Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Rencana esok hari


__ADS_3

Noah yang beberapa saat lalu berniat untuk kembali beristirahat dan melupakan apa yang terjadi hari ini. Namun, sudah satu jam ia melakukannya, tetap tidak bisa, sehingga memilih untuk bangkit dari posisi.


Ia yang terdiam membisu di ruangan kamar sendirian, tidak bisa melupakan kejadian yang terjadi hari ini bersama dengan sang pengacara.


Noah kini menyentuh tepi bibirnya dan membuat ia seperti masih merasakan ciuman wanita yang murka padanya.


"Sial! Aku tidak bisa melupakan ciuman wanita itu." Ia mengacak frustasi rambutnya dan memilih untuk mencuci muka di kamar mandi.


Berharap bisa sedikit mengurangi perasaan yang membuncah dan gelisah karena memikirkan sosok wanita yang membuatnya tidak bisa melupakan ciuman tadi.


Namun, meskipun ia melakukannya, tetap tidak bisa dan membuatnya lupa dan memutuskan untuk meraih ponsel miliknya di atas nakas. Kemudian mengirimkan pesan pada wanita yang berhasil membuat hidupnya tidak tenang.


Kini, jari dengan buku-buku kuatnya telah merangkai kata untuk mengungkapkan apa yang dirasakan pada Amira Tan. Ia tidak mempunyai nyali untuk menelpon, jadi hanya mengirimkan pesan.


Aku tidak bisa tidur karena perbuatanmu tadi yang menciumku. Kamu harus bertanggungjawab padaku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Sepertinya kita harus bertemu untuk membahas kesalahan yang tadi.


Mungkin terkesan kasar saat ia mengirimkan pesan itu. Namun, yang saat ini terjadi adalah mengatakan hal sebenarnya karena selalu to the poin, tanpa menyembunyikan apa yang dirasakan.


Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah mengirimkan pesan tersebut dan menunggu balasan.


Namun, meskipun pesan sudah dibaca, tetap tidak juga menerima balasan dan membuatnya merasa sangat kesal sekaligus kecewa.


"Apa yang sebenarnya sedang dilakukan wanita itu? Tadi langsung dibaca pesanku, tapi kenapa tidak dijawab juga?"


Merasa penasaran dan kesal karena tidak kunjung mendapatkan balasan, akhirnya ia memilih untuk menghubungi nomor Amira Tan. Namun, ia kembali merasa kecewa karena tidak aktif.

__ADS_1


"Apa wanita itu menonaktifkan ponsel setelah membaca pesanku?" Noah yang semakin bertambah kesal, kini turun dari ranjang dan mencari sesuatu.


Ia membuka laci di dekat tempat tidur untuk mencari kartu nama sang pengacara karena ingin mengetahui alamat wanita itu.


"Jadi, kamu memilih menghindar dariku, setelah membuatku gelisah tidak menentu seperti ini? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi karena kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kembalikan hidupku yang tenang seperti saat belum bertemu denganmu."


Puas mengumpat untuk meluapkan kekesalan, sudut bibir Noah melengkung ke atas begitu menemukan apa yang dicari.


"Untung aku tidak membuang ini." Noah kini sudah memegang kartu nama wanita yang berprofesi sebagai pengacara itu.


Ia tidak berkedip saat menatap kartu nama dengan warna biru dan tulisan emas itu. Tentu saja satu hal yang ia cari adalah alamat kantor sang pengacara karena ingin datang menemui besok pagi.


"Aku tidak tahu alamat rumah Amira Tan, jadi terpaksa harus menemuinya besok di kantornya. Lebih baik sekarang aku tidur, agar besok pagi bangun lebih fresh dan sehat. Apalagi tadi sudah minum obat."


Noah kini menyimpan kartu nama yang hampir ia buang itu ke dalam tong sampah. Hingga ia pun kini kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tidak sabar malam itu berganti pagi, agar bisa segera bertemu dengan wanita yang membuat perasaan tak menentu.


***


Sementara itu di tempat berbeda, sosok wanita yang baru saja turun dari motor, yaitu Amira Tan, kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu utama dan langsung menuju ke kamar.


Setelah ia makan malam dengan Jack di tempat favoritnya, kini merasa sangat marah saat mengingat pesan dari sang bartender. Ia yang sudah berada di dalam kamar, terlihat berkacak pinggang dan tertawa terbahak-bahak.


"Dasar pria gila! Apa ia bilang tadi? Menyuruhku untuk bertanggungjawab padanya? Memangnya aku memperkosanya, apa?"


"Sepertinya memang benar jika pria itu adalah seorang pria tidak normal karena bisa berbicara seperti itu. Jika sekarang ia ada di hadapanku, mungkin sudah meninju wajah dan perutnya."

__ADS_1


Amira Tan yang saat ini merasa sangat kesal sekaligus marah karena mengingat pesan yang dikirimkan oleh sang bartender, membuat ia tidak bisa tenang dan ingin sekali menghajar pria itu.


"Bahkan aku tadi hanya berniat untuk membantu, tapi ia melakukan hal lain dan hampir saja kehilangan harga diriku sebagai seorang wanita suci. Ia malah menyuruhku untuk mengembalikan ketenangan hidupnya?"


"Memangnya ia pikir aku bisa hidup tenang, apa?" Amira Tan sangat kesal dan membuatnya kali ini tidak bisa lagi mentolerir ulah pria itu.


"Apalagi tadi adalah pertama kali aku berbuat intim dengan seorang pria. Selama ini aku selalu menjaga diri, agar menyerahkan semuanya pada pria yang akan menikahiku nanti "


"Meskipun aku tidak yakin, apakah bisa menikah atau tidak, tapi paling tidak, menyerahkan kesucian pada seorang suami adalah hal yang harus dilakukan dan patut dibanggakan. Namun, siapa yang mau denganku? Bahkan pria yang kucintai saja tidak melirikku sama sekali."


Amira Tan saat ini menatap ke arah langit-langit kamar dan tengah mempertimbangkan sesuatu. "Apa aku harus menemuinya besok di tempat kerjanya?"


Namun, ia memilih untuk menggelengkan kepala karena sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menemui sang bartender dan melupakan pernah mengenal pria yang selalu berhasil menyulut api amarahnya.


Hingga ia pun kini memutuskan untuk tidak membalas atau pun memperdulikan Noah. "Lupakan pria berengsek itu. Ya, itu akan jauh lebih baik daripada tetap memikirkan hal yang sama sekali tidak penting dalam hidup."


Setelah ia memutuskan apa yang harus dilakukan, kini memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan otak. Tanpa menyalakan ponsel karena malam ini tidak ingin ada yang mengganggu ketenangan.


"Besok saja aku nyalakan ponselku. Malam ini, aku ingin tidur nyenyak dan tidak ingin ada yang mengganggu ketenanganku. Rasanya sangat lelah, seolah tubuh dan otakku terlalu diforsir."


Tanpa memperdulikan bahwa setelah makan tidak baik langsung tidur, ia kini sudah terlelap dalam alam mimpi karena perut yang kenyang membuatnya cepat kehilangan alam nyata.


Hingga ia pun masuk dalam alam bawah sadar dan ruangan kamar mewah berukuran luas yang dipenuhi oleh berbagai macam furniture mahal dan mewah itu dihiasi suara napas teratur.


Dua insan yang larut dalam mimpi tersebut tidak menyadari bahwa ada benang takdir yang akan membuat mereka selalu bertemu dan tidak bisa menghindar.

__ADS_1


Hingga tidak ada yang bisa melawan takdir karena telah ditetapkan oleh Sang Penguasa yang menciptakan alam semesta.


To be continued...


__ADS_2