Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menikahlah denganku


__ADS_3

Amira Tan yang mengerjapkan mata berkali-kali karena mendapatkan pertanyaan dari pria dengan iris tajam. Seolah berhasil mengulitinya karena ia merasa bingung harus menjawab apa.


Meskipun itu semua benar, tetapi harga dirinya terlalu tinggi karena tidak ingin mengakuinya. Amira Tan kini berakting tertawa terbahak-bahak menanggapi pertanyaan Jack.


Bahkan ia sudah berakting secara totalitas untuk membuat pria dengan tatapan tajam tersebut mempercayai kebohongannya.


"Apa kamu sudah gila? Bukankah kita berteman sudah sangat lama? Jadi, harusnya kamu mengetahui tidak mungkin melakukan hal konyol itu. Sepertinya pria itu masih mengigau dan belum sadar dari demam yang diderita, sehingga mengarang sebuah kebohongan padamu."


Amira Tan bahkan kini balik mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi karena ingin membuat Jack tidak berkutik. "Lalu, apa yang kamu lakukan di rumah pria itu? Apakah kamu meragukan perkataanku karena tidak mempercayai yang tadi kukatakan padamu?"


"Jadi, kamu kembali menemuinya dengan bertanya hal konyol?" Amira Tan memang sangat pandai berakting.


Meskipun ia hanyalah seorang pengacara, bukan artis, tetapi kemampuannya untuk membalik keadaan sudah tidak diragukan lagi.


Apalagi selama ini menghadapi banyak kasus di pengadilan yang membuatnya setiap hari harus berhadapan dengan para tersangka dan korban.


Belum lagi saat ekspresi dari mereka harus bisa ia mengerti, sehingga bisa melihat peluang dari celah kasus untuk memenangkan kasus yang ditangani. Jadi, sekarang ia melakukan hal sama, yaitu mempermainkan Jack yang terlihat seperti pelapor dan ia adalah tersangka.


Namun, ia tidak mau mengakui kesalahan karena hanya akan mempermalukan diri sendiri.


Sedangkan Jack yang tadinya sangat marah karena merasa cemburu dan patah hati setelah mendengar pengakuan sang bartender, seketika kebingungan dengan pertanyaan Amira Tan yang lebih mirip dengan serangan.


"Amira, kenapa kamu malah balik bertanya? Aku belum selesai dan tidak percaya dengan perkataanmu itu. Bukankah hal itu sangat wajar dilakukan oleh pria dan wanita yang berduaan di dalam kamar? Tidak mungkin kalian hanya saling berpandangan di ruangan tertutup ketika tidak ada orang lain."


Seharusnya Jack merasa lega atas perkataan Amira Tan, tetapi ia merasa jika wanita yang selalu bersikap arogan tersebut hanya sedang melindungi diri.


Apalagi ia selama ini mengenal Amira Tan yang tidak pernah dekat dengan pria manapun. Ia bahkan belum pernah berduaan di dalam ruangan kamar karena selalu bertemu di tempat kerja, rumah dan restoran.


Jadi, sangat kesal, marah dan cemburu karena wanita yang selama ini dipuja dengan mudah bersama sang bartender.

__ADS_1


Pria yang baru saja dikenal dan selalu berhasil membuatnya merasa marah dan cemburu itu ingin sekali dihabisinya, tetapi ia tidak melakukan itu karena lebih fokus pada Amira Tan.


Sosok wanita yang selalu berhasil mengintimidasi dan membuatnya tidak berkutik. Ya, Jack selalu kalah dari Amira Tan, baik itu di pengadilan maupun di dunia nyata.


Entah mengapa rasa cinta yang begitu besar pada wanita itu membuatnya menjadi bodoh. Bahkan ia mengorbankan banyak waktu, tenaga dan uang hanya demi wanita itu.


Saat ia kalah dari kasus yang ditangani jika berhadapan dengan Amira Tan, membuatnya tidak terkenal seperti wanita arogan itu karena diragukan kemampuan oleh para klien.


Jack selalu saja mengalah jika berhadapan dengan Amira Tan di pengadilan dan ia tahu itu sangatlah tidak profesional. Berpikir jika Amira Tan akan menyukainya jika ia mengorbankan diri dengan mengalah. Namun, realita tak seindah ekspektasi karena itu semua tidak terjadi.


Amira Tan tetap saja tidak melihat ketulusan yang ia miliki. Hingga ia merasakan nyeri pada lengannya ketika melihat Amira Tan meninju dengan kuat dan masih mengarahkan tatapan tajam padanya.


"Berengsek! Aku tidak sepertimu atau para wanita yang kamu kencani itu, Jack! Jadi, jangan berpikir kotor dengan menuduhku mencium pria yang baru saja kutemui beberapa hari." Amira Tan masih memasang wajah masam dan marah, agar Jack mempercayai kebohongannya.


Hingga ia tidak melihat jawaban dari Jack karena hanya terdiam mematung. Tentu saja hal itu dimanfaatkan olehnya untuk kembali berbicara dengan lebih meyakinkan.


"Awas saja, aku akan membuat pria itu menyesal karena berani mengarang sebuah kebohongan. Sial! Padahal aku berencana untuk tidak menemuinya lagi, tetapi terpaksa harus ke sana lagi untuk membalas dendam."


Sementara itu, Jack saat ini masih gundah gulana dan bingung karena kalimat terakhir Amira Tan seolah laksana sebuah angin segar di kala panas yang membakar tubuhnya.


'Jika ia tidak bertemu lagi dengan bartender sialan itu, besar kemungkinan tidak akan ada hubungan di antara mereka. Namun, sebaliknya, jika Amira Tan kembali menemui pria itu, akan ada ikatan emosi di antara mereka dan aku takut jika nanti mereka jatuh cinta.'


'Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu ternyata karena benci dan cinta itu beda tipis. Banyak orang berakhir mencintai seseorang yang dibenci.'


'Aku tidak ingin Amira Tan dan bartender itu saling jatuh cinta setelah sering bertemu dan bertengkar. Bahkan aku tidak bisa mencuri hati wanita ini.'


'Tidak akan kuizinkan pria lain mendapatkan Amira Tan karena masih berusaha dengan keras


untuk merebut hatinya,' gumam Jack yang kini memilih untuk segera membuka mulut setelah berbicara panjang lebar di dalam hati.

__ADS_1


Jack kini menahan pergelangan tangan kanan Amira Tan dan menatap dengan intens untuk menyelami kejujuran di iris kecoklatan wanita dengan paras cantik di hadapan.


Hingga ia bisa melihat ada ketidakjujuran di sana, tapi sialnya ia tidak bisa marah dan memilih untuk mempercayai semua penjelasan wanita yang berbohong padanya.


"Aku percaya pada semua perkataanmu. Jadi, kamu tidak perlu menemui pria itu lagi. Sudah cukup urusanmu dengan bartender sialan itu. Aku tidak ingin kamu selalu bertengkar dengan pria itu dan akhirnya jatuh cinta."


"Bukan itu yang kuinginkan dan kamu tahu jelas itu, kan? Aku pun tidak akan lagi membuat masalah dengan pria itu." Jack menghentikan perkataannya sejenak karena ingin melihat respon Amira Tan.


Namun, tidak ada komentar, sehingga ia memilih untuk melanjutkan. "Jadi, mulai hari ini aku berjanji, tidak akan pernah menemui atau membuat masalah dengan bartender itu."


"Begitu juga denganmu, oke! Masalah tidak penting ini lebih baik dibuang dan dilupakan. Anggap aku tidak pernah bertanya padamu."


Saat Jack mempercayai kebohongan yang ia lakukan, Amira Tan merasa bersalah. Apalagi saat ini bisa melihat wajah pria tersebut terlihat sangat berbeda karena seperti kurang percaya diri.


Jack yang dikenal adalah seorang pria percaya diri di hadapannya. Namun, setelah ia bertemu dengan Bagus dan Noah, seolah melihat Jack semakin rendah diri.


Hal itu membuatnya merasa sangat bersalah dan ia kini memilih untuk mengalihkan rasa bersalah dengan menuruti permintaan Jack. "Baguslah kalau kamu sadar. Aku memang sudah tidak ada urusan lagi dengan pria itu."


"Jadi, tidak akan pernah menemuinya lagi. Tapi jika sampai ia kembali mengarang cerita mengenai aku pada orang lain, akan menghabisinya. Lihat saja nanti. Sekarang pulanglah! Ini sudah malam!"


Amira Tan berbalik badan dan ingin masuk ke dalam gerbang rumah setelah mengibaskan tangan.


"Amira, tunggu!" ucap Jack yang kini menahan pergelangan tangan kiri wanita yang ada di hadapannya.


"Ada apa lagi?" Amira Tan berbicara setelah berbalik badan dan menatap kesal Jack.


"Menikahlah denganku."


Seketika Amira Tan membulatkan kedua mata begitu mendengar Jack yang berbicara seolah ingin melamarnya. Ia bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu, sehingga benar-benar sangat terkejut dan seperti bola mata hendak melompat dari tempatnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2