimu. Aku harus pulang karena ada dua anakku yang menunggu di rumah. Aku tinggal di kota sebelah, jadi satu jam dari sini." Kristin kini mengusap lembut pipi putih bayi yang tadi menangis karena perbuatannya.


"Maafkan Bibi, Sayang karena tadi membuatmu menangis. Kamu akan menjadi anak laki-laki yang kuat untuk ibumu dan kelak melindungi dari orang-orang jahat."


Putri tersenyum sambil mengaminkan doa baik dari Kristin yang kemudian berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada pria yang saat ini menikmati makanan dengan lahap.

__ADS_1


Bahkan merasa sangat heran pada pria itu seolah tidak merasa bersalah dan masih bisa makan dengan lahap.


To be continued...


__ADS_2