
Merasa jika senasib dengan Jack, Noah seperti ingin berteman dengan pria itu, tetapi tahu jika itu tidak mungkin terjadi karena yang terjadi adalah hanya kebencian di antara mereka.
Noah sengaja tidak membawa ponsel karena berpikir jika Amira Tan akan menghubunginya. Menyusuri jalanan tempat tinggal dan keluar dari gang menuju jalan besar karena di sana masih ada beberapa pedagang kaki lima yang khusus buka sampai jam lima pagi.
Apalagi selama ini selalu menjadi tempat makan langganan Noah ketika pulang kerja dari Club saat pulang pagi buta.
"Kopi hitam satu," pesan Noah yang kini baru saja mendaratkan tubuh di bangku kaya dan mengambil satu makanan, lalu langsung memasukkan ke dalam mulut.
"Sudah beberapa hari ini tidak ke sini. Aku pikir kau tidak akan datang lagi." Pria yang sedang duduk menatap ponsel itu seketika berdiri dan membuatkan pesanan.
Noah yang saat ini tengah mengunyah makanan, hanya tersenyum dan menyelesaikan sampai menelan. "Aku sudah makan di tempat kerja. Jadi, jarang ke sini!"
Ingin memuaskan diri untuk menikmati apapun sesuka hati, tanpa memikirkan berhemat untuk biaya menikah, Noah sudah mengambil beraneka ragam makanan di piring.
Kemudian menikmati menu makanan sambil mengobrol bersama dengan pria yang seumuran tersebut, tetapi tidak merasa malu saat menjadi pedagang.
Apalagi menjadi seorang pedagang dibutuhkan nyali dan mental kuat karena tidak sembarangan orang bisa sabar menunggu pembeli yang pastinya terkadang ramai dan sepi.
Sebuah hal yang terkadang membuat orang merasa down adalah ketika dagangan yang dijual tidak laku sama sekali. Jika itu makanan, sudah bisa dipastikan akan mengalami kerugian.
Apalagi setiap hari, modal harus berputar untuk digunakan berbelanja lagi. Jika sering tidak laku, sudah bisa dipastikan akan mengalami kebangkrutan. Hal itulah yang membuatnya merasa salut pada pria itu.
Pria yang baru saja membuat kopi itu kini meletakkan ke hadapan Noah. "Apa kamu sedang dekat dengan wanita? Beberapa orang mengatakan ada wanita yang sering keluar masuk rumahmu. Apakah itu adalah kekasihmu?"
Noah tiba-tiba tersedak makanan yang dikunyah dan langsung menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu langsung meneguknya. Pertanyaan yang kembali membuat hati tidak tenang berhasil membuat Noah semakin bertambah kesal saja.
Apalagi tujuan datang ke sana adalah ingin sejenak melupakan Amira Tan, tetapi seolah tidak bisa diizinkan saat pria itu kembali mengungkit.
"Sepertinya benar." Tersenyum simpul dan kembali mendaratkan tubuh pada bangku kecil. "Bahkan kamu langsung gugup saat ini hanya karena ditanya tentang hal itu. Tenang saja, aku tidak akan pernah merebut kekasihmu. Sepertinya kau tidak bercerita karena takut."
__ADS_1
Embusan napas kasar jelas sekali membuktikan dan mewakili perasaan Noah yang kacau balau karena ulah Amira Tan. "Aku sama sekali tidak pernah ada hubungan dengan wanita itu."
"Ada masalah pekerjaan yang membuat kami sering bertemu. Karena kamu membahas ini, sepertinya aku butuh bantuanmu." Noah kembali mengunyah makanan sampai halus dan menelan ke tenggorokan.
"Bantuan apa?" Saat baru menutup mulut, pria tersebut mendengar suara notifikasi dan membaca pesan dari seseorang yang merupakan tetangga Noah.
Apa Noah ada di situ? Jika ada, suruh pulang cepat karena ada hal buruk terjadi di rumah. Kekasih Noah membuat keributan dan sekarang banyak orang datang ke sana.
Kemudian menatap ke arah Noah dan mengatakan sesuatu, "Cepat pulang!"
Berbeda dengan yang terjadi pada Noah dan tidak berniat untuk beranjak dari tempat duduk karena merasa sangat nyaman. "Kenapa kau mengusirku? Aku belum selesai makan. Memangnya kau tidak butuh uang?"
"Astaga! Ada hal yang lebih penting dari uang! Itu, sepertinya terjadi sesuatu pada kekasihmu. Bisa-bisanya kau meninggalkan seorang wanita di rumah sendirian. Apa kekasihmu tidak ketakutan?"
Noah mendadak mengingat sesuatu dan segera bangkit berdiri. "Astaga, aku lupa!" Tanpa membuang waktu, Noah mengambil sesuatu dari saku celana dan memberikan pada pria itu.
"Apa yang akan dilakukan Amira Tan ketika di rumah sendiri? Sepertinya ada tetangga yang mengetahui dan mengatakan pada Fredly."
Masih sibuk memikirkan apa yang terjadi pada Amira Tan, beberapa saat kemudian ia melihat beberapa warga berkerumun di depan pintu rumah.
Begitu berlari mendekat, ia merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi hingga para tetangga sekitar berkerumun. "Apa yang terjadi?"
Seorang wanita dengan seragam kebesaran rumah itu mewakili yang lain, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Aku tadi sedang ke kamar mandi dan mendengar suara teriakan wanita dan begitu memekakkan telinga. Ternyata dari rumahmu. Saat menyuruh untuk membuka pintu, tidak dijawab sampai sekarang."
Tidak ingin membuang waktu, Noah kini sudah membuka pintu setelah mengambil kunci dari saku celana. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dan menyadari jika tadi lampu ruang tamu menyala.
Jadi, lupa jika Amira Tan takut pada cerita bohong tadi.
__ADS_1
"Amira Tan!" Noah berteriak untuk memanggil dan berpikir jika sesuatu terjadi di dalam kamar. Jadi, langsung memeriksa.
Sementara itu, beberapa orang menunggu di depan karena tidak ingin masuk ke kamar. Khawatir jika ada hal-hal yang tidak boleh dilihat, memilih untuk menunggu.
"Amira Tan, apa yang terjadi padamu?" Noah membulatkan mata begitu melihat Amira Tan tergolek lemah di atas ranjang dengan posisi kedua mata tertutup.
Ingin memastikan sesuatu, Noah sudah menghambur dan beberapa kali menepuk pipi putih pucat itu. "Amira Tan, bangunlah!"
Di saat bersamaan, sangat terkejut karena tiba-tiba mati lampu. "Kenapa kamar ini mati juga, ya?"
Ia kini bisa menebak apa yang terjadi. Memilih untuk segera mengangkat tubuh Amira Tan dan membawa keluar.
'Pasti karena lampu kamar mati, jadi Amira berteriak karena ketakutan. Kemudian pingsan di ranjang ini.'
'Nasib baik pingsan di ranjang dan kepala tidak terbentur lantai. Jika sampai terluka serius, aku tidak akan pernah memaafkan diri sendiri.'
"Tolong minggir!"
Tanpa memperdulikan berbagai macam pertanyaan yang didapatkan dari para tetangga, Noah memilih untuk segera membawa Amira Tan ke tempat perawatan terdekat menggunakan mobil wanita itu.
Dengan susah payah ia menurunkan tubuh Amira Tan di kursi belakang dengan bantuan beberapa warga.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit saja karena dekat, mobil yang dikemudikan oleh Noah telah tiba dan langsung meminta bantuan perawat.
Saat berjalan mendorong brankar Amira Tan, mendengar suara dari seseorang dan akhirnya menoleh
"Amira Tan? Apa yang terjadi padanya?"
To be continued...
__ADS_1