Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Memudahkan proses pemeriksaan


__ADS_3

"Pergi, aku bilang!" teriak Aldiano saat ini menatap ke arah wanita yang tadi berani meneriakinya dan membuatnya ingin sekali memberikan pelajaran pada Putri.


Ia bahkan saat ini menunjuk ke arah ponsel yang hancur di atas lantai. "Apa kau ingin bernasib sama dengan ponsel itu? Bukankah itu adalah milikmu? Jadi, jangan berani-beraninya kau mendekat karena aku benar-benar akan membantingmu!"


Putri yang tadinya masih berada di belakang pintu, hendak berjalan mendekat. Tentu saja untuk melaksanakan perintah dari perawat yang tadi baru saja keluar.


Namun, seketika menelan saliva dengan kasar ketika belum melakukan apa-apa sudah mendapatkan ancaman dan menatap ke arah benda pipih yang sudah hancur itu.


'Aku bahkan belum menghubungi Papa, tapi sekarang ponselku sudah hancur dan tidak bisa memberitahu tentang keadaan putranya yang saat ini sedang berada dalam fase putus asa. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku biarkan saja dia berbuat sesuka hati?' gumam Putri yang saat ini masih belum bergerak dari tempatnya.


Hingga ia kembali berjenggit kaget ketika pria yang masih menatapnya tajam di atas ranjang tersebut berteriak untuk kesekian kalinya.


"Cepat pergi! Apa kau tuli? Aku tidak ingin bertemu siapapun dan ingin sendirian!" Aldiano benar-benar tidak suka mendapatkan tatapan iba dari siapapun akan keadaannya yang sekarang.


Apalagi ketika membayangkan kondisinya yang cacat harus menjalani hukuman di balik jeruji besi dan pastinya akan membuat hidupnya jauh lebih menderita dari yang sekarang.


Saat ini, Putri sama sekali tidak takut ketika suara teriakan menggema dan menusuk gendang telinganya. Ia justru merasa takut jika pria itu memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara apapun karena penderitaan orang yang lumpuh benar-benar membuat siapapun yang mengalaminya tidak bisa berpikir dengan baik.


Penderitaannya benar-benar jauh melebihi apapun karena harus berjuang untuk berusaha tidak menjadi beban orang lain karena tidak bisa berbuat apapun selain meminta bantuan.


Putri tadinya ingin bersabar dan memaklumi kemurkaan dari Aldiano padanya, tapi lama-kelamaan kesabarannya setipis tisu dan tidak bisa membiarkan pria itu kembali mengumpat.


"Ya, aku memang tuli dan tidak bisa mendengarmu, jadi berteriaklah lagi sepuasmu sampai aku bisa mendengarnya! Aku akan berada di sini untuk mendengarkannya!" sarkas Putri yang saat ini berjalan menuju ke arah ranjang.


Ia kini menarik kursi karena tidak mungkin duduk dekat-dekat dengan pria yang saat ini dikuasai oleh angkara murka dan mungkin ingin sekali mencekik lehernya atau membantingnya di lantai.


Kemudian mendaratkan tubuhnya di sana dengan menyilangkan kaki dan menatap intens pria yang hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang itu.


"Cepat berteriaklah lagi sampai suaramu habis. Nanti aku akan mengambilkan air jika tenggorokanmu kering." Putri bahkan saat ini sudah duduk santai sambil bersedekap dada, seolah ingin mengejek pria itu sepuas hati.


Meski sebenarnya merasa tidak tega melihat itu, tetap saja ia tidak bisa tinggal diam menghadapi pria yang sangat arogan dan meluapkan kemurkaan karena kondisi yang dialami saat ini.


Aldiano seketika mengepalkan tangan dan kembali mengempaskan pada ranjang selama beberapa kali. "Dasar wanita gila! Apa yang sebenarnya kau inginkan? Jika aku bisa berjalan, benar-benar akan mendatangimu dan membantingmu di lantai!"


Putri seketika tertawa terbahak-bahak karena saat ini ingin membuat pria itu makin membencinya dan benar-benar melaksanakan niat yang dikatakan.


"Dasar pria bodoh! Sekarang, justru aku yang bisa membunuhmu jika aku mau. Jadi, jangan berlagak jika sekarang hanyalah seorang pria tidak berguna. Jika kau ingin membunuhku, silakan!" Suara Putri tidak kalah menggema dengan suara bariton dari pria yang kini membulatkan mata karena ejekannya.


"Tapi kau hanya bisa melakukannya setelah kembali bisa berjalan lagi. Jadi, buktikan padaku omong kosongmu itu. Bunuh aku setelah kau bisa berjalan. Jika kau hanya bisa berada di atas ranjang seperti itu, bukankah hanyalah pria tidak berguna? Atau seorang pecundang yang hanya bisa berbicara omong kosong?"


Kemudian ia berdiri dari kursinya dan mengambil botol air mineral yang tadi diempaskan oleh Aldiano ke lantai.


"Ternyata berteriak membuatku haus."


Putri lalu meneguk air yang kini membasahi tenggorokannya yang kering.


Ia saat ini berpikir jika pria itu juga haus dan ingin minum karena menatapnya dengan tatapan tajam dan tidak diperdulikan olehnya.

__ADS_1


'Sampai berapa lama ia akan bersikap seperti itu? Aku ingin melihat seberapa kuat ia bertahan dari rasa haus yang melanda. Aku bahkan tidak percaya bisa berteriak padanya dengan bebas dan tidak mendapatkan hukuman,' gumam Putri yang mengingat jika pria itu pernah memberikan hukuman dengan memakai sabuk.


Sementara itu, Aldiano yang merasa sangat lelah karena dari tadi berteriak dan begitu melihat Putri minum, seketika menelan saliva dengan kasar untuk membasahi tenggorokannya yang sangat kering.


'Sialan! Dia benar-benar seperti rubah betina yang sangat licik karena membuatku tidak berkutik. Aku bahkan saat ini sangat haus. Dia berkali-kali mengatakan aku adalah seorang pria tidak berguna tanpa merasa takut jika aku akan mencekik lehernya.'


'Berani sekali dia?' sarkas Aldiano yang saat ini hanya bisa mengumpat di dalam hati karena sudah sangat lelah dan juga haus, tapi merasa gengsi untuk memintanya dari wanita yang mengejeknya habis-habisan.


Ia bahkan saat ini terdiam menatap ke arah wanita yang baru saja memungut ponsel yang hancur karenanya. 'Apa yang akan dilakukannya dengan proses hancur itu?'


Saat ia sibuk dengan pemikirannya, masih menetap ke arah wanita di atas kursi yang menunduk sambil menatap ke arah ponsel yang sudah tidak bisa digunakan.


Putri saat ini ingin mengambil SIM card miliknya agar bisa dipasang di ponsel barunya karena berpikir harus membeli lagi. Ia saat ini bisa mengetahui jika Aldiano tengah mengamati apa yang dilakukannya saat ini.


'Ternyata dia betah juga menahan rasa haus. Sampai kapan dia akan bertahan?' gumam Putri yang saat ini menggenggam erat ponsel yang sudah tidak bisa digunakan tersebut.


Ia seketika mempunyai ide untuk membalas dendam pada Aldiano yang telah membuat ponselnya hancur. Refleks ia langsung mengangkat tangan dan membuat gerakan melempar ke arah wajah pria yang juga tengah menatapnya.


Aldiano yang dari tadi menatap ke arah Putri, sangat terkejut begitu melihat wanita itu melemparkan ponsel yang digenggamnya ke wajahnya. Refleks ia langsung memejamkan mata dan membiarkan ponsel itu mengenai wajahnya.


Namun, selama ia menunggu, wajahnya belum merasakan apapun dan malah mendengar suara Putri yang kembali tertawa terbahak-bahak mengejeknya. Refleks ia seketika membuka kelopak mata dan melihat wanita di atas kursi tersebut masih tertawa dengan memegangi perut dan seketika memerah wajahnya.


"Kau pasti sangat takut aku melempar ini ke wajahmu, kan? Tenang saja karena aku tidak ingin mengotori tanganku dengan memberikan hukuman pada pria tidak berguna sepertimu." Putri kemudian memasukkan ponsel miliknya ke tong sampah karena berpikir sudah tidak ada yang bisa diperbaiki.


Ia saat ini bisa melihat bagaimana raut wajah pria itu ketika marah, tapi tidak bisa melakukan apapun karena kondisinya.


Putri saat ini ingin meluapkan semuanya agar pria itu mengetahui perasaannya ketika menikah dengan seorang pria yang hanya menganggapnya wanita murahan pemburu harta.


"Apa kau tahu bagaimana rasanya dicambuk saat tidak melakukan kesalahan? Bahkan di luar negeri sana harus jelas melakukan kesalahan apa, tapi kau malah membuatku harus melakukan kesalahan dengan cara dicambuk." Saat mengingat lukanya meninggalkan bekas di bagian belakang tubuhnya, ia kini kini bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Kemudian mengunci pintu karena ingin menunjukkan bekas perbuatan pria itu agar menyadari jika dulu adalah seorang pria yang tidak punya hati dan berharap menyadari kesalahan dengan menjadi orang yang baik setelah bertobat dan kembali ke jalan Allah.


Putri kini berjalan mendekati ranjang perawatan sambil melepaskan satu-persatu kemeja lengan panjang yang dipakainya. Kemudian melepaskan dari tubuhnya untuk menunjukkan bagian belakang.


"Apa kau lihat bekas perbuatanmu ini? Apa sekarang kau masih ingin protes karena Tuhan tidak menerima kematianmu?" Kemudian Putri berbalik badan dan kembali memakai kemeja yang baru saja dilepaskannya.


Ini adalah perbuatanmu yang meninggalkan bekas fisik dan ini hanyalah salah satu dari dosa-dosamu. Masih ada banyak dosa yang kau lakukan dan pasti meninggalkan bekas, tapi tidak terlihat."


"Tuhan ingin kau membersihkan bekas itu dengan menyiksamu terlebih dahulu di dunia." Putri saat ini melihat Aldiano seperti merasa tertampar dengan perkataannya.


Ia memberikan jeda waktu untuk pria itu berpikir sebelum melanjutkan perkataannya yang berusaha untuk menyadarkan pria itu agar kembali ke jalan yang benar.


"Bahkan luka fisik saja butuh waktu yang lama untuk bisa memudar dan hilang. Butuh perjuangan untuk menghilangkannya. Sama halnya dengan perbuatanmu saat tersesat, ada banyak bekas dosa yang harus kau bersihkan pergi dari dunia ini."


Putri tidak tahu lagi cara apa yang akan diambilnya jika penjelasannya saat ini sama sekali tidak masuk dalam pikiran pria itu. Ia udah kan sudah menggunakan segala cara untuk membuat pria itu tidak putus asa dan tetap berjuang ketika mendapatkan kesempatan yang tidak datang dua kali.


Kini, ia yang sudah kembali mengancingkan kemejanya, menunggu sampai pria di atas ranjang tersebut menanggapi perkataannya. "Aku harusnya tadi merekam bagaimana perasaan papa begitu melihatmu selamat."

__ADS_1


Aldiano yang hanya bisa diam karena seolah tertampar dengan semua fakta yang merupakan sebuah realita atas kehidupannya selama ini. Hingga ia mengingat sang ayah yang mungkin saat ini sudah sibuk membereskan masalah yang dibuatnya.


"Apa?" Aldiano yang seperti tidak mood untuk berbicara, hanya menjawab seadanya dan berharap wanita itu menjelaskan apa yang ingin ia ketahui.


"Papa bahkan ingin menggantikan posisimu saat menganggap jika kau telah meninggal dan ternyata adalah kekasihmu itu. Bagaimana hancurnya seorang ayah ketika melihat anaknya pergi sebelum dirinya, seharusnya kau bisa melihatnya." Putri saat ini sedikit bisa bernapas lega karena merasa jika pria itu sudah bisa diajak berbicara dengan.


Masih terus mendengarkan penjelasan dari Putri sambil menatap ke arah wanita yang dianggapnya sedang memberikan cambuk semangat untuknya agar tidak putus asa dan mau berjuang setelah mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi.


Ia sebenarnya menyadari niat wanita itu yang ingin menyadarkannya, tapi sengaja melakukannya dengan cara yang tidak biasa. Apalagi ia sama sekali tidak bisa diajak berbicara secara lembut.


"Lalu?" Aldiano kini ingin mengetahui bagaimana kelanjutan setelah ia ternyata masih hidup.


Sebenarnya Putri sangat kesal karena hanya satu patah kata yang lolos dari bibir Aldiano ketika bertanya. Namun, ia bersabar karena memang pada kenyataannya pria itu sedang berada dalam fase yang benar-benar terpuruk dan ia harus memakluminya.


"Setelah Papa merasa sangat bahagia jika putranya telah selamat, hal pertama yang dilakukannya adalah menyingkirkan menantunya." Ia sengaja mengatakan kalimat ambigu yang membuat pria itu mau bertanya dan tidak hanya berbicara satu patah kata.


Saat ini, Aldiano makin penasaran dengan apa yang dimaksud oleh wanita yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya sambil membawa botol air mineral.


"Membuangmu? Apa alasannya? Bukankah selama ini papa yang mempertahankanmu menjadi menantu di keluarga Priambodo?" Ia seketika mengambil air mineral yang ditawarkan oleh Putri.


"Minumlah dulu karena tenggorokanmu pasti sangat kering setelah berteriak-teriak." Putri bahkan tadi sudah membukakan penutup botolnya agar langsung memudahkan Aldiano yang mungkin sudah tidak punya daya untuk sekedar membukanya.


Kini, Aldiano air hingga tenggorokannya yang tadinya kering kini sudah perlahan basah dan rasa hausnya hilang dalam sekejap. Kemudian mengembalikan pada wanita yang kini sudah langsung menutup kembali botolnya dan menaruh di atas laci.


Seolah sudah tidak khawatir lagi jika botol itu dilemparkannya seperti beberapa saat lalu. Hingga ia yang sudah menunggu penjelasan dari Putri, kini melihat bibir wanita itu terbuka dan membuatnya memasang indra pendengaran lebar-lebar.


"Papa ingin mengurus perceraian karena tidak mau memaksamu lagi untuk hidup denganku. Papa berencana hanya hidup berdua denganmu dan menyerahkan semua aset perusahaan padamu. Bahkan mungkin sudah menghubungi pengacara untuk mengubah surat wasiat."


"Tadi juga mengatakan jika akan membiayai Xander meskipun sudah tidak menjadi bagian keluarga Priambodo." Ia kini menunggu bagaimana respon pria itu ketika menggantung perkataannya karena ingin memancing rasa penasaran yang lebih dalam.


Hingga selama beberapa saat menunggu, pria itu tetap diam dan tidak bertanya apa keputusannya, sehingga akhirnya ia tidak lagi melanjutkan karena khawatir akan bertambah terpuruk.


Sekarang ia kembali ke setelan semula dengan berbicara formal seperti biasanya karena berpikir jika pria itu sudah tidak seperti beberapa saat lalu.


"Sekarang Anda memiliki semuanya, tapi dalam kondisi seperti ini. Jika Anda ingin mengubahnya, patuhi semua perintah dokter dan rajin melakukan terapi agar bisa kembali berjalan. Saat itu terjadi, Anda akan mengingat perjuangan berat untuk bisa kembali berjalan dan menjaga diri agar tidak mengalami hal yang sama."


Di saat bersamaan, pintu ruangan diketuk dari luar dan membuatnya sadar jika tadi belum membuka kuncinya. Refleks ia buru-buru berjalan menuju ke arah pintu dan membuka kuncinya.


Lalu, membuka pintu dan membiarkan perawat masuk ke dalam karena akan membawa sang suami untuk dilakukan pemeriksaan intensif demi memastikan jika kaki pria itu cacat.


"Apa pasien sudah siap, Nona?" tanya perawat yang saat ini baru saja melangkah masuk ke dalam dan menatap ke arah pasien hanya diam saja dengan menatap kosong ke arah dinding.


Putri yang saat ini merasa kebingungan untuk menjawab, terpaksa hanya menganggukkan kepala karena memang belum bertanya.


'Semoga tuan Aldiano sudah tidak marah-marah lagi karena terpuruk, agar memudahkan proses pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter,' gumamnya melihat dua perawat tersebut hendak membawa brankar sang suami.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2