Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sangat berambisi


__ADS_3

"Apa Putra boleh makan buah?" tanya anak laki-laki yang kini tengah memandang buah di atas laci.


Putri seketika merasa tertampar mendengar pertanyaan putranya itu. “Tentu saja boleh, Sayang.”


Kemudian ia lebih dulu memeluk tubuh mungil putranya dan mendekapnya erat. “Maafkan Ibu, Sayang.”


“Kenapa meminta maaf?"


"Kata ayah, Ibu sayang Putra. Ibu ingin aku tumbuh jadi anak yang kuat dan mandiri. Putra anak laki-laki, jadi harus kuat supaya nanti bisa jaga Ibu."


Setetes air mata lolos dari sudut mata Putri. Seharusnya putranya itu membencinya, karena ia sengaja tidak pernah menemui dengan alasan agar tidak bergantung padanya dan bisa tumbuh menjadi anak mandiri.


Sungguh ia merasa sudah menjadi ibu yang buruk, tetapi juga memiliki alasan kenapa harus melakukan itu.


Kebesaran hati putranya untuk bisa menerima perlakuannya, membuatnya semakin dihinggapi rasa bersalah. Mungkin, lebih baik jika putranya menyalahkan dan membencinya. Mungkin itu akan lebih mudah, bukan?


Sementara itu, Bagus sengaja meninggalkan ibu dan anak itu hanya berdua di dalam ruangan karena ia ingin memberikan waktu pada mereka untuk saling melepaskan rindu.


Ia lebih memilih untuk duduk di luar ruangan sembari memainkan ponsel miliknya.


Banyak hal yang diceritakan oleh Putra pada sang ibu.

__ADS_1


Putri mendengarkan dengan seksama. Ia salut dan bangga pada putranya tersebut karena termasuk anak yang pintar dan cerdas untuk ukuran anak yang baru duduk di sekolah Taman Kanak-kanak tersebut.


Banyak hal yang ia lewatkan tentang putra pertamanya itu. Momen yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan lagi.


Namun, tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah menjadi keputusannya. Ia tidak salah memilih Bagus untuk merawat putra mereka ia yakin pria itu lebih mampu mendidik dibandingkan dirinya.


Sementara itu, Bagus yang sedang menunggu di depan ruangan, mendapat telepon dari Amanda jika satu jam yang lalu ada seorang pria yang datang ke rumah kontrakan dan menanyakan keberadaan Putri.


Dari ciri-ciri yang Amanda sebutkan, Bagus sudah tahu jika pria itu adalah Arya. Ia mengembuskan napas berat dan mengulas senyum getir di bibirnya. Ia tetap akan kalah dari Arya dan sudah tidak memiliki tempat di hati Putri.


***


Matahari sudah tengelam dan kembali ke peraduannya. Meninggalkan semburat warna jingga yang terlihat begitu indah, menghiasai langit sore. Sebagai salam perpisahan dari biasan cahaya mentari yang sudah tidak terlihat lagi.


“Mama senang sekali saat Papa mengatakan jika kamu sudah tinggal di rumah ini lagi,” ucap wanita paruh baya tersebut saat putranya menemuinya di kamar wanita itu.


"Papa sudah menceritakan semuanya, Sayang. Mama bersyukur karena pada akhirnya kamu menyadari kesalahan dan mau memperbaikinya.”


“Maafkan Arya, Ma.” Arya menggenggam tangan sang ibu yang sedang bersandar di atas kepala tempat tidur.


“Mama sudah memaafkan kamu jauh sebelum meminta maaf. Mama tidak pernah sedikit pun membencimu. Kamu pasti tahu siapa sebenarnya yang Mama benci, bukan?" tanya Rani dan mendapat anggukan dari putranya.

__ADS_1


“Namun, Arya belum benar-benar bisa meninggalkan dia, Ma.”


“Tidak masalah. Papa juga sudah menceritakan rencana kalian dan Mama langsung setuju, tapi berpesan padamu, jangan libatkan perasaanmu di tengah kebersamaan kalian."


"Apalagi sampai berniat untuk menyentuhnya.” Rani memberikan peringatan yang sama dengan yang suaminya berikan pada Arya.


“Iya, Ma.” Arya yang kini mengingat mengenai perbuatannya pada Calista, seketika rasa bersalah kembali menyeruak.


“Ingat, apa yang sudah ia lakukan padamu. Jangan sampai hatimu kembali luluh dan tertipu oleh topeng sandiwara yang sedang wanita itu rencanakan."


“Terkadang aku merasa mejadi manusia yang kejam, Ma. Kadang aku berpikir, kenapa tidak aku tinggalkan saja dia dan segera mengakhiri hubungan kami agar tidak ada lagi beban."


Arya mengutarakan keresahan hatinya selama ini pada sang ibu, berharap akan mengerti dan memberikan jalan keluar lain untuk permasalahannya dengan Putri yang telah menipunya mengenai Xander.


“Itu terlalu mudah. Mama dan Papa ingin ia merasakan kehilangan yang sesungguhnya, seperti kami yang kehilanganmu karena pernah merebut perhatian dan kasih sayang kamu dari kami."


"Perpisahan terlalu mudah untuk menghukum wanita itu. Mama ingin melihatnya hancur, sehancur hancurnya,” tukas Rani yang terlihat berapi-api.


“Iya, Ma.” Arya hanya bisa mengangguk pasrah.


Ia sadar jika dari dulu sang ibu sama saja dengan ayahnya yang sangat berambisi untuk menghancurkan Putri.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2