
Beberapa saat lalu, Jack datang ke rumah Amira Tan karena ingin mengajak wanita yang selama ini sangat ia cintai tersebut untuk makan malam romantis. Ia ingin menebus kesalahan karena menghajar sang bartender dan membuat Amira Tan marah dan kesal padanya.
Namun, ia merasa sangat penasaran karena orang tua Amira Tan mengatakan jika wanita itu tidak ada di rumah. Bahwa Amira Tan sampai sekarang belum pulang kerja dan membuatnya penasaran.
'Di mana ia sekarang? Apa masih bekerja lembur di kantor?'
Berbagai macam pertanyaan yang saat ini menari di otak Jack karena bertanya-tanya tentang keberadaan dari sahabatnya. Akhirnya ia memilih untuk berpamitan pada orang tua wanita yang sangat ia khawatirkan tersebut dan berencana memeriksa ke kantor.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, Jack kembali merasa kecewa karena kantor yang menjadi tempat kerja Amira Tan sudah gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana dan menegaskan bahwa saat ini semua bekerja sudah kembali ke rumah masing-masing.
Hingga pikiran buruk kini menguasai Jack karena berpikir bahwa wanita yang saat ini sedang dicari mungkin berada di tempat tinggal pria yang menjadi saingannya.
Tanpa berpikir lebih jauh, Jack memilih untuk melajukan mobil menuju ke arah alamat dari pria yang bekerja di Club malam tersebut.
Bahkan terlihat berkali-kali ia mengempaskan tangan pada kemudi ketika pemikirannya sudah dikuasai oleh hal buruk. Membayangkan jika Amira Tan saat ini bertemu dengan pria yang merupakan saingannya, pastinya membuat perasaannya tidak menentu.
"Belum sempat aku menyingkirkan pria bernama Bagus yang menjadi sainganku. Kenapa harus muncul sang bartender? Seharusnya aku tidak hanya membuat wajahnya babak belur kemarin, tapi menghabisinya agar enyah dari muka bumi ini."
"Jadi, Amira Tan tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi yang menjadi sainganku."
Jack bisa saja menghubungi nomor telpon Amira Tan, tetapi tidak melakukannya karena saat ini masih merasa ragu dan berharap jika pemikiran buruknya tidak terjadi.
Bahwa Amira Tan tidak berada di rumah pria yang merupakan saingannya tersebut.
"Semoga Amira Tan tidak berada di sana!" ucap Jack yang saat ini memilih untuk berpikir positif dan membuang pemikiran buruk di otaknya.
__ADS_1
Jack melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi karena ingin segera tiba di rumah pria yang ingin segera dihabisinya jika sampai ada Amira Tan di sana.
Hingga ia tidak memperdulikan bahwa mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata bisa membuatnya mengalami kecelakaan. Seolah satu-satunya hal yang dipikirkan hanyalah wanita yang saat ini dikhawatirkan olehnya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dari setengah jam, Jack kembali dibuat murka begitu melihat mobil milik wanita yang dari tadi dicari dan dikhawatirkan olehnya ada di depan rumah pria yang bekerja sebagai bartender tersebut.
"Astaga, sial! Amira Tan benar-benar ada di rumah si berengsek itu." Jack semakin merasa marah dan murka karena melihat pintu rumah yang tertutup rapat.
"Kenapa pintunya tertutup saat ada Amira di dalam rumah? Lalu, apa yang mereka berdua lakukan di dalam sana?"
Jack saat ini sudah dipenuhi pemikiran negatif, tetapi berusaha untuk menolaknya dengan cara menggelengkan kepala berkali-kali.
"Tidak! Amira Tan bukanlah seorang wanita seperti itu. Ia bahkan tidak pernah dekat dengan seorang pria. Bahkan aku yang jauh lebih tampan dari bajingan itu saja tidak bisa mendapatkannya. Mana mungkin sekarang wanita yang kucintai menyerahkan diri pada pria yang baru saja ditemui beberapa hari ini."
"Dasar bodoh! Kenapa aku membuang waktu dan tidak langsung mengecek sendiri apa yang dilakukan oleh Amira Tan dan si bartender berengsek itu?"
Tentu saja langsung berteriak dan menggedor pintu, tanpa memperdulikan beberapa orang yang melintas di sekitar area rumah tersebut karena suara teriakannya berhasil memecahkan keheningan.
"Amira Tan, apa kamu berada di dalam? Cepat buka pintunya!"
'Mereka berdua tidak sedang bercinta di dalam rumah, kan? Sial! Kenapa aku bisa berpikiran seperti ini pada Amira Tan?'
Saat Jack sibuk dengan pemikiran buruk mengenai wanita yang sangat dicintai berbuat hal negatif dengan sang bartender, di sisi lain, yaitu dalam kamar, Amira Tan mengarahkan tatapan tajam pada pria di atas ranjang yang terdiam membisu.
"Aku sangat menyesal datang ke sini karena mengkhawatirkan keadaanmu. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah memperdulikan apapun yang berhubungan dengan pria berengsek sepertimu."
__ADS_1
Beberapa saat lalu, Amira Tan berjenggit kaget atas teriakan dari Jack, sehingga ia sangat khawatir jika pria itu kembali membuat kehebohan dengan berkelahi.
Ia tahu akan terjadi perang dunia jika sampai Jack dan Noah saling berhadapan. Tanpa membuang waktu, Amira Tan memilih untuk segera keluar dari ruangan pribadi pria yang tadi sudah berhasil mengirimkan gelombang gairah dan membuat hasratnya membakar diri hingga memanas setiap urat sarafnya.
'Aku sekarang sudah tidak mempunyai muka di hadapan Noah. Seperti ingin menenggelamkan diri ke dasar samudra paling dalam agar tidak bisa bertemu dengan pria itu lagi.'
Sementara itu, Noah masih terdiam dengan duduk di atas ranjang. "Kenapa aku bisa berubah sebodoh ini karena tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan?"
"Bagaimana mungkin aku bisa berpikir jika kegiatan intim yang kami lakukan tadi adalah berada di alam mimpi? Harusnya aku menyadari bahwa semuanya sangat nyata. Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Noah saat ini merasa sangat bersalah dan tidak bisa melakukan apapun lagi, sehingga memilih hanya diam di dalam kamar.
Ia menyadari bahwa saat ini terlihat seperti seorang pengecut karena tidak berani keluar untuk menemui pria yang kemarin membuatnya babak belur hingga demam seperti ini.
'Semua ini terjadi karena si berengsek itu. Aku hari ini bisa demam karena perbuatan pria yang telah menghajarku hingga seperti ini. Apa yang harus kulakukan sekarang?'
Saat Noah sibuk dengan pemikirannya sendiri, berbeda dengan yang terjadi di ruang depan saat Amira Tan membuka pintu.
"Jack?"
"Di mana bajingan itu? Kenapa bukan ia yang membuka pintu? Lalu, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa berada di dalam rumah seorang pria?" Jack saat ini mengarahkan tatapan tajam pada sosok wanita yang membuatnya berpikir jika di dalam rumah tadi terjadi hal-hal yang membuatnya merasa seperti dibakar oleh angkara murka.
Sedangkan Amira Tan merasa seperti lidah terasa kelu dan suaranya tercekat di tenggorokan karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sosok pria dengan tatapan tajam tersebut.
'Apa yang harus kukatakan pada Jack? Tidak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya, bukan?'
__ADS_1
To be continued...