
Amira Tan yang awalnya tersenyum simpul, seketika berwajah masam begitu mendengar kalimat terakhir dari Bagus yang seolah tidak bisa mengerti bahwa ia saat ini sedang merindukan.
"Apakah harus ada sesuatu yang perlu disampaikan saat aku menghubungimu?"
Hening untuk beberapa saat karena Bagus yang berada di seberang telepon sangat kebingungan ketika mendapatkan pertanyaan skak mat dari wanita yang diketahui memiliki perasaan padanya.
"Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja, aku tahu kalau kamu saat ini sedang sibuk. Jadi, berpikir kamu menghubungiku karena ada yang ingin dibicarakan. Jadi, kamu menelpon untuk mengatakan sesuatu."
"Sebenarnya aku tidak perlu mengatakan sesuatu yang kamu maksud itu karena tanpa memberitahunya sudah diketahui olehmu, bukan?" Amira Tan sengaja mengungkapkan kalimat ambigu, tetapi mengerti bahwa saat ini pria di seberang telpon bisa memahami apa yang ia katakan.
Benar saja, jawaban dari seberang telpon tersebut kembali membuatnya kesal dan menampilkan bibir mengerucut.
"Sudah aku katakan bahwa aku tidak bisa menerima cintamu, Kakak ipar. Kamu tidak sepadan denganku dan kita bagaikan bumi dengan langit. Aku akan sangat sulit menggapaimu karena kamu terlalu berharga untukku."
Kata-kata penolakan dari pria yang sangat dicintai, malah membuat perasaan Amira Tan saat ini berbunga-bunga. Bagaimana tidak, kalimat terakhir dari Bagus membuatnya merasa seperti seorang wanita yang sangat sempurna di mata pria itu.
"Kamu menolakku dengan kata-kata manis seperti itu. Rasanya saat ini aku ingin menarik rambutmu hingga lepas dari kulit kepala karena membuatku semakin tidak bisa melupakanmu. Kenapa kamu mengatakan kalimat semanis itu? Apa kamu ingin membuatku terikat rantai cinta yang kurasakan untukmu?"
"Sekarang kamu ada di mana? Aku ingin menemuimu sekarang untuk bisa membalas dendam karena saat ini aku sedang marah padamu."
"Aku saat ini sedang berada di rumah sakit karena Putri sakit, sedangkan Arya terlalu sibuk dan tidak memeriksakan ke dokter."
Begitu mengetahui keberadaan dari pria yang dicintai, Amira Tan semakin bertambah marah dan membuatnya langsung mematikan sambungan telpon sepihak.
Bahkan ia berniat untuk membanting benda pipih yang masih berada di tangannya tersebut ke lantai. Namun, di saat bersamaan, ia mendengar suara pintu yang diketuk dan beberapa saat kemudian, melihat salah satu pegawai masuk ke dalam ruangannya.
Amira Tan reflek menurunkan tangan yang tadinya menggantung di udara untuk melempar ponsel. "Ada apa?"
"Ada seseorang yang mencari Anda, Nona Amira Tan," ucap seorang pria berbadan tinggi besar yang memakai setelan berwarna hitam putih tersebut.
Amira Tan yang merasa tidak mempunyai janji dengan siapapun, mengerutkan kening dan memilih untuk tidak ingin bertanya karena saat ini pikirannya sedang buntu dan sangat kesal dengan apa yang baru saja didengar dari pria yang dicintai.
__ADS_1
"Suruh masuk saja." Amira Tan mengibaskan tangan dan merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena murka beberapa saat lalu.
Kemudian pria yang saat ini menganggukkan kepala dan berbalik badan untuk berjalan ke pintu keluar, mengerutkan kening karena merasa bahwa sikap bosnya tersebut berbeda dari biasanya.
Itu semua karena tidak bertanya tentang siapa yang datang. "Kenapa bos tidak bertanya siapa yang datang? Apa ia pikir adalah klien baru yang ingin menemuinya?"
Ia pun berjalan menemui sosok pria yang masih menunggu di lobby. "Anda bisa masuk sekarang karena nona Amira Tan sudah mengizinkan. Mari, biar saya antarkan ke ruangan."
Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Noah, kini merasa sangat lega karena Amira Tan mau menemuinya. Sebenarnya ia tadi iseng untuk mengirimkan pesan ke nomor sang pengacara karena memastikan apakah sudah aktif.
Hingga ia pun bisa melihat bahwa nomor dari anak kembali aktif. Meskipun tak kunjung membaca pesan darinya dan saat ia menelpon. Namun, ia masih sabar menunggu balasan, tetapi beberapa jam tidak kunjung mendapatkannya.
Jadi, Noah memilih untuk menghubungi wanita itu, tetapi yang terjadi adalah tidak bisa melakukannya karena ternyata sudah diblokir.
Ia yang memang berencana untuk menemui Amira Tan di kantor, segera berangkat dan tidak butuh waktu lama karena jarak cukup dekat.
Hingga ia pun bertanya pada salah satu pegawai pria untuk menemui sang pengacara hebat yang memiliki kantor sendiri tersebut. Sebenarnya ia merasa tidak pantas berada di sana, tapi berpikir harus menyelesaikan masalah di antara mereka.
"Silakan masuk, Tuan." Membukakan pintu dan memilih untuk menutupnya setelah pria yang berpenampilan berbeda dari para klien tersebut masuk.
Jika biasanya yang datang adalah orang-orang dengan memakai pakaian rapi, tetapi kali ini yang dilihatnya adalah pria dengan memakai kaos casual berwarna putih dan celana jeans sobek.
Padahal tadi ia ingin bertanya pada bosnya tentang siapa pihak yang hendak menemui wanita itu.
Akan tetapi, ia mengetahui bahwa perasaan bosnya tersebut sedang tidak baik karena terlihat dari aura wajah yang berbeda dan juga mengerucutkan bibir seolah sedang diliputi emosi.
'Sebenarnya siapa pria itu? Apakah ia adalah kekasih nona Amira Tan? Ini adalah pertama kali bos dikunjungi oleh seorang pria berpenampilan santai dan sudah dipastikan bukanlah klien yang ingin menggunakan jasa pengacara.'
Pria tersebut berbicara sambil berjalan menjauh dari ruangan bosnya dengan perasaan penuh dengan rasa penasaran.
Sedangkan hal berbeda terjadi di ruangan Amira Tan saat ini.
__ADS_1
Noah yang baru saja masuk ke dalam ruangan sang pengacara, bisa melihat sosok wanita yang duduk di kursi kebesaran dengan beberapa tumpukan berkas dan terlihat sangat elegan.
Ia melihat wanita itu masih menunduk menatap ke arah ponsel dan seketika mengangkat pandangan dan bersitatap dengannya.
Amira Tan yang tadi berniat untuk mengirimkan pesan pada Bagus karena ingin bertanya alamat rumah sakit tempat Putri dirawat. Begitu selesai, ia langsung menatap ke arah pria yang saat ini berdiri tak jauh dari hadapannya.
Refleks Amira Tan membulatkan mata dan merasa sangat terkejut atas kedatangan tiba-tiba dari pria yang dibenci dan tidak ingin ditemui olehnya.
Seketika ia bangkit dari posisinya dan mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang bekerja sebagai bartender tersebut. "Kau? Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang menyuruhmu masuk?"
"Apa maksudmu? Bukankah kau tadi menyuruh pegawaimu untuk mengantarkanku ke sini?" Noah memicingkan mata karena merasa aneh dengan sikap dari sosok wanita di hadapannya tersebut.
"Astaga!"
Amira Tan pun kini menyadari kesalahan. Ia memilih untuk meraih ponsel karena ingin menghubungi salah satu pegawai untuk mengusir pria di hadapannya tersebut.
"Jika aku tahu yang datang adalah kau, tidak akan pernah mengizinkan masuk." Begitu panggilan telpon tersambung, ia langsung membuka suara, "Kembali kemari dan bawa pergi tamu tidak diundang dari ruanganku sekarang juga!"
Bahkan Amira Tan sedikit berteriak karena merasa marah dan sekaligus ingin meluapkan kemurkaan hari ini karena suasana hati sedang tidak baik akibat perbuatan dua pria.
Salah satunya adalah pria yang berdiri di hadapannya saat ini. Hingga ia pun tidak bisa mengendalikan amarah begitu mendengar Noah berbicara mengejek padanya.
"Apakah sekarang kau berubah menjadi seorang wanita penakut ketika bertemu denganku? Mungkin saat ini sedang berpikir bahwa aku akan mengatakan pada semua orang tentang apa yang kita lakukan semalam di atas ranjang." Noah sengaja mengungkit hal yang terjadi semalam untuk menghentikan ulah anita yang berbuat seenaknya tersebut.
Hingga ia pun seketika bergerak secepat kilat ke arah kiri begitu melihat ponsel melayang ke wajahnya.
"Berengsek!" teriak Amira Tan yang kali ini sudah tidak bisa mengendalikan emosi dan melemparkan benda pipih yang masih berada di tangan.
Ia ingin membuat wajah pria yang sangat menyebalkan tersebut terkena lemparan benda pipih miliknya.
To be continued...
__ADS_1