Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Racun tikus


__ADS_3

"Dasar anak tidak tahu diuntung!" sarkas Bambang Priambodo yang baru saja menggebrak meja begitu mendapatkan telpon dari salah satu orang yang dibayarnya untuk mengikuti pria yang tak lain kekasih putranya.


Ia baru dikabari jika pria itu kini sudah berani datang ke perusahaan secara terang-terangan. Sebenarnya ia ingin segera mengusir pria itu dari ruangan putranya, tapi merasa jijik dan membuatnya memilih untuk menelpon putranya saja.


Kini, ia menunggu putranya mengangkat telpon dan membuatnya ingin segera mengumpat. Namun, panggilan tidak terjawab dan sudah mati. Khawatir jika putranya melakukan hal-hal yang terlarang di perusahaan yang harusnya menjadi tempat mencari nafkah, kini ia keluar dari ruangan sambil terus menelpon.


Saat ia hendak mengangkat tangan untuk menggedor pintu ruangan kerja putranya, tidak jadi melakukannya karena panggilan diangkat dan m


kini mendengar suara dari seberang telpon.


"Ada apa, Pa?" ucap Aldiano yang tadinya baru saja berciuman dengan sang kekasih, tapi terganggu suara dering ponsel miliknya di saku celana.


Awalnya ia membiarkan sampai mati, tapi saat kembali mengganggu indra pendengaran, sehingga memeriksa dan begitu melihat kontak sang ayah, terpaksa mengangkat dan seketika menjauhkan dari telinganya kala mendengar suara teriakan.


"Cepat suruh pria itu pergi dari perusahaan atau Papa akan menendang mu sekalian dan mencoret dari daftar surat wasiat!" sarkas Bambang Priambodo yang saat ini memilih untuk kembali ke ruangannya karena tidak ingin melihat putranya dan pria itu.


Kemudian ia langsung mematikan sambungan telpon karena tidak ingin banyak bicara lagi. Berharap putranya mau mendengarkan karena takut tidak mendapatkan warisan.


Bahkan ia saat ini memijat pelipis karena kepalanya benar-benar pusing menghadapi putranya yang tidak bisa dinasihati sama sekali.


Sementara itu, Aldiano yang saat ini masih memegang ponsel di tangan, melihat raut wajah sang kekasih yang berubah murung karena bisa mendengar teriakan sang ayah.


Ia kini mengusap lengannya dan mencoba untuk menenangkan agar memahami apa yang saat ini dirasakan. Berharap kekasih tidak marah dan mau mengerti resiko besar yang ditanggungnya jika tidak mau mematuhi sang ayah.

__ADS_1


"Kita lanjutkan nanti malam saja setelah acara ulang tahun perusahaan. Jika kita nekat melanjutkannya di sini, sudah dipastikan aku akan ditendang dari perusahaan dan tidak mendapatkan harta sepeser pun. Kamu tidak mau kan jika aku menjadi gembel dan tidak bisa membelikanmu barang kesukaan?" Aldiano saat ini menatap ke arah sang kekasih dengan penuh permohonan.


Bahkan saat ini sangat berharap kekasihnya tersebut tidak ilfil ataupun marah padanya hanya gara-gara mendengar teriakan sang ayah karena biasanya tidak pernah.


Berbeda dengan yang dirasakan pria yang memakai jam tangan mewah mahal itu.


"Ya ... ya, aku paham. Aku harus segera pergi dari sini agar kamu tidak dicoret dari surat wasiat, kan. Padahal tadi aku datang ke sini karena ingin menunjukkan sangat cemburu pada wanita yang akan diperkenalkan sebagai pasanganmu nanti malam di pesta perusahaan." Ia saat ini bersiap pergi dan merapikan pakaiannya yang tadi sempat berantakan karena perbuatan Aldiano.


"Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan wanita menjijikan itu, Sayang. Kamu tahu kan kalau aku harus bersandiwara demi menjaga nama baik keluargaku? Hidup di negara yang tidak mendukung hubungan seperti kita memang sangat berat." Merapikan rambut hitam berkilat sang kekasih sebelum pergi.


"Berbeda dengan orang-orang yang tinggal di luar negeri, bisa bebas melakukan apapun dan tidak mendapatkan larangan seperti di sini. Jadi, kita harus menerima konsekuensi dari hubungan ini, oke?" Masih mencoba untuk menenangkan sang kekasih agar sepatu seperti biasanya.


Apalagi ia sangat senang mempunyai kekasih yang selalu penurut dan mau mematuhi semua perintahnya. Hingga ia pun tersenyum simpul melihat sang kekasih menganggukkan kepala.


Tanpa pikir panjang, Aldiano seketika menjawab agar sang kekasih percaya padanya. "Iya, Sayang. Aku tidak akan pernah melakukannya karena sangat jijik pada lawan jenis. Apalagi pada wanita murahan itu yang hanya mengincar harta keluargaku."


Kemudian ia mengantarkan sang kekasih yang kini sudah lebih tenang dan tidak marah lagi seperti saat pertama kali datang beberapa saat lalu.


"Maafkan aku tidak bisa mengantarkanmu sampai ke depan perusahaan."


"Iya, aku berani sendiri." Kemudian melambaikan tangan pada sang kekasih yang dianggap pohon uang karena selalu memberikannya barang-barang mewah seperti jam tangan yang dipakainya saat ini.


Bahkan sepatu, pakaian dan masih banyak lagi yang menjadi koreksinya merupakan pemberian dari sang kekasih. Jadi, tidak mungkin protes saat disuruh pergi karena tidak ingin kehilangan ATM berjalan.

__ADS_1


Aldiano melambaikan tangan begitu melihat sang kekasih menghilang di balik pintu kotak besi. Ia yang awalnya mendapatkan sebuah penghiburan karena sang kekasih datang ke kantor, kini kembali membuatnya badmood dan kesal.


"Sial! Bagaimana papa tahu jika kekasihku datang ke sini. Pasti ada mata-mata di perusahaan ini yang melaporkan. Siapa orangnya? Jika tahu, aku akan menghabisinya," umpatnya dengan wajah kesal dan kembali masuk ke dalam ruang kerja.


Ia ingin seharian tidur tanpa memeriksa pekerjaan karena pikirannya tengah kalut. Apalagi nanti malam akan sibuk untuk memenuhi keinginan sang ayah. Namun, meskipun sudah memejamkan mata, tetap tidak bisa tertidur dan membuatnya mengacak frustasi rambutnya hingga berantakan.


"Aaaah ... sial! Gara-gara memikirkan acara memuakkan nanti malam, jadi tidak bisa istirahat dengan tenang." Ia saat ini membutuhkan pelampiasan dan berpikir untuk melampiaskannya pada wanita yang membuatnya marah.


"Lebih baik aku pulang saja dan memberikan pelajaran pada pelacur itu!" sarkas Aldiano yang saat ini mengambil tas kerja dan keluar dari ruangan.


Selama berjalan, ia sibuk memikirkan balas dendam untuk wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut. "Kira-kira apa yang pantas didapatkannya karena membuatku kesal?"


Kini, ia sudah berada di dalam lift dan begitu mendapatkan sebuah ide di kepalanya untuk membalas dendam, kini tersenyum menyeringai. Ia pun sudah tidak sabar tiba di rumah agar bisa melampiaskan kemarahannya.


"Tunggu pembalasanku, wanita murahan!" sarkas Aldiano yang kini langsung berjalan keluar dari lift begitu pintu terbuka dan menuju parkiran.


Ia memilih untuk menonaktifkan ponselnya begitu duduk di balik kemudi dan mengemudikan kendaraan meninggalkan perusahaan. Bahkan menambah kecepatan dengan menginjak pedal gas agar bisa segera tiba di rumah.


"Rasanya aku ingin memberikan racun tikus padanya agar enyah dari muka bumi ini. Kenapa ada wanita tidak tahu malu sepertinya karena sudah kuberitahu jika aku tidak ingin menikah dengannya, tapi sama sekali tidak keberatan."


"Apa lagi jika bukan karena uang. Sebenarnya berapa papa membayarnya agar mau menikah denganku?" Aldiano bahkan sibuk mengumpat selama mengemudi dan tidak sabar ingin segera tiba di rumah.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2