Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menjadi pelayan


__ADS_3

'Astaga! Dasar pria mesum. Bagaimana bisa berpakaian di depan seorang wanita. Rasanya aku ingin mengetuk kepalanya saat ini. Sialnya tidak bisa melakukan itu karena nanti malah akan terjadi hal bahaya.'


Amira Tan masih menutup rapat mulut dan bibir, agar tidak menimbulkan kecurigaan bahwa dari tadi tidak tidur. Bahkan saat ini pikiran mengingat siluet tubuh kekar Noah tanpa pelindung satu pun tepat di depan mata.


Otak Amira Tan seketika kotor ketika membayangkan bisa menelusuri tekstur otot-otot kencang pada tubuh Noah dengan jemari.


'Aku sudah gila! Tadi otak Noah yang kotor, sekarang aku. Apa aku perlu mencucinya dengan cara mandi sepertinya, tapi tidak akan melakukan itu karena akan menimbulkan kecurigaan.'


Beberapa kali degup jantung Amira Tan tidak beraturan ketika tidak bisa melupakan lekukan tubuh penuh dengan otot-otot kencang dari Noah. Hingga mendengar pergerakan dari pria itu saat mengambil bantal di sebelah.


Amira Tan kembali perlahan membuka mata sedikit untuk melihat apa yang dilakukan oleh Noah. Begitu melihat siluet Noah berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar, refleks bisa bernapas lega.


'Akhirnya pria itu keluar juga,' gumam Amira Tan yang kini sudah membuka mata.


Terdengar embusan napas lega kini terdengar memenuhi ruangan kamar sederhana yang bagaikan bumi dan langit dengan tempat Amira Tan di rumah.


Namun, meskipun kamar itu berukuran tidak sebesar tempat Amira Tan, tetapi merasa nyaman karena sangat bersih dan tidak bau. Hal yang paling disukai seorang wanita pada pria adalah rapi dan wangi.


Bahkan meskipun memiliki wajah tampan, tetapi jika jauh dari kata rapi karena tidak bisa menjaga kebersihan, pasti akan membuat wanita ilfil.


'Apa aku akan tidur di sini sampai pagi? Padahal jelas tidak mabuk. Kenapa tidak seperti pertama kali datang ke Club, ya? Saat itu, tidak sadarkan diri. Sekarang masih bisa sadar seperti ini. Padahal tadi minum beberapa gelas. Aneh sekali.'


Ketika ia sibuk bertanya di dalam hati, mendengar suara cacing-cacing di perut yang memberikan alarm tengah meminta jatah.


"Kenapa harus sekarang lapar?"


Begitu melihat jam dinding di atas lemari, ia mengacak frustasi rambut. "Astaga! Apa yang harus kulakukan? Apa aku pesan makanan lewat aplikasi online saja? Atau bertanya pada Noah, apakah ada stok makanan untuk dimakan?"


"Mana mungkin pria itu menyimpan makanan. Sepertinya mustahil. Lebih baik aku pesan makanan saja." Amira Tan memutar mata untuk mencari ponsel.


"Di mana ponselku?"

__ADS_1


Mengingat meletakkan ponsel di mana, lalu mengetahui jika ada di dalam tas dan tadi diletakkan di atas dasbor mobil. "Sial! Pasti tas ada di dalam mobil."


Merasa sangat malas mengambil tas di mobil, Amira Tan memilih untuk kembali merebahkan tubuh di ranjang. Kemudian memejamkan mata.


Berharap rasa kantuk berhasil melupakan lapar yang mendera perut, tapi sudah setengah jam berlalu, yang terjadi adalah tetap tidak kunjung terlelap.


Merasa sangat kesal dengan perut yang kelaparan, ia bangkit sambil mengumpat, "Dasar perut tidak tahu diri! Kenapa tengah malam, bahkan hampir pagi kelaparan!"


Masih dengan wajah masam dan bibir mengerucut, Amira Tan beranjak dari ranjang dan berniat untuk menemui Noah. Begitu membuka pintu, kaki telanjang berjalan menghampiri pria yang sudah tertidur di atas sofa dan membuat Amira Tan iba.


'Kasihan sekali Noah harus tidur di sofa dengan kaki menggantung." Amira Tan menyadari kebodohan karena pria itu rela tidur di sana demi uang dan karena sudah sangat kelaparan, memilih untuk membangunkan Noah.


Perlahan Amira Tan menggerakkan lengan pria dengan wajah damai yang tertidur itu.


"Noah ... Noah."


Amira Tan tidak cukup kuat melakukan itu karena khawatir jika Noah terkejut dan marah karena mengganggu tidur nyenyak. Jadi, perlahan membangunkan. Namun, saat usaha sia-sia, akhirnya mendekatkan wajah untuk memanggil tepat pada telinga.


"Noah ... bangun!"


Noah yang baru saja membuka mata, kini memerah wajah karena merasa sangat kesal sekaligus marah. "Apa maumu sebenarnya? Apa kamu selalu tidak sopan seperti ini?"


"Kenapa selalu menyusahkan hidupku? Atau memang kamu diciptakan hanya untuk menyusahkan pria miskin sepertiku?"


Baru saja menutup mulut untuk meluapkan amarah, kini Noah mendengar suara perut keroncongan dari sosok wanita yang masih belum membuka suara dan memegang perut.


Amira Tan sama sekali tidak tersinggung mendapatkan kemurkaan Noah karena memang bersalah telah membangunkan dengan sesuka hati.


"Aku lapar dan tidak bisa tidur. Apa kamu punya makanan untuk dimakan? Atau tolong ambilkan ponsel di mobil karena tidak berani keluar sendiri. Aku akan memesan makanan dan kau bisa kembali tidur."


Sebenarnya Amira Tan merasa malu saat tadi perut kembali berbunyi, tapi sudah kepalang basah dan tidak bisa lagi berpikir karena kelaparan.

__ADS_1


Melihat wajah wanita arogan tersebut terlihat memelas, Noah kini bangkit berdiri dari sofa dan berjalan ke belakang.


Amira Tan yang dari tadi menunggu jawaban dari Noah, tetapi ditinggalkan tanpa mengatakan apapun, kini bertambah kesal dan berjalan mengekor pria dengan langkah cepat ke belakang.


"Aku memintamu untuk mengambilkan ponselku, kan? Kenapa diam saja? Apa kau marah karena aku membangunkanmu dengan keras? Tadi aku sudah sangat pelan, tapi kamu tidak bangun, jadi yang kedua, akhirnya berteriak."


"Astaga! Diamlah! Selain merepotkan, kau juga sangat berisik!" Noah membuka laci di dapur dan mengambil satu bungkus mie instan. Kemudian memberikan pada Amira Tan.


"Makan ini saja karena jam segini tidak ada restoran yang buka."


Amira Tan menerima mie instan pedas yang jarang dikonsumsi jika tidak darurat. "Mie instan?"


"Iya. Masak itu dan semua alat dan kompor ada. Sana buat dan makan. Aku mau tidur lagi." Noah pun bejalan meninggalkan Amira Tan, tetapi tidak bisa melanjutkan langkah kaki begitu merasakan kaos casual ditarik dari belakang.


"Astaga, apa lagi?"


"Aku tidak pernah memasak mie instan, jadi tidak bisa." Akhirnya Amira Tan mengatakan rahasia besar yang selama ditutupi. Bahwa selama ini tidak pernah pergi ke dapur.


"Apa?" Noah seketika terbahak mendengar jawaban konyol dan terdengar tidak masuk akal.


"Kamu bukan balita yang tidak bisa memasak di dapur. Bahkan anak sepuluh tahun saja bisa memasak mie instan. Mana mungkin kamu tidak bisa. Apalagi usiamu bukan remaja lagi."


"Aku tidak berbohong karena orang tuaku tidak menyimpan mie instan di rumah karena makanan yang mengandung pengawet tidak sehat. Bahkan selama ini tidak pernah menyalakan kompor karena sudah ada pelayan di rumah."


Amira Tan dengan penuh percaya diri mengatakan apa yang selama ini dialami.


Sementara Noah kini memijat pelipis karena gagal untuk melanjutkan tidur dan menyambung mimpi indah saat bertemu dengan artis favorit.


"Apa ini zaman purba? Sampai menemukan wanita yang tidak bisa memasak mie instan. Anda memang seorang nona muda yang sangat luar biasa, Nona Amira Tan."


Kemudian Noah merebut mie instan tersebut dari tangan Amira Tan, akhirnya memasak dengan menaruh panci berisi air dan menyalakan kompor.

__ADS_1


'Dengan percaya diri mengatakan bahwa selama ini dilayani pelayan. Sekarang akulah yang jadi pelayan seorang Amira Tan yang arogan,' keluh Noah dengan wajah masam dan mengumpat di dalam hati atas nasib sial ketika bertemu dengan sang pengacara hebat menyebalkan itu.


To be continued...


__ADS_2