Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Seorang tamu


__ADS_3

"Mama akan selalu menjaga dan menemanimu, Putraku. Sadarlah dari tidurmu. Aku yakin saat ini bisa mendengar suaraku, Sayang.


Suara Rani mendadak tercekat di tenggorokan saat menatap wajah pucat Arya. Tangannya mengusap bulir bening yang lolos tanpa izin dan sudah membasahi pipi.


"Lihatlah, Mama kini sudah berubah sangat cengeng. Tidak segarang yang dulu. Jadi, cepatlah sadar, Putraku." Rani sudah tidak kuat lagi untuk menahan lebih lama, sehingga tangisnya seketika pecah saat menundukkan kepala di samping Arya yang bagaikan mayat hidup itu.


"Bangunlah, Sayang. Mama tidak sanggup jika harus melihatmu seperti ini." Tubuh Rani seketika bergetar saat terisak dengan banyaknya air mata yang sudah membasahi tangan dengan buku-buku kuat itu.


"Sadarlah, Sayang. Jangan kejam padaku. Mama tidak sanggup melihatmu koma. Apa kamu ingin membalas dendam pada Mama karena dulu mengalami koma?"


Sementara itu, Ari Mahesa yang merasa khawatir jika sang istri malah semakin bersedih di dalam ruangan ketika menemani Arya, memilih untuk langsung berjalan masuk ke dalam ruangan perawatan.


Tentu saja ingin memeriksa keadaan dari sang istri. Apakah masih baik-baik saja. Benar saja apa yang dikhawatirkan, jika saat ini wanita itu sudah menundukkan kepala sambil menangis tersedu-sedu.


Refleks Ari Mahesa menghampiri sang istri dan beberapa kali mengusap lembut punggung itu.


"Sudah, Sayang. Jangan bebani Arya dengan suara tangisanmu yang menyayat hati. Kita harus kuat demi putra kita."


Untuk beberapa saat, Rani masih terdiam di tempatnya dan sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Karena masih berusaha untuk menenangkan diri. Hingga beberapa saat kemudian, hatinya sudah sedikit tenang.


"Aku sedang berpikir."


"Berpikir apa?" Ari Mahesa kini mengajak sang istri berpindah tempat, yaitu di sofa yang ada pada bagian sudut kanan.


Rani yang berbicara sambil berjalan bersama sang suami dan kemudian mendaratkan tubuh di sofa. "Aku dulu koma dan bukankah kalian juga sangat bersedih seperti ini? Mungkin saja Arya ingin aku mengalami hal sama, lalu akan sadar nanti."

__ADS_1


"Mungkin memang seperti itu karena Arya marah saat kau sering mengomel. Bahkan juga ingin memberikan aku sebuah hukuman saat dulu pernah mengusir tanpa memperbolehkan membawa apapun." Ari Mahesa kali ini menyadari kesalahan yang selalu memaksakan kehendak.


Bahkan saat tadi menunggu di depan ruangan operasi, berpikir tentang Putri. Ingin menemui wanita itu agar menjadi penyemangat Arya, sehingga bisa segera sadar.


Namun, masih mempertimbangkan karena tidak enak pada Calista dan keluarga. Ari Mahesa berpikir jika tidak ada kabar dari mereka, akan memutuskan hubungan yang bisa dibilang belum dimulai.


Memang belum menceritakan pada sang istri karena ingin melihat juga perkembangan Arya sampai beberapa hari. Apalagi berpikir jika wanita itu masih sangat terpukul.


'Mungkin akan lebih baik menunggu sampai perasaan istriku lebih baik. Baru aku akan mengungkapkan ide ini pada istri,' gumam Ari Mahesa yang kini mendengar suara dari wanita yang ada di sebelah kiri.


"Semua telah berlalu, tetapi menyisakan memori tak terlupakan. Aku akan melakukan apapun untuk membuat Arya sembuh karena setelah melihat putraku terbaring lemah tidak sadarkan diri seperti itu, tidak ada lagi yang kuinginkan selain kesembuhan."


Saat ini, Rani merasa seperti mendapatkan sebuah kenyataan pahit setelah melihat satu-satunya dunia yang dimiliki hampir hancur tanpa tersisa jika sampai Arya pergi.


Seolah Tuhan langsung menunjukkan kuasa jika kesombongan yang dimiliki seorang manusia tidak akan pernah kekal karena akan hancur hanya dalam sekejap saat pencipta alam semesta berkehendak.


Ari Mahesa hanya mengangguk perlahan karena memang saat ini tidak ada yang dipikirkan selain kesembuhan dari Arya.


"Semoga Arya bisa segera sadar. Terbebas dari koma dan masa kritis," ucap Ari Mahesa yang saat ini memeluk erat tubuh sang istri.


Rani kini mengingat sesuatu dan langsung menanyakan pada sang suami. "Apakah pesan kita belum dibalas oleh Calista? Coba periksa!"


Saat dari tadi memang tidak berpikir untuk membuka ponsel karena memikirkan keadaan Arya, kini Ari Mahesa ingin mencari tahu mengenai jawaban atas pertanyaan sang istri mengenai sosok wanita yang dipilih untuk menjadi istri putranya.


Begitu memeriksa pesan masuk, satu hal yang ingin dibaca terlebih dahulu, yaitu dari Calista. Namun, wajah Ari Mahesa seketika berubah begitu sama sekali tidak ada jawaban. Padahal pesan telah dibaca.

__ADS_1


"Sepertinya Chalisa tidak ingin lagi berhubungan dengan Arya karena tidak perduli dengan pesan yang tadi kukirimkan.


Rani kini menatap ke arah wajah murung sang suami. Ada rasa bersalah yang saat ini tengah terpatri di dalam hati. 'Aku dari dulu sangat menginginkan Calista yang terlihat sempurna itu menjadi menantu dan berpikir akan sangat bahagia.'


'Apalagi semua yang dimiliki oleh Calista terlihat sangat sempurna karena seolah memiliki paket komplit.'


Kemudian semua hal yang dulu dipuji oleh Rani, seolah lenyap begitu hari ini sama sekali tidak memperdulikan keadaan Arya yang baru saja mengalami kecelakaan.


"Apakah keluarga Calista marah pada kita karena membatalkan acara lamaran hari ini? Jika setelah mengetahui bahwa Arya mengalami kecelakaan, tetapi masih tidak bisa memaklumi, itu menandakan jika keluarga mereka benar-benar tidak punya hati." Rani yang tadi merasa sedih, langsung berubah marah begitu berpikiran buruk pada keluarga Calista.


Sementara Ari Mahesa yang masih mencoba untuk bersikap tenang, kini hanya mengendikkan bahu karena merasa bingung harus berkata apa.


Seolah pikiran pria itu saat ini masih tumpul karena hanya memikirkan satu hal saat ini, yaitu Arya sadar dari koma. Tidak ada hal lain selain itu.


"Sepertinya kita fokus saja pada kesembuhan Arya. Aku ingin berbicara dengan dokter. Jika memungkinkan bisa dibawa ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan dari rumah sakit terbaik, sebaiknya segera melakukan itu."


"Aku setuju saja karena itu adalah demi kesembuhan putra kita. Aku akan selalu ikuti untuk bisa merawat Arya nanti." Rani baru saja menutup mulut dan mendengar suara pintu terbuka.


Mereka merasa sangat terkejut dengan seseorang yang berjalan masuk sebelum dipersilakan.


"Tuan Ari, ada yang ingin bertemu ...." Putra Wijaya kali ini ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.


Namun, tidak jadi karena seorang wanita sudah berada di sebelah kiri. Padahal tadi menyuruh untuk menunggu di luar. Mungkin sebentar lagi akan mendapatkan nada protes karena gagal menyuruh menunggu di depan ruangan perawatan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2