
"Pasien yang mengalami kecelakaan baru saja selesai menjalani operasi dan saat ini sudah dipindahkan di kamar VIP. Anda langsung masuk ke dalam lift menuju ke lantai lima dan berbelok ke kanan. Di situ ada ruangan kamar Mawar. Pasien atas nama Arya Mahesa berada di sana."
Calista langsung mengangguk perlahan. "Terima kasih."
"Iya, Nona."
Kemudian Calista memberikan kode pada orang tua akan mengikuti perjalanan masuk ke dalam. Saat menatap angka digital yang bergerak naik ke atas, perasaan kacau balau saat ini dirasakan.
'Semoga tidak ada dampak buruk yang terjadi pada Arya setelah proses operasi selesai,' gumam Calista yang terlihat menggigit kuku jari untuk mencoba menenangkan diri.
Namun, tangannya ditarik oleh sang ibu agar tidak kembali meneruskan menggigit jari.
"Jangan seperti ini di depan orang tua Arya. Bersikaplah tenang karena jika menangis, akan membuat mereka semakin bersedih." Melihat sikap putrinya yang penuh kecemasan, kini wanita separuh baya tersebut memeluk erat tubuh Calista.
Begitu suara denting lift yang menandakan akan terbuka, mereka pun melangkahkan kaki keluar dan mencari ruangan mawar yang menjadi tempat Arya dirawat.
Begitu mengedarkan pandangan dan menemukan ruangan yang, pria paruh baya tersebut mengetuk pintu dan setelah beberapa detik, membuka pintu, lalu melangkah masuk bersama anak dan istri.
Mereka melihat pasangan suami istri yang saat ini sedang duduk di dekat ranjang perawatan pria dengan berbagai macam alat yang menopang nyawa dan bunyi menghiasi keheningan malam di ruangan tersebut.
Ari Mahesa dan Rani yang tadi saling bersikap dan mengerutkan kening karena tidak tahu siapa yang datang, ini bisa melihat keluarga Calista yang baru saja masuk.
"Kalian datang?" ucap Ari Mahesa langsung berjalan mendekati pria paruh baya yang memeluk dan menepuk bahu.
"Bersabarlah! Ini adalah ujian dari Tuhan untuk keluarga Mahesa.
"Iya, meskipun ini terasa berat, aku akan berusaha kuat demi keluarga. Maaf karena acara hari ini gagal." Ari Mahesa masih merasa bersalah pada keluarga Calista, meskipun dalam hati merasa tidak tega pada nasib Arya yang mengalami kecelakaan hebat hingga berakhir koma.
"Jangan pikirkan itu karena sekarang yang lebih penting adalah kesungguhan Arya. Bagaimana, apa kata dokter?"
Ari Mahesa saat ini mengajak ayah Calista keluar dari ruangan karena khawatir ditegur oleh perawat yang mengatakan tidak boleh banyak orang di sana.
"Kemudian berjalan menuju keluar dan duduk di depan ruangan sambil menceritakan semua hal yang terjadi hari ini.
Sementara itu, Calista yang sebenarnya tidak ingin menangis, gagal menahan diri begitu melihat pria yang dicintai saat ini terlihat tidak sadarkan diri di atas ranjang dengan perban di kepala dan berbagai macam alat di tubuh.
Bahkan bulu kuduk meremang ketika mendengar suara bunyi alat-alat ruangan tersebut. Calista refleks langsung menghambur memeluk ibu dari Arya dan kembali menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Kenapa bisa sampai begini, Ma. Bagaimana keadaan Arya? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Arya bisa mengalami kecelakaan? Aku sangat takut," lirih Calista dengan suara yang salah dan tubuh bergetar hebat karena efek menangis sedu-sedu diperlukan wanita paruh baya tersebut.
Sementara itu, Rani tadi sudah sedikit tenang, kini kembali menangis setelah melihat Calista yang masih memeluk.
"Mama juga sangat terkejut dan terpukul saat Arya mengalami kecelakaan. Tadi dokter mengatakan jika saat ini dia mengalami benturan di bagian kepala dan berakibat koma."
"Tapi aku yakin Arya akan sadar karena dulu juga mengalami kecelakaan dan sekarang bisa sehat seperti ini," ucap Rani yang masih mencoba untuk menenangkan diri dan juga Calista dengan berbicara positif.
Hingga suara dari ibu Calista membuat Rani melepaskan pelukan.
"Aku membawakan makanan untuk kalian. Sayang sekali jika hidangan yang hendak kami suguhkan, tidak ada yang menikmati. Kamu harus makan agar tidak sakit dan kuat menjaga putramu di rumah sakit. Jika kalian berdua malas makan, akan berakhir dirawat juga dan tidak bisa menunggu Arya."
Kemudian menaruh makanan di atas meja, lalu kembali berjalan mendekati wanita yang selama ini menjadi teman sosialita.
"Sebenarnya bagaimana semuanya bisa terjadi? Nasib baik kalian tidak apa-apa. Berarti tadi memang memakai mobil sendiri-sendiri?"
Rani merasa bingung harus menjawab karena kenyataannya adalah Arya tadi belum pulang ke rumah setelah mengantarkan Calista membeli cincin pertunangan.
'Apa yang harus kukatakan? Apakah aku harus jujur atau menutupi apa yang dilakukan putraku sesudah membeli cincin untuk Calista? Bahwa Arya tadi pergi ke rumah mantan istri, tetapi gagal menemui karena Putri telah pergi jauh tanpa meninggalkan pesan apapun pada siapapun.'
Calista yang menunggu penjelasan dari calon ibu mertua tersebut, menyipitkan mata karena tidak mendengar apapun jawaban yang keluar dari bibir wanita di hadapannya.
"Ma, kenapa malah melamun? Sebenarnya apa yang terjadi pada Arya?" Calista semakin merasa curiga ketika melihat jawaban dari wanita tersebut hanya sebuah gelengan kepala.
"Mama tidak tahu, Calista. Saat ini, tidak bisa berpikir karena melihat keadaan Arya yang seperti ini." Rani menoleh ke arah putranya yang masih betah menutup mata.
"Tidak tahu? Apa maksudnya? Aku hanya ingin tahu kronologi kejadian. Apa kalian tadi tidak pergi bersama?" Masih tidak puas dengan jawaban dari wanita yang dianggap sangat mencurigakan, ibu Calista saat ini masih tidak menyerah untuk mencari tahu.
"Iya, Ma. Sebenarnya apa yang terjadi pada Arya? Bagaimana kronologi kejadian?" Calista menyahut karena merasa curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh calon ibu mertua tersebut.
Entah mengapa saat ini merasa ada sesuatu yang sengaja ditutupi dan tidak ingin diceritakan, tetapi semakin membuat Calista penasaran.
"Ceritakan pada kami tentang semua yang terjadi pada Arya!" Menatap intens wajah sembab wanita paruh baya tersebut dan masih menunggu cerita mengenai kecelakaan menimpa pria yang dicintai.
Jika beberapa saat lalu, Rani ingin merahasiakan kepergian Arya ke kontrakan untuk menemui Putri, tapi gagal melakukan karena dicurigai oleh dua wanita yang berdiri di hadapannya tersebut.
Akhirnya karena tidak ada pilihan lain, Rani menceritakan semua hal yang terjadi hari ini, termasuk kedatangan Amira Tan ketika marah-marah di ruangan.
__ADS_1
Calista yang merasa sangat terkejut begitu mengetahui bahwa Arya pergi menemui Putri setelah mengantarkan ke rumah.
'Arya pergi menemui mantan istrinya hari ini? Kenapa? Apa yang sebenarnya dipikirkan olehnya? Jadi, itu yang membuat pikiran Arya seperti tidak fokus ketika memilih cincin untukku? Lalu seolah ingin segera pulang ke rumah, padahal hanya ingin menemui wanita sialan itu?'
'Kenapa ini semua terjadi saat acara pertunangan kami? Bahkan wanita itu sudah diceraikan, tetapi masih membuat masalah dan Arya berakhir seperti ini,' gumam Calista yang saat ini meremas kedua sisi pakaian karena menahan puncak amarah ketika merasa marah pada Putri dan juga Arya.
Calista lalu menatap ke arah pria yang masih terbaring tak berdaya di atas ranjang perawatan tersebut. Kemudian tertawa miris karena mengingat bahwa pria itu menemui mantan istri setelah mengantarkan pulang.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Arya? Kenapa kau pergi ke tempat Putri saat sudah tidak lagi berstatus menjadi suami wanita itu? Jika tadi tidak pergi ke sana, pasti kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi. Acara lamaran akan berjalan dengan lancar dan pasti sudah ditentukan tanggal pernikahan, tapi sekarang kau terbaring lemah di sini."
"Apakah kamu tidak ingin menikah denganku?"
"Apakah kamu sengaja melakukan ini?"
"Ataukah kamu ingin aku pergi darimu?"
Antara perasaan marah, sedih, khawatir dan kecewa, seolah tidak cukup mewakili apa yang saat ini dirasakan oleh Calista.
Bahkan untuk kesekian kali, bulir air mata kembali menganak sungai di pipi putih Calista.
"Jangan lakukan itu, Calista. Mama yakin bukan itu maksud Arya. Mungkin saja putraku menemui Putri karena ingin mengatakan akan menikah denganmu dan tidak boleh mengganggu hubungan kalian." Rani masih mencoba untuk menenangkan perasaan Calista yang saat ini diketahui telah terluka karena cerita sebenarnya.
Sementara itu, ibu Calista yang juga ikut merasa kecewa pada Arya, ingin sekali mengatakan agar pergi dari sana dan melupakan pria di atas ranjang yang masih belum sadarkan diri tersebut.
Berpikir jika pria itu belum bisa move on dari mantan istri karena menemui sebelum acara lamaran hari ini dan berakhir kecelakaan.
"Apakah jika Arya tidak mengalami kecelakaan ini, masih akan datang untuk melamarmu?" Menatap ke arah putrinya yang masih terlihat sangat kecewa.
Calista bahkan tidak tahu harus menjawab apa Karena memang tadi kenyataannya adalah nomor Arya tidak aktif, seolah sengaja melakukan itu agar tidak ada yang menghubungi.
"Aku tidak tahu, Ma. Hanya Arya yang bisa menjawab pertanyaan kita semua. Namun, kenapa sekarang aku merasa ragu pada Arya. Setelah mendengarkan semua cerita tadi, seolah menegaskan bahwa Arya ingin membatalkan acara dengan cara mematikan sambungan telpon, tapi nahas karena berakhir mengalami kecelakaan."
Hanya hal itu yang saat ini terpikirkan oleh Calista dan semakin merasa yakin karena cerita dari Rani ketika mengatakan bahwa Arya tidak bisa dihubungi karena nomor tidak aktif sangat diyakini, terjadi sebelum kecelakaan.
Merasa jika Arya telah mengecewakan perasaan Calista, wanita yang merasa tidak terima jika putrinya disia-siakan oleh pria yang dicintai, kini memilih untuk mendekat dan menggenggam erat pergelangan tangan dengan jemari lentik itu.
"Sepertinya apa yang kau katakan memang benar, bahwa Arya tidak ingin menikah denganmu. Jadi, sengaja menghilang dengan cara menonaktifkan ponsel. Lalu, apa yang kamu harapkan dari pria ini? Sebaiknya kita pergi dari sini dan lupakan Arya!"
__ADS_1
To be continued...